Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
Satu bulan berlalu sejak pengumuman merger raksasa yang mengguncang jagat bisnis Asia Tenggara. Pagi itu, pulau Bali diselimuti oleh cuaca yang sangat cerah dengan embusan angin laut yang sejuk.
Sebuah resort privat bintang lima yang terletak di atas tebing Uluwatu telah disewa secara eksklusif oleh Adrian Atmadja. Di tempat yang menghadap langsung ke Samudra Hindia yang biru membentang, sebuah altar pernikahan bernuansa putih dan emas berdiri dengan megahnya, dikelilingi ribuan rangkaian mawar putih dan baby's breath yang diimpor langsung dari Belanda.
Di dalam kamar pengantin utama, Vira Mahendra berdiri di depan cermin besar. Gaun pengantin berwarna putih gading berpotongan ball gown dengan hiasan kristal Swarovskinya berkilau diterpa sinar matahari pagi. Sanggul modern yang menghiasi rambut hitamnya dipadukan dengan tiara berlian mungil yang simpel namun memancarkan aura keanggunan seorang ratu yang tak tertandingi.
Reno Mahendra melangkah masuk ke dalam kamar pengantin dengan setelan jas abu-abu gelap. Saat melihat kakaknya, mata pria muda itu berkaca-kaca.
"Kak Vira..." panggil Reno dengan suara bergetar. "Gadis kecil yang dulu selalu dilindungi Ayah dan Ibu... hari ini benar-benar menjadi wanita paling anggun di dunia."
Vira berbalik, menatap adik kandungnya yang telah berjuang bersamanya menembus neraka kehidupan. Vira menggenggam kedua tangan Reno erat-erat. "Terima kasih, Reno. Kalau bukan karena kamu yang terus menyemangatiku saat aku kehilangan segalanya, aku tidak akan pernah sampai di titik ini."
"Bukan hanya karena Reno, Kak," sahut Reno sembari tersenyum tulus. "Tapi karena kekuatan hati Kakak sendiri. Sekarang, izinkan Reno menggantikan posisi Ayah untuk mengantar Kakak menuju altar."
Vira mengangguk perlahan, menahan air mata bahagianya agar tidak merusak riasan wajahnya.
Di luar, musik orkestra klasik mulai mengalun merdu. Para tamu undangan yang terdiri dari pejabat tinggi negara, pengusaha terkemuka internasional, serta kerabat terdekat duduk dengan khidmat di kursi-kursi kayu yang dihiasi pita putih.
Di ujung altar, Adrian Atmadja berdiri tegap. Setelan tuxedonya yang berwarna hitam sempurna membuatnya tampak sangat tampan dan berwibawa. Namun, matanya yang biasanya memancarkan aura ketegasan dan dingin kini hanya memancarkan kegugupan serta rasa sabar yang mendalam saat menantikan kehadiran calon istrinya.
Di samping Adrian, Elvano kecil berdiri rapi memegang kotak cincin pernikahan, tersenyum riang menantikan Tante Cantiknya.
Saat pintu gerbang altar dibuka, seluruh tamu berdiri. Reno melangkah perlahan mengapit lengan Vira, membawanya menyusuri aisle bertabur kelopak bunga mawar putih.
Mata Adrian terkunci sepenuhnya pada Vira. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Adrian Atmadja pria yang tidak pernah gentar menghadapi krisis bisnis ratusan triliun rupiah dadanya berdegup begitu kencang dan matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang tak tertahan.
Begitu sampai di depan altar, Reno menyerahkan jemari Vira ke telapak tangan Adrian.
"Tuan Adrian," bisik Reno dengan nada penuh penekanan. "Aku serahkan kakakku, satu-satunya harta berharga yang tersisa dari keluarga Mahendra. Jaga dia dengan nyawamu."
"Dengan seluruh hidupku, Reno," jawab Adrian mantap.
Adrian menerima genggaman tangan Vira, lalu membimbing wanita itu naik ke atas altar. Di hadapan pendeta dan para saksi, janji suci pernikahan pun diucapkan.
"Saya, Adrian Atmadja, menerima engkau, Vira Mahendra, sebagai istri saya yang sah. Untuk saling mencintai, menghormati, dan melindungi, baik dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita."
Vira menatap lurus ke dalam mata Adrian, suaranya terdengar sangat bening dan mantap saat mengucapkan janjinya. "Saya, Vira Mahendra, menerima engkau, Adrian Atmadja, sebagai suami saya yang sah. Saya berjanji akan mencintaimu, mendampingimu, dan menjadi rumah bagimu dan Elvano, sampai maut memisahkan kita."
"Dengan ini, atas nama hukum dan Tuhan, kalian dinyatakan sah sebagai suami istri," seru Pendeta.
Tepuk tangan meriah dan sorak-sorai bahagia membumbung tinggi di udara saat Adrian membuka veil yang menutup wajah Vira, lalu mendaratkan ciuman pernikahan yang lembut dan sarat akan cinta mendalam di bibir istrinya. Elvano melompat-lompat gembira di samping mereka, ikut merayakan kebahagiaan keluarga barunya.
Sementara pesta pernikahan yang megah di Bali berlangsung dengan penuh suka cita, di sebuah ruangan sempit bernuansa dingin di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Tahanan Wanita, Sheila baru saja melewati proses persalinan yang sangat berat dan menyakitkan.
Tanpa dampingan suami, tanpa fasilitas mewah, Sheila melahirkan bayi laki-lakinya di atas kasur periksa klinik penjara yang keras. Suara tangisan bayi pecah di dalam ruangan yang sunyi itu.
Petugas medis membungkus bayi yang baru lahir itu dengan kain seadanya, lalu memperlihatkannya sejenak kepada Sheila yang terbaring lemas dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Bayi Anda laki-laki, Nyonya Sheila. Dia sehat," ucap bidan penjara secara dingin.
Sheila menatap bayi kecil itu dengan air mata yang menetes tanpa henti. Namun sebelum ia sempat memeluk anaknya, seorang petugas dari Dinas Sosial bersama petugas kepolisian melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Berdasarkan putusan pengadilan dan hukum perundang-undangan, karena Anda sedang menjalani masa hukuman 12 tahun penjara dan tidak memiliki keluarga yang bersedia atau mampu menanggung biaya pengasuhan, bayi ini resmi diambil alih oleh negara dan akan diserahkan ke panti asuhan," pangkas petugas Dinas Sosial secara tegas.
"Nggak, Jangan bawa anakku." jerit Sheila dengan sisa tenaganya, mencoba meraih bayinya. "Ini anakku, Mas Arka. Tolong aku."
"Maaf Nyonya. Ini prosedur baku." jawab petugas sembari membawa bayi itu keluar dari ruangan.
Pintu besi klinik tertutup rapat. Sheila melipat tubuhnya di atas tempat tidur, meraung menangis meratapi takdirnya yang kini benar-benar hancur dan sebatang kara. Anak yang dulu ia rencanakan sebagai alat untuk menguasai harta keluarga Narendra kini justru diambil darinya tanpa sisa.
Di belahan penjara pria, Arka Narendra duduk termenung di balik jeruji besi selnya. Rambutnya sudah dipotong pendek khas tahanan, dan tangannya kini terasa kasar akibat pekerjaan fisik harian yang harus dilakukannya di dalam lapas.
Seorang sipir berjalan mendekati selnya dan melemparkan sebuah koran edisi terbaru hari itu ke dalam sel.
"Nih, baca. Mantan istrimu baru saja menikah dengan bos besar Atmadja Group di Bali hari ini. Mewah sekali," cetus sipir itu lalu berlalu pergi.
Arka meraih koran tersebut dengan tangan gemetar. Di halaman depan, terpampang foto Vira Mahendra yang tampak begitu cantik bagai bidadari dalam balutan gaun pengantin putih, tersenyum bahagia di samping Adrian Atmadja yang merangkul pinggangnya dengan penuh cinta.
Arka memeluk koran itu di dadanya, menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin, dan menangis tanpa suara. Dia tahu bahwa wanita yang dulu amat mencintainya kini telah terbang tinggi ke angkasa, meninggalkannya yang membusuk di dalam penyesalan abadi.
Malam harinya di Uluwatu, kembang api berwarna-warni menerangi langit malam di atas samudra. Pesta resepsi yang dihadiri oleh para tamu undangan berlangsung hangat dan penuh kemewahan.
Di balkon kamar villa yang tenang, jauh dari keriuhan pesta di bawah, Vira berdiri memandangi lautan yang gelap namun diterangi oleh bayangan bulan separuh.
Adrian melangkah dari belakang, memeluk tubuh istrinya erat-erat dan menyelimuti bahu Vira dengan jubah bulunya.
"Apakah kamu lelah, Istriku?" bisik Adrian dengan suara baritonnya yang rendah dan memikat di leher Vira.
Vira menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian, tersenyum penuh kedamaian. "Aku tidak merasa lelah sama sekali, Adrian. Hatiku merasa sangat penuh."
Adrian memutar tubuh Vira menghadapnya, menatap manik mata indah wanita yang kini telah resmi menjadi bagian dari hidupnya. "Mulai esok hari, tidak akan ada lagi bayang-bayang masa lalu. Hanya ada aku, kamu, Elvano, dan masa depan yang akan kita bangun bersama."
Vira mengangguk, menyunggingkan senyuman terindahnya. "Terima kasih telah menemukanku di tengah kegelapan Adrian."
Adrian tersenyum menawan, lalu merengkuh tubuh Vira dan mencium bibirnya di bawah kilauan kembang api yang membumbung indah di langit Bali.