NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Sepupu di Tempat Biliar

"Ini benar-benar kamu yang tulis?"

Kevin menatap Bu Wati, lalu menatap angka 76 di kertasnya.

"Kalau bukan saya, siapa lagi, Bu?"

Kalimat itu terdengar seperti gaya lamanya, tetapi tidak ada tantangan di sana. Hanya gugup yang disembunyikan dengan mulut tajam.

Pak Arief tertawa pendek. "Masih bisa nyolot berarti asli."

Bu Wati mengetuk kertas itu dengan ujung pulpen. "Ibu tidak bilang ini sempurna. Masih ada langkah yang lompat, tanda yang salah, dan satu soal kosong."

"Iya, Bu."

"Tapi kamu berpikir. Itu yang penting."

Kevin tidak langsung menjawab.

Sekar yang berdiri di pintu melihat jari kirinya bergerak ke punggung tangan, menyentuh bekas gigitan di sana. Ia tidak tersenyum lebar. Ia hanya menunduk sedikit, seperti angka 76 itu terlalu baru untuk dipercaya.

"Teruskan," kata Bu Wati. "Jangan cuma karena sekali berhasil."

"Iya, Bu."

Saat keluar dari ruang guru, Bryan langsung menyambar kertasnya.

"Tujuh puluh enam?" Bryan menatap angka itu seperti melihat hantu. "Bro, lo tukeran otak sama siapa?"

Kevin merebut kembali kertasnya. "Sama lo jelas bukan."

Yola bertepuk tangan kecil. "Selamat, Kevin. Ini harus dirayakan."

"Nggak usah lebay," kata Kevin.

Namun telinganya merah.

Perayaan itu akhirnya bukan makan besar atau nongkrong lama. Kevin masih punya satu urusan di tempat biliar lama. Jaket cadangan Bryan tertinggal di sana sejak malam sebelum Polsek, dan pemilik tempat itu mengirim pesan agar segera diambil.

"Gue ambil sendiri," kata Kevin.

Sekar langsung menatapnya.

Kevin menghela napas. "Oke. Kita ambil bareng. Puas?"

"Puas."

Bryan menunjuk dirinya sendiri. "Jaket gue, tapi kenapa gue nggak ikut?"

"Karena lo ada remedial Sejarah sama Steven," jawab Sekar.

Bryan menatap Steven dengan wajah dikhianati. Steven menepuk pundaknya. "Nasib siswa berubah."

Sore itu, Kevin membawa Sekar ke tempat biliar dengan motor. Rambut hitamnya bergerak ditiup angin, membuatnya terlihat berbeda dari pertama kali Sekar datang ke tempat itu. Namun ketika mereka berhenti di depan pintu kaca kusam, bau rokok, kapur stik, dan minuman manis kemasan tetap sama.

Tubuh Sekar menegang sedikit.

Kevin menyadarinya. "Lo mau tunggu di luar?"

"Tidak."

"Kalau nggak nyaman, bilang."

Sekar mengangguk.

Di dalam, suara bola biliar saling berbenturan. Beberapa meja terisi. Lampu hijau di atas meja membuat ruangan tampak seperti akuarium gelap. Pemilik tempat, seorang pria kurus yang biasa dipanggil Ko Hendra oleh anak-anak sekitar, melambaikan tangan pada Kevin dari dekat kasir.

"Vin, jaketnya di belakang. Ambil sendiri, ya."

Kevin menoleh pada Sekar. "Tunggu sini sebentar. Gue cepat."

"Aku ikut."

"Ruang belakang sempit. Dua menit."

Sekar melihat sekeliling. Tidak ada pemuda bertopi yang dulu mengganggunya. Tidak ada wajah yang ia kenal. Ia menarik napas dan mengangguk. "Dua menit."

Kevin masuk ke pintu kecil dekat kasir.

Sekar berdiri di dekat rak stik biliar, jari menyentuh tali tasnya. Ia mencoba fokus pada suara sekarang, bukan suara masa lalu. Bola pecah di meja ujung. Seseorang tertawa. Kipas angin berderit.

Lalu ada suara yang membuat kulit tengkuknya dingin.

"Sekar?"

Nama itu diucapkan dengan nada akrab yang tidak pantas.

Sekar menoleh.

Di meja nomor lima, seorang laki-laki muda menurunkan stik biliar dari bahunya. Rambutnya disisir asal, kemeja hitamnya terbuka di bagian atas, dan senyumnya terlalu lebar. Di jarinya ada cincin murah yang memantulkan lampu hijau.

Tommy.

Tubuh Sekar berhenti bekerja selama satu detik.

Ia tidak melihat meja biliar lagi.

Yang muncul di depan matanya adalah tepi atap. Angin malam. Tangan Om Budi yang mendorong bahunya. Suara Tante Rina yang berkata cepat, panik tapi kejam. Lalu tubuhnya jatuh, dunia berputar, dan di bawah sana tidak ada siapa pun yang bisa menangkapnya.

"Wah, beneran kamu." Tommy berjalan mendekat. "Sudah lama nggak ketemu. Makin cantik saja, Sepupu."

Sekar memaksa kakinya tetap di tempat.

"Tommy."

Suaranya terdengar tenang. Hanya ia yang tahu telapak tangannya sudah basah.

Tommy berhenti satu langkah di depannya. Matanya bergerak dari rambut Sekar, seragam sekolah, tas, lalu ke pintu kecil tempat Kevin menghilang.

"Datang sama siapa?"

"Teman."

"Cowok?"

Sekar tidak menjawab.

Tommy tertawa. "Galak sekarang. Dulu kamu kalau lihat aku masih panggil Kak."

Sekar merasakan perutnya berputar. Dalam keluarga besar, panggilan itu mungkin wajar. Tapi dari mulut Tommy, kata itu terasa seperti tangan kotor yang mencoba memegang masa kecilnya.

"Aku buru-buru," katanya.

"Sebentar. Papa lagi ngomongin Oma Lien."

Sekar menahan napas.

Tommy melihat reaksinya dan senyumnya makin dalam. "Oh, kamu belum tahu? Papa kangen. Katanya sudah lama nggak main ke rumah Oma. Keluarga harus saling bantu, kan?"

Kata bantu membuat belakang leher Sekar dingin.

Di kehidupan lalu, kata-kata seperti itu selalu datang sebelum tagihan, sebelum permintaan uang, sebelum wajah Om Budi berubah buas saat tidak mendapat yang ia mau.

"Kalau Om Budi ingin bertemu Oma, hubungi Oma langsung," kata Sekar.

"Wah, sekarang pintar jawab." Tommy mendekat setengah langkah. "Atau karena punya pacar anak motor jadi berani?"

Sekar mundur refleks.

Tommy melihatnya. Matanya berkilat, seperti menemukan retak kecil pada kaca.

"Takut?"

Sekar memaksa dirinya menatap wajah Tommy, bukan bayangan atap di belakang matanya. "Tidak."

"Nggak usah bohong. Tanganmu gemetar."

Sekar langsung menurunkan tangannya ke sisi rok.

Pada saat itu, pintu kecil dekat kasir terbuka.

"Sekar."

Suara Kevin masuk ke tubuhnya seperti tali yang dilempar ke orang tenggelam.

Ia menoleh.

Kevin berdiri dengan jaket Bryan di tangan. Rambut hitamnya membuat wajahnya tampak lebih tajam di bawah lampu hijau. Matanya bergerak dari Sekar ke Tommy, lalu turun ke tangan Sekar yang terlalu kaku.

Sesuatu di wajahnya berubah.

Tommy tersenyum santai. "Oh, ini pacarnya?"

Kevin berjalan mendekat, pelan tapi berat. "Siapa lo?"

Tommy mengangkat alis. "Keluarga."

Sekar merasa kata itu lebih menakutkan daripada ancaman.

Kevin berhenti di sampingnya. Tangannya tidak menyentuh Sekar, tetapi tubuhnya berdiri sedikit di depan, cukup untuk memotong pandangan Tommy.

"Keluarga yang bikin dia mundur kayak tadi?" tanya Kevin.

Tommy tertawa, tetapi suaranya lebih tipis. "Santai, Bro. Cuma sapa sepupu sendiri."

Sekar ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya seperti terkunci.

Tommy menatapnya dari balik bahu Kevin. "Sampaikan salam buat Oma Lien. Bilang sama beliau, Papa bakal datang."

Lalu ia mengambil stik biliar, berbalik ke mejanya seolah baru saja mengobrol biasa.

Sekar berdiri tanpa bergerak.

Bola di meja nomor lima kembali berbenturan. Suaranya tajam, seperti sesuatu pecah di dalam kepala.

Kevin menoleh padanya.

"Sekar?"

Sekar ingin menjawab.

Tapi yang keluar dari tubuhnya hanya napas pendek, dingin, dan terlalu cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!