Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Viren mengangkat kepalanya. Bukannya memberikan stroberi itu, ia justru mengambil sepotong roti yang telah dipotong menjadi dua.
"Ini."
Kevin menerimanya dengan mata berbinar. "Boleh?"
Viren mengangguk singkat.
Kevin langsung menggigit roti itu. "Wah... enak. Rotinya lembut. Ada telurnya juga."
Anak-anak lain yang mendengar segera mendekat.
"Aku juga mau."
"Boleh minta sedikit?"
"Bagi, dong."
Guru pendamping yang melihat dari kejauhan ikut tersenyum. Biasanya Viren menghabiskan waktu istirahat sendirian. Kini beberapa anak mengelilingi mejanya sambil berebut meminta sepotong roti.
Viren tidak banyak bicara. Ia kembali menyantap bekalnya pelan-pelan. Matanya turun ke dalam kotak makan. Rotinya habis.
...****************...
Sementara itu, di Mansion Timothy.
Serina duduk di ruang keluarga bersama Clara, desainer yang dikirim Vincent.
Berbagai lembar sketsa gaun memenuhi meja.
"Nyonya lebih cocok dengan warna-warna lembut," ujar Clara sambil memperhatikan Serina dari ujung kepala hingga kaki. "Leher jenjang, bahu seimbang, dan postur seperti ini jarang saya temui."
Serina tersenyum canggung. "Aku tidak pernah benar-benar memikirkan soal pakaian."
"Itu terlihat." Clara tertawa kecil. "Artinya kecantikan Nyonya memang alami."
Setelah pengukuran selesai, para asisten mulai membereskan peralatan.
Sebelum pamit, Clara menyerahkan sebuah katalog. "Silakan dipilih. Tuan Vincent meminta semua keputusan tetap mendapat persetujuan Nyonya."
Serina menerima katalog itu. "Terima kasih."
Tak lama kemudian, mansion kembali sunyi.
Soraya menghampiri. "Nyonya, makan siang sudah siap."
Serina menggeleng. "Nanti saja."
Ia justru berjalan menuju taman belakang. Sebuah ayunan kayu menghadap kolam kecil di sudut taman.
Serina duduk perlahan. Angin siang mengibaskan beberapa helai rambutnya.
Pikirannya kembali pada kotak bekal berwarna biru. "Kira-kira dimakan atau tidak, ya?" Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menunggu kabar dari seorang anak yang bahkan belum pernah memanggil namanya dengan ramah.
...****************...
Sore harinya.
Mobil Vincent berhenti di depan mansion. Serina yang sedang menyiram bunga menoleh.
Viren turun lebih dulu. Tas sekolahnya masih tergantung di bahu. Ia melewati Serina begitu saja. Namun tepat di depan pintu, langkahnya berhenti. Ia membuka tas. Lalu mengeluarkan kotak bekal berwarna biru.
Kotak itu disodorkan kepada Serina. Kosong.
Serina menerimanya sambil tersenyum kecil.
"Kamu menghabiskannya?"
"Tidak."
Serina berkedip.
"Teman-temanku yang menghabiskannya." Ia membetulkan tali tasnya. "Mereka ribut. Terus minta. Aku malas menolak."
"Begitu, ya."
Viren menatap Serina beberapa detik. "Jangan salah paham. Aku tidak bilang bekalmu enak. Itu cuma habis." Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Serina memandangi kotak bekal kosong di tangannya. Sudut bibirnya terangkat pelan.
Suara langkah kaki mendekat. "Usaha yang bagus."
Serina menoleh.
Vincent berdiri beberapa langkah darinya. Jas hitamnya masih rapi. Sebuah map tipis berada di tangannya.
"Maaf?"
"Bekalnya."
Serina melirik kotak makan itu. "Aku hanya ingin mencoba."
Vincent menatap kotak itu sejenak. "Lanjutkan."
Serina mengernyit. "Apa?"
"Dia membawanya." Hanya itu yang Vincent ucapkan. Vincent kembali melangkah. Sebelum memasuki rumah, ia berhenti. "Jangan berharap hasil yang sama setiap hari."
"Aku tidak berharap."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin besok dia tetap berangkat dengan membawa bekal."
Vincent terdiam sesaat. Tanpa menoleh, ia kembali melangkah. "Kalau begitu..." Ia membuka pintu. "Teruskan."
...****************...
Keesokan paginya.
Langkah kaki kecil terdengar dari arah tangga.
Viren sudah mengenakan seragam sekolah.
Saat melewati dapur, matanya menangkap kotak bekal berwarna biru di atas meja. "Kamu membuatkan aku bekal lagi?"
"Iya." Serina menutup kotak itu. "Aku belum tahu kamu suka apa. Jadi hari ini aku membuat nasi goreng."
Viren menatap isi kotak beberapa detik. "Nasi goreng bukan menu bergizi."
"Kamu benar." Serina membuka kembali tutup kotak bekalnya. "Makanya ada telur, kubis, dan wortel. Memang belum sempurna, tapi lebih baik daripada nasi goreng biasa."
Viren mengamati isi kotak itu.
"Bekal sekolah harus cukup untuk kebutuhan energi sampai siang. Itu sebabnya porsinya lebih banyak."
"...Begitu." Ia mengambil kotak bekal itu. Tasnya dibuka. Kotak makan langsung dimasukkan ke dalam.
"Boleh dimakan. Boleh juga tidak," kata Serina pelan. "Pilih saja yang menurutmu benar."
Viren menutup ritsleting tas. "Aku tidak pernah membuang makanan."
.
.
Usai sarapan, Viren keluar menuju halaman depan. Mobil hitam telah Menunggu. Tak lama kemudian, Vincent menyusul.
Mengantar dan menjemput Viren sendiri sudah menjadi kebiasaannya. Selama tidak ada urusan yang benar-benar mendesak, ia tidak pernah menyerahkan tugas itu kepada orang lain.
Mobil perlahan meninggalkan mansion Timothy.
...****************...
Bel istirahat berbunyi.
Anak-anak segera membuka bekal masing-masing.
Viren ikut meletakkan kotak bekal biru di atas meja.
Saat tutupnya dibuka, aroma nasi goreng langsung menyebar.
"Wah... nasi goreng!" seru Kevin.
Viren menyendok sedikit. Suapan pertama masuk ke mulutnya. Ia berhenti. Beberapa detik kemudian, ia mengambil suapan kedua.
Kevin memperhatikan tanpa berkedip.
"Kelihatannya enak."
Viren mengangkat kepala. "Kamu mau menghabiskan bekalku?"
"Boleh?"
Viren mendorong kotak bekalnya ke tengah meja.
Kevin langsung mengambil satu suap besar. "Wah... enak! Nasi gorengnya gurih. Telurnya juga banyak." Kevin kembali menyendok.
"Cukup."
Kevin berhenti.
Viren menarik kembali kotak bekalnya. "Habiskan bekalmu sendiri."
Kevin tertawa kecil. "Berarti memang enak."
Viren tidak menjawab. Ia kembali menyendok nasi gorengnya.
...****************...
Di sudut lain kota, Selena berdiri di balkon sebuah apartemen mewah. Pemandangan gedung-gedung tinggi membentang di hadapannya.
Sudah berhari-hari ia tinggal di sana bersama Adrian, pria yang dipilihnya sendiri.
Adrian berasal dari keluarga kaya. Muda, tampan, dan memiliki jaringan bisnis yang luas. Apartemen, mobil, kartu tanpa batas, semuanya tersedia tanpa pernah Selena minta.
Sesekali ia teringat hari pernikahan yang tak pernah benar-benar terjadi.
Saat itu, ia mengetahui identitas calon suaminya.
Vincent Timothy. Nama yang sering dikaitkan dengan dunia gelap. Bagi Selena, menikahi pria seperti itu sama saja mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ia tidak ingin hidup dalam ketakutan, apalagi mati untuk pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Karena itu, beberapa menit sebelum akad dimulai, ia memilih pergi.
Di luar gedung, Adrian sudah menunggunya.
Sejak hari itu, Selena percaya telah mengambil keputusan paling tepat dalam hidupnya.
Setidaknya... begitulah yang masih ia yakini.
...****************...
Ponsel di atas meja kerja Vincent bergetar.
"Bos."
Vincent tetap menandatangani berkas.
"Kami menemukan jejak Nona Selena."
Pulpen di tangannya berhenti.
"Dia tinggal bersama seorang pria."
Vincent mengangkat kepala.
"Namanya Adrian Barent."
Ruangan mendadak sunyi. Vincent menutup map di hadapannya. Tatapannya berubah dingin. "Aku mengenal nama itu."