NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Jason Menjual Pekerjaan

"Ikut Mama berdagang."

Jason menatap Margaret seperti mendengar bahasa asing.

Daniel justru bereaksi lebih cepat. "Maggie, jangan main-main. Itu bengkel BUMN. Orang lain berebut masuk. Masa dijual?"

"Justru karena orang berebut, ada yang mau bayar."

"Kerja tetap itu pegangan hidup."

"Pegangan hidup yang membuat dia bangun setiap pagi seperti mayat?"

Daniel terdiam.

Jason duduk di kursi, kedua tangan di lutut. Selama bertahun-tahun, ia bekerja di bengkel itu karena semua orang bilang kerja BUMN aman. Ada gaji tetap, ada seragam, ada nama yang terdengar baik saat tetangga bertanya.

Tetapi setelah Livia pergi, kata "aman" terdengar kosong.

"Kalau kujual," katanya pelan, "orang akan bilang aku bodoh."

Margaret menuang teh. "Orang juga bilang Mama gila waktu membatalkan pertunangan Oscar. Sekarang uangnya jadi modal."

Daniel menghela napas. "Modal apa?"

"Dagangan antar kota. Barang kebutuhan, kain, apa pun yang bisa berputar cepat. Jason punya tenaga, punya keberanian, punya dua kaki yang tidak takut jauh. Yang tidak dia punya hanya arah."

Jason menatap ibunya.

Kalimat itu lebih hangat daripada hiburan.

Daniel masih tidak tenang. Ia hidup puluhan tahun dengan keyakinan bahwa kerja tetap adalah pagar. Orang boleh tidak kaya, asal tiap bulan ada gaji. Menjual pekerjaan terasa seperti membongkar pagar sendiri lalu berjalan ke jalan gelap.

"Kalau rugi?" tanyanya.

"Belajar."

"Kalau ditipu?"

"Tangkap penipunya."

"Maggie."

Margaret menatap suaminya. "Daniel, anak kita baru keluar dari pernikahan yang membuat dia merasa tidak berharga. Kalau sekarang kita hanya menyuruh dia kembali memegang kunci pas dan berpura-pura tidak ada yang patah, dia akan benar-benar patah."

Daniel tidak menjawab lagi.

Malam itu, Jason datang ke kamar orang tuanya.

"Papa," katanya kaku, "kalau Papa tidak setuju, aku tidak jual."

Daniel melihat anak ketiganya. Dulu Jason kalau bicara selalu seperti api. Sekarang api itu seperti ditutup abu.

"Papa takut," kata Daniel akhirnya. "Tapi takut Papa tidak boleh jadi rantai di kakimu."

Jason menunduk.

Seminggu kemudian, lewat kenalan lama di bengkel, posisi Jason dialihkan kepada seorang pemuda yang sudah lama ingin masuk. Tidak ada surat yang menulis "jual pekerjaan". Semua orang tahu caranya: yang satu mundur baik-baik, yang lain masuk lewat rekomendasi, lalu ada uang terima kasih di luar meja.

Jumlahnya Rp 16.000.000.

Saat uang itu diletakkan di meja, Daniel masih terlihat seperti orang melihat anaknya membakar ijazah.

"Ini bisa habis," katanya.

Margaret menjawab, "Gaji tetap juga bisa habis kalau hidupmu salah arah."

Jason tidak bekerja selama beberapa hari.

Pagi-pagi ia bangun, lalu bingung harus pergi ke mana. Biasanya tubuhnya tahu jalan ke bengkel. Sekarang ia duduk di teras, minum kopi, menatap jalan, dan merasa seperti orang yang baru turun dari kapal tetapi belum melihat daratan.

Margaret membiarkannya dua hari.

Hari ketiga, ia berkata, "Cari Marco dan Toby."

Jason mengangkat kepala. "Untuk apa?"

"Kalau mau berdagang, kamu butuh orang yang bisa dipercaya."

"Marco tidak punya apa-apa."

"Justru itu. Orang yang tidak punya apa-apa kadang paling tahu harga kesempatan."

"Toby terlalu lurus."

"Bagus. Kamu sudah cukup bengkok kalau marah."

Sore itu, Jason pulang membawa dua laki-laki.

Marco kurus, kulitnya gelap terbakar matahari, matanya tajam seperti orang yang sejak kecil belajar membaca bahaya sebelum bahaya membaca dirinya. Bajunya sederhana, sandalnya tipis, tetapi ia berdiri dengan punggung tegak.

Toby lebih besar, wajahnya polos, tangan dan bahunya kuat. Ia melihat ruang tamu rumah Lim seperti takut mengotori lantai.

"Masuk," kata Margaret. "Kalau berdiri di pintu, rezeki malu masuk."

Oscar sudah menyiapkan makanan. Nasi panas, ayam kecap, sayur, tempe goreng, dan sambal. Marco mencoba duduk paling pinggir. Toby mengikuti. Jason menarik mereka lebih dekat.

"Makan saja. Mama kalau sudah masak, orang yang tidak makan dianggap menghina."

Margaret menoleh. "Benar."

Marco langsung mengambil nasi.

Toby masih ragu. "Aku makan banyak."

Oscar muncul dari dapur sambil membawa piring tempe. "Di rumah ini, makan banyak bukan dosa. Yang dosa itu ambil paha ayam Mama."

Toby langsung meletakkan sumpitnya.

Margaret menatap Oscar.

Oscar cepat-cepat menaruh paha ayam ke piring Margaret. "Aku cuma memberi contoh."

Marco tertawa pendek. Suaranya kasar, tetapi tidak mengejek. Jason ikut tersenyum, sedikit lebih lepas daripada hari-hari sebelumnya.

Di meja, Margaret memperhatikan mereka.

Marco makan cepat tetapi tidak serakah. Ia selalu menunggu orang tua mengambil lauk dulu. Toby makan pelan, setiap kali mengambil ayam ia melihat Jason seolah meminta izin. Dua orang ini miskin, canggung, dan tidak punya modal.

Tetapi mata mereka bersih.

Margaret tidak takut pada orang miskin. Ia takut pada orang malas, rakus, dan pandai berbohong. Marco terlalu lapar untuk malas. Toby terlalu polos untuk licik. Jason butuh dua orang seperti itu di sisinya.

Setelah makan, Margaret meletakkan buku catatan di meja.

"Kalian bertiga ikut aku berdagang."

Marco hampir tersedak. "Kami?"

"Jason punya uang Rp 16.000.000 dari bengkel. Aku tambah modal dan atur barang. Kalian yang jalan. Beli, angkut, jual. Jangan curi. Jangan main perempuan. Jangan mabuk saat bawa barang. Kalau rugi karena belajar, masih bisa dihitung. Kalau rugi karena bodoh, aku hitung dengan sendok sayur."

Toby menelan ludah.

Jason untuk pertama kalinya tertawa kecil.

Marco menatap Margaret lama.

"Bu Lim," katanya, suara tiba-tiba serak, "saya ini tidak punya Mama sejak kecil."

Ruang makan menjadi sunyi.

Marco berdiri, lalu berlutut di samping kursi. Gerakannya kaku, seperti orang yang tidak biasa meminta.

"Kalau Bu tidak jijik pada anak jalanan seperti saya, saya mau panggil Mama. Sekali saja juga tidak apa-apa."

Margaret membeku satu detik.

Ia pernah punya banyak anak, tetapi tidak pernah ada yang meminta menjadi anaknya dengan mata setulus itu.

Jason menatap lantai.

Toby ikut bingung, lalu hampir ikut berlutut karena mengira itu aturan rumah.

Margaret menghela napas.

"Panggil."

Marco mengangkat wajah.

"Tapi setelah panggil, harus dengar kata-kata Mama."

Marco menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lantai.

"Mama."

Margaret merasa dadanya sakit sedikit.

"Bangun," katanya. "Mulai besok, kalian bertiga belajar cara membuat uang tidak lari dari tangan."

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!