NovelToon NovelToon
PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Masalah Pertumbuhan
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Renita Wei

Ini adalah sebuah cerita tentang persahabatan, cinta, keluarga dan bagaimana nasib membawa pada sebuah pilihan.

Tiga orang pria yang menjalani kehidupannya sendiri. Walaupun mereka dari keluarga yang sama, tapi itu tidak membuatnya harus serupa. Membiarkan hati mereka menuntun pada sebuah pilihan. Yang mereka yakini dan mereka perjuangkan.

Baskara Namu Perkasa, si sulung yang bijaksana dan gagah seperti namanya. Namun sesungguhnya ia selalu merasa tersisih oleh latar belakangnya. Semua itu membuat pria tampan ini menjadi pribadi yang perfeksionis.

Haidar Mandala Wirayudha, sang adik yang mempunyai kecerdasan dan ketampanan diataa rata-rata. Namun sayang, ia memilih jalan menjadi dokter bengal yang tak henti membuat kekacauan di rumah sakit. Tapi hatinya sangat lembut, dan tidak banyak orang yang mengerti.

Narendra Raka Dipa, seorang adik yang terbebani dengan nama-nama besar saudara dan saudarinya. Membuatnya memilih hidup dalam penyamaran demi menemukan yang tulus mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renita Wei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengurai Masai, Menggenapi Janji (4)

Wisya tidak bisa tinggal diam melihat kesibukan Haidar. Ia dengan senang hati menjadi asisten meracikan resep obat untuk pasien-pasien yang datang sore hingga malam itu. Padahal kalau di rumah sakit, ia cukup memeriksa dan menuliskan resep saja.

" Ini yang terakhir .... tolong dipuyerkan sekalian ya pak ... ", Haidar tak henti menggoda kawannya itu.

Beberapa saat kemudian keduanya sudah selesai dan nampak sedang bersiap-siap untuk makan malam. Wisya memandang penuh tanda tanya pada hidangan yang sudah tersedia diatas meja.

" Kapan kau masaknya ? ", tanya Wisya

" Aku tadi pesan sama Bu Iin yang punya warung makan tak jauh dari sini. Ikan bakar dan urap rumput laut. Sudah pernah mencobanya ? ".

" Sudah ... aku suka juga kok. Oh ya, nanti bagi nomer Bu Iin ya.. ".

Haidar mengacungkan jempolnya tanda setuju. Lalu kedua orang itupun mulai makan dengan nikmat. Beberapa saat setelah selesai dan membereskan peralatan makan malam itu, keduanya tampak santai diberanda dengan masing-masing menyeruput secangkir kopi.

" Ada bu Kunti yang datang tiap pagi untuk bersih-bersih, cuci dan setrika, kadang juga ku minta memasak. Kau nanti bisa melanjutkan kerjanya. Orangnya ramah ... dan hanya sedikit bisa berbahasa Indonesia ".

" Oh ngono tow ?, aku yow iso .. ", Wisya segera berseloroh. " Namanya ... hiiiiy ... Kunti ".

" Bukan Kuntilanak ... Kuntinah. Aku juga agak ngeri awalnya, tapi dia menolak saat kupanggil Bu Tinah. Oh ya... kau jangan kaget dengan suara ketawanya ".

" Kenapa ?! ... persis si Kuntil - anak ? ".

" Kau dengar saja sendiri nanti ", Haidar tersenyum geli melihat tingkah Wisya yang nampak waspada. " Malu sama brewok mas ".

" Heem.. untung masih ada kau. Aku risih mendengar namanya ".

" Boleh aku tanya sesuatu ? ", Haidar mengalihkan pembicaraan.

" Tanyalah ".

" Apa kau menggunakannya koneksi ayahmu ... untuk bisa ditugaskan disini ? ".

" As your thinking .... tapi tidak secara langsung. Kepala Dinas yang sekarang ... kau tahu, dia teman baik orang tua kita dulu. Aku menghadap langsung dan meminta ".

" Ooh.... aku malah baru tahu ".

" Kau tahu... mereka semua mengerutkan keningnya berjamaah ... ha..ha..ha pasti berpikir aku sedikit gila. Padahal kau lebih gila lagi ya ... ", Wisya tertawa sambil menatap Haidar dengan pandangan meledek.

" Aku gila.... ya!!, mumpung ada kesempatan untuk bisa gila. Tapi kau .... gila karena cinta ", balas Haidar.

" Benar .... cinta itu membuat ku gila setengah mati. Kehilangan kemampuan untuk menganalisis dan juga nalar untuk berpikir logis .... maaf aku ".

" What for ? ".

" Untuk semua yang sudah kulakukan pada mu ... serta tuduhan tak berdasar ku pada mamamu dan juga kau ".

" Heeeem.... sudahlah, itu hanya kesalahpahaman kecil di usia penuh kelabilan dulu, toh sekarang kita bisa duduk berbincang bersama di sini ".

" Iya ya... ". Wisya menggangguk-angguk menyepakati apa yang disampaikan Haidar. " Tapi aku tetap meminta maaf ".

" Ku maafkan..... tapi dengan satu imbalan ".

" Baiklah .... apa itu ", sergah Wisya tak kalah cepat.

" Jujur padaku ..... kau sangat mencintai Yulia ? ", pertanyaan telak itu meluncur pada Wisya.

" Ya .. ".

" Lalu apa arti pernikahan mu dengan Anelis.... yang tidak lebih dari delapan bulan itu ? ".

" Itu..... ", Wisya sedikit menjeda kalimatnya. " Itu untuk membuat suatu kesepakatan saja dengan mamaku ".

Haidar mengerutkan kening sambil menatap dalam pada Wisya. " Apa yang kau rencanakan dari semua ini ? ".

" Huuuuff... kau tahu bagaimana seorang Anelis dan juga Nyoya Siska bukan. Aku menyetujui pernikahan itu.... tapi mereka juga harus menyetujui syarat yang aku ajukan. Dan tepat seperti dugaan ku .... tuan putri itu tidak mampu bertahan dan memilih pergi ".

" Oooh ... seberat apa sih syarat yang kau ajukan untuk kompensasi atas pernikahan itu ? ", Haidar tak mampu menahan rasa penasarannya.

" Ah .... mudah saja, hanya harus mau mendampingi ku yang menjadi abdi negara dan tidak boleh ada campur tangan dari kedua orang tua ".

" Wouuuw..... untuk seorang Anelis tentu itu seperti sebuah penjara kebebasan ..... belenggu kebahagiaan, ya ?".

" He... he... he.... sudah kupikirkan masak-masak ... termasuk tempat tugasnya. Dan tepat seperti dugaan ku, akulah pemenangnya ".

" Kasihan dia.... ", Haidar menampakkan wajah memelas.

" Kasihan apanya ??? ... dia bekas, sisa orang ... Justru aku yang menyelamatkan reputasinya. Janda muda..... tentu suaminya nanti akan maklum ", suara Wisya terdengar meninggi.

" Pfftt.... ", Haidar tak mampu menahan tawa gelinya. " Terus ..... karena hal itu juga kau menceraikannya ? karena sudah lepas segel itu ? ".

" Dia yang mengajukan gugatan cerai .... mana tahan dia hidup di desa dengan penghasilan seorang pegawai negeri ".

" Ooh.... tapi.. Yulia sudah tahu akan hal ini ? ".

Pertanyaan Haidar tidak segera dijawab oleh Wisya. Pria muda itu mengalihkan pandangannya pada rinai hujan yang turun perlahan.

" Aku akan memberi tahunya ..... pasti ", ucap Wisya dengan yakin.

Haidar kembali manggut-manggut dan mengikuti Wisya yang menatap rinai hujan.

" Sudah waktunya ..... kita meluruskan semuanya. Kau tahu..... kita ini telah menyiksa hati seorang perempuan yang lembut. Sudah waktunya kita membuatnya bahagia ", Haidar berkata dengan suara yang jelas terdengar.

Wisya tiba-tiba saja merasakan ada sembilu yang mengiris hatinya perlahan. Sakit dan perih, entah mengapa demikian. Perasaan yang hampir sama saat ia melihat Yulia yang menangis di pelukan pria di sebelahnya ini..... dulu.

" Kau ..... ", terdengar ada sedikit keraguan pada tanya yang akan disampaikan Wisya . " Kau.... mencintainya ? ".

" Ya ".

Jawaban yang lugas dan cepat tanpa keraguan dari bibir Haidar membuat Wisya membeku seketika. Ia sesaat seperti terlupa akan tekadnya untuk menerima dengan lapang dada, apapun ... untuk kebahagiaan seorang Yulia. Tapi saat terdengar kata 'ya' dari seorang rival... hatinya pun tidak kuasa menahan luapan cemburu.

" Heiii .... ", Haidar terkekeh melihat perubahan wajah pria disebelahnya. " Seluruh dunia akan segera tahu motiv mu jika kau tidak bisa menyembunyikan wajah cemburu mu itu. Aku mencintai Yulia... tapi tidak seperti cinta mu padanya. Ia .... bagiku hanya teman yang pernah ku korbankan dan aku harus menebus dosa. Aku mencintainya sebagai adik kecilku yang manis . Kau..... boleh bernafas lega sekarang ".

Wisya masih termangu tak percaya. Ia menatap Haidar lebih dalam, mencoba mencari secuil saja ketidak sungguhan dalam rona wajah pria itu. Tapi ia mendapatkan sebuah ketulusan yang terpancar dari senyuman kawan bermara teduh itu.

" Jangan lama-lama menatap ku seperti itu.... bisa jatuh cinta kau nanti ".

Detik berikutnya adalah tawa yang berderai-derai dari seorang Wisya. Pria yang mendapatkan kelegaan, dan bongkahan harapan.

" Tapi .... bagaimana kalau Yulia justru mencintai ku ? ".

Tanya yang disusulkan Haidar itu bagai sebuah ironi. Sesaat tadi pria itu begitu lega, ia merasakan terbang bebas , melayang tinggi menembus mega. Tapi kemudian kilatan petir menyambar sayap angannya, dan kini ia terhempas. Jatuh terpelanting menghantam bumi. Dengan suara berdebam dan sakit yang menyesakan dada. Tapi Wisya mencoba tersenyum.

" Akan ku lepaskan dia..... dan akan ku ungkap satu kebenaran padanya ".

" Tentang ungkapan cintamu ? ", cecar Haidar.

" Lebih dari itu...... kebenaran yang pasti membuatnya semakin membenci ku ".

" Apapun itu.... tapi aku tidak bisa menerima cinta Yulia ", Haidar berkata sambil meregangkan tangan dan kakinya, ia pun mulai menguap.

" Apakah Yulia ..... ", Wisya

" Pernah menyatakan cintanya padaku ? ", sela Haidar dengan cepat. " Tentu saja tidak ..... sikapnya padaku pun sangat biasa dan wajar ".

" Hah ?!!! .... lah, tadi.... maksud pertanyaan mu ?", Wisya bengong.

" He.. he... he.... ", Haidar kembali terkekeh-kekeh. " Ngetes pak dokter yang baru bucin saja ".

" Isssh.... dasar tukang bedah .... gunakan pisau bedah mu di ruang operasi saja..... jangan untuk mengoyak hatiku, kampret lo' !!!".

" Hua ... ha... ha .... ha..... ".

...........................

Rasanya sangat melelahkan, terus menerus menghindar. Ikut posyandu ke sana kemari, pertemuan kader kesehatan desa, lalu menyembunyikan diri di ruangan dengan harap-harap cemas. Setiap ada yang mengetuk pintunya, ia pun akan merasakan degupan jantungnya meningkat drastis. Dua hari yang sangat menyiksa.

Tapi pagi ini sedikit rasa lega menyusupi relung hati, membuat sebaris senyuman di bibir Yulia terukir manis. Ini hari pertama bisa terlepas dari seorang Wisya Damara. Dan Yulia pun melangkah dengan ringan menuju ruangannya, setelah apel pagi itu.

" Sepertinya ada yang baru saja terbebas dari penjara niiih.. ", goda Haidar sambil menjajarkan langkah.

" Tidak usah menggodaku ... mentang-mentang sekarang punya teman baru ".

" Berdamailah.... kau harus segera berteman baik lagi dengan si brewok itu "

Huh... Yulia mendengus, ia pun melirik Haidar dengan tatapan yang terlihat kurang suka. Tapi didapatinya pria itu sedang tertawa geli.

" Wisya sudah jauh berubah sekarang, kau akan segera mengetahui semuanya. Lagian..... bener nih kau nggak kangen sama brewoknya ".

Sayangnya Yulia tidak menanggapi canda itu, dan Haidar segera menyadari kesalahannya. Ia pun buru-buru menyambung perkataannya sendiri, kali ini dengan sedik pelan dan intonasi yang lebih serius.

" Berikan dia kesempurnaan kedua. Semua orang berhak memperbaiki keadaan dan memperoleh maaf "

" Tapi kau sendiri yang bilang kalau Wisya itu licik .... atau kau sendiri yang plin-plan ". Yulia berhenti tepat didepan ruangannya, dari gesture yang ditampakkan begitu kentara ia sangat tidak suka, amarah itu terlihat mulai memercik.

" Ya.... aku yang mengubah penilaian ku setelah mengetahui yang sebenarnya. Ia tidak sejahat, selicik yang kita kenal selama ini... kita yang salah mengambil sudut pandang "

" Apakah ini bukan bagian dari kelicikan Wisya? ... kau saja sudah terhanyut oleh tipu muslihatnya ", Yulia semakin nampak tidak suka.

" Jika bukan orang yang paling kuhormati dan juga paling kusayangi yang menyampaikannya ... mungkin aku juga tidak akan percaya hal itu Yulia ", Haidar berusaha melembutkan hati Yulia yang nampak sudah mengeras karena amarah.

" Jika semua itu dari mamaku .... wanita berhati terlembut yang pernah aku kenal, tidak ada hal yang tidak kupercayai...... ".

Yulia terdiam, ia menatap kedalam sepasang mata Haidar. Dan ditemukannya sebuah alunan kelembutan dan kesungguhan. Hingga akhirnya ia menuturkan untuk mendengarkan semua penuturan pria dihadapannya ini. Walaupun beribu rasa percaya masih saja menderanya.

" Wisya hanya ingin mempertahankan tujuan hidup yang baru pertamakali ini dimiliknya. Pesan dari sang papa untuk menjadi pria sejati, serta impiannya ... pada akhirnya memilih suatu pengorbanan. Tapi dia cerdas, dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Dan benar saja .... ia berhasil. Hingga tahap ini ... tahap terbesar impiannya, yaitu menemukanmu Yulia ".

" Aku tidak mengerti apa maksud mu ", Yulia terlihat jengah.

" Kau akan mengerti nanti. Wisya yang akan menceritakan semuanya padamu ".

" Kenapa tidak kau cerita sekalian saja ", Tulis terlihat gusar.

" Ada hal ... yang harus diceritakan sendiri oleh pak dokter brewok itu. Yang jelas .... sekarang dia bebas, tidak lagi dalam kendali ibunya... ia telah menetapkan pilihannya sendiri. Yulia, sedikit ..... sedikit saja kau beri dia kesempatan ".

" Aku tetap tidak mengerti apa maksud mu dokter Haidar ..... ".

" Oke... oke... aku jelaskan. Semua berawal dari telepon mamaku seminggu yang lalu ..... ".

Dan Haidar pun mulai berkisah saat sang mama tercinta yang sudah cukup lama tidak ditemuinya, di malam yang masih berkawan hujan, tiba-tiba menelpon. Menceritakan dengan riuh tentang lawatannya ke Soul.

" Kau sih susah dihubungi ... padahal papa bermaksud mengajakmu. Rana yang ngebet ingin ikut, tapi nggak mungkin 'kan dia meninggalkan masa co-*** nya. Cinta akhirnya menyusul juga... padahal dari Semarang dia ".

" Wah.... kok nggak bilang-bilang ya mba Cinta. Padahal 'kan bisa aku samperin ".

" Halaaaah..... telpon mu saja susah dihubungi ", terdengar nada cibiran dari Orlin yang membuat anaknya tertawa garing.

" Ma... sebentar lagi aku kembali ke Jakarta dan mengubur semua mimpiku ... ", nada suara Haidar berubah menjadi sendu.

" Tidak ada mimpi yang terkubur.... kau tetap bisa terus menggapai mimpi mu juga memenuhi janjimu pada papa.... ada banyak yang bisa kau lakukan nak ".

" Aku sudah mulai mengurus pengunduran diriku. Oh ya, akan ada dokter spesialis kandungan yang ditempatkan disini.... ya walaupun cuma tiga hari dalam seminggu. Tapi lumayanlah . Dan mama pasti terkejut kalau tahu siapa dia... ".

" Memangnya siapa ? ..... calon menantu mamah ? ".

" Ha... ha... ha... dia laki-laki mah ".

" Oh kirain... apa nya yang bikin terkejut ", suara Orlin diseberang sana terdengar datar.

" Dia Wisya ... anaknya Om Dipta ".

" Waaah..... ", dan kali ini Orlin benar-benar terkejut. " Ternyata Wisya ada di kota yang sama dengan mu... kok kamu baru bilang sih ? ".

" Aku juga baru tahu ma.... jadi dia benar-benar menghilangkan jejak ya.... sejak peristiwa itu ? ".

" Iya... ", Orlin menjawab pendek.

" Menurut mama.... apa om Dipta tahu akan hal ini ? ".

" Entahlah.... tapi pria itu semakin hari terlihat semakin murung saja. Kalau mama kasih kabar dokter Dipta tentang keberadaan putranya.... bagaimana menurutmu ? ", Orlin meminta pendapat Haidar.

" Emhh.... gimana ya.... itu urusan rumah tangga orang sih ma'. Dan lagi ... aku nggak mau ya kalo mama dituduh sebagai penganggu rumah tangga orang lagi oleh Tante Siska ".

" Iya juga sih.... tapi sepertinya Siska mulai belajar banyak dari berbagai peristiwa yang terjadi karena keegoisannya itu. Memaksakan kehendaknya pada suami tanpa pernah memperhatikan apa yang sebenarnya diinginkan pria pendamping hidupnya itu ... ".

" Memaksa anaknya menikah demi menaikkan status dan gengsi.... dan pada akhirnya berakhir pada perceraian ", sambar Haidar dengan cepat.

" Dan yang paling menyakitkan tentu saja ditingkatkan oleh anaknya yang kecewa .... lalu suaminya berubah menjadi dingin dan tidak peduli. Kalau mama nggak sanggup hidup dengan suasana seperti itu .... ".

" Ma.... sebenarnya .... aku masih ada masalah dengan Wisya, kisah lalu ... yang harus segera diserahkan ".

" Nak.... jangan buat permusuhan dengan anak itu lagi. Dia sebenarnya mewarisi sifat bapaknya, hanya saja ..... sempat teracuni oleh keegoisan dan ketamakan ibunya. Tapi semua tindakannya kini... bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau Wisya sedang melakukan protes besar..... pasti dia sudah menyadari semuanya ".

" Ya Ma' ... aku juga ingin mengakhiri ini semua dengan bahagia ".

" Dimanapun kau berada... dengan siapapun ... jadilah orang yang penuh cinta dan kasih sayang. Lihat dengan hatimu, dengarkan dengan kalbumu ... saat kau ragu, peluklah hatimu dengan doa... kau akan bisa melalui segalanya ".

Haidar tersenyum, seolah ia bisa merasakan kelembutan seorang ibu yang sedang membelainya. Membisikkan nasehat dan doa terbaik sepanjang masa. Dialah malaikat tak bersayap untuk setiap anak-anaknya. Dan Haidar pun tak hentinya mengalungkan rasa syukur dihatinya.

" Ya Ma pasti... tunggu aku sebulan lagi ya Ma' ".

" Waduuuh .... masih lama ya, oh ya jangan lupa tengok Rana juga sebelum kembali ke rumah ".

" Siaaaaap..... beres Bu boss ".

Dan dengan satu salam penuh kebahagiaan, Haidar menutup telepon itu. Satu persatu janji hatinya mulai terpenuhinya. Sudah saatnya ia kembali dan memulai melihat kedalam kenangan dihatinya. Untuk memastikan tentang sebuah rasa yang tak dimengertinya, tentang sebuah debaran kala bayangan manis itu menyintas.

Ada mimpi yang harus segera ditinggalkan nya, tapi ada satu mimpi juga yang harus digapainya. Seolah sang waktu telah kembali membuka gerbang yang dulu masih tertutup. Haidar tersenyum.... ia mengeja sebuah nama, dan melukis seraut wajah jelita di kanvas hatinya

............

Mungkin aku sejenak mengabaikan mu

Mungkin aku sesaat meninggalkan mu

Tapi sesungguhnya, aku sedang bersiap untuk meraihmu yang tergantung bersama gemintang

Dalam senyap doaku.....

Kau selalu terselip manis di sana

Semanis senyuman yang selalu kau beri dulu

Semoga masa dan waktu ini tak menenggelamkan tentang dirimu

Semoga asa ini berbalas rasa

Wahai kejora yang benderang dibatas ufuk

...@@@@@#@@@@...

Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial.

IG : @renitawei_

FB : Reni Yusnita

Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.

Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.

@renita_wei

1
Nai's Mom 💞2
Udah mau 2 tahun ya gak kerasa belum ada update dari Mba Renita... Sehatkah mba??
Euis Mardiani
othor kapan nih update lagi kangeeennn kitaaa🤣
Trituwani
mb ren aq kira ad up lg g kenotif lohh ternyata yg aq buka bab sebelumnya 😭😭
Trituwani
calon mantu papa mandala ini
Trituwani
g da notif dihpq mb ren.. saking lamanya 😭😭😭
Trituwani
si anggrek bulan kan mas haid mb hanin...
Trituwani
abang haid n abang namu terdebest 😘
Trituwani
turunan si papa mandala ini
Asnah
sangat bagus, aku sllu menunggu up nya mba renita
titik pandit
Dan ini sudah baca yg ke 5x ... rasanya tetep penasaran....mbak Ren ditunggu up nya....😍😍😍Mas Alend and Qirun juga....
Asnah
sllu ditunggu up nya dek,,,🙏🙏
Agna
mba Author blm lupa kan klonada novelx blm tuntas? kisah sebagus dan sekeren ini sangat sayang dilewati
Agna
itulah yg namanya Kk, setiap Kk² punya cara sendiri mengekspresikan sayang mereka
Agna
mbak Author Renita kok blm dilanjut ya.. selalu teringat Ibu Orlin bila baca kisah perselingkuhan suaminya tp sang isteri dg tenangx bersikap
Esti Purwanti Sajidin
msh blm up ka
Hadrah Rara
ini masih lanjug atau pindah lapaj ya??
Trituwani
sesakit itu na..untung masih ada bang haid yg bisa buat sandaran untk sebentar karna bang namu dahada yg punya ya na/Cry/
Trituwani
ya allah dah hampir setahun q blm baca saking mb ren jarang up, kangeeeeen bgt mb ren.... sehat selalu mb ren dn ttp semangat
Erna P
aq baca pake akun baru hu hu...saking nungguin up nya.emailnya lupa sandi pun aq jabanin😭mbak Ren jangan lama2 up nya😭nungguin bgt lho sampe ahir kisah mereka.Kirana sabar y sayang.sakit bgt pasti emang.ayah yg kita kira tanpa cela malah justru udah punya cucu😭yg bahkan dari istri sah aja blm ada😭tapi dibanding Kirana harusnya sih Orlin yg merasakan sakit yg jauh lebih sakit.tapiiii Orlin kan emang berhati malaikat😭legowo bgt hatinya.murni sekali Orlin.smoga happy end buat hidupmu Lin.kalo aq di posisi Orlin meskipun dah tua g tau d3h sanggup enggak nerimanya
Asnah Saidan
kelamaan up nya dek. ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!