" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Permasalahan
"Awas, ya, berani ngadu sama Ayah, Ara laporin sama Kak Sean biar dipecat," kata Ara malah mengancam petinggi perusahaan itu.
Setelah pintu lift terbuka, Ara berjalan menggenggam tangan Melly menuju ruangan Sean melewati banyak ruangan para staf yang sedang bekerja.
"Ara, aku risih banget, kok orang-orang pada lihatin kita sampai segitunya?" ucap Melly yang saking risihnya berjalan dengan kepala menunduk.
"Mungkin karena outfit kita sama," pendapat Ara dengan santai berjalan semakin cepat karena tidak sabar ingin bertemu pujaan hatinya.
Tok.
Tok.
Ara mengetuk pintu ruangan Sean beberapa kali dan asisten Bimo yang membukanya.
"Siapa, Bim?" pertanyaan Sean sampai menghampiri Bimo karena cukup lama berdiri mematung.
"Hai, Ayang!" sapa Ara melambaikan tangan.
"Baby," kaget Sean melihat dua gadis berpakaian kembar dari ujung kaki sampai jepit rambut pun sama.
"Masuklah," ucap Sean menyuruh mereka masuk.
"Ara kangen Ayang," kata Ara memeluk Sean dengan erat.
"Aku juga merindukanmu, Baby," ucap Sean membalas pelukan Ara.
"Khmmmm," lagi-lagi Bimo selalu mengganggu sepasang kekasih yang sedang melepas rindu ketika bertemu itu.
"Kak Bimo masih ingat Melly, kan?" tanya Ara melepaskan pelukannya dari Sean dan kembali menggenggam tangan Ara.
"Ingat," kata Bimo tersenyum menatap Melly.
"Sebentar, ya. Kalian duduklah dulu. Kami harus menyelesaikan meng-input data perusahaan," ucap Sean dengan wajah lelahnya.
"Cepat, ya, Ayang. Habis ini kita jalan-jalan. Asisten Bimo juga ikut," kata Ara dengan semena-mena.
"Tapi—"
"Cepatlah selesaikan pekerjaan kalian," kata Ara mendorong Sean dan Bimo bersamaan agar segera menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Ayo, Mell, kita duduk," ajak Ara mengajak Melly duduk di sofa.
"Ara, tadi kamu bilang jika ke sini aku bisa belajar bisnis, tapi mengapa kamu malah mengajak Kak Sean jalan-jalan?" ucap Melly dengan suara pelan.
"Nanti aja belajar kalau Kak Bimo udah jadi suami kamu, sekarang ayo kita jalan-jalan," kata Ara dengan wajah cerianya.
"Ara, tapikan Kak Sean sedang bekerja," Melly menatap sahabatnya yang seperti tidak punya toleransi.
"Itukan udah Ara suruh mereka menyelesaikan," ucap Ara yang paham juga.
"Maksud aku siapa tahu setelah ini mereka ada kerjaan lain," kata Melly.
"Kerjaan mereka nggak bakal ada habisnya, pokoknya hari ini Ara mau jalan-jalan kalau nggak bakalan ngambek sama Kak Sean," ucap Ara.
"Nggak boleh egois, Ra," kata Melly dengan pemikiran lebih dewasa sehingga mudah memaklumi.
"Egois apanya? Udah seminggu, ya, Ara pengen, tapi dia sibuk terus, jadi harus nunggu setahun dulu biar nggak dibilang egois?" kata Ara yang membuat Melly bernapas kasar.
Percuma bicara dengan Ara yang keras kepala itu.
20 menit kemudian, Sean dan Bimo menghampiri mereka yang duduk di sofa bermain game.
"Ayo," kata Ara langsung menutup game di ponselnya.
"Nona, hari ini saya—" belum jadi Bimo bicara, Ara sudah menyahut.
"Apa? Mau alasan apa lagi?" tanya Ara.
"Ikut saja, Bim," ucap Sean yang sama tidak berdayanya.
Memang sudah dari seminggu yang lalu Ara mengajak jalan-jalan.
Akhirnya mereka berempat jalan-jalan. Selain hubungan Ara dan Sean yang semakin dekat, juga ada Melly dan Bimo yang mulai sama-sama menaruh hati.
.......
2 bulan kemudian.
Anniversary perusahaan Brisbane Group akan dilangsungkan beberapa hari lagi hingga keluarga dan para petinggi perusahaan sibuk mempersiapkan acara besar yang akan dihadiri ratusan tamu penting.
Sementara permasalahan muncul tentang siapa yang akan menjadi pendamping Sean dalam acara itu.
"Ayah, bagaimanapun itu aku ingin Ara yang mendampingiku dalam acara nanti," ucap Sean ketika Ayah malah menunjuk Shania sebagai pendamping Sean.
"Sean, anniversary perusahaan itu bukan hanya sebagai event tahunan, tapi juga jalan pintas mencari relasi bisnis dan calon-calon investor," ucap Ayah.
"Ayah menunjuk Shania untuk menjadi pendampingmu karena dia mengerti banyak aspek dalam bisnis hingga saat bicara kolega bisnis kita bisa nyambung dengannya dan satu lagi, Shania itu menguasai beberapa bahasa asing," ucap Ayah.
"Jika mega proyek yang sedang kamu rancang mendapatkan suntikan dana dari pihak asing, bukan tidak mungkin itu akan jadi proyek terbesar sepanjang tahun ini," ucap Ayah yang melihat peluang itu.
"Ayah tidak ragu dengan kemampuan dan relasi yang kamu miliki, tapi saat tampil di publik, kesan pertama seorang pebisnis adalah wibawa dan pendampingnya," sambung Ayah.
"Ara juga cantik, bahkan pesonanya jauh melebihi Shania," ucap Sean yang bisa merasakan itu.
"Ara memang mempesona, tapi Shania punya daya pikat tersendiri di mata pebisnis karena selain anggun, dia juga jenius," pendapat Ayah.
"Saking jeniusnya, proyek mangkrak dia bertekuk lutut di hadapan keluarga kita," sindir Sean secara terang-terangan.
Bukan Sean tidak tahu betapa tunduknya Shania pada Ayah sampai diminta jadi istri kedua Sean pun mau.
"Sean, dengarkan Ibu, Nak," ucap Ibu menghampiri Sean setelah Ayah pergi.
"Kamu menyayangi Ara, kan?" pertanyaan Ibu yang diangguki Sean.
"Jangan paksa dia melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan, apalagi belum seharusnya dia lakukan," ucap Ibu dengan tatapan kosong.
"Tuntutan untuk menjadi setara dengan orang lain di luar kemampuan kita itu sangat menyakitkan, Nak," sambung Ibu.
"Tapi, Bu, aku sangat mencintai Ara," kata Sean yang paham maksud ibunya.
Tuntutan jika menjadi istri Sean sangat besar karena menyandang status sebagai nyonya besar keluarga Brisbane yang bukan hanya sekadar menguasai tata krama, tapi juga tanggung jawab.
"Iya, Ibu tahu itu, tapi Ara masih remaja dan belum dewasa untuk memikul tanggung jawab itu," ucap Ibu.
"Gadis seusianya memang sedang menikmati masa muda dengan bermain, kuliah, dan jalan-jalan. Jika kamu membawanya sekarang, maka dia akan terikat dengan semua tanggung jawab. Apa kamu tidak kasihan padanya?" tanya Ibu.
"Tapi aku tidak pernah menyembunyikan hubunganku dengan Ara dari siapa pun, Bu," ucap Sean.
"Iya, namun tidak semua orang juga tahu kamu hubungan dengannya. Jika kamu membawanya di acara anniversary perusahaan kita, maka semua pihak akan tahu kalau Ara adalah pasangan kamu," ucap Ibu.
"Terus apa salahnya, Bu? Aku tidak ingin menyembunyikan hubunganku dengannya," pernyataan Sean kenapa seolah-olah ibunya ingin Sean menutupi hubungannya dengan Ara.
"Sean, pernahkah kamu berpikir tentang perasaan Ara nanti jika orang lain menilai dia sama seperti penilaian Ayahmu?" ucap Ibu mengelus lengan putranya.
Sean langsung terdiam mendengar ucapan Ibu.
"Itu akan sangat menyakiti perasaannya," ucap Ibu mengatakan itu karena dia pernah berada di posisi itu.
"Ara masih belum dewasa. Wajar dia belum menjadi wanita pebisnis yang serba bisa, tapi sepertinya Ayahmu tidak mempertimbangkan itu," sambung Ibu.
"Iya, Bu, Ara akan bingung ketika mendapatkan banyak pertanyaan yang mungkin tidak dia pahami," kata Sean yang tidak mau jika Ara sampai dipermalukan.