Jihan Kharisma gadis SMA yang tergila-gila dengan seorang pria berseragam. Lebih tepatnya dengan tentara, dia begitu mengidolakan seorang tentara untuk menjadi suaminya karena ia ingin seperti kakaknya yang perempuan yang menikah dengan tentara. Apalagi kakaknya yang laki-laki adalah seorang tentara sehingga menambah keinginannya yang begitu dalam untuk memiliki suami tentara.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria yang tanpa sengaja membantu Jihan saat gadis itu jatuh dari sepeda, pertemuan itu membuat jihan terpesona setengah mati berharap ingin bertemu kembali dan mentakdirkan mereka.
Apakah nanti Jihan akan bertemu kembali dengan pria itu, baca disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 34
Mobil Bara sudah berhenti di depan sekolah Jihan, tidak menunggu lama Jihan langsung keluar begitu saja dari mobil Bara tanpa mengatakan apapun, Bara yang tadinya hendak bicara langsung terdiam karena Jihan yang keluar dari Mobil dan langsung membanting keras pintu mobilnya.
Ia melihat Jihan yang langsung berlari kedalam, entah kenapa hatinya terasa nyeri melihat perilaku Jihan tadi padanya.
Bara hanya menghembuskan nafasnya berat, lalu melajukan mobilnya setelah Jihan tidak terlihat lagi.
"Kenapa rasanya nyeri disini" ucap Bara saat mobilnya berjalan dan tangan satunya menyentuh dada sebelah kirinya.
"Apa aku salah telah berkata seperti itu pada Jihan, Tapi apa yang aku katakan memang benar, aku..aku tidak mencintai dia, aku seperti ini karena aku sudah berjanji pada bang Banu untuk melindungi adiknya. Dan Jihan sekarang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri" ucap Bara lagi pada dirinya sendiri. Ia sangat yakin, dia tidak jatuh cinta pada Jihan. Dia seperti ini karena janjinya pada Banu hanya itu.
Didalam mobil Bara masih berusaha meyakinkan dirinya, kalau dia tidak Jatuh Cinta pada Jihan, Jihan hanya ia anggap sebagai adik dari seniornya itu saja tidak lebih.
"Sudah Bar, fokus saja pada menyetir mu saat" ucapnya lalu melihat ponsel miliknya yang ada di dasbor mobil.
"Tadi aku belum sempat bicara pada Jihan, soal aku akan menjemputnya. Apa harus ku kirimi pesan?" Bara langsung mengambil Hp nya di dasbor meminggirkan mobilnya terlebih dahulu untuk mengirimi Jihan pesan. Agar gadis itu menunggunya nanti.
Setelah mengirimi Jihan pesan Bara segera menjalankan kembali mobilnya menuju Kodim tempatnya bertugas.
………………
Jihan sendiri saat ini sedang menaruh kepalanya di meja dengan kedua tangannya yang terlipat menutupi wajah cantiknya kini. Dia menunduk menangis, tidak terima dengan apa yang dikatakan Bara tadi dimana pria itu hanya menganggapnya adik dan tidak mungkin jatuh cinta padanya. Entah kenapa sakit sekali ia mendengar kata-kata itu dari mulut Bara.
Baru kali ini ia merasakan sakit saat ditolak, benar di tolak. Perkataan Bara tadi sama saja penolakan untuknya saat ini, dia begitu sakit dengan kenyataan itu.
"Hei, lo kenapa?" Nina yang baru saja datang menepuk pundak Jihan yang menelungkup kan kepalanya kebawah.
"Diem nggak usah ganggu gue" jawab Jihan ketus yang masih berada di posisinya tadi.
"Lo ada apa dah, pagi-pagi udah ketus begitu"
Nina lalu duduk di sebelah Jihan, dan dia bisa mendengar Jihan yang se segukan seperti orang menangis membuatnya langsung menatap Jihan.
"Lo nangis, kenapa? cerita sama gue" Nina memegang pundak Jihan lembut mencoba agar sahabatnya itu mau bercerita.
Jihan langsung menegakkan tubuhnya melihat Nina sambil mengusap air mata serta ingusnya sendiri.
"Nggak, gue nggak pa-pa hanya kurang belaian saja" canda Jihan langsung mendapat pukulan kecil dari Nina. Itulah Jihan walaupun dia sedang sedih bahkan sekarang menangis ia masih saja bisa bercanda,
"Lo ya" ucap Nina memukul kecil Jihan.
"Gue serius Jihan, lo kenapa? kok nangis begini?" ucap Nina lagi masih merasa khawatir serta penasaran ada apa dengan Jihan.
"Gue nggak pa-pa kok, gue ke kamar mandi dulu ya?"
Jihan langsung berdiri dari duduknya, berjalan ke luar kelas, ia akan mencuci mukanya dulu sebelum guru datang dan teman-temannya yang lain datang. Nanti bisa-bisa ia di ledekin terus oleh teman-temannya karena menangis di kelas. Kan nggak lucu.
………………
Jihan didepan cermin kamar mandi sekolahnya melihat drinya saat ini di cermin itu. Wajahnya memerah tak lupa matanya yang juga menunjukkan bekas ia habis menangis padahal ia sudah mencuci mukanya berkali-kali tetapi masih saja terlihat habis menangis.
Membuatnya menjadi malas untuk masuk ke dalam kelas, jujur ia takut di ledek teman-temannya yang jail-jail bukan temannya sih yang jail tapi dirinya. Dia sering sekali menjahili teman-temannya dan saat ini ia takut mendapat karmanya.
"Bagaimana ini, gue masuk nggak ya ke kelas. Masuk aja deh, gue juga nggak bawa Hp kalau bolos mau ngapain nggak ada Hp bisa-bisa gue boring sendiri" ucapnya di depan cermin. Lalu sekali lagi Jihan membasuh wajahnya.
Setelah itu ia langsung berjalan keluar dari toilet untuk pergi ke kelasnya kembali.
°°°°°
Bara duduk di ruangannya, ia memegangi Hpnya sedari tadi seperti menunggu-nunggu sesuatu.
"Kenapa Jihan tidak membalas pesanku?apa dia sedang belajar? tapi ini jam istirahat" Bara melirik jam di ruangannya yang menunjukkan jam 10.00 dimana saat ini sudah jam istirahat pertama anak-anak SMA.
Benar sedari tadi Bara menunggu pesan balasan dari Jihan. Padahal sudah dari tadi pagi ia mengirimi Jihan pesan tapi hingga kini gadis itu tidak membalasnya sama sekali, jangankan membalasnya membacanya saja tidak.
Entah kenapa juga gara-gara itu membuat Bara tak semangat sekarang, rasanya energinya hilang entah menguap kemana.
"Danunit," panggil seseorang dari arah pintu sehingga membuat fokus Bara kini beralih menatap orang tersebut.
"Iya Serda Teguh ada apa?"
"Anda disuruh Dandim untuk ke Aula ndan" ucap Teguh memberitahukan apa yang diperintahkan Dandim tadi padanya.
"Ke Aula?ada apa ya?" Tanya Bara karena dia tidak tahu kenapa ia harus ke Aula.
"Hari ini kan Gladi bersih untuk acara pembinaan bagi Calon Prajurit ndan" pungkas Teguh memberitahu, ia merasa aneh pada Bara apa Danunitnya itu lupa.
"Astagfirullah, Saya lupa." Bara langsung berdiri dari duduknya segera mengantungi Hpnya itu di kantung celana lalu segera berdiri di dekat Teguh.
"Ayok guh, kita ke Aula. Maaf saya lupa tadi" ucap Bara lagi sambil menepuk pundak Teguh dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangannya saat ini.
"Siap ndan," ucap Teguh berdiri tegap, lalu berjalan mengikuti di belakang Bara.
"Bara, Bara, kacau kamu. Bagaimana bisa kamu lupa dengan tugasmu ini." batin Bara saat ia berjalan keluar dari bangunan utama di Kodim menuju ke Aula.
"Pikiranmu sedari tadi memikirkan Jihan sampai kamu tidak fokus Bar," sesal Bara
………………
"Hormat ndan, Maaf saya telat" ucap Bara dengan tegas didepan Dandim.
"Tidak apa bar, berhubung kamu sudah datang kita mulai saja gladi bersih ini" ucap Dandim dan dia segera menyuruh para tentara lain untuk berdiri di posisinya masing-masing.
Bara sendiri saat ini sedang duduk di kursi paling depan, disekat Dandim dan para petinggi kodim lainnya. Melihat bagaimana rekan-rekannya nanti akan melakukan baris-berbaris di tempat itu memberikan pertunjukan kepada para calon tentara dan orang tua mereka.
Setelah selesai memperhatikan itu semua, Bara langsung berdiri melihat kesiapan semuanya. Saat dilihatnya semua sudah siap, ia segera pergi dari Aula karena saat ini sudah menunjukkan Jam tiga sore dimana jam sekolah Jihan sudah selesai.
Namun sebelum dia pergi menjemput Jihan dia harus mengisi jadwal hadirnya dulu yang tadi pagi belum sempat ia isi.
"Danunit, mau kemana?" tanya Sertu Jaka yang kebetulan melihat Bara yang berjalan terburu-buru.
"Saya mau absen Jak, tadi saya belum sempat absen" ucap Bara.
"Kok terburu-buru gitu ndan?" heran Jaka
"Iya saya juga harus jemput.." Bara diam berfikir jemput siapa, apa Jihan disini ia sebut adik saja.
"Jemput siapa nda?"
"Jem,jemput adik saya di sekolahnya" ucap Bara pada akhirnya.
"Saya dulu ya Jaka" Bara langsung berjalan cepat meninggalkan Jaka yang juga berjalan kearah berlawanan dari Bara.
………………
Mobil Bara sudah berhenti di depan sekolah Jihan, saat ini sekolah itu terlihat sudah sepi. Ia menjadi khawatir apakah Jihan sudah pulang atau belum.
Bara memutuskan turun dari mobil saat ia melihat pak satpam di depan pintu gerbang, ia akan bertanya pada satpam itu soal Jihan apakah masih di sekolah atau sudah pulang.
"Permisi pak," pak Jaja satpam itu langsung melihat kearah Bara yang ada di depannya sekarang.
"Iya kenapa pak?" jawab Pak Jaja memanggil Bara pak karena Bara mengenakan seragam tentara jadi tidak mungkin ia memanggil seorang tentara yang belum ia kenal dengan nak atau apapun itu.
"Saya mau tanya pak, Jihan sudah pulang atau belum ya?"
"Oh neng Jihan, dia sudah pulang dari tadi pak"
"Pulang?Kalau boleh tahu dia pulang sama siapa ya?" Bara merasa ingin tahu sekali sekarang dengan siapa Jihan pulang padahal gadis itu tadi sudah ia suruh untuk menunggunya. Tetapi ia malah pulang duluan.
"Dia tadi pulang sama nak Ardan naik motor pak" Bara langsung terdiam mendengar itu, pria bernama Ardan lagi yang bersama Jihan.
Membuatnya semakin penasaran saja sekarang, sebenarnya ada hubungan apa Jihan dengan Ardan kenapa mereka selalu berdua terus.
Dan entah kenapa saat ini, ia tidak senang sekali mendengar bahwa Jihan pulang bersama Ardan.
°°°
T.B.C
muncul