NovelToon NovelToon
I Love You, Cinta

I Love You, Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Beda Usia / Trauma masa lalu
Popularitas:85.4k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?

===

“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”

“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”

“Masa?”

“Mahameru pantang ingkar janji.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Akumulasi Amarah

Bab 34

 

Brak

Tas bekal yang dipegang Cinta terlepas dari tangannya mendarat di lantai basement. Salah satu tutup kotak bekal terbuka dengan isi berantakan. Lembaran dokumen pun berserakan.

Cinta dengan langkah gontai menuju pintu ke arah lobby. Isi kepalanya blank, entah harus melakukan apa setelah ini. Kompensasi dan tanggung jawab, penyelidikan dihentikan karena hal itu. Ponselnya bergetar, dengan malas Cinta mengeluarkan dari kantongnya.

 

...081387xxxxx...

 

Hidupmu selama ini ditanggung keluarga Arkatama. Makan, minum, kesehatan dan pendidikan termasuk pekerjaan. Menggantikan tugas orang tuamu. Anggap saja barter dengan nyawa mereka, Radit dan Sukma, orangtuamu

Pesan itu menambah kelukaan, rasanya mencekik leher bahkan untuk menelan saliv4 pun sulit. Entah siapa yang menyapa saat ia men-scan id card di gate, fokusnya hanya 1, menemui siapapun keluarga Arkatama. Rupanya dunia sedang berpihak dengannya, dari arah lift khusus terlihat salah satu orang yang ingin ditemui.

Langit, pria nomor satu di Yess TV yang selalu tampil karismatik dan berwibawa di depan layar, berjalan bersama beberapa orang.

Cinta berdiri di jalur pria itu, menunggu dengan tubuh yang terasa dingin dan gemetar hebat. Di tengah mondar-mandirnya karyawan dan tamu di lobby utama Yess TV, sosok Cinta pagi ini terlihat rapuh menjadi satu-satunya pusat perhatian Langit.

“Minggir, mbak!” ucap salah satu pria.

Cinta tidak berpindah sesenti pun. Ia menepis tangan yang menghalaunya agar menyingkir. Ditengah tatapan kosongnya, ia menatap langsung ke mata pria paling berpengaruh di stasiun televisi itu.

“Mbak!”

“Jangan, saya kenal dia,” ujar Langit. Ada yang tidak beres pikirnya.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, Cinta mendekat.

"Pak Langit..." panggil Cinta, suaranya serak dan bergetar. "Tolong jawab jujur... Apa Bapak tahu siapa saya sebenarnya? Apa saya ada di sini karena ada hubungan dengan kejadian di masa lalu?” Suaranya bergetar, setiap kata yang keluar terdengar begitu menuntut pertanggungjawaban. “Apa Eru tahu siapa saya?”

Mendengar cecaran pertanyaan itu, raut wajah Langit seketika menegang. Dari mana Cinta tahu, padahal ia sudah merencanakan waktu untuk menjelaskan hal itu. Menatap sekitar, berharap tidak ada yang mengabadikan moment itu meski sempat menjadi perhatian dari lalu lalang karyawan yang lewat.

“Cinta, sebaiknya kita bicarakan di tempat lain.” Langit melirik jam tangannya. “Bisa tunggu di ruangan saya?” Langit menoleh pada sekretarisnya. “Antar dia ke ruangan.

“Baik pak. Mari ikut saya, mbak!”

Cinta menggeleng. “Saya sudah bisa simpulkan jawabannya.” Ia pun berlalu dari sana, menuju lift.

“Cinta,” panggil Langit.

“Pak,” tegur sang asisten. Akan jadi berita murahan kalau Langit mengejar salah satu karyawati di lobby yang penampilannya menyedihkan seolah sedang meminta pertanggung jawaban.

***

Umar datang lalu menggeleng sambil berdecak. “Untung gue nggak emosi selama jadi atasan lo. Nggak pernah ngump4t juga. Masa depan gue bisa suram kalau itu pernah gue lakuin,” seru Umar lalu menuju kubikelnya.

Eru tersenyum. “ya nggak gitu juga, bang.”

Asep menghampiri, bersedekap dan menatap bergantian Umar dan Eru. “Ada masalah apa sih? Heran, kayak mau ada huru hara aja.”

“Eru pindah ke marketing mulai hari ini,” sahut Umar bersandar pada kursi dan pandangan ke layar komputer yang masih gelap karena belum dihidupkan.

“Hah, udahan di produksi? Wah, Cinta gimana? Lo rela Restu ngejar dia lagi?”

“Cinta tetap milik saya, kang.”

“Heran gue, magang kok pindah-pindah ya. Perasaan gue dulu nggak gitu,” cetus Asep.

“Lo sama Eru beda-lah,” sahut Umar.

Eru membaca pesan di ponselnya, sambil menimpali obrolan.

 

...Om Langit...

Ru, Cinta sudah tahu

Dia barusan ke atas

Deg

Wajah Eru mendadak pucat dan ia panik bagaimana harus bersikap. Cinta sudah tahu. Lalu bagaimana dia harus menyambutnya.

“Kenapa lo?” tanya Asep saat Eru mengusap wajah. “Ganteng-ganteng ceng0.”

Pintu ruangan  terbuka dengan keras. Asep dan Eru yang memang berdiri di depan kubikel Umar menoleh, Cinta masuk seperti badai. Wajahnya pucat pasi. tapi matanya menyala oleh perpaduan antara amarah dan rasa sakit yang luar biasa.

Tatapan Eru mencelos begitu melihat kondisi Cinta. Belum sempat Eru bersuara, Cinta sudah berlari ke arahnya lalu mendorong Eru.

“Eh, Ta. Kenapa lo?”

Tubuh Eru tetap berdiri kokoh, seolah tidak terpengaruh dengan dorongan tangan Cinta.

"Sejak kapan?" pekik Cinta. Suaranya melengking tinggi dipenuhi rasa frustasi yang teramat sangat. "Sejak kapan kamu tahu semuanya?”

Eru terpaku, lidahnya mendadak kelu melihat air mata Cinta yang mengalir deras.

"Sejak kapan kamu tahu kalau keluargaku korban malam itu?! Korban yang selamat dari kecelakaan yang dibuat oleh papi kamu! Aku ini anak dari orang yang meninggal karena ulah keluarga kamu, Eru!" teriak Cinta lagi, dadanya naik turun dengan nafas yang memburu.

“Ta, lo kenapa?” tanya Asep. Umar bahkan sudah ikut beranjak menatap sekeliling ruangan. Beruntung tidak ada yang menyaksikan momen itu. Ada dua orang lainnya, tapi sibuk di kubikel bahkan mengenakan headset.

Cinta memukul dad4 Eru dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia mengamuk, menumpahkan segala rasa sakit, trauma, dan pengkhianatan yang selama ini bersarang di dadanya. Eru sama sekali tidak menghindar atau membalas. Ia membiarkan tubuhnya dipukul, matanya sendiri mulai berkaca-kaca menatap kehancuran gadis yang teramat dicintainya.

“Ada masalah apa? Bisa kita selesaikan di luar,” seru Umar.

Asep akan melerai, tapi Eru menggeleng menolak itu.

"Cinta! Istighfar, Tenang, Ta!" ucap Umar mulai ikutan panik.

"Jangan kayak gini, lo bisa pingsan," ujar Asep.

Cinta masih tidak terkendali meraung dan memukul. Eru tidak kuat melihat kondisi Cinta, langsung meraih tubuh itu ke dalam pelukan.

“Maaf Ta, aku pun baru tahu. Sumpah!”

Cinta mendorong tubuh Eru sekuat tenaganya, pelukan terlerai. Eru sempat terdorong, punggungnya mengenai kaca pembatas kubikel Umar dan ….

Sret

Tepat di bawah siku kanannya tergores pecahan kaca. Dar4h mengalir ke sela jari dan menetes ke lantai.

“Ta, cukup!” Asep menahan tubuh Cinta.

Umar mengangkat lengan Eru.  “Kita ke klinik, ini sobek.”

“Nggak pa-pa, bang. Cuma luka kecil.”

“Kecil dari mana, ini harus dijahit. Dar4h lo mengalir terus.”

Eru menatap Cinta. “Ta, maafin aku juga keluargaku. Sungguh, aku nggak tahu. Mami pun tahu belum lama."

Cinta yang semula dipenuhi amarah, matanya menangkap warna merah yang mengalir di lengan Eru, pupil matanya mengecil seketika. Dunia di sekitar Cinta mendadak berhenti berputar. Suara panik Umar dan napas berat Asep serta permohonan maaf Eru mendadak lenyap.  Warna merah di lengan Eru bertransformasi menjadi aliran darah yang mengalir dari dahi ayahnya. Menjadi noda merah yang membasahi gaun dan wajah cantik bunda.

“Tidak … Bunda, ayah,” lirih Cinta.

Eru yang sadar kalau Cinta masuk ke dalam traumanya, melangkah maju dengan panik. “Ta … aku di sini, Ta.”

“Aaaaa.”

CInta merem4s rambutnya lalu berbalik dan berlari.

“Cinta!”

 

 

 

 

1
Rahmawati
nah kan karma dibayar tunai
Iccha Risa
waduh seremm bet kecelakaannya, mungkin ini pantas diterima atas kejahatan pak Akbar terhadap adik dan keponakanny
'Nchie
jangan langsung dibikin mati g seru😀biar akbar rasakan penderitaan banyak harta tapi tidak bisa menikmati nya..bikin dia tidak bisa bangun tapi dia sadar🤭
Wahyuni Abuzar
mam phooos kaan..di bayar kontan jalur karma 🤣🤣
mmh nengmuti
jgn sampai mati ke enakan mending d buat cacat parah aja biar merasakan sengsara
Setyowati Setyowati
karma di bayar instan kalau ini
Hiro Yoshi
horeeeeee kualat koe barrr🤭
Turwaty suketi
Modiaaaar kau akbar👍
juwita
jgn di buat mati dl Thor biar dia merasakan sakit klo lgsg mati ke enakan buat si akbar
Novi Tasa
sukurrr mati koe
Shee_👚
biar kamu merasakan apa yang di rasakan artha dan eru. kalau perlu kamu langsung mati di tempat😤
Shee_👚: bener, biar dia nangis darah sekalian
total 4 replies
Shee_👚
sukurrrrr.
akhirnya kau merasakan sakitnya di hantam truk, harusnya tadi tronton sekalian biar langsung end🤣🤣
Shee_👚
pulang dan berharap dapet pelukan hangat dari keluarga, serta mendukung perbuatan jahatmu?? dasar gila😏
mereka masih waras dan bisa berpikir yang bener.

tutup mulut mbah mu😤
Shee_👚
ternyata ini semua hanya karena akbar merasa iri karena opa lebih sayang artha😏
Shee_👚
langit tau niat modus mu itu Kris, jadi di mengantisipasi sebelum terjadi badai kedua🤭
gina altira
bikin lumpuh aja lah Akbar biar kapok
Shee_👚
modus aja nemenin mami pada hal mau nikung cinta dari eru🤣🤣
Shee_👚
kamu gak tau aja kang kalau eru yang lebih berkuasa 🤣
Shee_👚
sirik bilang bos🤣
Leli Suryani
karma dibayar tunai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!