Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34.
"Tumben Ayah sekarang enggak marah-marah," batin Rafan.
Rafan dan Doni selesai dengan makannya mereka pun minta izin pulang kepada bunda untuk menuju ke apartemennya lagi.
"Apakah kalian sudah kenyang makannya? Kok buru-buru pengen pulang."
"Kami sudah kenyang.Terima kasih untuk makan siangnya ya, Bun."
"Iya nak, sama-sama."
Rafan melirik kearah ayahnya. Ia tetap fokus menyantap makanannya tanpa melirik kearah Rafan.
Rafan berpamitan dan mencium punggung tangan bunda-nya. Ia pun menghampiri ayah-nya mencoba untuk menyalami punggung tangannya, ayah-nya hanya melirik sajah. "Kamu mau pulang? Ya sudah pulang!" hanya itu kata yang terucap dari bibir ayah-nya, padahal Rafan ingin sekali bersalaman mencium punggung tangannya.
Rafan dan Doni pun pergi meninggalkan rumah milik ayah-nya, bunda mengantarkan kepergian Rafan sampai depan rumah, ia segera masuk ke dalam mobil-nya beserta Doni dan mereka pun berlalu pergi meninggalkan halaman rumah mewah itu.
"Fan! Kok tumben ayah lo hari ini adem, lumayanlah cuek-cuek juga tapi tidak berkata yang kasar dan menyakitkan."
"Lo benar Don! Tapi dengan diamnya ayah, gue jadi bingung ada apa dengannya."
"Mungkin ayah lo sudah mulai sadar akan kesalahannya."
"Gue harap begitu, Don! Karena gue sudah sangat kangen akan kebersamaan di rumah bersama ayah seperti dulu."
"Oh ya, Don! Lo pulangnya mau ke apartemen gue lagi atau ke kontrakan."
"Kayaknya gue ke kontrakan dulu aja deh, Fan! Nanti kalau lo butuh di temenin, gue langsung ke apartemen lo lagi," ujar Doni sambil tertawa.
"Mendingan gue aja deh yang ikut lo ke kontrakan, sudah lama gue nggak main ke kontrakan lo, Don!"
"Oke lah! Itu lebih baik."
Akhirnya Rafan berbalik arah untuk menuju ke kontrakan Doni. Ia pun melajukan mobil-nya dengan santai dan fokus melihat jalanan. Rafan dikagetkan dengan seorang wanita yang sedang bermesraan dengan seorang pria dipinggir jalan, wanita itu masuk ke dalam mobil pria itu dan Rafan mencoba untuk mengikutinya, Doni merasa kaget karena arah yang Rafan tuju bukan menuju ke kontrakannya melainkan menuju ke bandara.
"Fan lo nggak salah! Ini mah bukan menuju ke kontrakan gue, perasaan ini menuju ke bandara deh Fan."
"Sudah jangan banyak bicara! Ikut saja." ujar Rafan begitu tegas dan mata-nya terfokus kepada mobil yang ada di depan-nya.
"Lo ngikutin siapa sih, Fan?" ujar Doni penasaran.
"Kamila!"
Doni terperangah kaget karena Rafan berkata bahwa ia mengikuti Kamila.
"Jangan bilang kalau lo.........!" Doni tidak melanjutkan perkataannya.
"Gue penasaran aja, Don! Sama cowok yang bersama dengan Kamila, sepertinya cowok yang mengantarnya ke bandara itu bukan cowok yang sama seperti yang waktu gue lihat di club, waktu Kamila selingkuhin gue."
"Kalau memang nih cowok beda lagi, parah banget tuh mantan cewek lo, Fan! Suka mainin cowok, gak takut karma apa dia."
Rafan tidak menjawab pertanyaan Doni. Ia terus fokus menyetir mengikuti mobil yang ada di depannya. Sesampainya di bandara Rafan menghentikan mobil-nya dan tetap berada di dalam mobil memperhatikan Kamila bersama cowok itu, Doni pun ikut fokus memperhatikan Kamila.
"Wah! Benar-benar parah mantan cewek lo, Fan!" ujar Doni sambil terus menggelengkan kepalanya.
Kamila begitu mesra dengan pria itu ketika mereka turun dari dalam mobil pria itu tak lupa mengecup kening Kamila dengan mesra, dan ia pun terus memegangi tangan Kamila. Rafan terkaget ternyata pria yang sekarang bersama Kamila bukanlah pria yang sama. Rafan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sebelum Kamila masuk ke dalam Bandara segera Rafan keluar dari dalam mobilnya.
"Sungguh pemandangan yang indah dipandang mata," ujar Rafan sambil bertepuk tangan.
"Rafan!"........ Ujar Kamila sangat kaget.
"Gue tidak akan marah dengan apa yang gue lihat sekarang, karena gue yakin nanti lo akan sadar sendiri dengan apa yang telah lo perbuat kepada gue! Tuhan punya kehendak lain. Tuhan menunjukkan bukti paling kuat yang membuat gue tahu bahwa lo bukan jodoh gue. Selamat tinggal Kamila! Dan satu hal lagi yang harus lo ingat. Karma tak pernah salah alamat." ujar Rafan dengan tegas sambil berlalu pergi meninggalkan Kamila yang berdiri mematung.
dan langsung menaiki mobil-nya pergi meninggalkan bandara tersebut.
Wajah pria itu pun tak kalah kaget mendengar ucapan yang dikatakan Rafan kepada Kamila.
"Siapa pria itu sayang!" ujar Diego sambil menatap tajam ke arah Kamila.
"Bukan siapa-siapa sayang, dia itu hanya seorang lelaki yang mengejar cintaku, namun aku menolak cintanya." Alasan Kamila kepada Diego.
"Oh! Kirain pacar kamu yang baru, aku hampir saja marah," ujar Diego.
Diego pun kembali merangkul pinggang Kamila dan masuk ke dalam Bandara Soekarno Hatta. Jarak tempuh dari Jakarta menuju ke Jepang rata-rata membutuhkan waktu 7 sampai 8 jam. Kamila menaiki pesawat Japan Airlines, karena ia menggunakan penerbangan langsung menuju Jepang dan jam keberangkatan 03:40 pm.
Kamila sudah dari dulu menginginkan pergi ke daerah Jepang Negeri Sakura itu, dan baru sekarang ia bisa menuju ke sana untuk pemotretan model sana.
Kamila akan langsung menuju ke Hotel Mandarin Oriental Tokyo hotel berbintang lima, karena itu hotel yang sangat mewah tarifnya pun terbilang fantastis 15.000,000 permalam. Kamila memilih hotel ini karena kamarnya yang luas service dan fasilitas memadai staf yang ramah, daerah strategis berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan tempat makan, karena Kamila juga sangat menyukai kemewahan makanya apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan kemewahan itu.
"Sayang aku antar kamu sampai sini. Ingat pesan-ku! Jangan main-main dengan pria lain," ujar Diego begitu tegas kepada Kamila.
"Tentu saja sayang! Karena aku mencintaimu." Mulut manis Kamila yang selalu mengumbar janji kepada setiap pria.
Akhirnya waktu keberangkatan Kamila pun tiba, ia segera menaiki pesawatnya. Iapun tak lupa memberikan kecupan manis kepada Diego sebagai tanda perpisahan untuknya, karena Kamila akan tinggal lama di negara Jepang mungkin sekitar 3 bulan.
Pesawat yang ditumpangi Kamila akhirnya lepas landas menuju langit dan menerobos ke awan putih. Diego hanya bisa menatap pesawat yang sudah terlihat sangat jauh.
* * * *
Sedangkan di dalam mobil Doni bersorak bahagia mendengar perkataan yang dilontarkan Rafan. kepada Kamila.
"Cara lo bagus, Bro! Secara halus namun sangat menyakitkan untuk Kamila dengar." Hahaha Doni tertawa terbahak-bahak.
Rafan kembali berbalik arah menuju ke kontrakan Doni, sepanjang perjalanan Doni hanya terus tertawa mengingat kejadian yang sudah dilihat dan didengarnya.
"Lo nggak capek apa ketawa mulu! Berisik banget gue dengernya."
Rafan akhirnya sampai di kontrakan Doni, namun Doni masih terus tertawa tiada henti.