Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan di Sisi Ranjang
Setelah untaian doa panjang untuk mendiang Ayah selesai dilantunkan, keheningan kembali menyelimuti kamar utama tersebut.
Rayhan melipat sajadahnya dengan rapi, lalu berbalik menatap Fatimah yang masih duduk bersimpuh di atas karpet.
Istri kecilnya itu sedang merapikan mukenanya, menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajah polosnya yang kini kembali memerah akibat sisa tangis selama doa berlangsung.
Rayhan mengembuskan napas perlahan. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepian kasur, menyisakan jarak yang cukup luas agar Fatimah tidak merasa terintimidasi oleh kehadirannya.
"Fatimah, duduklah di sini."
" Ada beberapa hal yang ingin Mas bicarakan kepadamu."
Panggil Rayhan, nadanya terdengar sangat kebapakan sekaligus penuh penghormatan seorang suami.
Fatimah sempat ragu selama beberapa detik. Namun, mengingat statusnya yang kini telah menjadi makmum bagi pria di hadapannya, ia pun bangkit berdiri.
Dengan langkah kecil yang anggun, ia mendekati ranjang dan mengambil tempat duduk di sudut yang berseberangan dengan Rayhan.
Jemari tangannya bertautan erat di atas pangkuan kain sarungnya, menunjukkan sisa-sisa kecanggungan yang belum sepenuhnya sirna.
Tanpa kain cadar yang biasa membentengi dirinya, Fatimah merasa sangat kentara dan rapuh di bawah tatapan teduh Rayhan.
Rayhan memperhatikan jemari istrinya yang saling meremas. Ia tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan di antara mereka.
"Pertama-tama, Mas ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu, Fatimah."
" Terima kasih karena kamu telah berlapang dada menerima perjodohan ini, dan terima kasih karena telah mengabulkan keinginan terakhir Ayah dengan penuh keikhlasan."
Kata Rayhan, dengan suaranya yang berat mengalir begitu tulus di dalam kamar yang sunyi itu.
Fatimah mendongak sedikit, memberanikan diri menatap sepasang mata dewasa milik suaminya.
"Fatimah yang harus berterima kasih, Mas Rayhan."
"Mas sudah begitu baik mengurus semua keperluan Ayah dari tadi siang, bahkan bersedia menerima Fatimah yang... yang masih banyak kekurangan ini."
Rayhan menggelengkan kepala pelan.
"Menikahimu bukan karena Mas melihat kekurangan atau kelebihanmu, Fatimah."
"Ini adalah amanah besar yang telah Mas sanggupi di hadapan Ayahmu dan di hadapan Allah."
" Dan Mas tahu, pernikahan yang mendadak ini pasti mengejutkanmu."
" Mas juga tahu... tentang impian kuliahmu yang terpaksa tertunda."
Mendengar kata "kuliah", dada Fatimah sempat berdenyut linu.
Namun, ingatan tentang senyuman terakhir ayahnya sebelum mengembuskan napas terakhir langsung meredam rasa perih tersebut. Ia kini telah berdamai dengan takdirnya.
"Semua itu sudah berlalu, Mas."
"Fatimah sudah ikhlas."
"Ilmu bisa dicari di mana saja, dan sekarang bakti Fatimah adalah untuk Mas Rayhan. "
Jawab Fatimah dengan suara yang lirih namun terdengar sangat mantap.
Rayhan menatap lekat wajah polos istrinya. Ada rasa kagum yang kian mendalam di hati pria tiga puluh delapan tahun itu melihat kedewasaan berpikir seorang gadis muda bentukan pesantren.
"Mas sangat menghargai ketaatanmu, Fatimah."
"Namun, Mas tidak pernah berniat untuk membelenggu masa depanmu."
Ujar Rayhan sembari membetulkan posisi duduknya.
"Rumah ini mungkin terasa asing bagimu untuk saat ini."
"Mas pun tidak akan memaksamu untuk langsung melayani Mas seperti seorang istri pada umumnya jika hatimu belum sepenuhnya siap."
"Kita berjalan pelan-pelan, saja? Saling mengenal dan saling membangun kenyamanan."
Rayhan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang menampilkan kegelapan malam kota.
"Mengenai pendidikan... jika suatu saat nanti kondisi hatimu sudah tenang, dan kamu masih ingin melanjutkan belajarmu, pintu itu tidak pernah Mas tutup."
"Mas akan mendukungmu, selama hal itu tidak melanggar batasan-batasan syariat kita."
Mendengar janji yang keluar dari bibir Rayhan, sepasang mata jernih Fatimah seketika membelalak kecil.
Rasa hangat dan haru yang luar biasa menjalar ke seluruh dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria dewasa yang sempat ia takuti ini ternyata memiliki hati yang begitu lapang dan penuh pengertian.
Malam pertama di rumah yang asing itu tidak lagi terasa mencekam bagi Fatimah.
Di balik runtuhnya satu impian, Allah ternyata benar-benar mengirimkan seorang pelindung yang siap membantunya membangun impian-impian baru yang jauh lebih berkah.