Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. pertemuan yang tidak di sangka.
Situasi saat ini makin terlihat mencekam. “Tante Melinda, maafkan saya, sebenarnya~”
Nayyara terlihat merasa bersalah.
“Ya ampun, Nak! Sebenarnya Davka ini anak yang Tante bilang akan Tante perkenalkan padamu nanti malam, Nayyara. Wah, ternyata kalian sudah kenal duluan!”
Davka melotot makin lebar. Sungguh tak disangka, gadis yang hendak dijodohkan ibunya itu ternyata Nayyara. Kenapa bisa bebetulan begini? Dia menatap ibunya dengan bingung, sedangkan Bu Melinda langsung membalas tatapan itu dengan pandangan tajam.
“Terus, apa sebenarnya yang sedang kalian berdua lakukan di sini? Kamu datang ke rumah sakit bersama Nayyara, ada apa, Davka?”
“Ehm, mommy… tadi Nayyara~…” gugup Davka.
“Aduh, lihat deh mbak, akhirnya kamu bertemu calon menantu! Belum sempat Davka di perkenalkan, tapi ternyata kalian sudah ada hubungan lebih dulu,” tambah Bu Anna sambil menggeleng tak percaya.
“Tuan muda, maaf saya terlambat…”
Dino yang baru saja tergopoh‑gopoh masuk ke lobi rumah sakit hendak menjemput tuannya, ikut tertegun dan melongo melihat pemandangan di depannya.
“Jawab mommy mu, Davka! Mbak Nayyara ini pacarmu, atau bukan?!” Davka makin bingung harus menjelaskan apa. Jika dia bilang Nayyara itu istrinya, ibunya bisa langsung pingsan di tempat atau paling parah menghajarnya.
“Ehm… mom anu~… sebenarnya aku…”
Davka masih kebingungan, sedangkan Bu Melinda langsung melirik tajam ke arah Dino yang kini menggaruk kepala dengan wajah panik.
“Kalian semua ikut aku! Jelaskan padaku, siapa sebenarnya mbak Nayyara ada hubungan apa sama kamu? dan kenapa tadi kalian berpegangan tangan dengan sangat mesra?!” bentak Bu Melinda hingga Davka menegang ketakutan.
“Dino, awas saja kalau kamu membantu anakku berbohong! Aku benar‑benar akan memecatmu! Davka berani sekali kamu punya hubungan dengan gadis lagi, tapi tidak bilang sama mommy mu?!”
Nayyara menelan ludah dengan jantung berdebar kencang. Bu Melinda mengira dia pacar Davka, padahal wanita yang sempat mengobrol akrab dan bilang punya anak laki‑laki bandel yang ingin dijodohkan itu ternyata ibunya Davka. Benar kata orang, dunia ini sungguh sempit.
“Ayo, kalian semua ikut aku ke kafe sana!”
Davka melirik Dino, yang seolah memberi kode bertanya apa yang harus dikatakan pada Nyonya Besar. Namun Davka hanya menggeleng pasrah, rasanya tak mungkin lagi menyembunyikan rahasia ini dari ibunya.
***
"Argh mommy ampun, aduh sakit!”
Jeritan Davka itu keluar setelah Dino, Denny, dan Bi Sumi menceritakan semuanya dan mengaku bersalah pada orang tua dari tuan mudanya. Sekarang Davka menjadi sasaran kemarahan ibunya dengan jeweran keras di telinganya.
“Biarkan saja! Supaya kamu kapok! Dasar anak bandel! Berani sekali kamu menikah lagi dan tidak memberitahu ibumu!” Bu Melinda masih menarik telinga anak kesayangannya itu dengan keras, meski Davka sudah berteriak kesakitan, seolah telinganya hampir terlepas.
Irene yang melihat Abangnya seperti itu sampai bergidik geli.
“Dasar tidak tahu aturan! Apakah aku pernah mengajarkan kamu begini? Kamu menikahi Nayyara yang polos dan lugu itu dengan perjanjian kontrak hanya untuk hamil anakmu? Apa kamu ingin ibumu ini kena serangan jantung?!”
Bu Melinda masih mencak‑mencak sambil menjewer telinga Davka. Pak Alex Tedja yang berdiri di sampingnya bahkan tak berani melerai, hanya menggeleng kasihan melihat putranya, Irene berdiri lalu membujuk ibunya untuk berhenti.
"Sudah mom kasian Abang nih" Bujuk Irene
"Mommy ampun, aku kapok!" Jerit Davka tak tahan lagi.
“Melinda, sudah… hentikan! Davka bisa terluka parah! Ingat, dia itu anak kita!”
Akhirnya Pak Alex menengahi karena tak tega. Davka segera mengusap telinganya yang terasa perih, lalu terisak saat melihat ibunya tiba‑tiba lemas duduk di sofa sambil menangis.
"Mommy maafkan aku…” Davka ikut terisak dan berjongkok di depan ibunya, memohon ampun sambil memeluk lutut wanita itu.
“Apa kami mengajarkanmu menikah dengan perjanjian seperti itu? Ya Allah, Davka… perbuatan seperti itu bisa mendatangkan murka Tuhan dan melanggar hukum! Kamu membeli gadis dari klub malam lalu memaksanya menikah dan mengandung anakmu? Apa kamu sadar jika hal ini diketahui dan dilaporkan ke polisi, kamu bisa dipenjara karena perdagangan manusia dan eksploitasi?!” nasihat Pak Alex dengan nada tegas, Bu Melinda menangis terisak di peluk oleh Irene.
Bu Melinda yang masih menangis lalu memukul pelan dahi Davka berkali‑kali.
"Mom sudah berhenti, kasihan Abang!"
"Ren, tolongin aku!" Melas Davka pada adiknya.
“Seharusnya kamu menikahi Nayyara secara resmi! Kenapa malah pakai perjanjian segala, hah?! Ibu kesal sekali melihat kelakuanmu yang nekat ini!” Omel Bu Melinda.
“Anak sembrono! Jika sampai masalah ini bocor ke luar, nama baik keluarga kita hancur dan nilai saham perusahaan bisa langsung jatuh bebas!” tambah Pak Alex lagi geleng-geleng kesal.
Davka hanya menggeleng penuh sesal mendengar omelan ayahnya.
“Daddy aku terpaksa! Saat itu aku tak punya pilihan lain. Aku sering dituduh Selvia mandul, sedangkan aku sangat ingin punya keturunan. Aku takut jika menikah secara terang‑terangan, Selvia pasti akan marah besar. Jadi aku terpaksa, apalagi mommy dan Daddy selalu membahas ingin segera punya cucu…”
Mendengar itu, Bu Melinda berhenti memukul dahi Davka. Dia justru menarik kepala putra sulungnya dan memeluknya erat sambil menangis lebih keras. Dia baru sadar selama ini Davka hidup di bawah tekanan keinginan mereka.
“Ini juga salah kami~… maafkan kami, Nak…” Isak Bu Melinda.
“Sudahlah, sekarang semuanya sudah terjadi. Lebih baik kita perbaiki kesalahan ini. Mulai sekarang, kamu harus menikahi Nayyara secara resmi agar status anakmu jelas. Tak ada alasan lagi untuk menolak!” tegas Pak Alex.
“Apa maksud Daddy?”
“Dasar bodoh! Kamu harus mengurus pernikahan resmi dan dokumen yang sah sebelum kandungannya makin membesar. Dia harus tercatat sebagai istrimu. Apa kamu mau anakmu nanti tak punya status yang jelas karena pernikahanmu sebelumnya hanya diucapkan secara siri saja?” sela Bu Melinda.
Daddy juga tak mau calon cucuku punya identitas yang tidak sah. Apa kamu rela dipenjara hanya karena memanfaatkan gadis polos seperti Nayyara?!” bentak Pak Alex kesal.
Namun Davka malah menggeleng tegas.
“Bayi itu tetap darah dagingku, dan pernikahan kami jelas sah menurut agama. Lagipula, aku dan Nayyara sudah membuat kesepakatan yang bermeterai dan tanpa paksaan apa pun.”
“Kamu benar‑benar tak tahu diri!” Pak Alex mengeram menahan emosi.
“Setelah Nayyara melahirkan nanti, dia sudah berjanji akan menyerahkan anak itu padaku. Aku akan menceraikannya, dan dia akan pergi jauh dari keluarga kita. Kami sudah punya perjanjian tertulis yang disegel dan punya kekuatan hukum,” lanjut Davka tenang.
Bu Melinda dan suaminya melongo mendengar penjelasan itu. Apalagi Irene yang memukul dahinya. Bu Melinda menoleh ke suaminya yang mengusap wajah tanda kesal dan kecewa.
Mendengar percakapan itu, Nayyara memberanikan diri melangkah mendekat.
“Tuan, Nyonya… permisi, bolehkah saya bicara juga?” Bu Melinda langsung berdiri dan menghampiri Nayyara, lalu memeluk gadis itu erat sambil meminta maaf. Rasanya hatinya perih mengetahui Nayyara diperlakukan seperti barang dagangan yang bisa dibeli dan dijual. Padahal Nayyara baru berusia 21 tahun, dan seharusnya pernikahan butuh izin wali yang sah, namun ibu angkat Nayyara tak mungkin memberikan restu.
“Maafkan kelakuan anakku, sungguh… Tante merasa sangat bersalah padamu, Nak,” ujar Bu Melinda sambil menangis.
“Sebenarnya, ini bukan sepenuhnya kesalahan bang Davka. Dia hanya ingin membahagiakan orang tuanya,” Nayyara menjelaskan dengan tenang. “Bahkan saya justru berterima kasih padanya. Bang Davka sudah menyelamatkan saya dari tempat itu. Jika saya masih tinggal di sana, mungkin nasib saya akan jauh lebih buruk daripada sekarang.”
Nayyara menunduk dan mengusap air matanya. Bu Melinda yang merasa iba terus memeluknya sambil menepuk bahunya lembut.