Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Merasa Tidak Enak
Akhirnya Lavanya dan Mike sampai juga di kediaman mereka dan keduanya saat ini sedang memasuki kamar. Lavanya tiba-tiba saja menjadi gelisah, memperhatikan pergerakan suaminya. Mike membuka jasnya dan meletakkan di sofa.
"Kak Mike!" tegur Lavanya.
"Kenapa Lavanya?" tanya Mike.
"Hmmmm... Apa kak Mike marah dengan apa yang terjadi tadi?" tanya Lavanya memastikan.
"Memang apa yang terjadi tadi?" Mike kembali menimpali pertanyaan itu dengan menaikkan sebuah alisnya.
"Di mobil," jawab Lavanya.
"Lavanya dengan sengaja menghindar," ucap Lavanya dengan jujur.
"Tidak Lavanya, saya tidak marah, Saya mengerti bahwa kamu ternyata belum siap, mungkin saya terlalu buru-buru," ucap Mike.
"Lalu kenapa sikap kak Mike berubah, tiba-tiba saja menjadi dingin dan tidak ingin menegur Lavanya?" tanyanya.
"Benarkah, kamu berpikiran bahwa sikap saya berubah?" tanya Mike.
Lavanya menganggukkan kepala.
"Itu hanya perasaan kamu saja Lavanya, saya tidak berubah sama sekali, mungkin saja saya lelah dengan banyaknya pekerjaan dan ditambah kita tadi menghabiskan waktu di luar cukup lama, kamu tidak perlu memikirkan bahwa saya marah atau tidak, saya tahu ini tidak mudah bagi kamu dan masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan saya," ucap Mike.
"Maafkan Lavanya. Kak, maaf!" ucap Lavanya merasa bersalah.
"Lavanya kamu jangan terlalu sering meminta maaf seperti ini, saya tidak masalah sama sekali, sudah ya, sekarang sebaiknya kita istirahat!" ajak Mike membuat Lavanya menganggukkan kepala.
Mike tersenyum dan kamu ingin berlalu dari hadapan istrinya. Lavanya mungkin sedikit tenang karena Mike ternyata tidak terlalu membahas masalah yang terjadi di antara mereka.
*****
Mike tampak buru-buru keluar dari rumah sembari melihat arloji di tangannya.
"Bagaimana jika tuan Charles tersinggung karena meeting yang di tunda," ucap Mike tempat begitu gelisah membuka pintu mobil.
"Kak Mike!" langkahnya seketika terhenti dan menoleh ke belakang. Lavanya menghampiri suaminya.
"Iya Lavanya?" tanya Mike.
"Kakak buru-buru sekali," ucap Lavanya.
"Ya, aku ada janji dengan klien yang baru saja tiba dari Luar Negeri, tidak enak jika beliau terlalu lama menunggu," jawab Mike.
"Hmmm, Lavanya boleh ikut ke kantor tidak?" tanya Lavanya tampak ragu.
"Kamu ingin ikut ke kantor?" Mike menanyakan sekali lagi dengan menaikkan sebelah alisnya membuat Lavanya menganggukkan kepala.
"Memang kamu tidak mengajar?" tanya Mike
"Lavanya merasa ada seseorang yang mengikuti Lavanya belakangan ini dan bahkan di tempat mengajar. Lavanya kurang nyaman dan memutuskan sebelum orang yang ingin mencela Lavanya ditangkap, alangkah baiknya Lavanya tidak mengajar dulu untuk sementara," jawab Lavanya.
"Begitu...." sahut Mike dengan mengangguk-anggukkan kepala.
"Tetapi jika aktivitas hanya dilakukan di rumah, maka akan bosan dan maka dari itu Lavanya ingin ikut ke kantor," jawab Lavanya.
"Hmmmmm, baiklah, tetapi kamu jangan sampai bosan ketika berada di ruangan saya, karena sudah pasti saya akan menemui klien dan pekerjaan yang lainnya," ucap Mike.
"Pasti kak," sahut Lavanya dengan menganggukkan kepala.
"Ayo masuk!" Mike memerintahkan sang istri dengan mengarahkan kepalanya ke arah pintu mobil yang membuat Lavanya menganggukkan kepala dan kemudian memasuki mobil.
Lavanya merasa bersyukur karena diizinkan ikut bekerja dengan suaminya. Mike mungkin tidak merasa terganggu, jadi lebih baik mengijinkan istrinya.
Setelah kepergian mobil itu yang keluar dari area rumah mewah tersebut, ternyata Maria tampak berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya dilipat di dada melihat bagaimana anak dan menantunya.
"Ada apa. Ma?" tanya Brahmana tiba-tiba saja muncul dari belakang istrinya yang memperhatikan arah pandang sang istri.
"Mama perhatikan setiap hari mereka tampak dekat, Lavanya banyak perubahan dan bahkan terus mendekati Mike," jawab Maria.
"Bukankah itu kabar baik, jadi menantu kita tidak terlalu memalukan keluarga ini," sahut Brahmana.
"Saya menyukai kemajuan pada dirinya, dimulai dari style yang mulai dia tunjukkan, dan juga usahanya untuk rumah tangganya, tetapi justru perubahan itu Lavanya semakin tidak tahu aturan dan tidak punya sopan santun berbicara dengan orang yang harus dihormati, terkadang menantang dan ada suaranya terdengar sinis," ucap Maria.
"Ya, mungkin ada sesuatu yang membuatnya seperti itu?" sahut Brahmana.
"Mama hanya berharap jika wanita itu tidak memiliki maksud lain," sahut Maria.
"Maksud apa yang Mama pikirkan, sudahlah jangan menambah beban pikiran dengan spekulasi yang tidak mungkin," sahut Brahmana.
"Ingat Pa, Lavanya ada di saat kita membicarakan tentang kematian Erlangga. Papa juga harus ingat Lavanya tidak sepolos yang kita pikirkan, dia gadis pintar dan bisa saja ada sesuatu yang saat ini sedang direncanakan. Papa juga harus menyadari jika belakangan ini Lavanya mendesak Papa untuk menemukan siapa orang yang mencelakainya," ucap Maria.
"Mama terlalu berlebihan jika menyerupai hati-hati dengan wanita yang baru menetasnya seperti Lavanya. Lavanya bukan ancaman, sudahlah tidak perlu memikirkan apapun," sahut Brahmana terlihat begitu santai dan tidak ingin memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya penat.
*****
Arumi sedang berada di depan cermin yang sedang merias wajahnya.
"Hari ini adalah giliranku. Mike akan menghabiskan waktu bersamaku. Aku akan memberi surprise kepadanya dengan keberadaanku di kantornya sebelum dia datang. Aku yakin dia pasti merindukanku. Lavanya gadis bodoh itu saat ini sedang mengajar,"
"Lavanya sekarang suamimu akan bersamaku, kamu sebaiknya fokus saja padahal hal-hal yang tidak bermutu itu," ucap Arumi sembari memakai lipstik.
Arumi sepertinya sengaja berpenampilan cantik dan lebih menarik daripada biasanya, mungkin karena beberapa hari dia sudah tidak memiliki waktu bersama dengan Mike. Lavanya selalu ada di antara mereka. Mike bahkan tidak pernah datang ke rumahnya lagi.
"Cantik!
"Kamu benar-benar cantik Arumi, kamu memang cocok untuk Mike, seharusnya kamu yang menikah dengannya dan seharusnya kamu yang menjadi nyonya Mike Brahmana bukan gadis kampungan," ucap Arumi dengan percaya diri.
Sejak tadi wajahnya berseri-seri, berdiri dari tempat duduknya dan terlihat memutarkan tubuhnya. Arumi sudah tampak tidak sabaran ingin bertemu dengan kekasih gelapnya.
Tok-tok-tok.
"Masuk!" ucapnya dengan pintu kamar yang terbuka.
"Ada apa?" tanya Arumi.
"Maaf Nona, untuk pemotretan nanti siang bagaimana?" tanya wanita tersebut yang merupakan asisten dari Arumi.
"Saya tetap pada keputusan saya tadi malam, kamu batalkan pemotretan dan juga pekerjaan saya hari ini. Saya hari ini tidak ingin bekerja, saya ingin bersenang-senang dengan kekasih saya," jawab Arumi.
"Tetapi bukankah ada kontrak dengan produser dari Amerika?" tanya wanita itu mengingatkan.
"Kamu berikan saja alasan yang masuk akal untuk menunda sampai besok pertemuannya, Rani saya percayakan semua kepada kamu," jawab Arumi rela membatalkan semua pekerjaannya demi bisa bersama Mike.
"Oke, saya harus pergi sekarang, kamu selesaikan semua pekerjaan hari ini dan jangan membuat para klien kecewa!" ucap Arumi mengambil ponsel dan tasnya dan kemudian berlalu dari hadapan asistennya setelah memberi arahan.
Asistennya hanya menghela nafas.
Bersambung....
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga