NovelToon NovelToon
I Hired A Billionaire

I Hired A Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Patahhati
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.

Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.

Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.

Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.

Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.

Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.

~~~~~~

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Waktu laksana musuh paling kejam bagi Xander Hayes-Stone pagi itu.

Pria raksasa dari dinasti Stone yang biasanya mampu mengontrol jalannya negosiasi bisnis atau pertempuran jalanan dengan ketenangan absolut, kini mendadak dilingkupi kepanikan yang teramat kocak.

Sepasang mata heterochromia-nya melirik sekilas ke arah jam dinding antik berlapis emas di atas nakas kamar Alceena yang terus berdetik tanpa ampun, memotong sisa waktu dari kesepakatan gila yang sepihak tadi.

"Satu menit sudah terbuang hanya karena kau memprotes, Xander," ketus Alceena, diva itu mempertahankan ekspresi angkuh di wajah cantiknya, meskipun detak jantungnya sendiri sudah berdentum tidak karuan melihat bagaimana Xander mulai bergerak dengan beringas namun penuh perhitungan.

"Sialan, Ceena," umpat Xander rendah, suara baritonnya bergetar parau oleh kombinasi gairah yang memuncak dan kepanikan darurat.

Dengan gerakan yang teramat cekatan namun dipenuhi kehati-hatian, jemari besar Xander yang biasanya memegang pelatuk senjata kini beralih membuka ritsleting dan melucuti gaun rajut sewarna gading yang dikenakan Alceena.

Alceena mendesis pelan saat pakaian kasualnya teronggok begitu saja di atas lantai karpet marun, menyisakan tubuh mulusnya yang kini langsung disambut oleh kehangatan kulit telanjang Xander yang hanya menyisakan celana boxer hitamnya.

Xander langsung mengangkat tubuh ramping Alceena ke atas ranjang king size berseprai sutra emas, menindihnya dengan kehati-hatian yang teramat kontras dengan ukuran tubuh raksasanya.

Namun, tepat ketika bibir tegas Xander hendak meraup ranum merah Alceena, sang diva mendadak menahan dada bidang Xander dengan kedua telapak tangannya.

"Tunggu! Pelankan suaramu, Gila!" bisik Alceena dengan nada panik yang teramat pekat.

Mata indahnya melirik cemas ke arah pintu jati kamar yang beberapa menit lalu digedor habis-habisan oleh adiknya.

"Bagaimana kalau Navarro tiba-tiba mendobrak pintu itu dengan kapak? Atau bagaimana jika dia mengambil kunci cadangan dari ruang kerja Daddy?! Kau tahu sendiri bocah itu tidak punya aturan!"

Xander yang sedang berada di puncak birahinya mendadak mendengus geli di ceruk leher Alceena.

Nafas hangatnya membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. "Pintu kamarmu terbuat dari jati utuh berlapis baja di bagian dalam, Sayang. Aku sudah memeriksanya tadi. Bahkan jika adik kecilmu membawa senapan serbu, butuh waktu lima belas menit untuk menjebolnya. Jadi... fokuslah padaku, bukan pada bocah apel itu."

"Tapi tetap saja—mmpgh!"

Kalimat Alceena terputus total saat Xander memutuskan untuk membungkam bibir cerewet majikannya dengan sebuah lumatan yang teramat dalam, intens, dan menuntut.

Semua kepanikan darurat mengenai keberadaan keluarga Riccardo di luar kamar mendadak menguap dari kepala Alceena, digantikan oleh gelombang gairah murni yang sengaja diledakkan Xander untuk mengunci kesadaran sang diva.

Namun, perjanjian sepuluh menit yang diucapkan Alceena tadi... pada akhirnya hanyalah sebuah ancaman gila yang sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum di atas ranjang Stone.

Xander tahu benar bagaimana mempermainkan batas waktu.

Ketika jarum jam menunjukkan menit kesepuluh, Alceena yang mengira permainan akan berakhir justru harus menelan kembali kata-katanya.

Sentuhan Xander tidak melambat, melainkan semakin beringas dan mendominasi, menenggelamkan Alceena ke dalam pusaran kenikmatan yang membuatnya lupa daratan.

Ketika waktu merambat hingga menit kedua puluh, Alceena yang mulai kehabisan napas dan bermandikan keringat halus, mengumpulkan sisa kekuatannya.

Dia mengangkat tangannya yang lemas, memukul bahu kekar Xander yang dipenuhi tanda kemerahan malam tadi dengan kepalan tangan rampingnya.

Plak!

"Xander... ugh, hentikan! Waktunya... waktunya sudah lewat sepuluh menit, Bajingan!" rintih Alceena di sela desahan napasnya yang terengah-engah ngos-ngosan.

Wajah cantiknya memerah sempurna, matanya sayu menatap wajah tampan di atasnya. "Kau... kau melanggar kontrak! Ini sudah dua puluh menit!"

Xander menghentikan gerakannya sejenak, menopang bobot tubuhnya dengan kedua lengan kokohnya yang dipenuhi urat menonjol.

Pria Chicago itu menunduk, menatap Alceena dari balik helai rambut hitamnya yang basah oleh keringat dengan tatapan mata yang teramat gila, penuh kabut asmara, namun sarat akan kelicikan yang seksi.

Xander mengaku dengan wajah tanpa dosa, "Aku belum selesai, Ceena. Dan seingatku, tidak ada penalti di dalam hukum ranjang Stone jika seorang simpanan melampaui batas waktu untuk memuaskan majikannya."

"Kau—"

Sebelum Alceena sempat memaki lebih jauh, Xander kembali mengunci pinggang ramping wanita itu dengan cengkeraman besinya, menaikkan ritme pergumulan mereka ke tingkat tertinggi yang membuat Alceena hanya bisa mencengkeram sprei sutra emas di bawahnya demi menahan guncangan gairah yang teramat dahsyat.

Kamar mewah itu kini hanya dipenuhi oleh suara gesekan kain, deru napas memburu dari dua insan yang saling mengunci, dan detak jam dinding yang seolah diabaikan sepenuhnya oleh sang waktu.

Xander terus membawa Alceena terbang melintasi batas kewarasan, menandai setiap jengkal kulit mulus sang diva di atas ranjang masa kecilnya, membuktikan ucapannya bahwa dia ingin meninggalkan jejak mutlak dinasti Stone di tempat ini.

Hingga akhirnya, badai pelepasan itu tiba di ambang puncaknya.

Seluruh otot tubuh raksasa Xander menegang sempurna, urat-urat di leher tegapnya menonjol kuat saat gelombang kenikmatan tertinggi mulai merayap naik dari dasar tulang belakangnya.

Di saat yang sama, Alceena mengerang pelan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Xander, meremas bahu pria itu dengan kuku-kukunya yang menancap dalam.

Di detik-detik yang teramat krusial itu, di bawah pendar cahaya pagi kamar yang remang, Xander menurunkan wajahnya.

Sepasang mata heterochromia-nya menatap langsung ke dalam manik mata Alceena dengan kejujuran murni, ketulusan, dan kepasrahan jiwa yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng esnya.

"Aku mencintaimu, Alceena... aku mencintaimu," bisik Xander dengan suara bariton yang teramat serak, dalam, dan bergetar hebat oleh emosi murni yang tumpah tepat saat pelepasan besarnya terjadi di dalam dekapan hangat sang diva.

Itu bukan sekadar ucapan pemuas gairah ranjang, melainkan sebuah deklarasi sakral dan penyerahan mutlak dari seorang Xander Hayes-Stone bahwa seluruh hidup, jiwa, dan raganya kini telah sepenuhnya menjadi milik wanita bernama Alceena Riccardo.

...----------------...

Suara deru napas yang terengah-engah perlahan-lahan mereda, menyisakan keheningan yang teramat pekat di dalam kamar bernuansa merah marun dan emas itu.

Xander masih menumpukan sebagian besar bobot tubuh raksasanya di atas tubuh ramping Alceena, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher sang diva yang kini dipenuhi oleh peluh halus.

Sisa-sisa gelombang pelepasan besar tadi masih terasa berdenyut halus di antara penyatuan mereka, mengunci keduanya dalam kehangatan intim yang tak kasat mata.

Namun, di balik kelelahan fisik yang mendera, batin Alceena justru sedang dihantam oleh badai yang jauh lebih dahsyat.

Kata-kata itu... untaian kalimat yang meluncur begitu parau, serak, dan sarat akan penyerahan jiwa dari bibir Xander beberapa detik lalu masih berdengung hebat di dalam rongga telinganya laksana gema lonceng katedral.

"Aku mencintaimu, Alceena... aku mencintaimu."

Alceena terdiam total. Sepasang mata indahnya menatap kosong ke arah langit-langit kamar tidur masa kecilnya.

Lidahnya mendadak terasa kelu, dan keangkuhan Riccardo yang biasanya menjadi tameng terbaiknya kini runtuh tidak bersisa.

Sebagai seorang aktris papan atas, Alceena sudah ribuan kali mendengar dialog cinta dari lawan mainnya di depan kamera.

Sebagai seorang wanita cantik, dia juga sudah kenyang menerima rayuan dari pria-pria jetset dunia yang mencoba memuja keindahannya.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membuat dadanya berdenyut sesakit sekaligus seindah ini.

Pengakuan Xander terasa begitu murni, begitu berat, dan begitu gila karena pria itu mengucapkannya di saat seluruh benteng pertahanannya sebagai seorang Stone runtuh di atas ranjangnya.

Rasa takut akan trauma masa lalu, bayangan pengkhianatan Aldridge, dan ketakutan akan dicampakkan lagi... semuanya mendadak menguap, tersapu bersih oleh ketulusan yang menguar dari tubuh kekar yang sedang memeluknya ini.

Alceena menarik napas panjang yang gemetar, mengulurkan kedua tangan rampingnya untuk membingkai wajah tampan Xander.

Dia memaksa pria itu untuk mendongak, membuat sepasang mata heterochromia—biru samudra dan coklat gelap—itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkaca-kaca.

Dengan seulas senyuman tipis yang teramat lembut, jauh dari kesan diva yang angkuh, Alceena berbisik dengan nada suara yang teramat tulus dan bergetar, "Aku juga mencintaimu, Xander."

Deg.

Kali ini, giliran seluruh sistem saraf di tubuh Xander Hayes-Stone yang mendadak mogok kerja.

Pria itu membeku total di atas tubuh Alceena.

Sepasang matanya yang semula meredup karena sisa gairah, seketika melebar sempurna dengan binar keterkejutan yang teramat sangat besar.

Dia menatap Alceena laksana sedang melihat keajaiban dunia yang paling mustahil terjadi di depan matanya sendiri.

Keheningan mencengkeram mereka selama beberapa saat, hanya menyisakan detak jantung mereka yang saling berkejaran dengan liar.

Xander menelan ludahnya dengan berat, rahangnya yang kokoh mengeras bukan karena amarah, melainkan karena rasa tidak percaya yang teramat pekat.

"Sejak kapan, Ceena?" tanya Xander akhirnya, suara baritonnya terdengar begitu parau, pelan, dan sarat akan ketakutan jika apa yang baru saja didengarnya hanyalah ilusi ranjang semata.

"Sejak kapan kau... memiliki perasaan itu untuk pria sepertiku?"

Alceena terkekeh rendah, sebuah tawa kecil yang terdengar begitu merdu dan manis di telinga Xander.

Jemari rampingnya bergerak pelan, mengusap rahang tegas Xander yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus tipis.

"Kau orang pertama yang menerima penyerahan diriku, Xander," jawab Alceena dengan mata yang menatap lurus, membiarkan seluruh rahasia terdalam batinnya terbaca oleh pria itu.

"Di saat pria lain hanya menginginkan tubuhku, reputasiku, atau nama besar keluargaku... kau adalah satu-satunya pria gila yang bersedia berlutut, menerima seluruh amarahku, meredam traumaku, dan membiarkan dirimu dikunci oleh kontrak gila denganku. Dan sejak itu... sejak malam kedua di mana kau memelukku dengan cara yang begitu protektif seolah aku adalah hal paling berharga di hidupmu... hatiku sudah menyerah kalah padamu."

Mendengar pengakuan yang teramat jujur dan begitu indah dari bibir sang diva, bendungan emosi di dalam dada Xander seolah jebol sepenuhnya.

Pria Stone yang terkenal dingin dan tidak tersentuh di jalanan Chicago itu mendadak dilingkupi oleh rasa syukur dan kebahagiaan yang teramat meluap-luap, hingga matanya berkilat basah oleh keharuan yang murni.

"Terima kasih... terima kasih, Alceena. Terima kasih, Sayang," ucap Xander bertubi-tubi dengan suara yang bergetar hebat penuh emosi.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Alceena untuk membalas, Xander langsung menundukkan kepalanya, meraup kembali bibir ranum Alceena dengan ciuman yang teramat intens, bertubi-tubi, dan dipenuhi oleh rasa cinta yang meluap-luap.

Dia mencium bibir wanita itu dengan kelembutan yang memabukkan, lalu berpindah memberikan kecupan-kecupan hangat di kedua pipi Alceena, keningnya, ujung hidungnya, hingga kembali mengunci bibir manis sang diva seolah dia tidak akan pernah kenyang mencecap rasa dari wanita yang kini resmi menjadi pemilik hatinya.

"Xander... mmpgh... ugh, sudah," rintih Alceena di sela-sela ciuman bertubi-tubi itu, meskipun kedua tangannya justru semakin erat memeluk leher tegap Xander sambil tersenyum lebar di dalam lumatan pria itu.

Setelah beberapa menit meluapkan rasa terima kasihnya yang beringas melalui kebasahan bibir mereka, Xander akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan.

Dia menarik napas dalam, menatap wajah Alceena yang kini tampak begitu cantik dan bersinar dengan rona kebahagiaan sejati.

Xander bergerak turun dari atas tubuh Alceena, memutus penyatuan intim mereka yang telah berlangsung melebihi batas waktu perjanjian.

Tubuh raksasanya menegak, menampilkan siluet atletisnya yang bermandikan keringat di bawah pendar cahaya pagi.

"Aku akan membersihkan diri dulu, Sayang. Aku tidak ingin aroma pergumulan kita membuat adik kecilmu di luar sana menebak apa yang baru saja kita lakukan," ucap Xander dengan seulas senyuman nakal dan lesung pipit tipisnya yang kembali muncul dengan teramat tampan.

Xander langsung melangkah cepat menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Alceena untuk membersihkan diri, meninggalkan Alceena yang kini menarik selimut sutra emasnya hingga ke batas dada, menatap punggung tegap pria itu dengan senyuman penuh kehangatan yang belum pernah dia berikan pada pria mana pun di dunia ini.

Sesi sepuluh menit yang gagal total itu justru menjadi awal dari ikatan suci yang mengunci hati mereka.

1
ida wati
dah lah cari aman aja daripada daripada yekaannn 😄😄😄😄😄
ida wati
HA HA HA HA HA #ketawajahat
ida wati
mana ada adegan pemersatu bangsa cuma 10 menit 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: hahaha lawak 🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
si modus 🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan author 🤣
total 1 replies
ida wati
Xander ini manusia atau semacam tembok berlin? 😄🤣
Ros 🌷🦋: Haha Ngakak saya🤣
total 1 replies
ida wati
kalo pilem ultramen pasti ada sinar laser dari mata nya 🤣🤣🤣
♔, Seleneᥫ᭡𐂅◇☆, ꧁
Luar biasa
ida wati
wkwkwkwk akoh kira udh 20an 🤣 ternyatahh mabelastaon 🤣
Ros 🌷🦋: Haha berondong 🤣
total 1 replies
ida wati
kurang 2 kata mutlak nya thor 🤣
Ros 🌷🦋: typo kak🤭🤣
total 1 replies
ida wati
waduh basah kuyup 🤣 lanjutkan 🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita xander sama alceena seruu😍
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh cerita xander😍
Ros 🌷🦋: Happy reading kak 🫶
total 1 replies
ida wati
ENG ING ENG.......DUARRRR 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkkwkw🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Thor,, cerita Mrs. Only his mana,, kok gk ketemu??
Ros 🌷🦋: Sudah saya hapus Kak😭 nanti habis Tamat Cerita Ini baru tak buat ulang kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Lhaaa,, yg jebol gawang aja xander,, punya ank dr mna? Pede banget anda tuan angrybet,, bakal di ketawain keras ama bang xander🤣🤣
Ros 🌷🦋: Angry bird 😭😭
total 1 replies
durrotul aimmsh
wah...bakal ada pertarungan sengit ini
Ros 🌷🦋: heheh Ma'aciww komentarnya kak🙏🏻
total 1 replies
ida wati
haduhhh Alceena sm Xander yg terancam akoh yg deg2an 🤣🤣🤣 gamau liat ahh 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: wkkwwk siapkan Cemilan 🤣
total 1 replies
ida wati
haduhhhh masalah baru 😏
Ros 🌷🦋: Hihihi semangat di dunia nyata ya kak🥰🫶
total 4 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!