NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: DMAM

Proyek gede?

Sebuah kilatan ingatan mendadak berputar di kepala Dimas. Ia teringat percakapan teleponnya dengan ibunya tadi siang setelah ia diusir Aisyah di sekolah.

'...Biarkan Mami yang selesaikan ini dengan cara Mami sendiri.'

Kalimat dingin yang diucapkan ibunya lewat telepon berbunyi kembali di telinganya bagai petir. Selama ini, Dimas memang manja dan selalu bergantung pada ibunya, namun ia tau betul sejauh mana ibunya bisa bertindak nekat jika harga diri keluarga mereka terluka.

Ibunya sering menyewa orang-orang bayaran untuk membereskan masalah-masalah bisnisnya.

"Mami..." bisik Dimas dengan bibir yang gemetar. Pria itu menyadarkan dirinya sendiri pada kenyataan yang mengerikan, jika Ibunya telah menyewa Jaka untuk mencelakai Aisyah.

"Dim? Lo kenapa? Kok muka Lo pucat gitu?" tanya Rian yang heran melihat perubahan drastis pada raut wajah Dimas.

Dimas tidak menjawab pertanyaan Rian. Untuk pertama kali dalam hidupnya yang jauh dari rengekan manja, ia merasa panik, merasa bersalah, ketakutan, dan cinta yang ia miliki untuk Aisyah berbaur menjadi satu dorongan adrenalin yang sangat kuat.

Tanpa pikir panjang lagi, Dimas langsung menyambar kunci mobil sedan putih mewahnya dari atas meja tanpa memperdulikan minuman mahal yang belum diminumnya.

Ia berlari kencang menerobos lorong kafe, dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa hingga hampir tersandung. Di dalam benaknya saat ini, hanya ada satu nama yang bergaung, Aisyah.

**

Sementara Dimas memacu mobilnya bagai kesetanan menembus kemacetan malam, pintu kamar mandi di rumah Aisyah berderit terbuka. Uap air hangat menguar keluar, membawa aroma sabun mandi yang harum dan segar.

Aisyah keluar dengan pakaian serba longgar, gamis rumahan berwarna krem dan jilbab instan yang menutup dada. Ia mengeringkan sisa air di lehernya dengan handuk kecil, dan merasa sedikit lega dari lelah yang menggelayutinya.

Aisyah kemudian berjalan perlahan menuju area tengah rumah. Tenggorokannya terasa sangat kering setelah seharian mengajar dan mengoreksi tugas. Matanya tertuju pada gelas berisi air hangat di atas meja makan yang tadi ia siapkan sebelum mandi.

Aisyah duduk di kursi kayu tersebut. Tangannya terulur menggapai gelas kaca dan tanpa ada kecurigaan sedikit pun, Aisyah mengangkat gelas ke bibirnya dan meminum air hangat itu sampai tersisa separuh.

Sementara itu di balik tirai samping lemari, Jaka menahan napasnya. Matanya berbinar licik, jemarinya meremas kain tirai dengan tidak sabar. Ia menyaksikan dengan puas saat cairan racikannya membasahi tenggorokan sang guru honorer.

Namun, hanya dalam hitungan detik setelah gelas itu diletakkan kembali di atas meja, sensasi aneh langsung menyerang tubuh Aisyah.

Kepalanya mendadak terasa amat berat, seolah ditindih oleh bongkahan batu besar. Pandangan matanya yang semula jernih mendadak berbayang dan berputar-putar. Ruang tengah rumahnya tampak melebar dan menyempit secara tidak wajar.

"A-astagfirullah..." bisik Aisyah liru. Tangannya memegang pelipisnya yang berdenyut hebat. "Kenapa... kenapa kepalaku pusing banget..."

Aisyah mencoba berdiri dari kursinya untuk menuju kamar tidur, namun kedua kakinya terasa sangat lemas bak tak bertulang.

Tubuhnya limbung ke samping dan menyenggol pinggiran meja hingga gelas kaca itu bergeser. Kesadarannya mulai linglung, pandangannya meredup dipenuhi bayangan hitam di sudut-sudut matanya.

Melihat mangsanya sudah kehilangan daya tahan dan dalam kondisi separuh sadar, Jaka tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi.

Srekk!

Jaka menyibak tirai kain dengan kasar, lalu melangkah mendekati Aisyah yang sedang bersusah payah berpegangan pada sandaran kursi agar tidak jatuh pingsan ke lantai.

"He he he... Akhirnya kena juga kamu, Aisyah," kekeh Jaka dengan suara yang penuh aura kejahatan.

Aisyah samar-samar mendengar suara asing itu. Ia memaksa matanya yang berat untuk terbuka, namun yang terlihat hanyalah bayangan sesosok pria tinggi besar berjaket kulit hitam yang buram di depannya.

"S-siapa... kamu? Mau... mau ngapain..." bisik Aisyah terbata-bata. Ia berusaha mendorong tubuh pria itu dengan sisa tenaganya, namun jemarinya bahkan tidak sanggup mengepal.

"Siapa gue? Gak penting!" seru Jaka licik.

Tangannya yang kasar langsung mencengkram bahu Aisyah, dan menarik tubuh gadis yang sudah linglung itu menuju area bale-bale kayu di dekat dinding. "Yang penting malam ini nama baik kamu hancur! Dan gue dapet uang banyak uang!"

Aisyah berusaha berteriak memanggil tetangga, namun lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya bagai tersumbat pasir. Air mata keputusasaannya pun menetes di pipinya saat tangan Jaka mulai menarik paksa bahunya.

Sementara itu...

Di luar pemukiman, mobil sedan putih mewah milik Dimas berhenti mendadak di tepi jalan raya dengan bunyi derit ban yang memekikkan telinga.

"Bangsat! Kenapa harus gang sempit sih?!" maki Dimas histeris.

Dimas langsung turun dan membanting pintu mobilnya tanpa terkunci, dengan membiarkan mesinnya tetap menyala di tepi jalan.

Pria yang selama ini tidak pernah berlari lebih dari seratus meter itu kini memacu kedua kakinya dengan sekuat tenaga. Ia menerobos kegelapan gang sempit yang becek sisa hujan, melompati genangan air, dan beberapa kali hampir tersandung batu.

Napas Dimas berbunyi memburu, dadanya terasa mau meledak karena kelelahan, namun bayangan wajah Aisyah terus memacunya.

"Aisyah! Tunggu aku! Aisyah!" seru Dimas dalam hatinya.

Begitu sampai di depan rumah kayu Aisyah, Dimas melihat pintu depan rumah itu tidak tertutup rapat dan menyisakan sedikit celah yang gelap.

Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri lagi, Dimas menerjang pintu kayu tersebut dengan seluruh berat badannya.

BRAAKK!

Grendel pintu yang tidak terpasang membuat pintu terhempas lebar menghantam dinding.

"AISYAH!" teriak Dimas melengking.

Pandangan Dimas langsung tertuju pada pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Aisyah terbaring lemah di atas bale-bale kayu dengan mata setengah terpejam dan kesadaran terancam hilang, sementara Jaka sedang memegang kamera ponsel hendak mengambil foto Aisyah dari jarak dekat sambil memegangi bahu gadis itu.

"JAKA! BAJINGAN LO!" teriak Dimas histeris.

Jaka terkejut bukan main. Ia menoleh kaget, namun sebelum sempat menyadarkan diri dari keterkejutannya, Dimas yang diselimuti amarah buta sudah menerjang ke arahnya.

Pria yang tak pernah bertengkar seumur hidupnya itu melompati meja makan dan menghantamkan tubuhnya tepat ke dada Jaka.

BUKK!

Keduanya jatuh terguling di atas lantai kayu rumah yang keras. Ponsel di tangan Jaka terlempar jauh dan hancur membentur sudut lemari.

"Dimas?! Lo ngapain di sini, bangsat?!" maki Jaka sambil meringis kesakitan, dan berusaha mendorong tubuh Dimas yang menindihnya.

"Gue bunuh Lo kalau Lo sentuh Aisyah!" jerit Dimas dengan mata yang memerah seraya mengepalkan tangannya dan memukul wajah Jaka secara acak.

Jaka yang secara fisik jauh lebih terbiasa dalam perkelahian jalanan, berhasil menguasai diri. Ia merogoh saku jaketnya dan mengacungkan sebuah pisau lipat yang tajam.

"Lepas, atau gue tusuk Lo, Anak Mami!" gertak Jaka sambil menyabetkan pisau itu di udara.

Ujung pisau yang tajam sempat menggores lengan kemeja mahal Dimas hingga robek dan mengeluarkan darah segar. Dimas pun meringis kesakitan, namun rasa takutnya kalah oleh rasa khawatir tentang hidup Aisyah.

"Gue gak takut sama Lo!" teriak Dimas kembali sambil menerjang, dan memegangi pergelangan tangan Jaka yang memegang pisau lalu menghantamkannya ke tiang kayu rumah.

TAK!

Pisau lipat itu terlepas dari genggaman Jaka dan terlempar ke kolong lemari.

Menyadari pisaunya terlempar, dan takut aksinya terbongkar, Jaka menjadi panik setengah mati. Ia menyikut rahang Dimas dengan keras hingga Dimas tersungkur ke lantai sambil memegangi pipinya.

Tanpa membuang waktu lagi, Jaka melompati tubuh Dimas, berlari kencang menerobos pintu depan yang terbuka lebar, dan menghilang ke dalam kegelapan malam.

Suasana rumah kayu itu seketika hening, menyisakan suara deru napas Dimas yang terengah-engah di atas lantai. Pipinya memar, dan lengannya berdarah mengucur membasahi kemeja mewahnya.

Namun, Dimas tidak memperdulikan rasa sakit di tubuhnya sama sekali. Pria itu langsung bangkit dengan bersusah payah, dan merayap mendekati bale-bale kayu tempat Aisyah terbaring.

"Aisyah... Aisyah!" panggil Dimas dengan napas yang terputus-putus.

Aisyah yang berada di bawah pengaruh obat hanya bisa membuka matanya sedikit. Kesadarannya sangat tipis, hingga bayangan Dimas di matanya tampak bergoyang-goyang.

"M-mas... Dimas..." bisik Aisyah.

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!