NovelToon NovelToon
Delima

Delima

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titanic

Richard

Aku mengajak Adel naik lagi ke lantai atas kapal. Hari ini lumayan padat penumpang yang hendak menyebrang, maklum hari sabtu pagi banyak yang ingin jalan-jalan juga.

Aku mengenakan kacamata sunglassesku yang tadi aku jepit di saku kaos poloku. Tak lupa memakai topi yang senada dengan warna kaos yang kukenakan.

"Kamu pernah naik kapal kayak gini enggak?" tanyaku saat kami sedang menikmati pemandangan laut, kapal baru saja berlayar meninggalkan laut pulau Jawa menuju pulau Sumatra.

Adel menggelengkan kepalanya. "Belum pernah. Ini pengalaman pertamaku."

Aku tersenyum. "Enggak ada yang menyangka ya kalau kamu aslinya orang Palembang. Wong kito galo."

Adel tersenyum sinis. "Ya, aku juga enggak nyangka. Aku pikir aku hanya orang Jawa asli, ternyata tidak. Entah orang tua kandungku memang asli Palembang atau hanya perantauan saja."

"Kamu deg-degan enggak mau ketemu mereka?" tanyaku lagi.

Adel menatap jauh ke depan, ke hamparan laut yang membentang indah. "Aku lebih ke arah penasaran sih daripada deg-degan."

Aku menatap rambut Adel yang mulai tertiup angin, sehingga agak sedikit berantakan. Tampaknya Adel bukan tipikal cewek yang harus rapi rambutnya. Ia tak ambil pusing dengan angin yang membuat kusut rambutnya tersebut.

"Ada kunciran rambut enggak?"

"Eh? Memangnya kenapa? Rambut aku berantakan ya?" Adel baru menyadarinya. Ia mengeluarkan kunciran rambut bergambar Mickey Mouse dari saku celana jeans yang dikenakannya.

"Biar aku yang kuncirin." aku mengambil ikat rambut di tangan Adel dan mulai menguncir rambut Adel agak tinggi. "Kalau berantakan nanti kusut dan bikin rontok. Dan aku juga suka kalau kamu menguncir rambut kamu dengan kunciran tinggi kayak gini."

Adel tipikal orang yang mudah sekali tersipu merah wajahnya. Baru aku puji sedikit saja sudah memerah wajahnya.

"Aku malu tau, kita diliatin banyak orang." kata Adel sambil berbisik. Aku melihat arah yang Adel katakan, benar saja banyak yang sedang berbisik sambil menatap ke arah kami.

"Biarkan saja. Itu hak mereka. Mungkin mereka iri dengan kita?" aku melepaskan rambutnya yang sudah terikat dengan agak rapi. "Udah selesai."

Kami kembali menatap lautan. Sinar matahari terasa hangat di kulit kami.

"Apa kata keluarga kamu saat tahu kalau aku bukan anak kandungnya Papa?" tanya Adel tiba-tiba.

"Jujur aja mereka agak terkejut sih, tapi setelah aku kasih tau dan kasih mereka penjelasan malah mereka dengan semangat mau membantu aku. Leo bahkan mencarikan informasi tentang keluarga kamu."

Adel mengu lum senyum. "Enak ya jadi keluarga kamu. Kompak, seru.... dan hangat."

Sekarang gantian aku yang tersenyum sinis. "Itu kan yang kamu lihat saat ini. Kalau dulu tuh keluargaku hampir tidak tertolong. Setidaknya Om Hartono tidak pernah kan bertengkar sampai memecahkan guci setinggi satu meter lebih?"

Adel menggelengkan kepalanya. "Mama dan Papa hampir tak pernah bertengkar hebat. Mereka saling mencintai, hanya saja.... Mama tak bisa bersikap hangat padaku. Aku mengerti sekarang, alasannya adalah karena aku bukan anak kandungnya."

"Apa yang kamu lihat sekarang di keluargaku adalah usaha dan kerja keras Leo. Ia yang sudah menyatukan keluarga kami lagi. Kalau tidak ada Leo mungkin perusahaan sudah bangkrut dan keluargaku akan berebutan harta warisan seperti yang ada di sinetron-sinetron."

"Tetap saja aku iri melihatnya. Kamu dilimpahi kasih sayang yang banyak. Membuat siapapun yang melihatnya akan rela menukar hidupnya dengan hidup kamu." lagi-lagi Adel begitu pesimis dan memandang rendah hidupnya sendiri.

"Huft...." aku menghela nafas dalam, Adel spontan melihat ke arahku. "Kenyataannya enggak kayak gitu. Mungkin benar aku mendapat limpahan kasih sayang, tapi aku merasa kalau diri aku seperti pencuri. Aku sudah mencuri kasih sayang yang seharusnya Leo dapatkan. Leo sama seperti kamu, Del. Namun Ia bisa membuang rasa iri dan bencinya lalu merubahnya menjadi rasa sayang. Aku rasa kamu juga bisa menjadi lebih hebat lagi dari Leo."

"Caranya?"

"Mulailah menyayangi Mama kamu. Meskipun Mama kamu agak dingin, percayalah Ia amat merindukan sikap manja kamu padanya. Ia belum pernah merasakan melahirkan anak dari rahimnya sendiri. Namun kamu bisa memberinya perasaan sayang layaknya anak yang Ia lahirkan. Aku yakin kamu pasti bisa."

"Aku... Enggak yakin." mulai deh Adel underestimate terhadap sesuatu yang bahkan belum Ia coba.

"Kamu tau apa yang Mama kamu rasakan sekarang?"

Adel menggeleng. "Takut malu kali kalau keluarga besarnya tau Ia pura-pura sebagai ibu kandungku."

"Kamu salah. Bukan itu yang Mama kamu takutkan. Aku enggak melihat Mama kamu takut karena malu. Ia takut karena hal lain."

"Takut karena hal lain? Hal lain apa?"

"Takut kehilangan kamu."

Adel lagi-lagi tersenyum sinis. "Masa sih? Enggak mungkin ah."

"Tuh kan. Mama kamu tuh udah membesarkan kamu lebih dari 20 tahun. Masa sih selama 20 tahun enggak ada ikatan batin yang tercipta diantara kalian? Saat kamu sakit dulu, siapa yang begadang menunggu sampai demam kamu reda? Siapa yang sabar menunggu kamu makan sampai makanan di piring habis? Siapa yang mengejar kala kamu berlari ke jalanan dan beresiko tertabrak motor?"

Adel menunduk, Ia terlihat menghapus air matanya yang mulai menetes. Aku menepuk bahunya untuk menenangkannya.

"Mama kamu sayang sama kamu. Cuma caranya saja yang kamu enggak tau."

"Tapi.... Tapi Mama selalu berkata yang menyakiti hati aku. Saat aku nolak lamaran pertama kamu aja, Mama bilang aku harus tahu diri. Apa pantas mengatakan hal seperti itu pada anak yang Ia sayang?" kini Adel makin menangis sesegukan. Kubiarkan Ia menangis sampai lega. Aku mau memeluknya namun kamu belum muhrim. Hanya bisa menepuk bahunya memberi dukungan.

"Kamu tahu, cara tiap orang menunjukkan rasa sayangnya berbeda. Aku mencontohkan keluargaku ya. Papa memanjakanku dan bersikap agak keras pada Leo, lihatlah sekarang. Leo yang jauh lebih unggul dibandingku, dan aku yang harus mengejar ketertinggalanku dibanding Leo. Begitupun kamu, Mama kamu berkata pedas mungkin enggak mau kamu menolak aku yang menurutnya laki-laki yang baik buat kamu."

Adel mengangkat wajahnya dan menatapku sambil cemberut. "Kenapa jadi kamu yang kegeeran?"

Aku tertawa, rupanya Adel tuh orangnya langsung paham enggak oon kayak Maya yang harus to the point enggak bisa dibawa muter-muter dulu.

"Bukan kegeeran. Pasti Mama kamu tuh udah menduga kalau aku tuh calon menantu idaman. Ganteng, pintar, berkharisma dan punya bakat bahagiain kamu tentunya." kataku penuh percaya diri.

"Iya...ya...ya... Kita sarapan aja dulu ya. Denger kamu kepedean bikin aku laper."

"Nah gitu dong. Memangnya kamu bawa sarapan apa?"

Adel mencari kursi kosong dan langsung duduk begitu mendapatkannya. Dikeluarkannya bekal yang Ia bawa. Isinya setangkup sandwich dan telor rebus. Pasti sandiwich untukku dan telur rebus untuknya.

"Mana kenyang sarapan begini Del? Hanya telur saja. Tunggu sebentar." aku lalu celingukan dan kebetulan yang kucari ada. Aku melambaikan tanganku dan orang tersebut pun datang tergopoh-gopoh.

"Pak, Pop Mienya 1 aja. Yang rasa kari ayam ya." pesanku.

"Hanya satu aja nih A? Pacarnya enggak dibeliin? tanya penjual Pop Mie sambil membuatkan pesananku. Menuang bumbu dan minyak ke dalam Pop Mie lalu mengguyurnya dengan air panas yang Ia bawa dalam termos air.

"Satu aja. Nanti makan berdua, Pak. Biar romantis." kataku sambil mengerling ke arah Adel yang belum memulai sarapannya, menungguku agar bisa sarapan bersama.

"Si Aa teh naon, makan Pop Mie aja bisa romantis. Nih A nunggu sebentar lagi biar mienya mateng." penjual Pop Mie memberikan Pop Mie yang Ia buat padaku.

"Nih, Pak. Kembaliannya ambil aja. Buat jajan keluarga Bapak." kuberikan selembar uang seratus ribuan yang disambut dengan tatapan penuh terima kasih.

"Banyak banget A. Ya Alloh, semoga rejekinya Aa dilipatgandain sama Alloh. Semoga urusan Aa dipermudah. Dan jodoh sama si Eneng sampai maut memisahkan aamiin."

"Aamiin." aku tersenyum mendengar doa yang amat tulus yang Ia ucapkan. Dalam hatiku juga mengaminkan semoga urusanku beres dan dipermudah.

Aku menaruh Pop Mie yang masih panas diatas kursi yang Adel tempati. "Aku beli satu aja, aku tahu kamu pasti enggak mau makan mie. Kalau kamu muntahin nanti malah mual, kita lagi diatas kapal, masih satu jam lagi tiba di pelabuhan. Kita bagi dua aja ya."

Aku mengambil sebuah telur milik Adel, menggantinya dengan setengah Pop Mie milikku. Lalu membagi dua sandwich dan memberikan setengah bagian untuk Adel.

"Kalau kayak gini, kita bisa makan semua sarapan secara adil. Iya kan?"

"Iya. Kalau sama kamu aku tenang mau makan apa aja, karena kamu udah tau porsi aku dan bagaimana aku menjaga makanku."

"Iya dong. Kan aku memberikan kamu ketenangan."

"Huh gombal!"

"Tapi suka kan?"

Adel tersenyum malu-malu padaku. Selesai makan aku mengajak Adel masuk ke dalam kapal namun Ia menolak. Katanya sekalian berjemur dan kena sinar matahari.

"Aku ngantuk. Boleh numpang bobo enggak?" tanyaku yang langsung membuat Adel gugup. "Maksudnya numpang nyenderin kepalaku di bahu kamu."

"Oh... Boleh."

Ternyata aku masih belum begitu mengantuk. Aku malah mengajak Adel mengobrol. Tentunya dengan kepalaku yang masih bersandar di bahunya.

"Kamu pernah nonton film Titanic enggak?" tanyaku.

"Ih kenapa nanya tentang film Titanic saat diatas kapal sih? Bikin takut aja." gerutu Adel.

"Bukan tentang itu, tentang adegan yang lain."

Adel kini menatapku dengan sinis. "Adegan di dalam mobil?"

Aku tertawa dibuatnya. "Kenapa sih tiap orang ditanya tentang Titanic selalu saja yang dipikirin tentang adegan di mobil? Ya memang itu udah melekat di otak kita sih. Tapi masih ada adegan lain juga kan? Adegan saat mereka berpisah di laut misalnya."

"Ya seperti kata kamu. Kebanyakan orang mikirnya kesana. Mungkin aku sebagian dari kebanyakan orang itu." kata Adel mengakui.

"Enggak apa-apa. Itu tandanya kamu udah siap nikah."

"Ih apa hubungannya?"

"Itu mikirnya udah tentang kawin melulu?" ledekku.

Sebal dengan ledekkanku, Adel mengangkat bahunya tak mempebolehkanku menyandarkan kepalaku lagi.

"Ih ngambek."

"Habisnya rese!"

"Iya. Enggak rese lagi deh. Kita balik lagi ke film Titanic. Kamu tau enggak kata-kata dalam film Titanic yang paling nyangkut banget di otak kamu?" tanyaku lagi.

"Hmm... Apa ya? Paling kata-katanya Leonardo Di Caprio yang bilang kalau I'm the king of the world. Itu sih yang nyangkut di otakku." rupanya Adel masih hapal meski film itu sudah sangat lama diputarnya.

"Boleh juga. Tapi kalau aku ada satu kata yang sampai sekarang aku ingat, yakni woman's heart is a deep ocean of secrets yang artinya hati seorang wanita adalah lautan rahasia yang dalam." Adel terdiam, kini Ia bahkan tidak berani menatapku.

"Maksud kamu adalah kamu enggak tau rahasia hati aku yang sebenarnya kayak gimana?" tanya Adel. Aku mengangguk tanpa menjawab apapun.

Adel tersenyum kecut. "Kamu benar. Aku salah satu yang menyembunyikan lautan rahasia dalam hatiku."

"Tapi sedikit demi sedikit aku udah mulai tau. Termasuk siapa yang sekarang berada di posisi teratas dalam hati kamu." jawabku langsung pada intinya.

"Kenapa kamu masih terus berharap padahal aku tau pasti aku akan menyakiti kamu?" Adel kini berani menatap mataku. Aku menatap manik mata cokelat miliknya. Wajahnya yang dengan make up minimalis namun terlihat amat cantik dan sederhana.

"Karena aku tahu, jika kita berjalan diatas es sekalipun akan meninggalkan jejak. Begitu pun apa yang aku lakukan sama kamu. Hal kecil yang aku lakukan akan menimbulkan bekas di hati kamu. Perlahan namun pasti aku akan menjadi posisi yang teratas di hati kamu." jawabku yakin.

"Meski akan menyakiti hati kamu pada akhirnya?" tanya Adel lagi.

Aku mengangguk. "Itu konsekuensi aku. Saat aku menjatuhkan pilihan pada kamu, saat itu aku sudah tau apa saja yang harus aku hadapi. Menghadapi kekalahan dan sakit hati. Aku pernah kalah saat kamu menolak aku dulu, namun saat kamu sudah menjadi istriku aku tak akan mengalah untuk laki-laki lain."

"Bagaimana.... Bagaimana jika aku belum bisa menjadi istri kamu sepenuhnya nanti. Maksudku... aku belum siap... melakukan....er... hubungan itu..." Adel berkata dengan gugup.

Sudah kuduga Ia akan seperti itu. Wanita baik-baik hanya akan menyerahkan mahkotanya demi laki-laki yang Ia cintai dan dilakukan setelah menikah. Bukan wanita yang selama ini sering kuajak free se x.

Kini giliran aku yang membuang pandanganku. Mengatur kekecewaan yang sedikit mencubit hatiku meski sudah kusiapkan sebelumnya. Masih saja terasa sakit saat mendengarnya langsung.

"Baiklah. Aku akan menghargai keputusan kamu. Tapi satu yang kutekankan, pernikahan ini bukan pernikahan main-main. Saat aku bilang tak ada putar balik, aku sudah menegaskannya berkali-kali sama kamu."

"Aku tidak bilang kalau aku mau putar balik. Aku hanya... mau mempersiapkan diri aku sendiri dulu." ternyata Adel takut membuatku marah juga.

"Oke. Aku akan menunggu. Karena aku tahu, kamu akan menjadi istri yang baik. Kamu tau kan caranya menjadi istri yang baik?" aku mengerling jahil pada Adel.

Kena kamu, enggak bisa kamu pergi dari aku, Del. Aku akan memberi kamu waktu, tapi aku enggak akan membiarkan kamu pergi dari sisi aku.

****

1
Elis Ayna
Baru balik lagi min ini di ganti gak sih ceritanya
Tika Gemoy
mewekkk lagii😭
Tika Gemoy
tiap kali baca ,masih nangis juga😭😭
Hani Hani
uda baca ini 5x tamat tapi ttp ngakak sm kelakuan richard🤣🤣
Ida Rodiah
Luar biasa
martini
luar biasa
Evi Yolanda
thor buat lah Ndut bucin secepatnya 🤣🤣🤣🤣
Evi Yolanda
jd gedek SM adel .. gendut mang siadel
Ning Fifi
👍👍👍
Ernawati💕
luar biasa
💐Tari Nyonya Sibuea💐
dsr jalang murahan🤮🤮
Ran Aulia
poor Babang Icad 😭😭😭
Ran Aulia
terima kasih kak, ceritanya bagus 🥰🥰🥰🥰
✨️ɛ.
lika liku perjalanan Kakanda dalam menaklukkan hati Neng Adel..
Ei_AldeguerGhazali
Jaksa dan terdakwa wkwk jadi ngakak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Ei_AldeguerGhazali
Ikut mesem aku del🤣
Ei_AldeguerGhazali
Beneran sengklek sih maya🤣
Ei_AldeguerGhazali
Bang icad udah beneran taubat mah ini🤣🤣👍🏻
Ei_AldeguerGhazali
Ngakak 🤣 bener bgt ya bang icad
Ei_AldeguerGhazali
Gercep bgt dah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!