NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Pengembara Terkuat

Kehidupan Kedua Pengembara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dazhi

Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.

Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.

Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.

Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Mari Kita Bekerja

Siang hari ini matahari bersinar terik, membuat suasana menjadi lebih panas dan melelahkan.

Disalah satu sudut kota Jinling, terlihat Dazhi yang sedang membawa kotak besar dan berat milik Nyonya dari keluarga pejabat. Meskipun keringat berjatuhan di kepala Dazhi, anak itu tetap memasang wajah cerianya seolah ini bukan apa-apa.

"Karena kau sudah membawakan barang bawaan milikku, ini untukmu, kembaliannya kau ambil saja."

"Terimakasih Nyonya."

Nyonya yang sudah dibawakan barangnya oleh Dazhi memberikan 5 koin perak kepada dirinya. Tentu saja dengan senang hati Dazhi menerimanya.

Sudah lima hari Dazhi berada di kota Jinling. Xiao Qingxuan juga sudah menyewa penginapan untuk mereka berdua setelah berkunjung di kedai teh Ning Ruo.

Selama lima hari ini, tidak ada kejadian menarik yang terjadi. Hidup Dazhi lurus-lurus saja, hanya bekerja dan bekerja. Ia sudah meminta izin kepada Xiao Qingxuan untuk mencari uang sendiri dengan alasan ingin menjadi mandiri, tentu saja pamannya itu menerima usulan tersebut dengan baik.

Terkadang jika mempunyai waktu luang, Dazhi akan gunakan untuk membuka Dantian-nya. Sekarang Dantian yang sudah dibuka didalam tubuh Dazhi totalnya ada 34 Dantian. Itu artinya, dirinya sudah resmi menjadi Kultivator di ranah Kultivasi ke-3.

Dazhi menatap kantong berisi koin miliknya. Total uang yang sudah ia kumpulkan adalah 4 koin emas, 87 koin perak dan 14 koin tembaga. Ini benar-benar jauh dari cukup.

Untuk menyewa seorang Kultivator Grandmaster selama satu hari setidaknya butuh 10 koin emas. Lalu untuk tanggal penyerangan terhadap desanya, Dazhi juga tidak tahu pasti kapan. Ia hanya tahu tahun dan bulannya saja, jadi untuk berjaga-jaga dirinya harus menyewa Kultivator Grandmaster selama satu bulan.

"Itu berarti 10 dikali 30 hari, totalnya 300 koin emas. Ya ampun... Sepertinya aku harus bekerja sangat keras..."

Dazhi meregangkan badannya sebentar sebelum akhirnya kembali berjalan menuju pasar kota Jinling.

Pasar adalah tempat Dazhi mencari uang. Di sana dirinya bisa mengerjakan banyak hal seperti membawakan barang, membantu menjaga kedai, membersihkan jalan dari daun kering, dan hal-hal remeh lainnya.

Dalam satu hari, Dazhi bisa menghasilkan paling banyak 30 koin perak. Memang sangat sedikit, tetapi itu memang bayaran dari mengerjakan pekerjaan kecil seperti ini. Mendapatkan tiga koin emas dari Tuan muda yang ia tolong beberapa hari lalu juga merupakan sebuah keberuntungan besar untuk Dazhi.

Andaikata Xiao Qingxuan bisa cepat-cepat pergi dari kota Jinling ke kota yang Dazhi ingat. Mungkin dirinya bisa menghasilkan lebih banyak uang dengan mengandalkan informasi dari kehidupan pertamanya.

"Ah sudahlah... Bekerja yang rajin saja dulu, jangan banyak mengeluh..."

Dazhi mempercepat langkahnya agar cepat sampai di pasar. Setelah sampai, ia pergi ke kedai-kedai terdekat untuk mencari orang yang membutuhkan bantuan.

"Halo Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu disini?"

Itu adalah pertanyaan yang ia lontarkan pada kedai-kedai di pasar Jinling. Tak jarang Dazhi mendapatkan penolakan dari para pemilik kedai, bahkan ia terkadang mendapat perlakuan tidak ramah.

"Tidak ada."

"Maaf nak, sekarang aku tidak membutuhkan bantuan apapun."

"Hah? Aku tidak butuh bantuan darimu. Kalau tidak ada urusan lain, pergilah."

"Pergi kau nak! Jangan menghalangi pelanggan ku untuk masuk!!"

Dazhi menghela nafas, sudah empat kedai yang ia datangi. Namun kedai-kedai itu tak membutuhkan dirinya. Untungnya Dazhi itu orang yang tidak mudah menyerah, masih ada banyak kedai yang bisa ia tanyai.

Dazhi berjalan untuk pergi ke kedai lainnya. Untungnya di kedai selanjutnya, Dazhi mendapatkan orang yang membutuhkan bantuannya.

Bukan, bukan dari pemilik kedai. Melainkan dari seorang perempuan muda yang sepertinya kesulitan membawa satu karung beras miliknya.

"Halo nona, apakah saya boleh membantu anda membawakan barang anda?"

Perempuan itu menoleh dan tersenyum senang. "Ah, tentu saja. Beras ini berat sekali. Tolong bawakan yah!"

Dazhi mengangguk ceria. Ia mengangkat sekarung beras dengan punggungnya. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan.

"Ini akan dibawa kemana nona?"

"Tolong bawa ke kediaman Tuan Gu. Anda tidak keberatan bukan?"

"Baik nona."

Kediaman yang dibilang perempuan ini cukup jauh dari pasar. Tetapi Dazhi tetap menerimanya. Kalau jaraknya jauh, seharusnya koin yang ia dapatkan akan lebih banyak.

Selama perjalanan, perempuan itu terus berceloteh tentang pekerjaannya. Dia bekerja sebagai Dayang di kediaman Gu, dan banyak sekali hal yang membuatnya kerepotan ketika bekerja, terlebih anak-anak dari keluarga di sana sangat rewel.

Dazhi hanya mendengarkan dan menjawab singkat untuk merespon. Lagipula dirinya bertaruh, perempuan ini pasti hanya muncul pada bab 15 saja dan tidak akan dimunculkan kembali di bab-bab berikutnya oleh sang author.

Ketika mereka berdua baru setengah jalan, tiba-tiba tiga orang berbadan besar menghampiri mereka. Dazhi menatap tiga orang dihadapannya dengan datar.

"Hey... Kalau mau lewat jalan ini, harus membayar."

"Benar! Harus bayar!!

"Ini jalan kami. Kalian harus bayar!!"

"Aduh... Bagaimana ini..."

Ketiga orang itu mengulurkan tangan seolah meminta uang. Dazhi terkekeh pelan, padahal mereka baru diranah Kultivasi ke-1, tapi gayanya itu sudah seperti berada diranah ke-5 saja.

"Hey!! Kau tertawa!! Apa kau mau babak belur yah!!"

Salah satu dari tiga orang itu maju. Wajahnya sangat sombong. Pria itu menganggap kalau Dazhi adalah lawan yang mudah dikarenakan badan Dazhi yang lebih kecil darinya. Tidak tahu saja dia kala Dazhi itu lebih kuat.

Dazhi menurunkan beras yang ia bawa. "Tolong bawa beras ini sebentar." Ucap Dazhi dan dijawab dengan anggukan oleh si perempuan.

Dazhi maju kearah mereka bertiga. Tanpa peringatan, Dazhi langsung melayangkan tendangan kepada perut salah satu dari tiga pria tersebut.

Bughh!!

"Temanku!!"

Pukulan Dazhi begitu keras sampai membuat pria itu terpental dan menabrak tembok hingga pinhsan. Salah satu pria lainnya tidak terima, ia mengangkat tinjunya kearah Dazhi hanya untuk berakhir ditangkap dengan mudah oleh anak tersebut.

"K–kau!!"

Pria itu tidak percaya, ia meronta agar lengannya dilepaskan. Namun tentu saja Dazhi tidak membiarkannya begitu saja, ia memelintir lengannya dengan keras.

Krekk!!

"Arghhh!!!"

Teriakan kesakitan menggema. Kini tersisa satu pria lagi.

Pria yang tersisa menatap pemandangan dihadapannya dengan ketakutan, bagaimana bisa mereka dikalahkan oleh seorang bocah seperti ini.

Wooshhh!!!

Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Ini adalah ulah Dazhi, dia menggunakan Qi nya untuk melakukan hal tersebut. Dazhi ingin pria yang tersisa itu tau perbedaan kekuatan antara mereka berdua.

Pria itu akhirnya sadar, ternyata mereka memilih orang yang salah. Ia bersujud dihadapan Dazhi.

"Maafkan kami!! Kami tidak tahu kalau anda adalah Kultivator ranah tinggi!! Tolong maafkan kami!!"

Dazhi memasang pose berpikir sejenak, ia lalu mengangguk dan tersenyum.

"Baiklah... Tetapi setelah ini, berjanjilah kalian tidak akan berbuat jahat lagi. Jadilah rakyat kekaisaran yang baik!"

Pria dihadapannya mengangguk berkali-kali. Dazhi kemudian berbalik menghampiri si perempuan yang melongo melihat pemandangan dihadapannya.

"Wah... Anda hebat sekali! Ngomong-ngomong... Apa kita tidak melaporkan mereka kepada pihak berwenang?"

"Tidak perlu." Jawab Dazhi singkat.

Mereka bertiga itu orang biasa, bukan merupakan bagian dari aliran hitam. Lagipula dirinya sudah memberikan pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan.

Dazhi kemudian mengambil beras dari tangan perempuan dihadapannya. Ia melanjutkan perjalanan dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

1
Blueria
up terus🌹👍💪
Anonim
up
Blueria
up up🌹
Dazhi anak sehat: siapp😁
total 1 replies
Blueria
kurang tinggi tingkat kultivasi mu Thor, makanya bingung🤭 hihi🤭
Dazhi anak sehat: iya ini, harus ditingkatkan lagii🤭
total 1 replies
Blueria
haha🤭
Blueria
Latihan Saitama🤣😭
Dazhi anak sehat: gak nyangka ada yang sadar🤭🤣
total 1 replies
Blueria
saya kasih 3🌹 biar tambah semangat
Dazhi anak sehat: terimakasih/Rose/, saya jadi tambah semangat buat up nya
total 1 replies
Blueria
Semangat berkarya, jangan pantang menyerah dalam menulis💪
Dazhi anak sehat: Terimakasih dukungannya/Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!