Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003: Mata yang Berbicara
"Kamu belum tidur?"
Kevin menutup pintu pelan. Suaranya serak, mungkin karena terlalu lama menahan kantuk dan angin malam.
Meilin baru sadar dirinya masih berdiri di dekat kasur dengan ponsel di tangan. Catatan empat poin di layar belum sempat dia tutup.
"Belum."
Kevin melepas sepatu di dekat pintu, lalu menaruh tas laptop di samping meja. Gerakannya hati-hati, seolah bunyi sekecil apa pun bisa membuat kamar sempit itu runtuh.
"Tidur," katanya.
Satu kata. Bukan perhatian yang lembut, tapi juga bukan makian.
Meilin mengangguk, lalu berhenti ketika melihat jari Kevin yang memerah di bagian ruas. Mungkin karena terlalu lama mengetik. Mungkin karena membawa laptop ke sana kemari sepanjang malam.
"Tanganmu..."
Kevin langsung memasukkan tangan ke saku.
"Bukan urusanmu."
Kalimat itu menutup pintu lebih rapat daripada kunci. Meilin menelan kata-kata yang hampir keluar. Dia masih belum punya hak untuk peduli. Belum.
Pagi datang tanpa benar-benar membuat kamar itu terang.
Lampu masih mati. Udara di dalam kos terasa pengap karena jendela hanya bisa dibuka separuh. Dari luar terdengar suara ibu-ibu membeli sayur, anak kecil menangis minta uang jajan, dan mesin motor yang dinyalakan berkali-kali sebelum akhirnya hidup.
Kevin tidur di lantai beralas tikar tipis, membelakangi kasur.
Meilin duduk di pinggir kasur, menatap punggungnya lama. Dalam novel, dia hanya mengenal Kevin sebagai tokoh yang kelak sangat kuat. Tapi di dunia ini, punggung itu terlihat terlalu kurus untuk menanggung semua hal sendirian.
Ponselnya bergetar pelan.
Notifikasi dari aplikasi belanja makanan muncul di layar.
Pesanan Durian Musang King Premium: menunggu konfirmasi ulang.
Meilin hampir memijat keningnya.
Jadi benar. Bukan hanya cerita Kevin semalam. Meilin asli benar-benar memesan durian mahal dengan PayLater, jumlahnya hampir sama dengan uang makan mereka seminggu. Statusnya tertahan karena toko meminta konfirmasi tambahan setelah pembayaran bermasalah.
Dia membuka chat toko.
Penjual: Kak, jadi ambil? Kalau tidak, kami cancel. Stok terbatas.
Meilin mengetik cepat.
Meilin: Cancel saja, Kak. Tolong proses refund ke saldo aplikasi.
Penjual: Yakin? Kemarin Kakaknya minta disimpan.
Meilin: Yakin. Maaf merepotkan.
Beberapa menit kemudian, status pesanan berubah.
Pesanan dibatalkan. Refund diproses maksimal 2x24 jam.
Meilin mengembuskan napas lega. Uangnya belum langsung kembali, tapi setidaknya durian itu tidak akan datang seperti bom kecil yang menghancurkan pagi.
"Kamu batalkan?"
Suara Kevin membuatnya hampir menjatuhkan ponsel.
Pria itu sudah bangun. Rambutnya berantakan, wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih seperti orang yang bahkan dalam tidur pun tidak benar-benar lengah.
Meilin mengangguk.
"Durian itu," katanya. "Aku batalkan. Refund dua hari lagi."
Kevin duduk perlahan. Tatapannya turun ke ponsel Meilin, lalu kembali ke wajahnya.
"Kenapa?"
Pertanyaan sederhana. Tapi Meilin tahu di balik kata itu ada banyak hal: kenapa tiba-tiba tidak egois, kenapa tiba-tiba sadar, kenapa tiba-tiba seperti orang lain.
Dia membuka Notes, mengetik, lalu menunjukkan layar.
Karena kita tidak punya uang untuk membuangnya.
Kevin membaca kalimat itu. Sudut bibirnya tidak bergerak, tapi matanya berubah sedikit. Bukan hangat. Lebih seperti seseorang yang melihat gelas retak di atas meja dan baru sadar gelas itu tidak pecah.
"Kita?" ulangnya.
Meilin menahan napas.
Satu kata itu ternyata terlalu berani. Selama ini mungkin tidak pernah ada "kita" di antara mereka, hanya Kevin yang bertahan dan Meilin asli yang mengambil.
"Maaf," ucapnya pelan. "Aku maksudnya... rumah ini."
"Ini bukan rumah."
Kevin berdiri, melipat tikar tipisnya, lalu menaruhnya di sudut.
"Ini tempat kita tidur karena tidak ada pilihan."
Meilin tidak membantah.
Dia justru bangkit dan mulai membereskan piring kotor di dekat wastafel. Air mengalir kecil, tapi cukup untuk mencuci. Dia membuang bungkus mi instan kosong, mengikat kantong sampah, lalu menyusun dua piring plastik dan dua mangkuk yang pinggirnya sudah retak.
Kevin memperhatikannya dalam diam.
Setelah beberapa menit, dia berkata, "Kamu tidak perlu akting sampai sejauh itu."
Meilin tetap menggosok sendok dengan sabun cair yang hampir habis.
"Kalau aku akting, aku akan pilih tempat yang lebih nyaman."
Kevin tidak menjawab.
Kalimat itu keluar begitu saja, terlalu mirip dengan gaya bicara Meilin yang asli dari Surabaya. Begitu sadar, dia langsung menegang. Tapi Kevin hanya menatapnya, lama, seolah mencoba mencocokkan suara itu dengan perempuan yang selama ini dia kenal.
Meilin menunduk dan kembali mencuci.
Setelah dapur kecil sedikit bersih, dia membuka jendela lebih lebar. Engselnya macet. Dia menariknya pelan, tapi kayunya tidak bergerak. Kevin akhirnya mendekat, meraih bagian atas jendela, lalu sekali dorong membuatnya terbuka.
Udara pagi masuk bersama cahaya tipis.
Jarak mereka mendadak terlalu dekat.
Meilin bisa melihat bekas luka di dekat telinga Kevin dengan lebih jelas. Panjangnya sekitar tiga sentimeter, tipis tapi tegas, seperti garis yang sengaja ditinggalkan masa lalu. Dia hampir bertanya, tapi menahan diri.
Kevin menyadari arah pandangannya.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Kalau mau bilang jelek, bilang saja."
Meilin menggeleng cepat. "Bukan jelek."
Kevin memandangnya.
"Lalu?"
Meilin ingin menjawab dengan aman. Tapi kata-kata yang keluar justru jujur.
"Kelihatannya sakit."
Kevin terdiam.
Angin pagi menggerakkan tirai tipis di antara mereka. Untuk pertama kalinya, wajah Kevin tidak langsung mengeras. Dia seperti tidak siap menerima jawaban yang tidak menyerang.
Meilin buru-buru mundur selangkah.
"Aku mau cari sapu."
Sapu ijuk di pojok kamar sudah hampir patah. Dia tetap menggunakannya. Debu terkumpul dari bawah kasur, dari belakang pintu, dari sudut meja tempat remah makanan dan potongan kertas kecil menumpuk.
Di sela membersihkan, dia menemukan satu struk minimarket, dua koin lima ratus rupiah, dan kertas kecil berisi angka-angka yang ditulis rapi. Angka itu bukan catatan belanja. Lebih mirip rumus, atau perhitungan bisnis.
"Jangan buang itu," kata Kevin cepat.
Meilin langsung menyerahkan kertasnya.
"Aku tidak akan buang barangmu."
Kevin menerima kertas itu. Ujung jarinya menyentuh ujung jari Meilin sekilas. Sentuhan pendek, tapi cukup membuat Meilin sadar betapa dingin tangannya sendiri.
"Dulu kamu membuang proposal kerjaku," ucap Kevin.
Meilin membeku.
Satu dosa baru lagi.
Dia menatap kertas di tangan Kevin, lalu perlahan berkata, "Kalau aku bisa memungutnya kembali, aku akan lakukan."
Kevin menatapnya.
Mata Meilin terasa panas, tapi dia tidak menangis. Dia sudah menangis cukup banyak semalam dalam hati. Sekarang dia perlu bekerja, memperbaiki satu hal kecil demi satu hal kecil.
"Tapi kalau tidak bisa," lanjutnya, "aku akan pastikan mulai sekarang tidak ada yang kubuang tanpa tanya."
Kevin tidak langsung membalas.
Dia hanya berdiri di dekat jendela, memegang kertas itu, sementara cahaya pagi jatuh di wajahnya yang lelah. Meilin menunduk untuk melanjutkan menyapu, tapi dia merasakan tatapan Kevin tetap berada di wajahnya.
Terlalu lama.
Ketika dia mengangkat kepala, mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, kecurigaan Kevin tidak hilang. Namun di baliknya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tipis, hampir tidak terlihat, seperti garis cahaya pertama di sela awan.
Kevin menatap matanya seolah baru menyadari bahwa mata itu berbeda.
Dulu, mungkin mata Meilin selalu penuh tuntutan, marah, atau bosan.
Sekarang mata itu hanya jernih. Takut, bersalah, tapi jernih.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Meilin pelan.
Kevin tersadar. Tatapannya langsung turun ke kertas di tangannya.
"Tidak apa-apa."
Tapi suaranya tidak sedingin tadi.
Meilin menggenggam gagang sapu, menahan senyum kecil yang hampir muncul. Itu bukan kemenangan. Bahkan belum bisa disebut awal kepercayaan.
Tapi untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di dunia ini, Kevin tidak memandangnya seolah dia hanya bagian dari bencana.
Dia memandangnya seperti sebuah pertanyaan.