Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Fitnah Keji Yang Berhembus Di Asrama Putri
Fitnah keji yang berhembus di asrama putri mendadak beralih rupa menjadi selebaran maklumat hitam yang kini dicengkeram erat oleh wanita misterius berpakaian serba gelap di depan selasar ruko Hana. Lembaran kertas itu berisi tuduhan palsu mengenai pelanggaran moral kesucian agama yang sengaja direkayasa untuk meruntuhkan nama baik sang menantu kota dalam semalam. Kehadiran Azzam yang berdiri membela Hana justru dijadikan bahan validasi oleh sang pembawa pesan batil untuk memprovokasi massa perumahan sekitar agar melakukan tindakan boikot massal. Kilatan amarah keduniawian menyelimuti wajah sang wanita bercadar itu saat ia melempar lembaran maklumat ke lantai marmer dengan gerakan yang sangat provokatif.
"Surat keputusan dari dewan sesepuh telah keluar, menyatakan bahwa toko konveksi ini didirikan menggunakan aliran dana haram pembobolan kas yayasan," teriak wanita misterius itu dengan suara melengking yang membelah keheningan pagi.
Azzam langsung memasang badan, memungut selebaran kotor tersebut lalu meremasnya dengan telapak tangan kanan yang masih dibalut perban rembesan darah. "Demi tuhan yang menguasai jiwa saya, ini adalah kebohongan terstruktur yang dirancang oleh kelompok ayah Sarah untuk memfitnah istri sah saya."
"Kalian berdua hanya pandai bersilat lidah setelah merampok dokumen sertifikat tanah wakaf milik umat surau," balas wanita misterius itu sambil menunjuk hidung Azzam dengan telunjuknya yang bergetar.
"Kejujuran batin kami tidak butuh pengakuan dari lisan penuh kedengkian seperti kalian," tegas Hana dengan suara lantang seraya melangkah maju menghalangi intimidasi fisik tersebut.
Ketegasan sikap Hana membuat kerumunan warga komplek pertokoan terdiam sejenak, terombang ambing antara rasa penasaran sosial dan fakta wibawa sang pengusaha wanita. Wanita misterius itu menyadari posisinya mulai tidak menguntungkan, segera membalikkan tubuh lalu menghilang dengan cepat di balik gang sempit komplek perumahan warga. Namun, kerusakan reputasi digital sudah terlanjur berjalan masif karena beberapa ibu perumahan terlanjur menyiarkan konfrontasi dramatis tersebut secara langsung lewat gawai mereka. Tekanan psikologis ini menjadi ujian suspense baru yang memaksa stabilitas emosi sang menantu kota berada pada ambang batas maksimal ketahanan jiwanya.
Sementara itu, di dalam area suci asrama putri kompleks pesantren kampung halaman, situasi pasca kepergian Azzam berjalan sangat mencekam laksana bara dalam sekam. Sarah memanfaatkan kekosongan kekuasaan dengan mengumpulkan seluruh santriwati senior di aula utama untuk menyebarkan narasi bohong mengenai penyebab ambruknya kesehatan fisik Umi Kalsum. Ia menuduh hilangnya dokumen sertifikat berharga dari brankas utama adalah akibat dari guna guna ilmu hitam yang dikirim oleh Hana dari wilayah perkotaan. Sifat oportunis Sarah kian merajalela sewaktu ia membagikan jilbab baru gratis bernuansa hijau kepada para pengikutnya sebagai simbol pergantian kekuasaan domestik pondok.
"Kita harus membersihkan lingkungan surau ini dari pengaruh buruk wanita kota yang telah meracuni pikiran Ustaz Azzam," seru Sarah dari atas mimbar kayu jati jepara.
Seorang santriwati senior berkacamata tampak ragu, mengangkat tangannya perlahan di tengah kerumunan massa yang mulai terhasut emosi religius palsu. "Apakah ada bukti autentik yang menunjukkan bahwa Neng Hana benar benar terlibat dalam pencurian dokumen berharga milik yayasan tersebut, Kak Sarah?"
"Sikap pembangkangan Hana selama ini adalah bukti nyata bahwa dia tidak pernah sudi tunduk pada syariat leluhur kita," jawab Sarah dengan sorot mata dingin yang menusuk kalbu.
"Jangan biarkan kesucian pondok ini runtuh oleh ego satu orang wanita asing yang tidak beradab," tambah ayah Sarah yang tiba tiba muncul dari balik tirai pembatas asrama.
Kehadiran ayah Sarah memperjelas arah konspirasi politik makro yang sedang berjalan menggerogoti independensi lembaga pendidikan dakwah tersebut sejak malam pleno kemarin. Para santriwati yang lugu akhirnya terpaksa mengangguk patuh di bawah tekanan doktrin senioritas adat yang sengaja digubah sedemikian rupa untuk menciptakan kebencian kolektif. Rencana halus pengambilalihan aset yayasan kini berjalan mulus tanpa ada satu pun pengurus asrama putra yang berani bersuara pasca mundurnya Azzam. Di bawah kendali modal finansial keluarga Sarah, aturan kesopanan surau mulai bergeser menjadi alat pemuasan ambisi keduniawian yang sangat batil.
Kembali ke ruko pertokoan modern kota besar, Azzam sedang duduk bersimpuh di lantai ruang tamu atas dengan kepala tertunduk dalam menghadapi dinginnya sikap Hana. Ia meletakkan seluruh berkas draf pengunduran diri dan sertifikat tanah wakaf milik almarhum ayah mertuanya di atas meja kayu yang beralaskan kain brokat. Air mata penyesalan menetes perlahan melewati pipi sang pendidik agama, menyadari bahwa kelalaian masa lalunya dalam bersikap tegas telah membawa badai fitnah keji bagi wanita yang ia cintai. Hana memandangi dokumen berharga tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan, merasakan kepedihan mendalam sekaligus kelegaan samar yang berkelindan di rongga dada.
"Saya telah melepaskan seluruh ikatan duniawi pesantren demi mengembalikan hak waris keluargamu yang selama ini ditahan secara batil, Hana," lirih Azzam dengan nada suara yang teramat serak penuh kepasrahan.
Hana menghela napas panjang, mengusap air mata yang sempat membasahi pelupuk matanya sebelum membalikkan muka ke arah jendela kaca yang menghadap ke jalan raya. "Pengorbananmu ini sangat mulia, Mas, namun tuduhan kelalaian besar yang menyudutkan saya di luar sana tidak akan hilang hanya dengan selembar kertas sertifikat ini."
"Saya yang akan menghadapi langsung dewan hukum sesepuh untuk membersihkan nama baikmu dari fitnah asrama putri itu," janji Azzam seraya mencoba memegang ujung gaun panjang istrinya.
"Nama baik yang telah hancur di dunia digital tidak bisa pulih hanya dengan untaian kata maaf di atas mimbar surau," jawab Hana dengan senyuman pahit yang sarat akan ketegasan prinsip.
Penolakan halus dari Hana menunjukkan bahwa luka batin akibat sindiran Umi Kalsum selama berbulan bulan tidak akan bisa sembuh secara instan dalam waktu satu hari. Azzam merasakan kepedihan batin yang teramat sangat, menyadari bahwa benteng pertahanan sabar istrinya kini telah berubah menjadi tembok keangkuhan positif yang sangat kokoh. Di luar ruko, Neti tampak sibuk menerima puluhan panggilan telepon dari para distributor kain yang mulai mempertanyakan kredibilitas hukum usaha konveksi milik Hana pasca viralnya video konfrontasi pagi tadi. Krisis ekonomi babak baru kini benar benar mengintai kelangsungan bisnis mandiri yang sedang dirintis dari puing puing air mata tersebut.
Malam kembali merayap membawa kegelapan yang kian mencekam bagi masa depan pernikahan sepasang suami istri yang sedang terkatung katung tanpa kepastian ini. Azzam memilih untuk menetap di selasar luar ruko, enggan menggunakan fasilitas kamar atas demi menjaga batasan adab kesopanan karena status hubungan mereka yang belum sepenuhnya pulih. Ia menghabiskan waktu malamnya dengan bersujud di atas sajadah tipis, melantunkan bait bait doa keselamatan bagi kesembuhan fisik ibundanya sekaligus kekuatan iman menghadapi konspirasi ayah Sarah. Kesunyian kota besar menjadi saksi bisu transformasi batin seorang pemimpin pesantren yang kini harus merasakan dinginnya lantai pertokoan demi memperjuangkan cinta sucinya.
Fajar menyembul membawa ketegangan baru saat sebuah mobil sedan hitam mewah milik pengurus pusat asosiasi perancang busana muslimah mendadak berhenti di depan gerbang ruko. Sesosok pria paruh baya berpakaian resmi melangkah turun dengan membawa map draf pembatalan sepihak keikutsertaan Hana dalam pameran tingkat nasional esok hari. Langkah hukum pembatalan ini diambil akibat desakan masif surat fatwa sosial palsu yang dikirimkan oleh kelompok pengikut Sarah dari kampung halaman pesantren melalui surat elektronik resmi. Hana yang baru saja turun dari anak tangga marmer terkejut luar biasa menyaksikan draf keputusan pembatalan yang disodorkan langsung di hadapan para karyawannya.
Aura kepasrahan instan sempat melintas di wajah ayu Hana, namun ia segera menguasai diri dengan melirik tajam ke arah lembaran draf keputusan pembatalan tersebut.