NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

"Bukannya lo lagi sibuk sama tunangan lo?"

Deg.

Endra langsung mengernyit.

"Dia bukan tunangan gue."

"Satu sekolah ngomong begitu."

"Dan lo percaya?"

Nayla kembali menatap Endra.

Kali ini sorot matanya benar-benar lelah.

"Masalahnya gue lebih percaya apa yang gue lihat sendiri."

Endra terdiam.

Ia tahu.

Selama ini memang dirinya yang membiarkan semua kesalahpahaman itu terjadi. Cowok itu mengusap wajahnya frustrasi.

"Gue bisa jelasin semuanya."

"Terlambat."

Jawaban Nayla langsung membuat Endra membeku.

Gadis itu menunduk sambil tersenyum miris.

"Sekarang semuanya udah telanjur sakit."

Dada Endra terasa sesak.

Ia tidak pernah membayangkan hubungan mereka akan berubah seperti ini. Dulu Nayla selalu tertawa didepannya.

Nayla cukup cerewet dan menempel padanya. Terkadang memukul lengannya sambil ngomel kalau Endra bertingkah.

Tapi sekarang gadis itu bahkan terlihat enggan berdiri terlalu dekat dengannya. Dan itu menyakitkan.

Sangat menyakitkan.

"Nayla, dengerin gue sekali aja—"

"Endra!"

Suara seorang cewek memotong ucapan mereka.

Nayla langsung menoleh.

Tamara berjalan mendekat dengan wajah tak suka.

Begitu melihat tangan Endra yang masih mencengkeram pergelangan Nayla, ekspresi Tamara langsung berubah.

"Ngapain lo pegangan sama dia?"

Nayla terkekeh kecil.

Nah.

Datang juga.

Endra langsung melepaskan tangan Nayla.

"Tam, jangan mulai."

"Gue mulai?" Tamara tertawa tak percaya.

Cewek itu menatap Nayla sinis dari atas sampai bawah.

"Lo tuh gak malu ya masih deket-deket Endra?"

Nayla memiringkan kepalanya pelan.

"Lucu. Padahal cowok lo yang nyamperin gue duluan."

"Nayla," desis Endra memperingatkan.

Namun Nayla sudah terlalu lelah untuk peduli.

Tamara mendekat beberapa langkah.

"Jauhin Endra karena lo gak pantes buat dia."

Nayla mengangguk kecil seolah mengerti.

"Terus kalau gue gak pantes, kenapa Endra masih ngejar gue?"

"Lo—!"

Tamara langsung mengangkat tangannya hendak menampar Nayla.

Namun dengan cepat Nayla menahan pergelangan tangan cewek itu. Tatapannya berubah dingin.

"Jangan main tangan."

Tamara mencoba menarik tangannya kasar.

"Lepasin gue!"

Nayla justru tersenyum tipis.

"Santai kak, makeup lo bisa rusak kalau marah-marah terus."

Beberapa siswa yang menonton mulai berbisik menahan tawa.

Wajah Tamimara memerah menahan malu.

"Lo nyolot banget sih!"

Nayla mendorong pelan tangan Tamara menjauh.

"Karena gue capek digangguin terus sama lo."

Endra langsung berdiri ditengah mereka sebelum situasi semakin memburuk.

"Udah cukup!"

Suara cowok itu cukup keras membuat lorong mendadak hening. Nayla menatap Endra beberapa detik. Lalu tertawa kecil hambar.

"Tenang aja. Gue gak minat rebutan cowok."

Kalimat itu membuat dada Endra terasa ditusuk.

Nayla melangkah mundur.

"Permisi. Gue mau ke kantin."

Namun baru dua langkah berjalan, Tamara kembali berbicara.

"Lo masih berharap Endra balik sama lo ya?"

Langkah Nayla terhenti. Perlahan gadis itu menoleh. Dan entah kenapa senyum diwajahnya terlihat jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Iya," jawab Nayla jujur.

Endra langsung membeku.

Tamara pun terlihat tak menyangka Nayla akan menjawab sejujur itu.

Nayla mengangkat bahunya pelan.

"Gue masih sayang sama dia. Puas?"

Lorong kembali sunyi.

Nayla tertawa kecil sambil menggeleng.

"Tapi gue juga masih punya harga diri."

Mata Nayla perlahan beralih pada Endra.

"Dan gue gak mau terus jadi pilihan kedua buat orang yang gue sayang."

Deg.

Kalimat itu menghantam Endra telak.

Nayla mengusap sudut matanya cepat sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan mereka.

Endra hanya bisa diam menatap punggung gadis itu menjauh.

Sampai akhirnya Jevano yang baru datang menghampiri sambil mengernyit heran.

"Apaan lagi sih ini?"

Tak ada yang menjawab.

Endra masih menatap arah kepergian Nayla.

Dadanya terasa sesak.

Sementara Tamara menggigit bibirnya kesal.

Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan Endra berubah saat Nayla pergi.

Dan itu membuatnya takut.

Karena sejauh apa pun ia mencoba mendekat pada Endra posisi Nayla dihati cowok itu ternyata belum benar-benar tergantikan.

---

Sementara itu Nayla berjalan cepat menuju kantin.

Langkahnya buru-buru.

Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang yang menatapnya penasaran.

Begitu sampai dikantin, Nayla langsung memilih meja paling pojok yang sepi.

Gadis itu menjatuhkan tubuhnya dikursi lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Bodoh.

Kenapa tadi dia harus jujur?

Kenapa Nayla malah mengakui kalau dirinya masih mencintai Aiden?

"Astaga Nayla... malu-maluin banget sih lo," gumamnya frustasi.

Namun semakin Nayla mencoba menyangkal, semakin ia sadar kalau perasaannya memang belum hilang.

Dan mungkin itu yang paling menyakitkan.

Mencintai seseorang yang perlahan menjauh.

Nayla menarik napas panjang lalu mendongak.

Matanya langsung bertemu dengan sosok yang berdiri beberapa meter didepannya.

Endra.

Cowok itu ternyata mengikuti Nayla sampai kantin.

Nayla langsung berdiri.

"Lo ngapain lagi?"

Endra mendekat perlahan.

Kali ini tanpa Tamara.

Tanpa teman-temannya.

Hanya mereka berdua.

"Gue gak suka lihat lo nangis," ucap Endra pelan.

Nayla terkekeh kecil.

"Terus gue harus ketawa gitu?"

Endra terdiam.

Nayla memalingkan wajahnya.

"Lo tau gak sih sekarang tiap lihat lo sama dia rasanya kayak ada yang nusuk dada gue pelan-pelan?"

Suara Nayla mulai melemah.

"Capek, Dra."

Endra menatap Nayla penuh rasa bersalah.

"Gue gak pernah niat bikin lo sesakit ini."

"Tapi lo tetep bikin."

Nayla menunduk.

"Dan itu gak mengubah apa pun."

Hening kembali menyelimuti mereka.

Sampai akhirnya Endra duduk dikursi depan Nayla.

Cowok itu terlihat lelah.

Sama lelahnya dengan Nayla.

"Kalau gue bilang gue masih sayang sama lo?"

Nayla langsung tertawa kecil.

"Jangan bikin gue makin bingung."

"Gue serius."

Nayla menatap Endra beberapa detik.

Dan lagi-lagi ia membenci dirinya sendiri karena hatinya masih berdebar saat mendengar pengakuan itu.

"Kalau masih sayang kenapa lo biarin semuanya jadi kayak sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Endra kehilangan jawaban.

Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu.

Mungkin karena ego.

Mungkin karena tekanan.

Atau mungkin karena ia terlalu takut melawan semuanya sampai akhirnya justru kehilangan Nayla.

Cowok itu menatap meja lama sebelum akhirnya berkata lirih.

"Gue takut."

Nayla mengernyit.

"Takut apa?"

Endra tersenyum hambar.

"Takut gak bisa bahagiain lo."

Jawaban itu membuat Nayla membeku.

Endra mengusap wajahnya pelan.

"Semua orang selalu bilang hubungan kita gak akan berhasil. Bokap gue benci sama lo. Tamimara terus ditekenin ke gue. Dan makin hari gue malah makin bikin hidup lo susah."

Nayla langsung menggeleng.

"Jadi solusi lo nyakitin gue?"

"Bukan itu maksud gue."

"Tapi itu yang terjadi."

Endra kembali diam.

Nayla menghela napas panjang.

"Lo tau gak sih yang gue butuhin cuma satu?"

Endr mendongak.

"Apa?"

"Lo percaya sama gue."

Kalimat sederhana itu justru terasa paling berat.

Nayla tersenyum tipis.

"Tapi setiap ada masalah, lo malah lebih percaya omongan orang lain dibanding gue."

Endra menunduk.

Tak bisa membantah.

Karena memang benar.

Dan kesalahan itu perlahan menghancurkan hubungan mereka.

Nayla berdiri pelan.

"Udah ya Dra. Gue capek bahas ini terus."

"Nayla—"

"Please."

Nada suara Nayla melemah.

"Gue pengen sendiri dulu."

Endr ikut berdiri.

Cowok itu terlihat ingin menahan Nayla lagi.

Namun kali ini ia mengurungkan niatnya.

Karena untuk pertama kalinya Endra sadar Nayla benar-benar lelah. Dan mungkin dirinya memang penyebab terbesar kelelahan itu. Nayla berjalan meninggalkan kantin tanpa menoleh lagi.

Sementara Endra tetap berdiri ditempatnya. Menatap punggung gadis yang masih sangat ia cintai. Namun perlahan semakin jauh darinya.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!