Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari
Matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kamar vintage milik Lyra, menyinari buku bersampul kulit yang tergeletak di atas meja kayu.
Udara sejuk di pagi hari berpadu dengan aroma bunga yang samar, menciptakan suasana pagi yang tenang dan menenangkan di dalam ruangannya.
Cahaya keemasan menyapa seprai putih dan koleksi tanaman hias mini di ambang jendela.
Suara kicau burung bersahutan terdengar dari kejauhan. Di atas kasur, seorang gadis bernama Lyra masih terlelap dengan sangat nyenyak, meringkuk di balik selimutnya yang tebal. Tidurnya santai tanpa ada rasa bersalah.
Sementara itu, dari arah dapur tercium aroma harum masakan. Masakan yang sangat enak untuk disantap saat bersama keluarga.
Ibu sedang sibuk menyiapkan sarapan di pagi hari, Ayah meminta Ibu untuk membangunkan putri mereka yang masih berada di kamar.
Ibu pun melangkah menuju kamar Lyra dengan langkah cepat, Ibu masih menggunakan celemek berwarna hijau yg di celemeknya terdapat gambar beruang kecil yang lucu.
Sesampainya di sana, ia melihat anak gadisnya tidur dengan sangat nyaman seperti tak punya beban. Anak gadisnya tidur dalam keadaan posisi memeluk bantal guling yang bergambar domba putih dan wajahnya sedikit menempel di bantal gulingnya, terlihat siapa saja gemas melihatnya.
"Lyra, bangun, Sayang," panggil Ibu dengan suara lembut sambil menepuk pipinya.
Tak ada respons. Gadis itu bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Ibu mulai meninggikan suaranya, memanggil nama anaknya itu hingga beberapa kali, namun Lyra tetap tak bergeming.
Kesabarannya diuji, Ibu akhirnya berjalan mendekat dan menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Lyra.
Whoosh..... (Suara selimut di tarik)
Bukannya bangun, Lyra justru mengeratkan kembali selimutnya, memeluknya erat-erat karena masih merasa malas untuk bangkit dari kasur.
Ibu menghela napas panjang. Ia menepuk pipi Lyra dengan lembut namun tegas.
"Lyra.. bangun.. ini udah pagi, besok mau sekolah," ucap Ibu sambil berusaha menggoyangkan tubuh gadis itu dan mencubit pipi anak gadisnya itu.
Bagaimanapun juga, ia harus berhasil membangunkan anak gadisnya yang kebo ini. Jangan sampai anak gadisnya itu seperti kerbau, yang tidur bisa dalam keadaan waktu yang lama dengan sikap santai dengan muka yang tidak berdosa seperti itu. Jangan sampai anak gadisnya di omongin oleh tetangga tetangga lain karena seorang gadis yang pemalas dan bangun lambat di pagi hari. "Duh, jauh-jauhlah," pikirnya
Mendengar kata "sekolah", mata Lyra tiba-tiba terbuka lebar.
Ia terkesiap dan langsung terduduk tegak di atas kasurnya dengan ekspresi wajahnya yang bercampur aduk, seperti keadaan bentuk rambut yang tidak rapi karena baru bangun tidur dan wajah kagetnya dengan mulut terbuka dan matanya yang membulat.
"HAH?! Hari ini sekolah?!" jerit Lyra panik saat melihat jam dinding yang berada di kamarnya yang menunjukkan pukul 06:30 WIB.
Dengan gerakan secepat kilat, ia melompat turun dari kasurnya, melesat melewati ibunya, dan langsung berlari ngibrit masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya.
Melihat tingkah heboh sang anak yang salah mengira hari sehingga anaknya langsung berlari kencang meninggalkan ibunya yang belum sempat membalas ucapan Lyra, kalau hari ini bukan hari Lyra masuk sekolah namun besok, Ibu pun hanya bisa terdiam keheranan.
Brakk!! (Suara pintu tertutup kencang)
Ibu Lyra kaget, Ia berdiri mematung menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala dan Ibu pun mulai berjalan meninggalkan kamar Lyra menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
_____________
Ibu keluar dari dapur dengan langkah yang tenang, membawa nampan berisi makanan hangat yang baru saja dimasak.
Ibu menaruh piring-piring makanan di atas meja makan kayu yang bersih. Di atas meja terdapat makanan yang sangat enak, yaitu: ada ayam goreng yang dilumuri cabe hijau, sayur tumis dan ada Ikan asin yg dilumuri cabe merah yang membuat ruangan tempat mereka berada menjadi harum karena masakan yang dibuat oleh Ibu hari ini.
Di sekeliling meja, Ayah dan adik perempuan sudah duduk rapi menanti hidangan siap disantap.
Saat Ibu duduk di kursinya, suasana masih terasa damai.
Tiba-tiba Ayah menoleh dan melirik ke arah kamar, lalu bertanya dengan nada lembut, "Apakah Lyra sudah bangun?"
Ibu tersenyum hangat dan menjawab pertanyaan Ayah,"Iya, Lyra sudah bangun"
Ibu memberikan kepastian bahwa Lyra itu sebentar lagi akan bergabung di ruang makan.
Sebelum Lyra datang, ketiganya larut dalam obrolan ringan sambil sesekali merapikan posisi piring atau gelas.
_______________
Di sisi lain...
Suasana pagi menjadi riuh oleh langkah kaki Lyra yang tergesa-gesa.
Suara gemercik air yang baru saja dimatikan menyisakan keheningan singkat sebelum ia membuka pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Waktu menunjukkan pukul 06.40 WIB. Lyra sadar ia harus segera bersiap cepat, ia melirik jam tangannya dan menatap cermin.
Sembari menahan napas, ia memoles wajahnya dengan sentuhan bedak tipis dan lipstik bernuansa merah muda agar wajahnya tak terlihat pucat.
Dengan gerakan cepat, ia mengenakan setelan atasannya yang rapi: sebuah kemeja putih yang dipadukan dengan rok atau bawahan berwarna biru yaitu baju SMP-nya.
Perhatiannya kemudian beralih ke sudut kamar. Tas jinjing miliknya sudah dipersiapkan dan ditata sejak malam, berisi dokumen-dokumen penting, dompet, dan sebuah buku agenda.
Ia segera menyambar tas tersebut, memastikan tidak ada barang yang tertinggal, lalu meraih ponsel di atas meja rias.
Setelah merapikan sedikit kerah bajunya, Lyra melangkah keluar dari kamar ke arah ruang makan dengan napas yang mulai teratur, siap untuk memulai hari.
___________
Lyra melangkah dengan percaya diri menuju ruang makan dan duduk di kursinya.
Dengan ceria ia menyapa keluarganya, "Semangat! Selamat pagi semuanya!"
Awalnya, Ayah, Ibu, dan adik perempuannya yang sedang menyantap sarapan merespons dengan anggukan biasa.
Namun sedetik kemudian, mereka menghentikan kunyahannya. Mereka menoleh secara serempak ke arah Lyra, saling bertukar pandang dengan wajah bingung.
Ayah pun memecah keheningan, "Kenapa pakai baju sekolah, Lyra?" tanya Ayah dengan alis terangkat.
Lyra menatap mereka dengan tampang polos. "Kan katanya hari ini jadwalnya sekolah?" jawab Lyra santai, mengambil piringnya dan menuangkan air putih ke gelasnya.
Mendengar jawaban itu, keheningan lenyap seketika.
"Bwahaahahaha".... (Suara tawa)
Ibu, Ayah, dan adik perempuannya tiba-tiba tertawa lepas tanpa bisa ditahan. Tawa mereka begitu keras sampai memegang perut, adik perempuannya sampai memegang pipinya juga karena paling lucu dan momen langka.
Lyra hanya bisa berkedip heran melihat reaksi keluarganya yang berlebihan.
"Kenapa pada ketawa sih?" tanya Lyra, mulai merasa tidak enak, wajahnya berubah bertanya-tanya.
Di sela-sela tawanya, adik perempuannya menjawab sambil terpingkal-pingkal, "Ya ampun Kak! Kakak masuk sekolahnya besok, bukan sekarang!"Gelak tawa pun semakin menggema di ruangan itu.
Seketika itu juga wajah Lyra memerah padam karena malu. Ia menepuk jidatnya keras-keras, menyadari kebodohannya.
"Bwaahahahaha".... (Suara Tawa)
Tanpa membuang waktu, Lyra menoleh dan menatap tajam adik perempuannya yang sedang tertawa puas di sampingnya, merasa benar-benar kesal karena adik perempuan mengejeknya.
Lyra dan adiknya terlibat adu mulut hebat di meja makan karena sang adik mengejek penampilan Lyra yang terlihat konyol.
"Tuh lah, makanya jangan tidur seperti kebo kak. Jadi malu kan jadinya," ejek adiknya, yang membuat mulut Lyra gatal untuk tidak adu mulut dengan adik manisnya yang di hadapannya ini.
"Dasar!! Adik nyebelin!! adik juga pernah pun pakai kaos kaki yang salah, jangan merasa paling benar deh." ejek Lyra yang tidak mau kalah dengan sikap sombongnya, melipat kedua tangannya di dada.
"Uuu... cuma itu pun, dari pada kakak, lebih parah karena terlalu rajin." balas adik perempuannya dengan menjulurkan lidahnya mengejek, mengajak berantem.
Emosi Lyra memuncak hingga ia bersiap memukul adiknya. Matanya tajam, tangannya mengepal keras menahan amarah dan mulutnya gatal, siap menghabisi adik perempuannya secara habis-habisan di saat itu juga. namun sang ayah segera melerai dan menengahi, meminta mereka fokus menyantap hidangan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkelahian dengan makan yang khidmat.
Suasana meja makan yang awalnya hangat mendadak berubah menjadi arena ketegangan.
Lyra menatap tajam adiknya sambil mengepalkan tangan, bersiap melayangkan pukulan.
"Udah, udah!" sergah suara tegas sang ayah dari ujung meja.
Ayah meletakkan sendoknya dengan tenang namun penuh wibawa.
Lyra masih menatap adiknya dengan napas memburu, sementara sang adik menjulurkan lidah tanda meledek, memancing emosi kakaknya lebih jauh lagi.
"Kalian ini mau makan atau mau berantem, sih?" tanya sang ayah menengahi keduanya, menghentikan adu mulut yang semakin memanas.
"Hari ini kita lagi makan. Jadi, fokus makan dulu. Perkara berantemnya nanti dilanjutin lagi setelah perut kalian kenyang"
Mendengar ucapan sang ayah, Lyra menurunkan tangannya dengan perasaan kesal dengan mulut yang masih komat-kamit.
Sang adik juga terdiam dan kembali duduk dengan benar di kursinya. Ketegangan perlahan mencair dan mereka pun akhirnya mengambil makanan masing-masing lalu menyantapnya dengan tenang dan hikmat.
____________
Begitu sendok terakhir berdentang di atas piring, suasana meja makan kembali menegang.
Lyra langsung menegakkan punggungnya, menatap sang adik dengan pandangan yang siap menerkam.
Ayah yang melihat hal itu hanya menghela napas, bersiap dengan skenario lanjutan.
"Selesai makan, kan? Sekarang ayo maju!" tantang Lyra sambil berdiri dari kursinya.
Sang adik langsung menciut melihat kakaknya yang tampak sangat serius untuk memukulnya. Ia segera berlari dan bersembunyi di balik punggung besar sang ayah, mencari perlindungan aman.
"Yah, lihat Kak Lyra! Padahal dia emang konyol pakai baju sekolah begitu!" teriak adiknya dari belakang kursinya.
"Sini kamu! Jangan sembunyi di balik Ayah!" bentak Lyra yang emosinya kembali tersulut.
Ayah segera merentangkan kedua tangannya, menghalangi Lyra yang sudah bersiap melayangkan pukulan.
"Hap! Cukup, cukup. Enggak ada yang boleh pukul-pukulan di rumah ini," ucap ayah tegas.
Mendengar ucapan Ayah, Lyra mendengus kesal namun akhirnya menurunkan kepalan tangannya.
Sang adik pun menjulurkan lidah dengan jail dari balik punggung Ayah, tahu bahwa ia sudah aman dari amukan kakaknya pagi itu
Satu kata untuk hari ini, "Huh, konyolnya aku hari ini," batin Lyra menarik napas.
Bersambung ~~~
Yuhu!! 🥳🥳 Halo apa kabar? jangan lupa Follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤗
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
ditunggu cerita selanjutnya ya!! 😉
see you~~