NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

seperti biasa

pagi Ibusya Flower Studio terasa lebih sibuk dari biasanya.

 belum juga jam delapan, Sarah sudah mondar-mandir di area depan sambil memegang tablet. Sesekali ia berbicara lewat telepon dengan seseorang. "Iya nanti saya ke sana layout finalnya sekalian kita cocokkan."

"Oke." Telepon ditutup.

Sarah mengembuskan napas pelan lalu kembali membuka beberapa file di tabletnya, Tak lama kemudian. Bel pintu berbunyi.

Ting!

Wulan masuk sambil melepas helmnya."Pagi, Kak."

Sarah mengangkat kepala."Pagi."

Wulan langsung berjalan menuju meja bunga.

Baru saja ia ingin mengenakan apron, suara Sarah kembali terdengar. "Lan."

"Iya, Kak?"

"Hari ini kamu jaga toko."

Wulan berkedip. " kenapa kak mah jelong-jelong yaa"

" maunya sih jalan-jalan tapi kerjan masih numpuk ini mau ketemu klien."

Wulan langsung mengangguk. "Oh... sama babang saka"

Sarah menganggukk.

"Oh..."

Sarah mengambil map berisi revisi dekorasi. "Kemarin masih ada beberapa yang perlu disesuaikan, Nanti sekalian diberesin."

Wulan menerima map itu sebentar lalu menyerahkannya kembali. "Berarti aku sendirian?"

"Iya."

Wulan menghela napas dramatis."Yah kirain hari ini rame."

Sarah menatap datar. "Kalau rame, nanti kamu bilang capek."

"Hehe..."

"Kalau sepi, bilang bosan."

"Hehe..."

"Jadi maunya apa?"

Wulan berpikir beberapa detik. "libur?"

Sarah langsung menutup tabletnya."Mimpi."

Wulan langsung nyengir. " huem pelit."

Beberapa menit kemudian Sarah meraih tasnya. "Kalau ada pelanggan custom, catat semua."

"Siap."

"Kalau ada yang belum yakin, telepon saya."

"Siap."

"Kalau ada masalah..."

Wulan mengangkat tangan seperti sedang upacara. "Siap, kakak Bos."

Sarah hanya menggeleng kecil."Mulutmu."

Belum lama Sarah keluar, Pintu studio kembali terbuka Seorang pria masuk sambil melihat-lihat rak bunga.

Usianya sekitar dua puluh lima tahunan,Wajahnya terlihat bingung Wulan segera menghampiri. "Selamat pagi, Ada yang bisa saya bantu?"

Cowok itu menggaruk tengkuknya."Emm saya mau beli bunga."

"Iya."

"Buat... cewek."

Wulan menahan senyum."Pacar?"

Cowok itu langsung menggeleng cepat."Belum."

"Ooh gebetan?"

Cowok itu tersipu malu."...Iya."

Wulan tertawa kecil."Oke."

"Gebetannya suka warna apa?"

"Nggak tahu."

"Bunga favoritnya?"

"Nggak tahu."

"Suka bunga?"

"Nggak tahu juga."

Wulan menghela napas pelan sambil tertawa. "Wah berat juga ya."

Cowok itu ikut tertawa malu."Iya aku juga bingung."

Wulan berjalan ke arah rak bunga. "Kalau masih tahap pendekatan, jangan terlalu besar buketnya."

"Kenapa?"

"Nanti dia malah sungkan."

Cowok itu mengangguk. "Oh..."

Wulan mulai memilih beberapa tangkai bunga.

"Mawar putih, Lisianthus sama sedikit baby's breath."

Cowok itu memperhatikan."Bagus nggak terlalu berlebihan tapi tetap manis."

Sekitar lima belas menit kemudian buket itu selesai.Cowok itu tersenyum puas."Makasih ya, Mbak."

"Sama-sama."

"Semoga berhasil."

"Aamiin."Cowok itu tertawa lalu berpamitan.

Begitu pintu tertutup Wulan mengembuskan napas lega."Alhamdulillah Masih aman."

Ia kembali merapikan meja kerjanya Tak lama kemudian Bel pintu kembali berbunyi.

Ting!

Wulan menoleh. "Kak Nara?"

Nara tersenyum sambil mengangkat sebuah map.

"Hai."

"Sarah ada?"

Wulan menggeleng. "Lagi ketemu Saka kakak ngga ikut tah? "

"ahh ngga ada kerjaan lain" Nara masuk lalu duduk di kursi dekat meja bunga. " ouh ya aku cuma nitip dokumen ini ya "

Wulan menerima map itu. "Nanti aku kasih ke Kak Sarah."

"Makasih." Nara memperhatikan Wulan yang sedang merapikan bunga.

"Kamu sendirian hari ini?"

"Iya."

"Capek?"

"Masih aman."

Nara tersenyum."Hebat juga."

"Kalau aku disuruh jagain toko bunga sendirian mungkin udah panik."

Wulan terkekeh. "Awal-awal aku juga gitu."

"Sekarang?"

"Sekarang paniknya disimpan."

Mereka sama-sama tertawa.

Tak lama kemudian ponsel Nara bergetar, Ia melihat layarnya lalu berdiri. "Aku pergi dulu yaa."

"Oke, Kak."

"Nanti titip salam buat Sarah ya."

"Siap."

"Oh iya." Nara menoleh lagi sebelum keluar. "Kalau lagi senggang chat aku aja, Biar nggak bosen jaga toko sendirian."

Wulan tersenyum. "Siap."

Setelah Nara pergi, studio kembali sunyi.

Wulan melihat jam dinding Baru pukul sebelas lewat.

Ia mengembuskan napas pelan."Masih lama..."

Namun senyum kecil tetap terlihat di wajahnya.

Hari itu berjalan biasa saja Tidak ada Saka, Tidak ada meeting, Tidak ada overthinking.

Hanya Wulan, Bunga-bunga, Dan toko yang perlahan mulai terasa seperti rumah keduanya.

Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat.

Suasana Ibusya Flower Studio mulai sepi.Wulan memandangi ruangan yang sejak pagi hanya ditemani dirinya sendiri.

Ia mengambil ponsel saat terdengar bunyi notifikasi.

...kak sarah🤑🤑...

lan, kakak nggak balik ke studio Tolong tutup toko seperti biasa

^^^oksy^^^

Ponselnya kembali disimpan. Wulan merapikan buket terakhir yang akan dikirim besok pagi, Menyapu sisa daun di lantai Mengganti air beberapa vas bunga.

Lalu mengecek kembali seluruh pesanan hari itu.

"Udah semua..."

Ia mengangguk pelan.Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. "Dulu baru disuruh nutup toko sendirian aja panik sekarang dah jadi rutinitas"

Ia mematikan sebagian lampu, lalu mengunci pintu kaca depan.Tak lama kemudian suara motor berhenti di depan toko.

"WOI!! bestiii"

Wulan langsung geleng-geleng kepala." oyy."

"Udah selesai?"

"Udah."

" yaudah yuks pulang."

 " ayokkk" Setelah memastikan semua pintu terkunci, Wulan naik ke motor Siwi.

Sepanjang perjalanan, obrolan mereka seperti biasa tidak jauh dari candaan.

"Gimana?"Siwi mulai membuka percakapan.

"Apa?"

" cowo yang lo ceritain lohh "

Wulan langsung mendesah."Mulai lagi."

"Hahaha. Hari ini ketemu nggak?"

"Nggak."

"Loh?"

"Lagi meeting sama Kak Sarah."

"Oalah." Siwi sengaja mengangguk panjang

"berarti hari ini nggak salting."

"Ih Emang aku salting terus?"

"Emang."

"Enggak."

"Iya."

Wulan mencubit pelan pinggang Siwi. " Heh, nyetir!"

" anjir si kapret dah tau lagi nyetir malah dicubit "

"Biar kapok."

Mereka berdua tertawa.Tak lama kemudian motor memasuki gang rumah Wulan.

Siwi menghentikan motornya tepat di depan pagar. " dah sampe"

"Makasih ya." jawab wulan

"Santai yaudah pulang ya dadah."

"Dadah."

Motor Siwi perlahan menjauh.

Wulan berdiri beberapa detik di depan pagar.

Hari ini Entah kenapa terasa cukup menyenangkan.

Toko berjalan lancar,Nara sempat mampir.

Dan ia berhasil mengurus semuanya sendirian.

Ia menarik napas pelan.

Lalu masuk kerumahnya Baru beberapa langkah menuju pintu rumah.

Suara bentakan keras terdengar dari dalam.

"Udah dibilang aku nggak ada uang!"

Langkah Wulan langsung terhenti Dadanya mendadak tidak enak Ia mengenali suara itu, Abangnya.

Perlahan ia membuka pintu.Pemandangan di ruang tamu langsung membuat senyumnya menghilang.

Ibunya berdiri sambil memegang selembar formulir.Di samping beliau, Gina hanya menunduk.

"Mama cuma mau pinjam dulu ini buat biaya sekolah gina dia udah ditegur gurunya" Suara ibunya terdengar pelan Berusaha tetap tenang.

Namun justru membuat emosi abangnya semakin naik. " bukan masalah pinjem mah kemaren kan udah aku kasih "

" uangnya dah abis buat makan bang, mama ngga minta banyak nanti juga mama ganti"

" apasih emang uangku sekoper gitu ma minta uang ke aku mulu itu ke kakak ge atau kewulan aku mulu sih heran"

" kakak mu loh udah berumah tangga mama ngga enak sama suaminya" ucap mama

" yakan itu anak mama juga lagian wulan juga pasti ada uang sana minta sama dia "

wulan masuk kedalam rumah ingin melewati mereka tapi abang menghadang

"Tuh, Lan. Bilangin Mama, jangan dikit-dikit minta uang ke gue, Lu juga kerja, kan?, minta aja sama Wulan."

Terus langsung pergi sambil banting pintu kamar.

Kalimat itu terasa menjengkelkan Padahal...

Setiap bulan, Wulan selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk ibunya Memang tidak besar.

Tapi selalu ia usahakan.

Wulan langsung terdiam Tangannya mengepal pelan Dadanya panas. Ia juga capek.

Ingin mengatakan kalau selama ini justru ibunya lebih sering mengandalkan uang darinya tapi,

Setiap berhadapan dengan abangnya

Keberaniannya selalu hilang.

Ibunya segera menghampiri. " lan mama mau minta uang buat bayar sekolah gina lan "

" kemaren kan sebagian gaji wulan buat mama, gina sama kebutuhan rumah "

" yaudah mama nanti cari pinjeman ke orang yang penting sekolah gani dulu"

" ngga usah biar wulan aja wulan masih ada tabungan, berapa emngnya" Lagi-lagi wulan ngalah ia akan memakai lagi uang tabungannya.

" 500.000 ribu kak" ucap gina yang sedari tadi diam saja

" yaudah kakak tf besok kamu ambil terus bayar buat sekolah kamu" ucap wulann menghela nafas cape lalu masuk kekamarnya tanpa berkata apa-apa lagi

wulan kasian pada ibunya Yang selama ini paling tidak suka berutang Kini harus meminjam lagi.

Begitu pintu kamar tertutup Air matanya jatuh.

Bukan karena dimarahi.Tapi karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa.

Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pelan.

"Lan..."Ibunya masuk sambil membawa segelas air putih.

Beliau duduk di samping Wulan."maaf in mama yah nanti mama balikin kok"

" gausah itu emang kewajiban aku mama gausah pinjem-pinjem kalo wulan masih ada."

setelah mendengar wulan ibunya berdiri. "Istirahat ya."

"Iya "Pintu kamar kembali tertutup Wulan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Matanya menatap langit-langit kamar Sejak Ayah nggak ada, Rumah ini memang berubah.

Bukan temboknya, Bukan atapnya, Yang berubah...

Suasananya.

Kalau sedang ada uang Mereka masih bisa makan bersama, Masih bisa bercanda Masih terdengar tawa.

Tapi saat keadaan sedang sulit, Suara tawa berganti bentakan, Obrolan berubah menjadi pertengkaran.

Dan rumah Yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang Kadang justru menjadi tempat yang paling melelahkan.

Wulan memejamkan mata perlahan." semoga dapet rejeki lebih"

Malam semakin larut.

Suara televisi di ruang tengah terdengar pelan. Sesekali terdengar suara gina yang sedang belajar, sementara rumah kembali dipenuhi keheningan.

Wulan masih belum benar-benar bisa tidur.

Ia mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi mobile banking.

Saldo tabungannya kembali berkurang.

Ia menatap angka itu cukup lama "Gapapa..."

gumamnya pelan. "Yang penting gina bisa sekolah."

Meski begitu, ada satu rasa yang diam-diam mengganjal di dadanya. Bukan karena uangnya berkurang. Melainkan karena ia mulai bertanya-tanya...

Sampai kapan keadaan seperti ini akan terus berlangsung?Ia mengembuskan napas panjang, lalu menutup aplikasi itu.

Tak lama kemudian, notifikasi dari grup kerja Ibusya Flower Studio muncul.

...kak sarah🤑🤑...

Besok semua datang lebih pagi ya. Kita mulai persiapan proyek baru.

^^^Siap, Kak.^^^

Lan, makasih ya hari ini udah jaga studio sendirian.

^^^Sama-sama, Kak.^^^

Pesan singkat itu entah kenapa membuat rasa lelahnya sedikit berkurang. Setidaknya...

Ada seseorang yang menyadari usahanya hari ini.

Wulan meletakkan ponselnya di samping bantal.

Ia memejamkan mata sambil menarik selimut hingga ke dada.

"Semoga besok lebih baik..." bisiknya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!