"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 07
Hampir magrib, aku pulang diantar Mas Firman. Meminta berhenti di ujung gang, aku takut rahasiaku selama ini terbongkar.
"Kamu beneran tinggal di daerah sini?" tanyanya seperti tak percaya.
"Iya, aku kos Mas. Di dalam gang ada kos khusus perempuan, lumayan agak jauh sih. Tapi mobil nggak bisa masuk," jelasku berharap semoga saja Mas Firman percaya. Untungnya di dekat rumahku memang ada kos khusus perempuan, jadi dia mungkin tak akan sampai berfikir kalau aku sedang bohong.
"Mantan istriku juga orang sini, tapi dia penduduk asli."
"Oh, ya? Tapi aku tak kenal."
"Kamu kan anak kos, mana mungkin kenal. Lagi pula, dia kan sekarang tinggal di kontrakan, agar lebih leluasa berhubungan dengan Harsa." Mas Firman mengedikkan bahunya, "gak ada yang gak mungkin terjadi seorang laki-laki masuk ke dalam rumah perempuan yang statusnya seorang janda tinggal sendirian. Aku yakin pikiranmu sudah sampai tahap itu," ujarnya lagi membuatku seketika teringat rasa sakit karena kecewa.
"Aku pulang, semoga besok suasana hatimu sudah lebih baik dan bekerja seperti biasa!" Mas Firman sempat mengusap pelan rambutku, layaknya remaja aku seolah nyaman mendapatkan perlakuan sesederhana itu.
"Hati-hati, Mas."
Mas Firman tersenyum lalu mengangguk, "dah, Hanin!"
Tak menyangka ia akan melambaikan tangannya.
Mobil hitam itu sudah melaju pergi, aku berjalan menunduk lesu masuk gang. Namun, lebih terkejut lagi melihat mobil Mas Harsa terparkir di depan rumah. Sial, apakah aku siap bertemu dengannya dan menghadapinya?
***
Langkahku membeku, Mas Harsa benar-benar menungguku dengan wajah masam di ruang tamu.
"Ibu mana, Mas?"
"Dari mana kamu, Hanin?" tanyanya datar.
Bukan menjawab pertanyaanku, ia malah menatapku dengan tatapan mengerikan.
"Kerja!" Aku masuk dan menghempas tubuhku di sofa setelah melepas tas selempangku.
"Kerja atau jalan-jalan sama Mas Firman?" Dia menaikkan alisnya, seolah aku wanita paling jahat karena telah mengkhianatinya. Padahal dia sendiri ternyata seorang pemain janda eh handal.
"Tadi ada urusan dan menemani Mas Firman bertemu klien."
Mataku menatap ke belakang, bagian dapur sepi, kemana ibu?
"Ibu keluar beli sayur," ujar Mas Harsa memberitahu.
"Aku menjemputmu jam setengah lima, sampai jam lima kamu gak ada keluar. Satpam bilang, kamu pergi sama Mas Firman dari pagi. Kemana?"
"Sudah ku bilang, aku ada urusan pekerjaan di luar Mas!" kesal sendiri, kenapa jadi dia yang mengintimidasiku?
"Hanin, aku mohon berhenti! Jangan jadi pelakor, aku tahu kamu sangat ingin membalaskan dendam Mbak Naura, tapi aku harap kamu pikirkan lagi konsekuensinya," seru Mas Harsa. Saat tangannya menggengam jemariku, secara spontan aku menghindar.
"Mbak Naura sendiri yang menginginkanku jadi pelakor, Mbak Naura sendiri yang memintaku menggoda Mas Firman. Aku hampir berhasil lho, Mas."
"Aku yang akan bilang sama Mbak Naura untuk menghentikan dendam ini, aku akan membujuknya jika kamu mau! kamu harus jauh-jauh dari Mas Firman!"
Membicarakan dengan Mbak Naura? Atau tidur dengan Mbak Naura? Ahh sial, kenapa kenyataan dari Mas Firman begitu mengusikku. Dan kenapa aku lebih mempercayainya dibanding dengan Mas Harsa.
Tok tok tok...
"Hanin?" Mbak Naura menyembulkan kepalanya, ia datang bersama Haikal.
"Tante," seru Haikal langsung memelukku. Sadar sudah berhari-hari aku tak sekalipun mampir.
"Ibu masih keluar Mbak, tumben malem-malem."
"Aku mau nginep, Nin. Haikal kangen kamu," ujarnya lalu duduk di kursi depanku, tepat di hadapan Mas Harsa. Dan aku bisa melihat kekasihku itu tersenyum tipis pada Mbak Naura.
"Maaf ya, Kal. Tante sibuk banget, belakangan sering montang manting cek bahan bantu boss," jelasku. Meski fokusku saat ini pada Haikal, tapi saat melirik Mbak Naura dan Mas Harsa yang saling tatap, hatiku sungguh sakit.
Naura mendekati Haikal, "Nak, masuk kamar dulu ya, kami mau ngobrol serius!"
"Iya, Bu." Haikal menurut, ia masuk ke dalam kamar lama Mbak Naura.
Aku bersandar di sofa lalu bersedekap, "Harsa tadi siang ngabarin aku, dia bilang pengen kamu berhenti, Nin."
"Berhenti?" tanyaku meski aku sudah tahu apa yang dimaksud Mbak Naura.
"Iya berhenti, aku mohon kamu berhenti mengusik Mas Firman. Aku sadar dendam itu tak baik, dan... Sampai kapanpun Haikal tak akan bisa diterima Mas Firman."
"Wahhh, sayang banget. Padahal aku udah berhasil buat Mas Firman dan Mbak Marsya memasukkan berkas cerai ke pengadilan!" Aku tertawa, mungkin tawa yang sangat mengerikan sampai-samai Mas Harsa dan Mbak Naura kembali saling pandang dalam siang. Ck! Mengabari siang tadi? Membujuk? dengan cara apa? Tidur bareng? Ledekku dalam hati, aku benar-benar ingin mentertawakan kekonyolan ini.
Glekkk...
Mbak Naura dan Mas Harsa saling pandang lalu Mbak Naura menatapku, "terus Harsa gimana, Nin? Kalian harus nikah bukan?"
"Kan ada Mbak Naura? Kenapa kalian nggak menikah aja? Dibanding aku, Mbak Naura kayaknya lebih butuh pendamping hidup," sinisku.
"Hanin!" Sentak Mas Harsa terkejut, pun dengan Mbak Naura yang wajahnya berubah pias.
"Hehehehehe..." Aku terkekeh pelan, membuat mereka semakin kalut.
"Wah, pada ngumpul nih!" Ibu datang membawa dua kresek makanan.
Kami bertiga seketika diam.
"Hanin, kamu ditungguin Harsa dari tadi lho. Kasian, sampai Ibu tinggal dengan harapan kita makan malam bareng. Ibu tadi beli mie goreng jawa nih. Nau, Haikal mana?"
"Ada di kamar, Bu!"
"Panggil gih, ayo makan bareng-bareng!"
Mbak Naura masih mematung, hingga aku berdiri dan berlalu dari sana, "biar aku aja, Bu. Sekalian mau mandi bentar!"
"Yaudah, jangan lama-lama ya, Nin. Nanti Mbakmu sama Harsa kelamaan nunggu!" ujar Ibu aku angguki plus dengan acungan jempol.
Keluar dengan celana pendek dan kaos putih, serta rambut setengah basah yang kugerai. Mas Harsa menatapku gusar, akan tetapi aku tetap mode santai dan cuek. Sampai makan malam berlalu dan Mbak Naura pamit masuk ke dalam kamar.
Mas Harsa mengajakku mengobrol di luar.
"Hanin, kamu nggak serius kan dengan perkataanmu tadi? Yang benar saja, aku menikahi Mbak Naura?"
Diri ini sungguh sebal melihat ekspresi Mas Harsa yang sok bingung.
"Aku serius, Mas. Mbak Naura lebih butuh kamu," ujarku pelan.
"Kenapa, Nin? Apa kamu meragukanku dan mulai jatuh cinta sama Mas Firman?"
"Bukan, Mas. Tapi karena memang seharusnya begitu kan? Apa Mas pikir aku sepolos itu untuk kamu dan Mbak Naura bodohi? Kamu bilang kita tidak perlu bertemu agar tahu apa itu rasa rindu, tapi Mas? Kamu malah diam-diam mengunjungi Mbak Naura kan," jelasku dengan napas terengah. Bohong kalau aku baik-baik saja, semua terasa menyesakkan.
"Hanin, kamu salah paham." Mas Harsa semakin cemas, wajahnya pucat. Entah, mungkin karena tak menyangka aku akan mengetahui rahasianya.
"Salah paham bagian mana? Bagian Mas berada di dalam kontrakan Mbak Naura atau bagian Mbak Naura bergelayut manja di lengan Mas Harsa? Atau bagian Mas Harsa mengecup kening Mbak Naura?"
Glek...
"Hanin, astaga!" Mas Harsa mengusap wajah frustasi.
"Benar kan, Mas? Atau Mas mau mengelak soal itu, padahal aku melihatnya sendiri. Aku bukan bekerja hari ini, tapi aku ke kontrakan Mbak Naura dan melihat kalian. Aku pikir, aku harus menenangkan diriku sendiri."
"Hanin, maaf. Tapi kami benar-benar tak ada hubungan apapun, tolong percaya!"
"Percaya denganmu? Aku rasa, aku lebih percaya omongan Mas Firman sekarang. Silahkan pulang, Mas! Kita akhiri hubungan kita mulai malam ini."
"Hanin!" Mas Harsa menggeleng, memohon.