Menikah saat masih SMA? Yang benar saja? Akankah kisah ku ber akhir dengan bahagia?
Ikuti kisah Alifea dan Azrel yang absurd dalam cerita Nikah muda SMA!
Salam Author-Jangan lupa follow, like and coment!✓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek_Zhea♡《, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Mos Si
"Nggak, nggak mungkin!"
Azrel berteriak frustasi di ruang keluarganya, gila saja. Dia menunggu selama 2 tahun untuk melihat istrinya sendiri bangun, tapi yang dia dapatkan malah Alifea yang amnesia.
Ya, Alifea hanya amnesia tentang Azrel. Cuman Azrel, aneh kan?
Azrel kalut dalam pikirannya, mulai frustasi. Sampai-sampai handphone yang ada di sampingnya dia lempar ke lantai dan pecah berkeping-keping. Evan, dan si kembar itu lanstas kaget dengan perilaku Azrel yang kelihatan gila itu.
"Papah, jangan malah-malah. Sayang kan hape nya mayah dibanting," omel Zalfian gemash, malah meraih handphone Azrel yang sudah pecah itu.
Beda hal nya dengan Zailand, bocah itu meraih tangan papanya dan mulai menenangkannya.
"Papah, jan marah-marah. Ntar kata nenek anemia sama darah tinggi papa kumat lo, Zai kan nggak mau liat papa sakit kayak mamah." sungguh bijak bocah ini, pengucapannya lebih lancar daripada adiknya itu.
Azrel menatap lesu Zailand, Azrel bisa melihat jelas di mata putranya itu antara cemas dan kecewa. Azrel meraih Zailand dan Zalfian ke pelukannya.
"Maaf ya nak, papa nggak bisa bawa pulang mamah kalian." tangis Azrel tersedu-sedu. Ayah siapa yang tak sedih tak bisa menjanjikan sesuatu yang sangat diharapkan anaknya?
Zailand balas memeluk Azrel, sama halnya dengan Zalfian.
"Nggak papa, kan yang penting papa masih sama kami. Tapi papa ntar harus janji ya, bawa mama puyang ke rumah?" ucap Zailand penuh harap. Adiknya pun juga begitu.
Azrel menyeka matanha haru.
"Iya, papa janji."
Dari sini, Azrel harus berjuang. Sama halnya dengan Alifea dulu, mempertaruhkan nyawanya demi malaikat kecil yang sangat Azrel tunggu. Azrel juga harus mempersiapkan nyawanya. Apapun keadaannya.
****
Kediaman keluarga Ghaidan.
2 bulan berlalu, sejak kejadian di rumah sakit, Alifea jadi sangat kepikiran. Tapi itu sering membuat nya sakit kepala berkunang-kunang.
'Alifea! aku ini suami kamu! Azrel Fe!"
'Aku bilang aku nggak kenal kamu! pergi! pergi!"
'Alifea, kamu ... kenapa?"
"Mamah?"
Alifea tersentak kaget, menengok kesana kemari. Mengelus dadanya tersadar, lalu bangkit dari kamar tidurnya menuju ruang keluarga. Alifea sering memandang cincin yang terpaut manis di jarinya, Alifea tak pernah bisa melepaskan cincin tersebut. Tapi bisa dilihat kalau cincin itu dibuat khusus untuknya.
Di masa lalu?
"Coba aku inget-inget, hm ..." Alifea mulai berpikir, menjetikan jarinya di dagunya.
"Ah iya! bunda juga bilang aku udah nggak perawan, tapi ... cowok itu, siapa?"
-
"Sungguh, kamu itu siapa?"
Azrel menatap tak percaya padanya, Alifea menuingkirkan tubuh Azrel disampingnya. Dengan terkejut dan terpaut emosi, tiba-tiba Azrel berteriak.
"Aku ini suami kamu Fe! Azrel! bisa-bisanya kamu lupa sama suami sendiri!" Azrel terpancing emosinya, membuat seruangan terlonjak kaget atas suaranya.
"Aku sudah bilang! aku nggak kenal kamu kan! pergi!" Alifea berusaha melepaskan diri dari Azrel.
"FEA!!"
Teriakan Azrel membuat seluruh satu ruangan bergetar, Zalfian dan Zailand memandang takut pada papanya yang sudah marah. Tubuh Alifea bergetar, jatuh tersungkur lemas di lantai. Azrel menatapnya beku, air matanya tumpah.
'Kenapa?"
"To--tolong, kak Vina ..."
Alifea yang masih tak normal itu, Vina mengangkatnya dan membawanya keluar. Membantu Alifea membersihkan diri, membiarkan Azrel menengnangkan dirinya.
"Papa ... mama kenapa?" tanya Zailand dan Zalfian pada Azrel, yang tersungkur di lantai lemas.
Mereka bahkan bisa melihat air mata berjatuhan ke lantai, air mata Azrel. Dengan sigap, dua bocah itu mengerti.
"Papa, papa jangan nangis, nanti Zal ikut nangis juga ..." senguk Zal disamping Azrel.
"Papa ... mama kenapa pa? Kok kayak nggak kenal sama kita? Kok papa marah-marah sama mama? Mama kenapa?" Zailand bertubi-tubi bertanya cemas.
Azrel tak berani menjawabnya, Azrel juga baru sadar tadi. Azrel tak berani melihat reaksi kedua putranya saat tahu mama mereka telah 'Amnesia.
"Nggak papa, Maaf ya. Mamah nggak bisa papa bawa pulang."
****
Hari ini si kembar berusia 4 tahun, walaupun begitu. Si kembar Z ini tak mau dirayakan besar-besaran, salah satu hadiah terbesar yang pernah mereka harapkan adalah. Mama mereka bisa bergabung dengan mereka dan tinggal selamanya.
Terlihat rumah punya Azrel, bukan rumah keluarga besar. Penuh dengan kado-kado dari teman, keluarga, kerabat dan sahabat. Tapi mereka malah malas untuk membukanya. Sekarang mereka malah sibuk menggangu papa mereka.
"Papa ... Zai mau ikut pa!"
"Papa! ajak Zal ce kamyus papa!"
"Hah? Kamyus? Kampus?" balas Azrel tak mengerti.
"Iyaa! ikutt!" kompak mereka. Azrel menggeleng cepat.
"Hari ini papa ada jadwal ngajar di kampus Za ... mau papa bawa kemana kalian kalo ikut papa ngajar? Kalian mau jadi dosen cadangan?" omel Azrel berkacak pinggang, merapikan ikat pinggangnya yang belum selesai.
Tapi naas saat Zailand dan Zalfian menarik celana Azrel sampai hampir melorot. Untung Azrel segera menariknya, agar tak jadi bahan aib di mulut mereka.
"Zaa! aduhhh! iya-iya, boleh! sana kejar om Evan dulu keluar!"
Dengan gembira, mereka berdua menyerobot Azrel dan pergi keluar. Menyusul Evan yang ada di depan mobil mereka. Sebelum keluar, Azrel sedikit menyibakan rambutnya di depan cermin.
Azrel jadi duda tampan? Oh enggak. Dianya aja belum bercerai, udah gitu masih muda. Cincin pernikahannya dengan Alifea, Azrel bersumpah tak akan pernah melepaskannya.
Azrel keluar dan menuju mobilnya, Evan mempersilahkan masuk dan terlihat si kembar terlihat gembira duduk di depan. Hari ini si kembar bisa bebas menggangu Azrel saat mengajar di kampus milik kakek mereka, Azrel tak akan bisa membantah. Karna ini hari ulang tahun mereka.
"Kalian jangan nakal ya? Oke?"
Mereka berdua mengganguk, "Okye papa!"
Saat di jalan pun mereka berdua sama sekali tak menggangu Azrel, Zailand dan Zalfian asyik bermain dan makan di dalam mobil bersuka ria.
"Kila-kila, nanti di sana ada mama ndak Zai?"
"Nggak tau, coba tanya ama papa."
Zalfian beralih bertanya pada Azrel, "Papa, nangi disana Zal bisa ketemu ama mama nggak?"
Azrel hanya tersenyum kecut, "Kita liat nanti ya sayang."
****
Alifea menatap kampus barunya itu, terlihat sangat elit dan mewah. Sudah cukup Alifea bersarang dalam rumahnya, sekarang Alifea berharap setelah keluar. Keluarga kecil itu tak menggangunya.
"Huh, semoga tu bapak-bapak sama anaknya nggak nguntilin aku deh. Capek."
Zailand dan Zalfian sangat senang mendengar mama mereka sudah sadar, yang mengherankan karna mama mereka tak pernah pulang ke rumah Azrel. Malah ke rumah nenek mereka, setiap hari bocah itu datang ke rumah Alifea dan mengantarkan makanan kesukaannya. Mereka tak mengajak Azrel, kata mereka soalnya papa sekaranh sudah gila kalau liat mama lupa lupaan soalnya.
"Capek aku tuh di kuntilin sama mereka, yang anehnya ..."
"KENAPA HARUS AKU YANG DIPANGGIL MAMA SAMA MEREKA COBA? HAISHHH!!"
Alifea menunggu di depan kampusnya, menunggu Theia datang sekedar menemaninya. Tepat saaat dosen utama itu datang dan membawa putra kembarnya ke kampusnya. Mereka berdua selalu bisa mencari perhatian di sekitarnya.
"Eh, pak Azrel dateng bawa mereka berdua, tumben banget ya?"
"Kyaa! anaknga gemeush banget! mirip tau sama bapaknya!"
"Huwaa! nggal bisa dokus dong kuliah hari ini! triple kill ini mah!"
Teriakan para mahasiswi yan selalu mencari perhatian sang dosen hot daddy itu, selalu bernilai 0! mereka mengira bahwa istri Azrel sudah meninggal dan Azrel sendiri yang mengurus anak-anaknya.
Rebut hati anaknya dulu bro, nanti bapaknya juga ngikut kok. Cielah, pede amat.
"Papa! papa nggak iat cari mama balu lagi kan? Nanti nenek malah lo! Zal jugak!" Zalfian berteriak pada Azrel yang sudah dikerubungi para mahasiswi.
Para mahasiswi itupun terkejut, mendengar ucapan bocah 4 tahun tersebut. Azrel mengomelinya dan membawa mereka berdua permisi untuk masuk ke dalam kampus.
"Papa, papa! itu mama!"
Azrel menengok sekilas, tampak tak melihatnya. Lebih tepatnya dia lagi masa bodo.
"Mama! mama! MAAAMAAA!!"
"Hah? Siapa yang kamu panggil ma---"
Alifea yang sedari tadi berdiri di samping Azrel, kupingnya sampai mau pecah mendengar teriakan anak dosennya itu. Azrel bahkan tak tahu Alifea berdiri di sampingnya sejak tadi.
"Mama kamu nggak---"
"Kamu?"
Sontak Azrel terkejut, berpaling ke sampingnya tak percaya. Alifea, ada di hadapannya sekarang.
"Ada disini Za ..."
Azrel menatapi Alifea lurus, rindu? Tentu saja. Sudah lama Azrel tak menatap mata Alifea yang menurut nya sangatlah berharga.
'Dekat tapi, terasa jauh.'
Alifea mendelik sebal, dikira Azrel sudah mengikutinya, "Kamu lagi, kamu lagi. Udah berapa kali sih aku bilang, aku tuh nggak kenal!"
Teriakan Alifea spontan mendapat pelototan dari mahasiswi kampus, yang bener aja? Dia lagi marahin dosen populer plus hot daddy loh! gawatnya dia itu dosen, D - O - S - E - N.
"Mama! Zal kangen!" teriak Zalfian, merentangkan tangannya tanda kerinduan. Dapat lagi pelototan yang lebih hebat.
"Tck, sudah kubilang aku ini bukan mama mu! paham?!"
Ucapan Alifea meyayat hati Azrel, Azrel pun terbawa emosi. Bukan berarti dia marah pada Alifea.
"DIAM!"
Glek.
Azrel menatap Alifea tajam, "Kamu ..."
•
•
•
•
•
[ Bersmbung deh, aowkwkwkw ]g