Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 rina
Ucapan Lisa terus terngiang-ngiang di kepala Kayla. Semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin kuat pula rasa gelisah yang memenuhi hatinya. Pada akhirnya, ia memutuskan mencari jawaban sendiri daripada terus dihantui berbagai kemungkinan yang belum tentu benar.
Sepulang memeriksa beberapa kamar hotel, Kayla menyempatkan diri mampir ke sebuah apotek yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Dengan wajah sedikit gugup, ia membeli satu kotak alat tes kehamilan yang kualitasnya cukup baik. Setelah membayar, ia segera membuang kantong plastik pembungkusnya agar tidak menarik perhatian siapa pun. Kotak kecil itu kemudian diselipkannya ke dalam map yang berisi daftar pemeriksaan pekerjaannya.
"Aku pasti tidak hamil... tapi aku harus membuktikannya," gumam Kayla lirih.
Dengan langkah tergesa-gesa, ia kembali memasuki hotel. Kedua tangannya memeluk erat map tersebut seolah menyembunyikan rahasia besar di dalamnya. Pikirannya begitu kacau hingga ia terus menundukkan kepala sambil berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
Bruk!
Tubuh Kayla menabrak seseorang. Ia hampir saja terjatuh kalau saja sepasang tangan yang kuat tidak lebih dulu meraih pinggangnya. Refleks Kayla mengangkat wajah. Begitu melihat siapa pria yang berada tepat di depannya, napasnya langsung tercekat.
Adrian.
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik, tetapi jantung Kayla sudah berdetak tidak beraturan. Bukan karena rasa cinta ataupun ketertarikan, melainkan ketakutan. Ia takut pria itu masih mengingat kejadian yang terjadi dua bulan lalu.
"Selamat pagi, Pak Adrian."
Sapaan hormat dari salah seorang karyawan membuat Kayla tersadar dari keterkejutannya. Ia segera melepaskan diri dari rengkuhan Adrian, lalu buru-buru merapikan posisi berdirinya dengan wajah yang masih pucat.
"Saya... saya permisi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Kayla membungkukkan kepala singkat lalu bergegas pergi. Langkahnya semakin lama semakin cepat hingga nyaris seperti orang yang sedang melarikan diri.
Adrian tetap berdiri di tempatnya sambil memperhatikan punggung Kayla yang menghilang di balik lorong hotel. Baru saja ia hendak melanjutkan langkah, pandangannya tertuju pada sebuah benda kecil yang terjatuh tidak jauh dari kakinya.
Ia membungkuk dan mengambil benda tersebut. Matanya menyipit ketika membaca tulisan yang tertera pada kemasannya.
"Tes kehamilan..."
Alis Adrian langsung bertaut. Tatapannya kembali mengarah ke lorong tempat Kayla menghilang beberapa saat lalu. Ingatannya tanpa sadar melayang pada malam yang mengubah hidup mereka berdua.
"Jangan-jangan... dia hamil?" gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, Adrian langsung menuju ruang kerjanya yang berada di lantai paling atas hotel. Ruangan itu dipenuhi furnitur mewah dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Begitu masuk, ia mendapati Aldo sudah menunggu dengan beberapa berkas di tangan.
"Aldo, atur agar seluruh karyawan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh."
"Baik, Tuan."
"Siapkan juga beberapa dokter perempuan, termasuk dokter spesialis obstetri dan ginekologi."
Aldo tampak sedikit terkejut mendengar perintah yang tidak biasa itu. Namun rasa penasarannya membuat ia memberanikan diri bertanya.
"Tuan... apakah ada masalah dengan punya Tuan?"
Wajah Adrian langsung berubah datar. Tatapannya yang dingin membuat Aldo seketika menyesali pertanyaannya.
"Aldo, sejak kapan kamu jadi banyak bertanya? Kalau aku memberi perintah, cukup laksanakan."
Aldo langsung menelan ludah. Ia buru-buru menganggukkan kepala berkali-kali tanpa berani membantah lagi.
"Baik, Pak. Saya akan segera mengurus semuanya."
Setelah mengatakan itu, Aldo segera meninggalkan ruangan untuk menjalankan seluruh perintah yang baru saja diterimanya.
Ruangan kembali sunyi. Adrian berjalan perlahan menuju dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Dari sana, seluruh pemandangan kota terlihat jelas. Namun, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada gedung-gedung tinggi di luar sana.
Tangannya masih menggenggam kotak tes kehamilan milik Kayla.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat sorot matanya sedikit melunak.
Nenek Maharani.
"Ada apa, Nek?" tanya Adrian sambil mengangkat panggilan itu.
"Cucuku yang paling tampan, nenek sudah mengatur pertemuanmu dengan putri keluarga Permana. Dulu kalian juga tumbuh bersama. Sudah waktunya kalian saling mengenal lagi."
"Nek..." Adrian langsung memotong ucapan sang nenek. "Jangan terlalu mengkhawatirkan urusan pernikahanku."
"Bagaimana nenek tidak khawatir? Umurmu sudah hampir empat puluh tahun, tetapi belum juga menikah. Keluarga kita memang tidak mudah mendapatkan keturunan. Sekarang hanya kamu harapan nenek."
Adrian tersenyum tipis. Pandangannya kembali jatuh pada kotak tes kehamilan yang masih berada di tangannya.
"Nenek... bersabar sedikit lagi. Sepertinya sebentar lagi nenek akan menggendong cicit."
"Apa?" suara Maharani langsung meninggi karena terkejut. "Kamu tidak sedang membohongi nenek, kan? Jangan-jangan ini cuma alasan supaya bisa kabur dari perjodohan lagi."
"Tenang saja, Nek. Kali ini aku tidak bercanda. Tidak lama lagi, mungkin nenek akan benar-benar menerima kabar baik."
"Hati-hati kalau sampai bohongi nenek. Pokoknya nenek akan marah besar!"
Adrian hanya terkekeh pelan. Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus. Namun, senyum tipis di wajahnya masih belum juga menghilang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa masa depannya mulai tampak lebih jelas.
…
Kayla akhirnya tiba di ruang kerjanya dengan napas yang masih belum beraturan. Begitu pintu tertutup, ia segera meletakkan map di atas meja. Tangannya yang sedikit gemetar langsung membuka map itu dengan tergesa-gesa.
"Ha... tidak ada?"
Jantung Kayla seakan berhenti berdetak. Matanya membelalak ketika kotak tes kehamilan yang baru saja dibelinya menghilang begitu saja. Ia membolak-balik seluruh isi map, berharap benda kecil itu hanya terselip di antara lembaran checklist.
Namun hasilnya tetap sama.
Dengan panik, Kayla berjongkok dan memeriksa kolong meja kerjanya. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan, berharap kotak itu terjatuh tanpa ia sadari. Sayangnya, benda yang dicarinya tidak juga ditemukan.
"Astaga... ke mana tespek itu?" gumam Kayla dalam hati. Wajahnya mulai memucat, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang membuat dadanya semakin sesak.
"Kayla, kamu lagi cari apa?"
Suara Lisa membuat Kayla tersentak. Ia buru-buru mengangkat kepala dan berusaha menyembunyikan kepanikannya. Namun, dari raut wajah Lisa, tampaknya sahabatnya itu datang membawa berita yang tidak kalah mengejutkan.
"Perusahaan akan mengadakan pemeriksaan kesehatan untuk seluruh karyawan. Semua diminta segera berkumpul di Ruang Vanilla 5," ujar Lisa sambil berjalan mendekati meja Kayla.
Mendengar kabar itu, wajah Kayla yang semula sudah pucat berubah semakin kehilangan warna. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam erat tepi meja.
"Kenapa tiba-tiba harus ada tes kesehatan?" tanyanya dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.
"Namanya juga bos baru. Wajar kalau beliau ingin memastikan semua karyawannya sehat dan memenuhi standar perusahaan," jawab Lisa berusaha menenangkan.
Belum sempat Kayla menarik napas lega, suara lain tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.
"Atau mungkin bos ingin memastikan tidak ada karyawan yang suka gonta-ganti pacar atau main dengan sembarang laki-laki."
Rina melangkah mendekat dengan senyum sinis yang sejak dulu selalu membuat suasana menjadi tidak nyaman. Ia memang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyindir Kayla di depan rekan kerja lainnya.
Kayla memejamkan mata sejenak sambil mengembuskan napas panjang
"Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?" balas Kayla tenang.
“kamu” geram Rina “aku ini tunangannya pak Adrian” rina menghentak-hentakan kakinya karena kayla dan lisa pergi begitu saja