Jeni seorang perempuan yang lemah lembut, sopan dan diberikan kelebihan memiliki paras yang sangat cantik. namun sejak dia berusia 4 tahun ayahnya pergi meninggalkan dia dan juga sang ibu untuk selama - lamanya
yang membuat ibunya harus banting tulang untuk menghidupi Jeni, sejak kecil Jeni terbiasa dengan kehidupan yang sederhana yang membuatnya selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki
tapi kehidupannya baru saja dimulai saat dia mulai beranjak dewasa cobaan silih berganti mendatanginya, akan kah Jeni tetap kuat menghadapi cobaan demi cobaan yang datang kepadanya
apa kah Jeni akan bahagia dengan pernikahan yang sangat tidak pernah dia duga sebelumnya, walau pun dia menikah dengan sahabat masa kecilnya namun tetap saja itu berbeda sekarang mereka sudah dewasa sudah tidak sama lagi dengan masa kecil mereka
kalau penasaran dengan ceritanya, silahkan dinikmati ceritanya
mohon maaf jika ada kekurangan didalam cerita ini, karena ini adalah karya pertama say
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenika Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita 33
setelah Jeni sampai di dapur, dia melihat kalau sudah ada orang di sana
yang tidak lain dan tidak bukan adalah Wati, karena setelah Sarah sudah tidak bisa lagi bekerja Dirumah keluarga Santoso, Wati lah yang menggantikan tugas Sarah yaitu memasak makanan untuk majikannya
Wati pun tersadar kalau ada orang yang sedang menatap nya dari belakang, ia pun menoleh kearah belakang, dan terlihatlah Jeni yang sedang berdiri sambil menatapnya
" Jeni ada apa " ujar Wati, setelah ia melihat Jeni yang sedang menatapnya
Jeni pun merasa tidak enak untuk membicarakan yang sebenarnya, kalau dia diperintahkan untuk memasak makan malam untuk majikannya.
karena dia takut kalau Wati berpikir, kalau dia merebut pekerjaannya. karena Wati yang terlihat sangat fokus dengan masakan yang sedang dia olah
" untuk makan malam kali ini, biar Jeni saja yang masak, Wati kamu tolong bantu Jeni ya " ujar Hendra, yang tiba - tiba saja muncul di samping Jeni
setelah dia pulang dari kegiatannya, Hendra tidak sengaja mendengar pembicaraan Wati, dan melihat Jeni yang hanya diam sudah cukup membuatnya tahu apa yang ada di dalam pikiran Jeni
karena baginya yang sudah bergelut didalam dunia bisnis sejak dari usia muda, dengan melihat raut wajah saja dia sudah bisa tahu apa yang sedang orang pikirkan
dan dia pun membatu Jeni, untuk mengatakan yang sebenarnya, karena memang dia yang memerintahkan Melinda untuk bilang ke Jeni, kalau dia ingin makan malam masakan Jeni
" Baik tuan " jawab Wati, sopan kepada sang majikan
" terima kasih tuan " ujar jeni, sambil menampakkan senyum manisnya, kepada hendra
" nggak usah panggil tuan, panggil om saja ya, kalau begitu om ke kamar dulu " ujar Hendra, sambil mengelus lembut pucuk kepala jeni
setelah itu Hendra pun, berjalan menuju kamarnya, dan tertinggal lah Wati dan juga Jeni di dapur itu
" ayo Jeni kamu mau masak apa, biar aku siapin bahan - bahannya " ujar Wati, kepada Jeni
" saya akan masak, masakan yang sering ibu masakin buat saya " ujar jeni, sambil tersenyum
kemudian Jeni pun mulai memasak, dengan dibantu oleh wati, terlihat Jeni sangat lihai, yang membuat Wati kaget, karena diusia Jeni yang masih sangat muda namun dia terlihat sangat mahir terlihat seperti chef profesional
itu sudah pasti karena dari Jeni berusia 14 tahun, Jeni sudah belajar hidup mandiri, terutama dalam hal memasak, sudah pasti karena ia tinggal sendiri dia pun harus memasak makanan nya sendiri
" kayanya tuan Hendra dan juga nyonya Melinda sangat suka sama kamu ya Jeni " ujar Wati, dengan posisi masih fokus dengan pekerjaannya
Jeni pun menoleh kearah Wati, ia cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Wati
" dulu waktu kecil saya pernah tinggal disini, makanya saya sudah cukup akrab dengan Tante Melinda dan om Hendra " jawab Jeni
" oh ya, jadi kamu pernah tinggal disini, kapan dan kenapa kamu nggak tinggal disini lagi " ujar Wati, tanpa sengaja ia melontarkan begitu banyak pertanyaan kepada Jeni, ia terlihat sangat antusias mendengar apa yang dikatakan oleh Jeni
" saya tinggal disini saat usia saya 5 tahun, karena ibu kerja disini saya pun juga harus ikut, tapi saat usia saya 14 tahun saya memutuskan untuk tinggal Dirumah peninggalan almarhum ayah saya " jawab Jeni, dengan tetap fokus dengan memasaknya
" ohhhh pantas saja, ternyata kamu pernah tinggal disini ya " ujar Wati
sekarang Wati pun tahu, ternyata Hendra dan juga Melinda bersikap sangat baik terhadap jeni, bukan tanpa alasan
kemudian Jeni maupun Wati terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya masing - masing, mereka sama - sama tidak ingin melakukan sedikit pun kesalahan dengan makanan yang mereka masak
setelah beberapa lama, akhirnya masakan yang mereka masak telah selesai dengan tepat waktu, mereka pun langsung menata makanan yang mereka masak, keatas meja makan
" Bu Wati, saya kebelakang dulu ya, ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan " ujar jeni, kepada Wati
" apa mau aku bantu " jawab Wati, menawarkan dirinya untuk membatu Jeni
" tidak usah Bu, ini tugas saya " jawab Jeni
Wati pun hanya mengangguk kan kepalanya, setelah itu Jeni pun pergi meninggalkan meja makan yang diatasnya sudah tersusun rapi makan malam untuk majikannya
tidak lama setelah kepergiaan Jeni, terlihat Melinda dan juga Hendra keluar dari kamar mereka, lalu berjalan kearah meja makan, karena memang waktu sudah menunjukkan waktu makan malam
setelah sampai Melinda dan Hendra, duduk di kursi mereka masing - masing, lalu tanpa panjang lebar mereka langsung menyantap makanan yang sangat menggugah selera mereka
" waaahhh ini rasanya persis seperti masakan Sarah, iya nggak sayang " ujar Melinda, setelah makanan yang dimasak oleh Jeni, mendarat kedalam mulutnya
" iya sayang kamu benar " jawab Hendra
kemudian mereka pun melanjutkan makan malam mereka, nampak mereka sangat lahap menyantap makanannya karena mungkin itu sangat sesuai dengan selera mereka
nampak lah Rendy yang sedang berjalan, wajah nya sendu seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya
" sayang kamu sudah pulang " ujar Melinda, setelah melihat kedatangan Rendy
kemudian Rendy pun duduk di kursi meja makan, terlihat dia sangat lelah setelah seharian bergelut dengan pekerjaan yang sangat banyak
" kamu belum makan malam kan, kalau begitu kamu harus makan, ini masakan Jeni rasanya benar - benar mirip dengan rasa masakan Sarah " ujar Melinda, sambil mengambilkan beberapa lauk lalu diberikan kepada Rendy
Rendy pun langsung melahap makanan yang di berikan ibunya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mungkin karena ia memang sudah lapar, karena dia belum makan malam
ternyata benar kata orang - orang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, ternyata perempuan itu jago juga masaknya
batin Rendy
" gimana rasanya enak kan " tanya Melinda, sambil menatap Rendy
Rendy pun hanya diam, tanpa menyahut pertanyaan dari sang ibu, namun dia terus memakan makanannya. entah karena lapar atau pun doyan
" terkadang kita juga harus memuji kerja keras orang lain, kalau kamu juga ingin dipuji oleh orang lain " sambar Hendra, entah apa yang sedang dia maksud
Rendy sangat mengerti dengan apa yang dimaksud oleh sang ayah, ya insting mereka nampaknya sangat peka, dibandingkan Melinda yang nampak kebingungan dengan kata yang dilontarkan oleh sang suami
" iya makanannya enak kok " ujar Rendy, sambil masih fokus dengan makanannya
blus pipi Jeni memerah saat mendengar apa yang dikatakan oleh Rendy, ia memang sendari tadi sudah berdiri di dekat meja makan namun Rendy dan juga tidak menyadarinya, hanya Hendra saja yang melihat Jeni datang
sebenarnya setelah pekerjaan Jeni selesai, ia memutuskan untuk menyusul kemeja makan
bkin rendi mmbenci devina dn kluargax.. trus nikahi jeni dn hidup bahgia
smg ppax rendy tau lngsung hacurkan prusahanx tono