NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pilihan yang sulit

Garendra duduk di kursi paling ujung meja makan sambil menatap layar ponselnya. Sesekali senyum tipis terukir di bibirnya, seolah hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun, sesungguhnya ia sedang menunggu sesuatu dengan penuh antusias.

Tak lama kemudian, Mbak Lala datang membawa nampan berisi semangkuk sup ayam hangat buatan Felisyah.

"Ini, Tuan. Sarapannya masih hangat," ucap Mbak Lala sambil meletakkan mangkuk itu di hadapan Garendra.

Uap panas perlahan mengepul dari mangkuk, membawa aroma gurih yang langsung memenuhi ruangan dan menggelitik indra penciumannya. Garendra menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata sejenak.

"Hmm... harum sekali," gumamnya dengan senyum yang semakin lebar.

Tanpa menunggu lebih lama, ia mengambil sesendok sup, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika langkahnya terhenti. Matanya sedikit membesar, lalu senyum tulus menghiasi wajahnya.

"Enak sekali... Aku tidak menyangka Felisyah bisa membuat sup seenak ini," gumamnya penuh kagum.

Tentu saja Garendra tahu bahwa sup itu adalah buatan Felisyah. Sejak bangun tidur tadi, ia sudah melihat semuanya melalui kamera CCTV di dapur. Melihat Felisyah bersusah payah menyiapkan sarapan untuknya membuat hatinya terasa hangat.

Dengan lahap, Garendra menghabiskan semangkuk sup itu hingga tak bersisa.

Sementara itu, di balik dinding dapur, Felisyah berdiri dengan jantung berdebar. Ia sengaja bersembunyi agar Garendra tidak menyadari keberadaannya.

"Apakah... dia menyukainya?" gumamnya pelan, dipenuhi rasa gugup dan harap.

...----------------...

Di sisi lain, tepatnya di rumah utama keluarga Pratama, suasananya sangat berbeda dengan rumah pribadi Garendra. Jika di sana pagi disambut dengan senyum bahagia, maka di sini pagi justru dipenuhi ketegangan.

Kevin tampak duduk lesu di ruang keluarga. Wajahnya kusam dengan mata sembap karena menahan kantuk. Berkali-kali kelopak matanya hampir terpejam, tetapi setiap kali itu terjadi, salah satu anak buah Bu Sena langsung menyiram wajahnya dengan segelas air dingin.

Rambutnya sudah acak-acakan, sementara lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas, membuatnya tampak seperti panda. Semalaman penuh ia tidak diizinkan tidur oleh Bu Sena dan Oma demi memaksanya membuka mulut.

Sejak semalam, setelah tanpa sengaja keceplosan memberi petunjuk tentang Garendra, Bu Sena sama sekali tidak membiarkannya beristirahat. Wanita itu terus menginterogasinya, berharap Kevin membocorkan semua yang ia ketahui.

Kini, Kevin hanya bisa duduk pasrah di bawah pengawasan ketat salah satu anak buah Bu Sena. Bahkan untuk berdiri saja ia selalu diawasi.

"Sial banget nasibku... Kenapa juga semalam aku harus keceplosan?" gumamnya frustrasi.

Ia benar-benar berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, ia takut kepada Garendra yang sudah mengingatkannya agar tidak membocorkan apa pun. Namun di sisi lain, Bu Sena terus menginterogasinya tanpa henti. Kini, jalan keluarnya seolah buntu. Kabur tidak bisa, tidur pun dilarang. Yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah menunggu nasibnya.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat.

Tak... tak... tak...

Kevin perlahan mengangkat kepalanya. Saat melihat siapa yang datang, wajahnya langsung berubah memelas.

"Tante... Kevin udah nggak kuat lagi. Kevin mau tidur. Kevin ngantuk banget," rengeknya dengan mata yang hampir terpejam.

Bu Sena berjalan santai, lalu duduk dengan anggun di sofa tunggal. Ia menyilangkan kedua kakinya, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya lurus mengarah kepada Kevin yang kini tampak begitu memprihatinkan.

"Gimana, Kevin? Masih mau tutup mulut, atau Tante harus menambah hukumanmu?" tanyanya dengan nada santai, tetapi penuh tekanan.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi secangkir teh hangat. Ia meletakkannya di atas meja di depan Bu Sena, lalu kembali undur diri.

Kevin menelan ludah. Meski tubuhnya sudah lelah, ia tetap berusaha mempertahankan alasan yang sejak semalam terus ia ulangi.

"Kevin benar-benar nggak tahu, Tante. Kemarin Kevin cuma nggak sengaja melihat seseorang yang mirip sama Garendra, tapi ternyata bukan dia. Tante juga tahu sendiri, kan? Garendra nggak mungkin sembarangan keluyuran," ucap Kevin, berusaha terdengar meyakinkan.

Ia tetap bersikeras bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman karena dirinya salah melihat seseorang.

"Masih alasan itu lagi?" Bu Sena mengembuskan napas pelan. "Kevin, Tante sudah mendengarnya berkali-kali. Kalau memang hanya salah lihat, kenapa kamu sampai mati-matian menutupinya?"

Kevin terdiam. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa.

Jika Garendra mengetahui bahwa dirinya membocorkan apa yang ia lihat, bisa dipastikan ia harus menghadapi amukan sang bos. Namun, jika ia tetap bungkam, Bu Sena tidak akan pernah berhenti menyiksanya.

Menghadapi anak sama mamanya benar-benar menguras mental... Lama-lama aku bisa stres begini, keluh Kevin dalam hati.

"Kevin, kamu lihat apa yang ada di tangan Tante?" tanya Bu Sena. Senyum tipis penuh siasat terukir di sudut bibirnya. Ia yakin umpan kali ini akan membuat Kevin goyah.

Namun, Kevin sama sekali tidak menoleh. Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, menimbang dua pilihan yang sama-sama berbahaya.

"Keviiin!" panggil Bu Sena dengan suara lebih keras.

Kevin tersentak dan buru-buru mengangkat kepalanya.

"Apa kamu nggak lihat apa yang Tante pegang?" tanya Bu Sena sekali lagi.

Kevin akhirnya mengalihkan pandangannya. Sorot matanya tertuju pada sebuah kunci mobil yang sedang diputar-putar di ujung jari Bu Sena.

Mata Kevin langsung membelalak.

"Itu..."

Ia mengenali logo yang terpasang pada kunci tersebut. Tanpa perlu melihat mobilnya, ia sudah tahu itu adalah mobil yang selama ini menjadi kendaraan impiannya.

Kevin menelan ludah.

Melihat reaksi itu, Bu Sena tersenyum puas lalu menggenggam kembali kunci tersebut.

"Gimana? Sekarang kamu sudah lihat, kan?" ucapnya santai. "Keputusan ada di tanganmu, Kevin. Kalau kamu jujur dan mengatakan siapa perempuan yang bersama Garendra di rumah sakit waktu itu, mobil ini akan jadi milikmu."

Bu Sena sengaja menggoyangkan kembali kunci mobil itu di depan wajah Kevin.

Sementara Kevin hanya bisa menatap benda itu tanpa berkedip. Di satu sisi ada kesetiaan kepada Garendra, tetapi di sisi lain, mobil impiannya kini terasa begitu dekat.

Lalu... keputusan apa yang akan Kevin ambil?

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!