NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: tamat
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:608k
Nilai: 4.8
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 31

Raka memasuki rumah. Tampak Ibu Rina sedang menunggunya.

“Bagaimana? Apa Miranda mau dibawa ke sini?” tanyanya.

Raka duduk dengan malas, membuka kancing kemejanya.

“Miranda tidak ada di rumah orang tua angkatnya,” jawab Raka.

“Kenapa?” tanya Rina.

“Dia diusir oleh keluarga angkatnya,” jawab Raka.

“Kenapa?”

“Ya, sama bapaknya tidak enak dengan anak kandungnya. Anak kandungnya tidak suka dengan Miranda. Sama seperti aku, tidak enak dengan Ibu, akhirnya aku juga menceraikannya,” jawab Raka dengan nada lemah.

“Jadi kamu menyalahkan Ibu?” ucap Rina kesal.

“Ya, Ibu tidak salah. Ibu selalu benar. Semua perkataan Ibu tentu saja untuk kebaikanku,” jawab Raka. Tentu saja itu hanya sarkasme.

“Kamu menyindir Ibu?” ketus Ibu Rina.

“Aku tidak menyindir. Hanya saja kadang aku berpikir, sebenarnya apa salah Miranda?” ucap Raka.

“Sampai sekarang kamu masih belum tahu apa salahnya Miranda?” ucap Rina ketus.

“Astaghfirullah,” ucap Pak Budi, keluar dari kamarnya menghentikan ucapan Raka dan ibunya.

“Ada apa lagi ini?” ketus Ibu Rina.

“Jam sebelas malam, Bu. Raka harus istirahat. Bukannya diberi minum, malah dicecar pertanyaan,” ucap Pak Budi.

“Raka ini menyalahkan Ibu. Karena Ibu, dia menceraikan Miranda,” ucap Ibu Rina dengan nada kesal.

“Raka tidak menyalahkan Ibu. Raka memang mengungkapkan hal sebenarnya. Bukankah Ibu yang menyuruh menceraikan Miranda?” ucap Pak Budi.

Rina hendak bicara lagi, namun tangan Pak Budi terangkat menghentikannya.

“Raka, lebih baik kamu istirahat. Sudah malam. Nanti Ayah buatkan air hangat, Ayah antarkan ke kamar kamu,” ucap Pak Budi.

Raka berdiri dan masuk ke kamar.

“Kamu keterlaluan,” ucap Pak Budi. “Belum cukupkah kamu terus-menerus mengatur Raka? Lihat Raka sekarang, hidupnya kacau setelah menceraikan Miranda.”

Rina menatap Pak Budi dengan tajam. “Kamu enak diam terus di rumah, sedangkan kupingku panas mendengarkan orang-orang membicarakan Miranda yang tak pantas dengan Raka.”

“Kalau orang lain menjelekkan Miranda, seharusnya siapa yang membela?” ucap Pak Budi.

“Kenapa Ibu membenci Miranda? Apa Miranda pernah merugikan Ibu? Apa Miranda pernah mencuri barang orang lain? Apa Miranda pernah membuat Raka pusing? Apa Miranda pernah melakukan tindakan asusila?”

Rentetan pertanyaan itu terus menyerang Rina, dan Rina hanya diam.

“Tapi dia itu tidak berpendidikan, jelek, dan bukan dari keluarga kaya,” ucap Rina ketus.

“Suami yang hebat itu menjadikan istrinya pintar, cantik, dan lebih baik. Seharusnya kewajiban Raka sebagai suaminya.”

“Enak sekali. Memangnya siapa Miranda sehingga Raka harus membiayai pendidikannya?”

Pak Budi duduk lalu memandang istrinya.

“Miranda yang mengurusku di rumah sakit selama seminggu, sedangkan kalian enak-enakan di rumah. Miranda yang mengurus kamu waktu kamu jatuh sakit, sementara Lusi dan Lela mengabaikan kamu.”

“Cukup!” hardik Ibu Rina. “Itu memang sudah menjadi kewajibannya sebagai menantu tak berguna.”

“Lalu apa tugas Lusi dan Lela? Apa selama ini mereka berbakti kepada kamu? Ingat, siang malam aku dan kamu bekerja keras membesarkan mereka, memberikan pendidikan yang layak untuk mereka. Tapi apa balasan mereka? Saat kamu sakit saja, mereka tak peduli,” ucap Pak Budi.

“Terus saja membela Miranda!” hardik Ibu Rina marah dan masuk ke kamarnya dengan kesal.

Pak Budi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.30. Pak Budi berangkat ke dapur. Dapur sudah bersih karena ada pembantu harian yang setiap hari datang. Walaupun kerjanya tak serapi Miranda, tetapi lebih baik daripada diurus Rina, Lela, dan Lusi. Jika diurus ketiga wanita itu, bukannya bersih malah seperti kapal pecah.

Pak Budi memasak air. Setelah panas, ia membuat teh hangat lalu masuk ke kamar Raka yang sedang sibuk menelepon seseorang.

“Raka, apa yang kamu lakukan?” tegur Pak Budi saat Raka akan membanting ponsel.

Raka duduk di kasurnya dan meremas rambutnya.

“Aku stres, Pak,” jawab Raka.

“Kenapa?” tanya Pak Budi.

Kemudian Raka menceritakan masalahnya. Pak Budi beberapa kali mengelus dada.

“Saran Bapak, lebih baik kamu jujur saja kepada perusahaan. Itu bukan salah kamu. Lagipula, kalau kamu menjual mobil dan menguras tabungan, apakah masalahnya selesai?” ucap Pak Budi.

“Ya, setidaknya aku bisa menyelesaikan masalah, Pak.”

“Dan setiap kali ada masalah seperti ini, kamu akan mengorbankan dirimu?” ucap Pak Budi.

Raka terdiam. Pak Budi duduk di samping Raka dan menepuk punggungnya.

“Raka, kamu harus tegas. Lagipula Lina baru calon istri kamu, belum jadi istri kamu. Ini jelas penipuan. Kamu harus tegas pada Lina. Beri dia pilihan, ganti rugi atau lapor polisi,” ucap Pak Budi.

“Lapor polisi,” gumam Raka. “Nanti bagaimana kalau Lina mengadu pada Ibu?”

“Raka, kamu harus profesional. Lina itu dari keluarga kaya. Uang dua ratus lima puluh juta itu bukan jumlah besar bagi mereka. Keluarga mereka pasti akan mencari segala cara untuk menutupi permasalahan ini. Jangan sampai kamu yang dipermainkan mereka,” nasihat Pak Budi.

“Jadi ini hanya gertakan saja?” ucap Raka.

“Ya, kalau memang mereka tidak mau mengganti, ya tinggal diseriuskan saja.”

Raka memandang bapaknya lalu mengisap teh hangat dan berkata, “Terima kasih, Pak.”

“Sekarang istirahatlah. Kalau kamu tidak ada niat untuk kembali pada Miranda, lebih baik lepaskan dia. Dan jangan pernah mendengarkan Ibu kamu untuk menjadikan Miranda pembantu di rumah ini,” ucap Pak Budi.

Raka terdiam kemudian bertanya, “Bukankah Ayah dulu juga menginginkan hal itu?”

“Dulu iya, sekarang tidak,” ucap Pak Budi, kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kamar Raka.

..

Sementara itu, Miranda merasakan syukur yang tiada tara. Pembayaran dari orang proyek sudah ia terima, dan keuntungan Rp180.000 kini ada di tangannya. Uang itu ia genggam erat sebelum memasukkannya ke saku tasnya.

“Alhamdulillah… akhirnya,” gumam Miranda.

“Sepertinya dalam waktu sebulan saja aku akan mendapat uang banyak. Dan sepertinya aku harus mencari kontrakan. Tidak baik membawa uang banyak di jalan. Tapi aku belum punya KTP,” pikir Miranda.

“Ah, kenapa terus memikirkan hal yang belum terjadi? Uangnya juga belum terkumpul banyak,” ucapnya lagi.

Miranda melangkah riang ke rumah Ibu Salamah, membayangkan ia akan mengolah daging dan berbagai makanan lezat.

Sampai di dapur, Miranda melihat tumpukan sayur.

“Mir, potong sayuran itu,” ucap Ibu Salamah.

Miranda tertegun. “Apa-apaan ini? Kok jadi memotong sayuran?” ucapnya dalam hati.

Miranda memegang pisau, lalu memegang sayur dan memotongnya seperti biasa.

“Bukan begitu pegang pisaunya!” tegur Ibu Salamah tajam.

Miranda mengubah posisi jarinya.

“Luruskan punggungmu. Ujung pisau jangan diangkat tinggi.”

Baru saja ia mengulang, tangannya kembali dipukul pelan.

“Aduh, Bu…” lirih Miranda.

“Kalau salah terus, bisa putus jarimu,” balas Ibu Salamah tegas.

Miranda menahan kecewa. “Saya kira hari ini belajar bumbu, Bu.”

“Kalau potong saja belum benar, mau masak apa?”

Miranda terus memperhatikan proses memotong Ibu Salamah yang sangat terampil.

“Kamu tahu, banyak orang bisa masak. Tapi kenapa sedikit orang yang bisa menghasilkan uang banyak dari masak? Itu karena detail memasak yang tidak diperhatikan, termasuk cara memotong,” ucap Ibu Salamah.

Miranda kembali mencoba. Beberapa kali jarinya hampir teriris, namun akhirnya ia bisa melakukannya seperti yang dicontohkan Ibu Salamah.

Ibu Salamah tersenyum dalam hati. Ia tahu itu teknik chef profesional. “Dia punya bakat dan kemauan. Di kelas profesional, empat kali pertemuan baru memahami. Tapi dia, dalam waktu empat jam sudah bisa meniru gayaku,” pikirnya bangga.

1
Titien Prawiro
Ibunya Raka gila hormat. lidahnya tajam banget.
Titien Prawiro
Kan sdh dijelaskan kalau Agustinus jadi mualaf, Agustinus nama Nasrani
Titien Prawiro
Nanti Lisa hamil diluar nikah, orang kok jahat banget iri yg gk masuk akal.
Titien Prawiro
Si Raka menikahi perempuan yg gk jelas, mendingan Miranda biar bukan sarjana baik hati setia pinter cari uang sopan.
Titien Prawiro
Amazing
Titien Prawiro
paling Lina itu hanya OB, masak kalau asisten apa tadi mau ngajak mkn calon ipar minta uang sama Raka, paling Raka hanya diporoti uangnya, dia hanya OB
Sumirah Mira
sangat bagus ceritanya .. penuh dengan motivasi hidup 🥰🥰🥰
Titien Prawiro
Semangat Miranda, semoga hidupmu kedepan lebih baik dan bahagia.
Sazmah Maa
kamu jangan bodoh miranda
Eka
Novel yang sangat bagus
Eka
Bagus sekali ceritanya Thor
Heny
Sdh pergi baru di ingat dl waktu ada di cuekin
Heny
Jng sdh km hsr kuat
Heny
Jng mau jd pembantu gratisan lbh baik pergi
Ranny
keluarga gila di kiranya si Mira mau balik lagi kasihan deh loe rugi banget kalau hidup di keluarga toxic seperti kalian
Ranny
😄😄😄 benarkan filling ku si Raka salah ucap nama pengantin wanita nya 🤭
Ranny
Mahar banyak tp yg di dapat pengantin wanita nya so nda virgin dan pernah hamil lagi 😄😄😄
Ranny
jangan² pas ijab qobul yg di sebut nama nya Miranda 🤪
Ranny
😄😄😄 gaji 30jt saja di besar²in jadi ratusan jt itu mah dr hasil ngerampok kali🤭
Ranny
😄😄😄 siap² kalian tinggal di hotel prodeo lebih nyaman kan🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!