Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Vanila dan Kenangan Masa lalu
Malam semakin larut di Kota C. Di dalam apartemen mewahnya yang terletak di lantai tertinggi, Adit duduk bersandar di sofa kulit berwarna hitam. Ruangan itu hening, hanya diterangi oleh lampu sorot lembut yang menyoroti pemandangan kota dari jendela kaca raksasa. Namun, Adit tidak sedang menikmati pemandangan itu. Matanya terpejam, napasnya teratur namun terasa berat, seolah ia sedang menahan beban yang tak kasat mata.
Di sampingnya, tergeletak sebuah jaket blazer berwarna abu-abu gelap. Jaket itu adalah jaket yang tadi siang dipinjamkan kepada Davina. Jaket yang sempat memeluk tubuh wanita itu saat kedinginan di tengah hujan deras.
Perlahan, Adit membuka matanya. Tatapannya tertuju pada jaket itu. Ia mengulurkan tangan, jari-jarinya yang panjang dan kokoh menyentuh kain blazer tersebut dengan kelembutan yang jarang ia tunjukkan pada benda mati. Ia mengelus permukaan kain itu perlahan, seolah sedang membelai Rambut Davina.
Lalu, ia mengangkat jaket itu ke dekat wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencium aroma yang masih tersisa di sana.
Campuran wangi shampoo murah namun bersih, sedikit aroma sabun bayi Zahra, dan yang paling dominan... aroma khas Davina. Aroma vanilla samar yang selalu melekat pada kulit wanita itu sejak tujuh tahun lalu. Aroma yang pernah menjadi obat penenang bagi Adit di masa-masa sulit mereka dulu.
"Davina..." gumam Adit pelan, suaranya parau.
Mencium aroma itu membuat dadanya sesak, namun sekaligus memberinya ketenangan palsu. Seolah Davina benar-benar ada di sampingnya. Seolah jarak tujuh tahun dan kebohongan-kebohongan itu tidak pernah terjadi.
Dengan tangan yang masih memegang jaket erat, Adit mengambil ponselnya dari meja kopi. Jari-jarinya bergerak lincah membuka galeri foto. Ia tidak perlu mencari lama. Ada satu folder tersembunyi bernama "D". Folder yang tidak pernah ia hapus, meski ia mencoba melupakan.
Ia membukanya.
Ratusan foto muncul di layar. Foto-foto dari tujuh tahun yang lalu.
Foto Davina sedang tertawa lepas di taman kampus, memegang es krim yang meleleh.
Foto Davina sedang tidur pulas di bahunya , yang ia ambil tanpa sepengetahuan Davina di perpustakaan kampus.
Foto Davina dengan mata berbinar, mengenakan gaun sederhana, saat dinner pertama mereka pacaran.
Adit menatap setiap foto dengan tatapan sedih. Wajah Davina di foto-foto itu terlihat begitu muda, begitu polos, dan begitu bahagia. Bahagia bersamanya.
Kalimat Davina tadi masih bergema di kepalanya. Adit menghela napas panjang, mengetuk-ngetuk jari ke meja. Sebagai seorang pengusaha yang terbiasa membaca orang, ia tahu ada sesuatu yang ganjil. Davina terlihat terlalu mandiri, terlalu lelah, dan matanya menyimpan kesedihan yang mendalam,bukan kesedihan karena rindu pada suami yang jauh, melainkan kesedihan karena ditinggalkan.
Selain itu, informasi dari Dimas (teman kuliahnya) beberapa hari lalu sudah menyebutkan bahwa Davina dan suaminya sudah berpisah. Jadi, jawaban Davina jelas sebuah kebohongan.
Adit tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia justru merasa... tertarik.
"Davina," gumamnya pelan. "Kamu berbohong padaku. Kamu punya alasan untuk menutupi status aslimu. Mungkin kamu takut aku akan mengganggu, atau mungkin kamu malu. Apapun alasannya, aku menghargainya."
Ia mengunci ponselnya, meletakkannya kembali, dan memejamkan mata lagi, membiarkan aroma Davina di jaket itu menenangkannya hingga tertidur di sofa.
Klub Malam "Velvet", Kota A
Sementara di Kota A, suasana sangat berbeda. Musik bass yang menghentak keras mengguncang dinding-dinding klub malam yang penuh asap rokok dan cahaya neon yang menyilaukan. Orang-orang berdansa liar, minum-minuman keras, dan lupa diri.
Di sudut VIP yang terpisah dari kerumunan, seorang pria duduk dengan gelas whiskey di tangannya. Kemejanya sudah kusut, dasinya longgar, dan matanya merah karena alkohol.
Itu Rio.
Suami ,atau lebih tepatnya, mantan suami yang secara hukum belum resmi bercerai dari Davina.
Rio tertawa terbahak-bahak, suara yang kasar dan tidak menyenangkan. Ia baru saja menghabiskan botol ketiga whiskey-nya. Kepalanya pusing, namun ia terus menuangkan minuman ke gelasnya. Baginya, mabuk adalah satu-satunya cara untuk lari dari kenyataan bahwa hidupnya berantakan.
"Hei, Rio! Jangan melamun saja!" seru seorang wanita dengan gaun merah ketat yang duduk di sebelahnya. Wanita itu bernama Siska, teman "hiburan" Rio yang sudah ia kenal sejak beberapa bulan terakhir. Siapa tidak kenal dengan Rio pengusaha muda dan sukses.
Rio menoleh, senyum miring terpampang di wajahnya yang pucat. "Siapa yang melamun, Sayang? Aku hanya... menikmati kebebasan," ucapnya sambil meneguk habis isi gelasnya.
Siska tertawa, merangkul lengan Rio dengan posesif. "Bebas? Kamu lagi berantem ya sama orang rumah kamu. Kenapa kamu di sini sendirian? Istri kamu nggak marah?"
Mendengar kata "istri", wajah Rio berubah seketika. Senyumnya hilang, digantikan oleh ekspresi kesal dan dingin.
"Davina..." geram Rio pelan. "Dia bukan istri lagi. Dia cuma... beban yang akhirnya pergi juga. Perempuan itu terlalu keras kepala. Terlalu suci buat dunia kotor seperti kita."
Siska mengerutkan kening, pura-pura simpati. "Yah, sayang sekali. Tapi lihat sekarang, kamu bebas. Kita bisa bersenang-senang tanpa jeda."
Rio tertawa lagi, tawa yang pahit. Ia tahu Siska hanya memanfaatkan dia. Ia tahu Davina jauh lebih baik dari wanita di hadapannya ini. Davina selalu memasak untuknya, menjahitkan bajunya, dan mendukungnya bahkan saat ia gagal. Tapi ego Rio terlalu besar untuk mengakui kesalahan. Ia memilih kenyamanan sesaat dan pelarian alkohol daripada perjuangan memperbaiki rumah tangga.
"Ayo minum lagi!" seru Rio, mengangkat gelasnya yang kosong. "Lupakan Davina. Lupakan masa lalu. Malam ini milik kita!"
Siska tersenyum licik, segera memanggil pelayan untuk memesan botol baru.
Di balik keriuhan klub, Rio merasa hampa. Semakin banyak ia minum, semakin jelas bayangan Davina muncul di kepalanya. Bukan Davina yang lemah, tapi Davina yang tegar saat meninggalkan rumah mereka bulan lalu. Davina yang mengatakan, "Aku lelah, Rio. Aku memilih diriku sendiri." Itu kata ia dengar sebelum pergi keluar kota.
Kata-kata itu masih menghantuinya. Dan kini, di tengah kemewahan semu dan wanita-wanita murahan, Rio menyadari satu hal: ia mungkin telah membuang berlian demi mendapatkan batu kerikil.
Namun, kebanggaan pria itu mencegahnya untuk kembali. Ia memilih tenggelam dalam mabuk, berharap besok pagi ia bisa lupa lagi.
Rio berjalan sempoyongan yang di bantu oleh siska.Rio berjalan keluar dari klub Velvet.Tidak sengaja Dila yang lewat dari sana.Melihat Rio yang sedang di peluk seorang wanita muda dan menggunakan pakaian seksi.
" berhenti pak " ucap dila spontan, membuat supir taksi rem mendadak di tengah jalan.
Dila mencoba melihat dan memastikan sendiri membuka kaca spion mobil setengah.Dan betapa terkejutnya dila sepupu Davina.Mulutnya ternganga , seakan syok dan dila menutup mulutnya seakan tidak percaya apa yang ia lihat.
" astaga " Ucapnya.
" Dasar Rio bajingan ! bisa - bisanya kamu bermesraan dengan perempuan lain , sementara Davina menderita ! Ucap Dila jengkel.