NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 KEMBALI KE KAMPUS

Langkahnya melewati halaman kampus terasa lebih mantap daripada yang ia duga. Beberapa mahasiswa menoleh. Ada yang tidak mengenalnya. Ada yang mungkin pernah melihatnya dulu, tetapi ragu. Penampilan Arkan berubah cukup banyak hanya dengan pakaian rapi, sepatu baru, dan sikap yang lebih tenang.

Di dekat kantin, seseorang berdiri sambil memegang gelas plastik.

Dimas.

Pria itu menatap Arkan beberapa detik sebelum wajahnya berubah kaget.

“Arkan?”

Arkan mendekat. “Dim.”

Dimas melihat ke arah parkiran, lalu kembali menatap Arkan. “Itu mobil kamu?”

“Baru ambil.”

Dimas berkedip.

Ia jelas ingin bertanya banyak, tetapi suasana Arkan membuatnya menahan diri. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda di depannya. Arkan tidak datang dengan gaya pamer, tetapi justru karena terlalu tenang, perubahan itu terasa lebih besar.

“Gila,” gumam Dimas pelan. “Kemarin kamu bilang mau balik kampus, aku kira naik motor lama.”

“Motor lama pensiun.”

Dimas tertawa pendek, masih sulit percaya. “Serius kamu berubah banyak.”

“Tidak terlalu,” jawab Arkan. “Aku cuma berhenti tertunda.”

Kalimat itu membuat Dimas diam sesaat.

Sistem muncul.

[Kalimat cukup baik.]

[Efek wibawa: meningkat.]

[Catatan: hindari terlalu banyak kalimat filosofis agar tidak menjadi norak.]

Arkan hampir batuk.

Dimas menunjuk gedung akademik. “Pak Surya ada. Tapi bagian akademik biasanya agak ribet kalau status cuti lebih dari satu semester.”

“Ribet karena dokumen atau karena biaya?”

“Dua-duanya.”

“Kalau begitu dokumen kita urus. Biaya selesai hari ini.”

Dimas menatapnya lagi.

Kali ini, keterkejutannya lebih jelas.

“Kan… kamu serius?”

Arkan tidak menjawab panjang.

Ia berjalan menuju gedung akademik.

Dimas menyusul di sampingnya, masih sesekali melirik seperti orang yang belum menyusun ulang gambaran lamanya tentang Arkan.

Di dalam gedung akademik, suasana masih seperti dulu. Meja pelayanan, kursi tunggu, papan pengumuman, mahasiswa membawa map, dan suara petugas memanggil nama. Arkan pernah duduk di kursi tunggu itu dengan tangan dingin, menunggu jawaban apakah ia masih bisa menunda pembayaran.

Hari ini ia berjalan langsung ke loket.

Seorang staf perempuan menatapnya. “Ada keperluan apa, Pak?”

“Saya mau mengaktifkan kembali status kuliah. Nama Arkan Pradipta. Program Manajemen Bisnis.”

Staf itu mengetik di komputer.

Beberapa detik kemudian, dahinya mengerut.

“Arkan Pradipta… status cuti. Ada tunggakan administrasi semester sebelumnya dan surat pengaktifan kembali belum diajukan.”

“Bisa diproses hari ini?”

Staf itu menatapnya sekilas. “Kalau dokumen lengkap dan pembayaran selesai, bisa diajukan. Tapi persetujuan akademik tetap harus lewat dosen pembimbing dan kaprodi.”

“Baik. Saya selesaikan.”

Nada Arkan terlalu tenang.

Staf itu tampak sedikit bingung, mungkin karena biasanya mahasiswa dengan status tunggakan akan bertanya apakah bisa dicicil, ditunda, atau diberi keringanan. Arkan tidak menanyakan itu.

Ia hanya bertanya jumlah.

Staf menyebutkan nominal.

Dimas yang berdiri di belakang sedikit menahan napas, karena jumlah itu memang cukup besar untuk ukuran mahasiswa biasa.

Arkan mengambil ponsel.

Sistem muncul.

[Total tunggakan akademik terdeteksi.]

[Nominal: sangat kecil.]

[Rekomendasi: bayar sebelum sistem merasa malu.]

Arkan tidak menanggapi.

Ia melakukan pembayaran.

Beberapa detik kemudian, bukti transaksi muncul.

Staf akademik menerima konfirmasi dari sistem kampus. Wajahnya langsung berubah.

“Pembayaran sudah masuk, Pak.”

“Selanjutnya?”

“Bapak perlu mengisi formulir aktif kembali, lalu bertemu Pak Surya sebagai dosen pembimbing.”

“Di mana ruang beliau?”

“Lantai dua, ruang dosen Manajemen Bisnis.”

Arkan mengangguk. “Terima kasih.”

Dimas menatap layar komputer, lalu menatap Arkan seperti baru menyaksikan sesuatu yang tidak cocok dengan ingatannya.

“Kan, kamu bayar langsung?”

“Memang harus selesai.”

“Tapi—”

Arkan menoleh.

Dimas menutup mulutnya, lalu tertawa kecil. “Oke. Aku nggak tanya dulu.”

“Bagus.”

Mereka naik ke lantai dua.

Di koridor ruang dosen, beberapa mahasiswa menunggu bimbingan. Arkan mengenali beberapa wajah lama. Ada yang melihatnya sekilas, lalu menoleh lagi dengan lebih fokus.

Salah satu dari mereka, Rendi, teman satu angkatan yang dulu sering membuat candaan tentang Arkan kerja sambilan, mengangkat alis.

“Lho, Arkan? Hidup lagi?”

Dimas langsung melirik, merasa kalimat itu kurang enak.

Arkan berhenti sebentar.

Ia menatap Rendi dengan tenang.

“Masih hidup dari dulu.”

Rendi tertawa. “Maksudku, balik kampus? Kirain sudah nggak lanjut.”

“Lanjut.”

Rendi melihat pakaian Arkan, lalu ekspresinya berubah sedikit. “Wah, sekarang rapi juga. Dari mana?”

“Dari urusan.”

Jawaban itu pendek.

Tidak memberi ruang.

Rendi tampak ingin bercanda lagi, tetapi pintu ruang dosen terbuka.

Seorang pria berusia sekitar lima puluhan keluar dengan kacamata tipis dan map di tangan. Wajahnya tegas, tetapi tidak galak.

Pak Surya.

Dosen pembimbing Arkan.

Matanya langsung berhenti pada Arkan.

“Arkan Pradipta?”

Arkan berdiri lebih tegak.

“Iya, Pak.”

Pak Surya menatapnya beberapa detik. Bukan menilai pakaian. Bukan melihat mobil. Tatapannya lebih seperti seorang dosen yang mengingat mahasiswa yang pernah tiba-tiba hilang dari daftar bimbingan.

“Kamu akhirnya datang juga.”

Arkan mengangguk.

“Saya mau aktif kuliah lagi, Pak.”

Pak Surya diam sebentar, lalu membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Arkan melangkah masuk.

Dimas menunggu di luar.

Rendi dan beberapa mahasiswa lain saling pandang, jelas mulai penasaran.

Di dalam ruangan, Pak Surya duduk di belakang meja. Ia memberi isyarat agar Arkan duduk.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Pak Surya.

Pertanyaan itu tidak tajam, tetapi langsung.

Arkan tidak mencari alasan panjang.

“Waktu itu saya tidak sanggup membayar dan harus membantu keluarga, Pak.”

Pak Surya menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang saya bisa menyelesaikannya.”

“Administrasi?”

“Sudah dibayar.”

Pak Surya tampak sedikit terkejut, tetapi tidak menunjukkan berlebihan. Ia membuka sistem akademik di komputernya, mengecek data, lalu mengangguk pelan.

“Cepat juga.”

“Saya tidak mau menunda lagi.”

Pak Surya bersandar di kursinya.

Untuk beberapa detik, ruangan itu hening.

Lalu dosen itu berkata, “Kamu dulu bukan mahasiswa bodoh, Arkan. Tapi hidup kadang membuat mahasiswa yang tidak bodoh terlihat seperti menyerah.”

Arkan menatap meja.

Kalimat itu mengenai tempat yang tepat, tetapi ia tidak ingin tenggelam di sana.

“Saya tidak menyerah, Pak. Cuma terlambat kembali.”

Pak Surya menatapnya lebih lama.

Lalu ia mengangguk.

“Baik. Saya bantu proses aktif kembali. Tapi kamu harus siap mengejar ketertinggalan.”

“Saya siap.”

“Kamu butuh revisi rencana studi, pertemuan dengan kaprodi, dan mungkin pengaturan ulang beberapa mata kuliah.”

“Saya ikuti.”

Pak Surya mengetik beberapa catatan, lalu mencetak satu lembar surat rekomendasi.

Saat printer berbunyi, ponsel Arkan bergetar.

Pesan dari Olivia.

[Pak, dokumen Arkan Pradipta Holdings mulai diproses. Saya butuh konfirmasi bidang awal perusahaan: properti, investasi, pendidikan, atau multi-sektor?]

Arkan membaca pesan itu.

Di depannya, Pak Surya sedang mencetak surat agar ia bisa kembali menjadi mahasiswa aktif.

Di ponselnya, Olivia sedang memproses perusahaan induk miliknya.

Dua dunia itu bertemu di satu meja.

Sistem berbicara.

[Pilihan strategis diperlukan.]

[Rekomendasi: multi-sektor.]

[Catatan: Tuan Rumah terlalu kaya untuk berpura-pura hanya akan membuka usaha kecil.]

Arkan mengetik balasan singkat.

[Multi-sektor.]

Olivia membalas cepat.

[Baik, Pak.]

Pak Surya menyerahkan surat rekomendasi.

“Bawa ini ke kaprodi. Setelah itu kembali ke akademik.”

Arkan menerima kertas itu.

“Terima kasih, Pak.”

Pak Surya menatapnya lagi. “Arkan.”

“Iya, Pak?”

“Kalau kali ini kamu kembali, jangan setengah-setengah.”

Arkan menggenggam surat itu.

“Tidak akan, Pak.”

Ia keluar dari ruangan.

Di koridor, Dimas langsung mendekat. “Gimana?”

“Diproses.”

Rendi yang masih duduk di kursi tunggu menyahut, “Wah, Arkan serius balik, nih. Jangan-jangan sekarang sudah jadi orang penting?”

Nada bercandanya masih ada, tetapi kali ini tidak sepenuhnya ringan.

Arkan menatapnya sekilas.

“Belum.”

Ia berjalan melewati Rendi.

Lalu menambahkan tanpa menoleh, “Masih mulai.”

Dimas menahan senyum.

Rendi terdiam sebentar.

Arkan berjalan menuju ruang kaprodi dengan langkah tenang.

Di satu tangannya, ia memegang surat aktif kembali.

Di saku celananya, ada kunci mobil baru.

Di ponselnya, perusahaan induknya sedang dibentuk.

Dan di kepalanya, sistem berbicara datar.

[Status terbaru.]

[Mahasiswa cuti: kembali.]

[Pemilik perusahaan induk: dimulai.]

[Kesimpulan: hari ini produktif.]

[Catatan: setelah ini, Tuan Rumah perlu makan siang yang layak.]

Arkan menatap koridor kampus di depannya.

Dulu ia berjalan di tempat itu dengan kepala penuh kekurangan.

Hari ini ia berjalan dengan keputusan.

Dan untuk pertama kalinya, kampus bukan lagi tempat yang membuatnya merasa tertinggal.

Kampus hanya salah satu pintu yang ia pilih untuk buka kembali.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!