NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~03

Setelah jamaah salat Zuhur usai, suasana pesantren kembali ramai oleh kesibukan para santri, menandakan dimulainya jadwal mengaji kitab sesuai tingkatan kelas masing-masing.

Di kamar pengurus pusat sekaligus abdi ndalem, tujuh orang santriwati tampak sibuk bersiap-siap. Sebenarnya, untuk tingkatan kelas Zia ke atas, jadwal mengaji di jam tersebut sudah kosong. Namun, Zia tetap ikut bersiap. Siang ini, ia bertugas untuk mengajar Kitab Sulam Taufiq di kelas dua.

Sementara itu, teman-teman sekamarnya yang lain sedang sedang asyik dengan kesibukan mereka sendiri. "Aku berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum," pamit Zia sambil memeluk kitabnya.

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut teman-temannya kompak.

***

Di sisi lain kompleks pesantren, suasana yang sama terasa di kamar Zizan dan Ares. Kamar yang dihuni delapan santri putra itu terlihat ramai dengan persiapan mengaji. Hanya ada tiga orang yang tidak ikut sibuk bersiap mengaji, seperti Ares dan Dafa. karena kelasnys yang sama dengan Zia, sudah tidak ada pelajaran siang.

Sementara Zizan, walaupun sudah tidak ada jam pelajarannya ia harus bersiap untuk mengajar Kitab Sulam Taufiq di kelas putra.

Sebagai pimpinan Dewan Qori'in di bidang pendidikan dan pembelajaran pesantren, pundak Zizan memikul beban kepemimpinan yang besar. Ia dituntut menjadi teladan bagi adik-adik kelasnya. Prestasi Zizan yang berkali-kali memperoleh penghargaan santri teladan dan peringkat terbaik membuatnya selalu menjaga diri. Ia mati-matian menjaga kehormatan dan nama baiknya agar tidak menyia-nyiakan prestasinya.

"Ngaji dulu. Assalamu’alaikum," ucap Zizan mantap sebelum melangkah keluar.

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab seisi kamar serentak, menaruh hormat pada sang ketua.

***

(Suasana mengaji kitab sulam taufiq putri)

Fashlun: Fii ma’aashil qalbi. Wa min ma’aashil qalbi: Ar-riya’u bi a’maalil birri... Wal ‘ujbu bi thaa’atillah... Wal kibru... Wal hasadu... Wal hiqdu... Wa suu’uzh-zhanni billahi wa bi ‘ibaadillah...

"Fasal mengenai maksiat-maksiat hati," suara Zia terdengar halus, bersiap memberikan penjelasan.

"Dan di antara maksiat-maksiat hati adalah riya atau pamer dengan amal kebaikan, ujub alias bangga diri atas ketaatan, sombong, hasad alias dengki, dendam, serta suuzan kepada Allah dan sesama makhluk."

Zia menatap deretan santriwati di hadapannya yang menyimak dengan takzim. "Itu baru judul absen penyakitnya ya, Anak-Anak. Isinya mengerikan, tapi tenang, dokternya ada di sini. Mari kita bedah satu per satu biar paham cara tobatnya."

"Yang pertama, Ar-riya’u bi a’maalil birri—Riya. Gampangnya, riya itu ibadah tapi butuh panggung. Tujuannya ingin dilihat, dipuji, atau dapat stempel 'salihah' dari manusia. Sifat ini fokusnya ke penilaian makhluk, bukan ke Allah. Jangan sampai hati kita terjangkit penyakit haus pujian ini, ya."

Zia menjeda kalimatnya sambil tersenyum penuh arti. "Contohnya begini. Ada santriwati yang kalau salat sendiri, gerakannya secepat kilat. Allahuakbar-samiallahuhalimun-assalamualaikum-assalamualaikum, selesai! Tapi begitu tahu di saf belakang ada calon mertua atau ustaz idaman lewat, mendadak sujudnya lama sekali, sampai-sampai dikira ketiduran. Sengaja biar dikira khusyuk."

Tawa kecil mulai terdengar di seisi kelas. Beberapa santriwati saling lirik dan menyenggol lengan temannya.

"Atau," Zia melanjutkan, "pas lagi giliran piket pondok terus sedekah ke pengemis, langsung ambil HP. Cekrek! Upload di status dengan caption 'Indahnya berbagi, semoga berkah'. Padahal murni biar netizen muji kalau dia itu orang yang der..."

"Dermawan!" sahut para santriwati serentak sambil tertawa kecil."Nah, paham kan? Itu namanya ibadah rasa endorse," canda Zia, membuat suasana makin cair.

"Lalu yang kedua, Wal ‘ujbu bi thaa’atillah—Ujub. Kalau riya tadi butuh penonton, nah kalau ujub ini penyakit hati. Pengertiannya adalah mengagumi diri sendiri atas ketaatan yang dilakukan. Merasa diri hebat karena bisa ibadah, sampai lupa kalau semua itu bisa terjadi murni karena pertolongan Allah. Sampai di sini, ada yang mau bertanya?"

Seorang santriwati di barisan kedua mengacungkan jarinya. "Maaf Ustazah, izin bertanya. Berarti apa perbedaan mendasar antara riya dan ujub? Apakah keduanya sama-sama dengan sombong?"

"Pertanyaan yang cerdas!" puji Zia. "Jadi begini bedanya. Riya itu butuh penonton atau saksi mata di luar diri kita. Sedangkan ujub? Wah, ujub bisa menyerang kapan pun dan di mana pun walau kalian sedang sendirian di dalam kamar mandi atau di pojokan kamar yang gelap gulita sekalipun. Karena dia sembunyi di dalam keangkuhan ego kita sendiri."

"Contoh gampangnya: malam-malam kalian bangun tahajud. Sukses nangis-nangis di atas sajadah. Begitu selesai salam, sambil melipat mukena, hati kecil kalian membatin, 'Ya Allah, hebat banget ya aku ini. Di saat satu kamar pada tidur ngorok berjamaah sampai subuh, cuma aku hamba-Mu yang terpilih buat bangun malam.' Nah! Merasa paling suci sendiri padahal lagi sendirian, itulah ujub. Jadi, jangan langsung merasa jadi wali ya kalau habis tahajud," tutur Zia diiringi senyum geli para santri.

Zia membalik halaman kitabnya perlahan. "Kita lanjut. Wal kibru—Takabur atau sombong. Ini adalah kelanjutan dari ujub yang dipelihara. Merasa diri lebih mulia, lebih tinggi, atau lebih hebat dari orang lain, yang akhirnya bikin kita merendahkan sesama dan hobi menolak kebenaran."

"Contoh mudahnya: seorang santri senior yang sudah hafal banyak kitab, tapi mendadak telinganya mendengung panas dan langsung menolak waktu dinasihati oleh santri baru yang lebih muda. Merasa egonya terluka karena merasa jauh lebih pintar. Itu kesombongan."

"Selanjutnya, Wal hasadu—Hasad alias dengki. Ini penyakit yang bikin dada sesak waktu lihat orang lain dapat nikmat, dan langsung syukuran pakai tumpeng waktu lihat orang lain dapat musibah." Zia menggeleng-gelengkan kepala dramatis, memancing tawa santrinya.

"Contohnya, tetangga sebelah rumah baru beli motor baru, eh kita yang meriang sampai masuk angin. Hati terasa panas, gelisah, terus tiap malam berdoa, 'Ya Allah, semoga motor barunya mogok atau bannya bocor terus-menerus.' Itu namanya hasad. Rugi di kita; motor tetangga tetap jalan, kita yang habis uang buat beli koyo karena masuk angin mikirin hidup orang."

Kelas kembali dipenuhi tawa renyah. Suasana materi yang tadinya berat kini terasa begitu dekat dengan keseharian mereka.

"Lalu ada Wal hiqdu—Dendam," sambung Zia lagi.

"Menyimpan rasa benci dan permusuhan dalam waktu lama, sambil pasang radar nunggu momen yang pas buat balas dendam. Contohnya, pernah disalahpahami sama teman waktu kelas satu. Eh, sampai mau lulus kelas enam, dendamnya masih disimpan rapi di dompet. Tiap ketemu, mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika, terus sibuk cari celah buat mempermalukan teman itu di depan umum. Jangan ya, rugi waktu, rugi pahala."

"Terakhir, suuzan atau berburuk sangka. Kitab ini membaginya jadi dua arah. Pertama, suuzan kepada Allah. Menggerutu dan menuduh Allah tidak adil waktu dikasih ujian sakit atau gagal ujian. 'Kenapa harus aku yang kena cobaan ini? Kenapa bukan dia aja ya Allah?' Padahal ujian itu tanda Allah rindu sama rintihan doa kita."

"Kedua, suuzan kepada hamba-hamba Allah. Menuduh niat baik orang lain tanpa bukti. Contoh, melihat pengurus pondok mendadak rajin ke masjid dan bersih-bersih, hatinya langsung membatin, 'Halah, paling rajin karena mau pemilu ketua pondok baru, biar dibilang saleh.' Nah, pikiran-pikiran begini nih yang bikin kuota pahala kita kesedot habis."

Zia menutup penjelasannya dengan pandangan menatap seluruh kelas. Suaranya melembut, membawa emosi santri kembali ke inti kitab.

"Semua penyakit tadi disebut maksiat hati.

Bahayanya tersembunyi karena tidak terlihat dari luar. Kelihatannya kita rajin ngaji, rajin salat, tapi di dalam hati ternyata keropos karena penyakit-penyakit ini menghapus seluruh pahala amalan kita tanpa sisa. Sayang kan, sudah lelah ibadah tapi pahalanya zonk? Memang susah buat menghindarinya, Ustazah juga masih belajar.

Menghindari maksiat hati itu di awal rasanya seperti mendaki gunung, berat sekali. Tapi kalau hati kita sudah terbiasa dilatih untuk ikhlas dan bersih, insya Allah semuanya akan terasa ringan dan indah. Sampai di sini, paham ya semuanya?"

"Insya Allah," jawab serentak semua murid.

"Wallahu a'lam bish-shawab."

"Amin," sahut para santriwati kompak dengan wajah yang jauh lebih segar.

"Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."

Zia beranjak dari tempat duduknya, memberikan senyum ramah, lalu melangkah meninggalkan kelas yang kini terasa jauh lebih hangat.

***

Sesampainya di kamar, Zia meletakkan kitabnya ke dalam lemari. Namun, saat jemarinya tengah merapikan letak kitab-kitab tersebut, sebuah pertanyaan dari sahabatnya seketika meruntuhkan ketenangannya.

"Zi... pesan dari Mas Charis udah kamu sampaiin belum?" tanya Salsa, mengingatkan.

Zia syok. Jantungnya berdetak hebat.

"Astaghfirullahaladzim! Aku lupa, Mbak Sal!" serunya syok. Zia bergegas memutar tubuh, bersiap kembali keluar dengan tergesa-gesa.

Namun, langkah kakinya mendadak terhenti oleh kelanjutan ucapan Salsa.

"Udah, udah aku sampaikan tadi, Zi," potong Salsa santai. "Tadi waktu aku ke asrama kompleks, kebetulan bertemu sama dia yang baru pulang ngaji. Jadi langsung aku sampaiin sekalian. Takutnya kamu lupa atau enggak keburu nanti.

"Di sudut kamar, Sinta yang mendengar kalimat Salsa mendadak mengubah raut wajahnya. Tatapannya dingin, menatap Salsa dengan pandangan sinis. Ada ketegangan yang terlihat dari caranya memandang, seolah-olah ada kesalahan besar atau maksud tersembunyi dari ucapan yang baru saja meluncur dari bibir sahabatnya itu.

"Hih! Astaghfirullah, Astaghfirullah... Tenang, Sin. Jaga hatimu," batin Sinta bergejolak, mencoba sekuat tenaga menekan ego dan gejolak negatif yang mendadak bangkit di dadanya.

Zia yang tidak menyadari ketegangan tersembunyi itu mengembuskan napas lega. Sebuah senyuman manis terkembang di wajahnya, menghapus kepanikan yang sempat mendera.

"Oh, iya... Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Mbak Sal," sahut Zia tulus.

"Iya, sama-sama," jawab Salsa ramah, menutup percakapan siang itu dengan misteri yang belum terungkap.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!