NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Meskipun menjadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan seluruh orang di kantin itu, Adera dan Damar sama sekali tidak peduli.

Mereka memilih meja di sudut yang agak sepi, lalu duduk berdampingan. Dengan santai dan tenang, mereka mulai menyantap makanan yang sudah dipesan.

Tatapan-tatapan penasaran, bisik-bisik, hingga senyum-senyum menggoda dari para dokter dan staf lainnya seolah tidak terlihat oleh mereka. Dunia seakan menyempit hanya menjadi milik mereka berdua saat ini.

Suasana terasa begitu hangat dan damai. Damar yang tadinya terlihat sangat lemas dan kehabisan tenaga, kini lahap menyantap makanannya ditemani gadis yang dia sayangi. Adera pun sesekali menyuapi atau memastikan Damar makan dengan benar, membuat hati pria itu berbunga-bunga luar biasa.

Waktu terus berlalu, dan akhirnya waktu makan pun usai. Perut sudah terisi, tenaga sedikit demi sedikit mulai kembali.

"Aku izin ke ruangan Papa Nindy dulu ya, mau lihat keadaan dia gimana," kata Adera pelan sambil merapikan tempat duduknya.

Damar mengangguk lembut, menatap gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Iya silakan Sayang... Aku juga harus balik ke ruangan dulu sebentar, ada beberapa laporan yang harus dicek sebelum pulang," jawab Damar lembut. "Kamu hati-hati ya."

Mereka pun berpisah sejenak. Adera berjalan menuju ruang rawat inap, sementara Damar kembali ke lantai atas.

Sesampainya di ruangan, Adera melihat kondisi Papa Nindy sudah jauh lebih tenang dan stabil. Nindy dan Mamanya pun terlihat jauh lebih lega dan bahagia.

Melihat Adera masuk, Nindy langsung berlari menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya erat-erat.

"Deraaa... makasih banyak banget ya Dera!" seru Nindy dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur. "Kalau gak ada lo, gue gak tau lagi akan jadi seperti apa..."

Adera tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu.

"Apasih... kan udah jadi kewajiban gue bantuin lo. Kita kan sahabat, jadi jangan sungkan-sungkan gitu dong," jawab Adera lembut. "Syukurlah Papa kamu selamat dan operasinya sukses."

Malam semakin larut, jam dinding sudah menunjukkan pukul yang sangat malam.

"Dera..." panggil Nindy pelan. "Udah malem banget nih. Jangan pulang dulu deh, bahaya. Lo tidur di sini aja sama gue, atau kita sewa kamar tunggu. Jangan pulang ya."

Adera mengangguk setuju. "Iya Nin, gue gak jadi pulang kok. Gue temenin kalian di sini."

Namun, saat Adera baru saja hendak berbalik untuk mengambil tasnya atau bersiap mencari tempat istirahat...

Matanya tak sengaja melirik ke arah celah pintu yang terbuka sedikit.

Di luar sana, di koridor yang remang-remang dan sepi...

Terlihat sosok tinggi besar yang sangat dikenali sedang berdiri bersandar di dinding. Wajahnya tampak tenang, matanya menatap ke arah pintu ruangan itu dengan senyum tipis.

Itu Damar!

Pria itu ternyata sudah ada di sana sejak tadi, menunggu dengan sabar.

Jantung Adera seketika berdegup kencang lagi.

"Damar... kok dia ada di sana? Bukannya dia harus istirahat di ruangannya?" batin Adera terkejut sekaligus berbunga-bunga.

Ternyata pria itu sama sekali tidak langsung beristirahat. Dia justru datang kembali ke lantai ini, diam-diam menunggu Adera selesai bicara dengan sahabatnya, seolah ingin memastikan gadis itu baik-baik saja atau mungkin... ingin mengantar Adera sampai benar-benar aman.

Dengan langkah yang sedikit ragu namun hati yang berbunga-bunga, Adera melangkah keluar dari ruangan dan menghampiri Damar yang masih setia menunggu di sana.

Wajah Damar yang tadinya tampak lelah seketika kembali berseri-seri melihat gadis itu datang menghampirinya.

"Damar... kenapa kesini?" panggil Adera pelan, suaranya terdengar lembut.

"Aku akan mengantar kamu pulang," kata Damar.

"Sepertinya aku gak pulang deh, aku mau menginap di sini saja," kata Adera.

Mendengar itu, Damar menganggukkan kepalanya perlahan dengan wajah penuh pengertian.

"Oh begitu... ya sudah, itu bagus kok. Temenin mereka ya, pasti mereka juga butuh banget dukungan kamu," jawab Damar lembut. "Tapi..."

Pandangan Damar beralih ke sekeliling mereka. Suasana di dalam rumah sakit memang terkenal sangat dingin, terutama di malam hari karena suhu AC yang sangat rendah.

Melihat Adera hanya mengenakan pakaian tipis, Damar langsung bertindak cepat.

Tanpa menunggu persetujuan, dengan gerakan yang sangat natural dan protektif, Damar melepas jaket tebal berwarna hitam yang sedang ia kenakan.

Sreeett...

Damar langsung menyelimutkan jaketnya ke bahu Adera dengan sangat hati-hati, lalu menariknya agar menutup tubuh gadis itu dengan rapat.

"Pakai ini, biar hangat," bisik Damar pelan tepat di telinga Adera, suaranya terdengar rendah dan manja. "AC di sini kan dingin banget, nanti kamu yang sakit kalau kedinginan. Jaket ini tebal, pasti bikin hangat."

Adera hanya bisa terpaku diam. Wajahnya seketika memerah padam.

Bau khas parfum pria itu yang maskulin dan menenangkan langsung menyeruak indra penciumannya. Jaket itu juga terasa hangat sekali, seolah masih menyimpan sisa panas tubuh Damar.

"Ma-makasih," jawab Adera terbata-bata, tangannya memegang erat ujung jaket itu. "Tapi... kamu juga butuh jaketnya kan? Kamu kan habis operasi, badan kamu juga pasti butuh hangat."

"Gampang? Tinggal minta peluk sebentar aja pasti sudah hangat," kata Damar menggoda.

Tanpa ada keraguan, Adera langsung memeluk tubuh Damar.

Damar pun tidak menyangka jika gadis itu akan melakukannya padahal dia cuma sekadar menggoda.

"Apakah sudah hangat?" tanya Adera polos.

"Sudah cukup," jawab Damar tersenyum lebar.

Adera tersenyum manis setelah memeluk Damar.

"Aku balik dulu ya, jaga kesehatan," kata Damar.

Adera hanya menganggukkan kepala.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Damar pun akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan lorong itu untuk beristirahat.

Begitu sosok Damar hilang dari pandangan, Adera masih berdiri mematung sambil memeluk dirinya sendiri, menikmati hangatnya jaket pemberian pria itu dan aroma yang tertinggal di sana.

"Dera..."

Suara lembut memanggil namanya membuat Adera tersentak. Dia menoleh dan melihat Nindy sudah berdiri di belakangnya, menyaksikan semua momen manis tadi dengan senyum penuh makna.

Nindy berjalan mendekat, lalu menatap lekat wajah sahabatnya yang masih terlihat salah tingkah.

"Nah kan... gue bilang apa?" kata Nindy pelan namun tegas. "Enak ya berpelukan, kayak Teletubbies aja. Kalau cinta bilang bos," goda Nindy.

"Nindy! Lo ngintip ya!" seru Adera sambil memukul pelan lengan sahabatnya.

Nindy menarik tangan Adera, lalu menatap sahabatnya itu dengan sangat serius namun penuh kasih sayang.

"Dari awal gue udah bilang, Damar itu beda. Dia gak cuma keren, kaya, dan hebat... tapi dia tulus banget sama lo. Gue bisa liat jelas banget dari matanya, dari caranya memperlakukan lo, bahkan hal kecil kayak ngasih jaket atau nyempetin waktunya buat nemuin lo di sini..."

Nindy menghela napas panjang, lalu melanjutkan nasihatnya.

"Der... tolong dengerin gue ya. Jangan nutup hati lagi. Jangan ragu lagi. Damar itu orang baik, dia sayang banget sama lo, dan dia siap jagain lo sepenuhnya. Gue harap banget... lo bisa buka hati lo, lo bisa terima dia dengan tulus. Karena gue yakin, Damar itu orang yang tepat buat bikin lo bahagia selamanya."

Mendengar nasihat tulus dari sahabatnya sendiri, Adera terdiam. Matanya menunduk menatap jaket di tubuhnya, dan di dalam hatinya... perlahan tapi pasti, tembok pertahanannya mulai runtuh. Ia mulai sadar, bahwa pria itu memang benar-benar serius dan tulus mencintainya.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!