Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Nama Steven dan Victoria Wan masih berdiri dalam satu baris yang sama ketika Irwan tiba-tiba berkata, "Jangan buka file itu di perangkat lain."
Semua orang menoleh kepadanya.
Irwan sudah mengambil tablet dari meja. Wajahnya berubah bukan karena isi file, melainkan karena sesuatu yang ia lihat di sudut layar.
"Matikan koneksi televisi," katanya kepada staf teknis yang gemetar di dekat pintu. "Sekarang. Cabut kabel jaringan. Jangan pakai Wi-Fi rumah."
William menatapnya. "Apa lagi?"
"File ini bukan hanya PDF."
Lusia langsung berdiri. "Maksudmu ada virus?"
"Bukan virus besar. Pelacak." Irwan mengetuk layar dengan cepat. "Ada gambar kecil yang memanggil server luar setiap kali file dibuka. Siapa pun yang membuka file, perangkatnya ditandai."
Nana merasakan ponsel di tangannya menjadi berat.
"Mereka tidak perlu meretas semua orang," lanjut Irwan, suaranya makin cepat tapi tetap rapi. "Mereka hanya perlu tahu siapa yang panik membuka lebih dulu. Dari situ mereka bisa memetakan jalur keluarga, legal, vendor, dan siapa yang punya akses ke jaringan rumah."
Tamara memejamkan mata. "Kita sendiri yang memberi peta."
"Karena mereka membuat kita takut terlambat membaca," kata Irwan.
Nana menatap file di layar. Tadi ia mengira membaca cepat berarti tidak mau tertinggal. Sekarang ia mengerti, lawan justru menghitung rasa takut itu. Mereka tidak hanya menyebar bukti. Mereka menyebar umpan yang membuat semua orang penting menyalakan lampu di tempat masing-masing.
Steven melihatnya. "Kau buka?"
Nana tidak berbohong. "Iya."
Wajah Steven menegang. "Ponsel pribadi?"
"Iya."
"Matikan."
Nana menekan tombol daya, tapi tangan Steven sudah bergerak lebih cepat. Ia mengambil ponsel itu, mematikan koneksi, lalu menyerahkannya kembali tanpa melihat galeri atau pesan lain.
"Jangan nyalakan sampai Irwan bersihkan."
Nada itu perintah. Namun di bawahnya ada sesuatu yang lebih kasar daripada marah: takut yang ditahan.
Tamara memucat. "Berarti mereka tahu siapa saja yang membaca?"
"Minimal mereka tahu perangkat dan jaringan," jawab Irwan. "Kalau file dibuka lewat Wi-Fi rumah, mereka tahu IP rumah. Kalau dibuka lewat tablet yang terhubung ke sistem internal..."
Ia berhenti.
Semua mata jatuh ke tablet yang masih berada di meja.
William menoleh ke perwakilan legal. "Tablet itu terhubung ke jaringan mana?"
Pria itu tampak kehilangan suara. "Jaringan kantor rumah, Pak. Yang dipakai untuk akses dokumen rapat."
Steven mengumpat pelan.
Nana belum pernah mendengar Steven mengumpat. Justru karena hanya satu kata pendek, ia tahu keadaan lebih buruk daripada yang ditunjukkan wajahnya.
Alarm tipis berbunyi dari ponsel Irwan.
Irwan melihat layar, lalu seluruh tubuhnya berubah menjadi tegang. "Ruang bawah tanah menerima ping asing."
"Tim Lilin?" tanya Tamara.
"Ya."
William langsung menunjuk Steven. "Kau tetap di sini."
Steven sudah bergerak ke pintu. "Tidak."
"Aku bilang kau tetap di sini."
"Kalau aku tetap di sini, mereka ambil log mentah."
"Irwan yang turun."
"Irwan harus menutup jaringan dari sini." Steven menatap ayahnya. "Mereka tidak mengejar file yang sudah bocor. Mereka mengejar bahan mentah untuk membuat file berikutnya terlihat sempurna."
Nana merasakan kata-kata itu masuk satu demi satu.
Bahan mentah.
Laporan Patrick menjadi rapi karena orang yang mengaturnya punya kertas, tanda tangan, kamera mati, saksi hilang. Sekarang file Steven masih bisa dibantah karena metadata bisa dipotong. Kalau lawan mendapatkan log asli Tim Lilin, mereka bisa memilih bagian yang paling menyakitkan dan membuang sisanya.
Pak Shen benar. Laporan berikutnya bukan tentang orang mati.
Tentang Steven.
William melangkah menghalangi pintu. "Kau sudah cukup membuat keluarga ini terlihat bersalah."
Steven berhenti di depan ayahnya. Dua orang itu berdiri begitu dekat sampai ruang tengah terasa menahan napas.
"Papa boleh mengurungku setelah ini," kata Steven pelan. "Tapi kalau log Pasar Atom, ruko kain, dan kontak vendor diambil malam ini, besok kau tidak perlu mengurungku. Mereka akan melakukannya untuk Papa."
Stella menangis tanpa suara.
Albert di layar berkata hati-hati, "William, mungkin biarkan Irwan dan tim lain menangani. Steven turun sekarang akan memperburuk tampilan situasi."
Steven tidak melihat tablet. "Tepat. Itulah yang mereka inginkan."
Nana menatap Albert.
Kalimatnya masuk akal. Terlalu masuk akal. Seperti semua kalimat yang membuat orang memilih diam karena takut terlihat salah.
Ponsel darurat Nana bergetar meski ponsel pribadinya sudah mati. Layar kecilnya menampilkan pesan dari Irwan yang dikirim otomatis ke perangkat internal.
RUTE BARAT TERPAPAR. AKSES GARASI TERKUNCI. JALUR LAUNDRY TIDAK TERLIHAT DI PETA LAMA.
Nana membaca sekali.
Jalur laundry.
Pintu kecil.
Suara Pak Shen kembali: fakta jarang datang lewat pintu utama.
"Aku bisa masuk lewat laundry," kata Nana.
Semua orang menoleh.
Steven langsung berkata, "Tidak."
Nana sudah berdiri. "Peta lama tidak mencatat jalur itu, kan?"
Irwan menatapnya, lalu ponselnya. "Jalur laundry ke koridor servis barat terhubung ke ruang arsip bawah. Sempit. Tidak dipakai staf malam."
"Aku pernah lewat dekat sana."
"Karena kau suka tidak menurut," kata Steven tajam.
"Karena aku memperhatikan pintu kecil."
Steven melangkah mendekat. "Ini bukan tugas menguping di rumah."
"Aku tahu."
"Ini bukan Pasar Atom."
"Aku tahu."
"Kalau kau turun sekarang, kau tidak bisa kembali menjadi anak yang disembunyikan Stella di kamar kecil."
Nana menatapnya. Kata-kata itu seharusnya menakutkan. Aneh, justru terasa seperti pintu yang akhirnya disebut dengan nama sebenarnya.
"Aku sudah tidak bisa kembali sejak kau menyuruhku mencuri kartu memori pertama."
Steven terdiam.
Stella mencengkeram tangan Nana. "Na, jangan."
Nana memegang tangan Stella sebentar. Hangat. Gemetar.
"Cici pernah bilang aku harus pintar-pintar bernapas di rumah ini." Nana menelan sesuatu yang sakit. "Aku tidak bisa bernapas kalau semua orang menyuruhku menunggu sementara mereka membuat laporan baru tentang orang yang belum tentu bersalah."
Stella menutup mata.
Irwan berkata pelan, "Kalau kau masuk jalur itu, statusmu bukan tamu rumah. Kau bagian operasi. Perintahku harus didengar."
Steven menoleh cepat. "Irwan."
Irwan balas menatapnya. "Tuan Steven, kita kehilangan empat menit kalau berdebat."
Steven seperti ingin memukul meja. Ia tidak melakukannya.
Nana mengangkat dagu. "Aku dengar perintah yang masuk akal. Aku juga akan bilang kalau ada yang tidak masuk akal."
Irwan menarik napas singkat. "Cukup baik."
"Tidak," kata Steven. "Tidak cukup baik. Dia belum tahu konsekuensinya."
Irwan menatap Nana. Kali ini ia tidak lembut. "Kalau kau masuk sebagai bagian operasi, apa yang kau lihat tidak boleh kau ceritakan ke Stella, Daniel, atau siapa pun tanpa izin. Kalau tertangkap, lawan tidak akan memperlakukanmu sebagai anak yang salah tempat. Mereka akan memperlakukanmu sebagai anggota Tim Lilin. Kalau berhasil, tidak ada tepuk tangan. Kalau gagal, namamu bisa dipakai untuk menyerang semua orang di rumah ini."
Stella menggeleng cepat. "Jangan jelaskan seperti itu."
"Harus," kata Nana pelan.
Ia merasa takut. Tentu saja. Perutnya dingin, telapak tangannya basah, dan suara di ruang tengah terdengar terlalu jauh. Namun ketakutan itu kali ini tidak membuatnya ingin lari. Ketakutan itu membuat semua garis terlihat lebih jelas.
"Aku mengerti," katanya kepada Irwan. "Masukkan namaku ke operasi malam ini."
William tampak marah. "Aku belum mengizinkan."
Nana menatap William. Ia sadar dirinya tidak punya hak menatap kepala keluarga seperti itu. Ia tetap melakukannya.
"Pak William, kalau saya salah, Bapak boleh usir saya setelah ini. Tapi kalau saya benar dan kita diam, besok mungkin bukan cuma Tuan Steven yang mereka gantung di layar."
Tamara yang sejak tadi diam berkata, "Biarkan dia turun."
William menoleh tajam.
Tamara tidak mundur. "Dia satu-satunya yang bisa lewat jalur tak tercatat tanpa menarik pengawasan depan. Dan dia sudah berkali-kali melihat hal yang kita lewatkan karena kita terlalu terbiasa dengan pintu utama."
Lusia berbisik, "Rumah ini benar-benar sudah gila."
Steven berkata kepada Nana, sangat pelan, "Kalau kau terluka..."
"Maka aku akan marah padamu kalau kau membuang waktu untuk merasa bersalah."
Kalimat itu membuat mata Steven berubah.
Nana tidak tahu apakah ia telah menyakiti atau menolongnya. Ia tidak sempat mencari tahu.
Irwan membuka laci meja samping dan mengambil kartu akses hitam tanpa nama. "Pegang ini. Sekali masuk, ikuti lampu darurat biru. Jangan sentuh pintu merah. Jangan bicara lewat ponsel pribadi. Pakai earpiece ini."
Nana memasang earpiece dengan jari yang mulai dingin.
Suara Irwan masuk, kecil dan jernih. "Tes."
"Dengar."
Steven mengambil jaket gelap dari sandaran kursi dan melemparkannya kepada Nana. "Pakai."
"Aku punya jaket."
"Jaketmu sudah pernah dikirim Hasan ke meja depan. Pakai ini."
Nana tidak membantah. Jaket itu terlalu besar, baunya bersih dan sedikit seperti hujan di aspal panas. Ia memasukkan kartu akses ke saku dalam.
Stella tiba-tiba memeluknya.
"Pulang," bisiknya.
"Aku akan pulang."
"Jangan jawab seperti orang yang akan nekat."
Nana hampir tersenyum. "Aku akan pulang dengan bukti."
Ia berlari bersama Steven keluar dari ruang tengah, melewati lorong samping, turun ke arah laundry yang gelap. Di belakang mereka, suara keluarga masih pecah menjadi perintah, telepon, dan ketakutan. Di depan, pintu kecil dekat laundry menunggu seperti mulut hitam.
Steven berhenti sebelum pintu itu.
"Terakhir kali," katanya. "Kau bisa mundur."
Nana melihat kertas tiga pertanyaan Pak Shen di saku jaketnya, lalu melihat wajah Steven yang setengah tertutup bayangan.
"Kalau aku mundur sekarang, aku akan menjawab pertanyaan Pak Shen dengan rasa takut."
Ia membuka pintu kecil itu.
Udara lembap dari koridor servis menghantam wajahnya. Lampu darurat biru menyala jauh di bawah tangga sempit.
Di earpiece, suara Irwan berubah tajam.
"Ada gerakan di ruang arsip bawah. Dua orang. Mereka sudah masuk sebelum kalian."
Steven menatap Nana.
Nana menggenggam kartu akses hitam sampai ujungnya menekan telapak tangan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu disuruh berdiri di mana.
Ia melangkah turun lebih dulu.