NovelToon NovelToon
My Fate

My Fate

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Tamat
Popularitas:418.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: chiccacaaa

Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.

Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.

Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.

Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))

ig: @chiccacaaa

tidak update setiap minggu ;))

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu- 34

"Harusnya kau itu sadar saat Zora mengucapkan 'Memang kau siapa?' itu berarti kau memang tidak ada di hatinya sedikitpun. Jadi aku harap kau renungkan perkataan Zora tadi" ucap pangeran Auriga sambil tersenyum mengejek, ia menepuk bahu pangeran Bagaskara pelan meskipun tepukan itu ditepis sebelum ia meninggalkan perpustakaan itu.

•••

Ini sudah beberapa bulan sejak Zora pindah ke masa kerajaan Wirastama. Ia sudah banyak mengetahui kebiasaan orang-orang pada zaman ini terlebih dengan urusan wanita. Zora sering diminta Ratu Anindita untuk merawat dirinya seperti menggunakan lulur, mandi menggunakan susu ataupun menggunakan air bunga mawar dan lain-lain yang tentunya dibantu oleh Ambar.

Hal yang paling membuat Zora merasa bingung adalah saat ia mendapat tamu bulanannya. Tidak ada pembalut atau tampon atau menstrual cup disini. Jika dibiarkan saja maka darahnya akan menetes kemana-mana. Ia lalu memanggil Ambar untuk membantunya mengatasi tamu bulanannya itu.

Ternyata mereka menggunakan kain berlapis-lapis kemudian ditaruh di bagian inti Zora dan ada bagian yang dikaitkan dengan kain bagian bawah yang digunakan oleh Zora. Jujur saja Zora sangat malu saat pertama kali Ambar membantunya memakaikan kain itu karena ia sama sekali tidak tau cara menali kedua kain yang berbeda fungsi itu tetapi untuk sekarang ia sudah bisa melakukannya sendiri karena ia merasa sangat tidak nyaman saat Ambar yang harus membantunya menggunakan kain itu.

Tak terasa sudah tiga minggu Zora mengajar ketiga murid jadi-jadiannya itu belajar bahasa. Pangeran Bagaskara semakin menunjukkan perhatiannya secara langsung kepada Zora. Ia bahkan sering meminta Zora untuk menemaninya berjalan-jalan atau berkeliling istana.

"Putri Zora, bisakah hari ini kau menemaniku berkeliling?" tanya pangeran Bagaskara.

Zora yang merasa penat dan bosan karena setiap hari pangeran Bagaskara terus menerus mengajaknya berkeliling berusaha menolak.

"Maaf, aku ingin beristirahat" ucapnya.

"Baiklah. Jika kau sudah selesai beristirahat kau bisa kan menemaniku" ucap pangeran Bagaskara sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Pangeran Bagaskara lebih baik jika hari ini putri Zora benar-benar beristirahat karena ia pasti lelah telah seminggu penuh mengajari kita untuk bisa lancar berbahasa Belanda" ucap pangeran Auriga karena ia melihat raut wajah tidak senang Zora saat pangeran Bagaskara mengucapkan kalimat terakhirnya.

"Hmm, baiklah. Tapi besok kau bisa kan menemaniku?" tanya pangeran Bagaskara lagi.

"Aku ingin bertemu dengan Ratu Anindita, Selir Agni dan putri Kirana besok. Sudah seminggu ini aku jarang ada waktu untuk bicara bersama mereka" ucap Zora menolak kembali ajakan pangeran Bagaskara.

Ratu Anindita sudah mulai menerima kehadiran selir Agni dalam hidupnya. Sebenarnya setelah ia pulang dari kuil waktu itu ia masih belum rela jika selir Agni sudah bisa menerima fasilitas yang sama dengan anggota kerajaan lainnya tetapi seiring berjalannya waktu juga Zora yang selalu menasehatinya, ia sudah bisa menerima kehadiran selir Agni di dalam hidupnya. Mereka bahkan sering menghabiskan waktu bersama sekarang jika putri Kirana ataupun Zora sedang sibuk.

Pangeran Bagaskara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sudah dua kali ia ditolak Zora tetapi ia tidak masalah. Masih ada hari-hari esok untuk mengenal Zora lebih dekat lagi.

"Aku permisi" ucap Zora kemudian ia pergi meninggalkan dua pangeran itu sedangkan Saka sudah pergi dari tadi karena ia ada urusan.

Pangeran Auriga juga ikut keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada pangeran Bagaskara. Sedangkan pangeran Bagaskara memilih kembali ke kamarnya lagi untuk istirahat toh menurutnya tidak ada gunanya ia berkeliling jika tidak ada Zora di sampingnya.

Zora merasa sangat lemas, perutnya terasa sangat sakit seperti diremas-remas sedangkan pinggangnya terasa dipatahkan. Ya, Zora kedatangan tamu bulanan pertamanya hari ini maka dari itu ia mengakhiri kelasnya lebih cepat daripada hari-hari sebelumnya.

Zora berjalan tertatih-tatih. Ambar tidak ada karena ia memang meminta agar Ambar tidak menunggunya di dekat perpustakaan saat ia sedang mengajar bahasa Belanda karena ia takut Ambar kelelahan menunggunya.

Perut Zora terasa semakin sakit, ia berjalan dengan bantuan tembok di sampingnya.

"Sakit banget gila" gumamnya.

Ia sudah merasa tidak kuat. Zora kemudian melihat sekeliling ternyata keadaan sedang sangat sepi. Ia kemudian memilih mendudukkan tubuhnya terlebih dulu sambil menunggu jika ada orang yang lewat karena ia benar-benar tidak kuat.

"Kau kenapa?" suara bass yang terdengar membuat Zora mendongak.

"Sakit" hanya itu yang ia ucapkan kepada pangeran Auriga sambil ia memegangi perutnya.

Pangeran Auriga segera menggendong Zora karena Zora yang terlihat kesakitan. Pangeran Auriga sudah mengikuti Zora daritadi karena ia merasa ada yang tidak beres dengan Zora. Ia mengakhiri jam pelajaran begitu cepat ditambah wajahnya yang mulai pucat saat ia meninggalkan perpustakaan tadi membuat pangeran Auriga memilih mengikuti Zora.

Zora yang terus merintih membuat pangeran Auriga mempercepat langkahnya menuju tempat khusus para tabib. Ia tidak ingin membuang waktu jika ia mengantarkan Zora ke kamarnya dan meminta orang untuk memanggilkan tabib hal itu hanya akan membuang-buang waktu.

"Sakit banget hiks hiks" ucap Zora sambil meremas perutnya, ia tidak pernah merasakan nyeri bulanan sampai seperti ini.

"Bersabarlah sebentar lagi kita sampai" ucap pangeran Auriga yang semakin mempercepat langkahnya.

Saat mulai memasuki tempat dimana para tabib berada ia langsung mendobrak pintu dan meletakkan Zora di tempat tidur yang ada disana.

"Cepat periksa putri Zora!" bentaknya secara tidak sadar kepada para tabib yang masih melongo di tempatnya.

Para tabib itu tersadar, mereka kemudian berlari masuk ke dalam untuk mengecek keadaan Zora.

"Dimana bagian tubuh putri yang sakit?" tanya seorang tabib.

Zora tidak menjawab, ia hanya terus mermas perutnya sambil menangis. Tabib itu mengerti, ia kemudian menekan perut Zora.

"Apakah putri sedang ada tamu bulanan?" tanya tabib itu lagi dan Zora hanya mengangguk lemah.

Tabib tadi kemudian melirik tabib lainnya. Ia kemudian meminta tabib itu untuk menyiapkan racikan ramuan yang bisa digunakan untuk meredakan nyeri perut Zora.

Pangeran Auriga kemudian masuk ke dalam. Ia melihat Zora yang wajahnya sudah memerah karena menangis sambil menahan sakit yang ia alami. Pangeran Auriga kemudian mendekat Zora dan mengelus rambutnya.

"Sakit" ucap Zora saat ia melihat pangeran Auriga, ia lalu menggenggam tangan pangeran Auriga dan meremasnya dengan kuat.

Remasan Zora sangat terasa di tangannya tetapi pangeran Auriga memilih diam dan terus tersenyum sambil tangannya yang lain masih mengelus kepala Zora.

Tak lama kemudian seorang tabib datang dengan nampan di tangannya. Ia kemudian mendekati Zora dan membantu Zora untuk meminum ramuan yang sudah ia racik tadi.

"Aku akan memindahkan posisinya agar bisa duduk terlebih dahulu" ucap pangeran Auriga yang langsung mengangkat punggung Zora agar ia bisa terduduk.

Setelah Zora duduk, pangeran Auriga malah merebut gelas yang akan diberikan tabib tadi kepada Zora. Ia membantu Zora untuk meminum ramuan yang akan membantunya meredakan nyeri di perutnya itu. Setelah memastikan ramuan itu benar-benar habis, pangeran Auriga lalu membaringkan tubuh Zora kembali.

"Dia kenapa?" tanyanya pada tabib di depannya.

"Putri Zora kedatangan tamu bulanannya" ucap tabib itu.

"Dimana tamunya? Aku tidak pernah melihat ia menerima seorang tamu, apakah tamu itu datang tiba-tiba? Apakah ia membahayakan putri Zora? Aku akan memenggalnya" ucap pangeran Auriga sambil menggertakkan giginya.

Tabib yang ditanya oleh pangeran Auriga menjadi salah tingkah. Pangeran Auriga memang tidak mengetahui masalah tamu bulanan yang dimaksud. Tabib tadi kemudian menjelaskan secara perlahan kepada pangeran Auriga apa yang sebenarnya terjadi kepada Zora.

Entah kenapa wajah pangeran Auriga memerah setelah mendengarkan penuturan tabib tadi, entah karena ia merasa malu karena mengucapkan kata-katanya tadi atau malu karena ia sudah mengetahui hal yang tidak ia tau dari wanita yang menurutnya agak aneh itu.

"Apakah selalu seperti ini?" tanya pangeran Auriga sambil menatap Zora yang sudah terlelap itu.

"Hal tersebut tidak menentu pangeran. Itu semua tergantung kondisi masing-masing orang. Ada orang yang selalu mengalaminya ada juga yang hanya beberapa kali mengalaminya bahkan ada yang tidak pernah merasakan sakit saat mendapat tamu bulanannya tetapi sakit ini biasanya diderita saat hari pertama wanita mengalami datang bulan" jawab tabib itu lagi.

Zora mulai mengerjapkan matanya. Ia melihat sekelilingnya ternyata ia sudah berada di kamarnya. Seingatnya ia tadi berada di tempat para tabib. Ia lalu melihat seorang pria yang sedang membaca secarik kertas sedang duduk di kursi yang berada di dalam kamarnya.

"Pangeran" panggilnya.

Pangeran Auriga menoleh, ia kemudian berdiri dan mendekat ke arah Zora.

"Apa yang kau butuhkan?" tanyanya sedangkan Zora menggeleng.

"Apa masih sakit?" tanyanya lagi.

"Sudah tidak sesakit tadi" ucap Zora dengan pelan.

"Aku akan memanggil Ambar dan aku sekalian pamit ingin kembali ke kamarku" ucap pangeran Auriga karena ia takut membuat Zora tidak nyaman.

"Pangeran" panggil Zora sambil menggenggam tangan pangeran Auriga yang sudah membalikkan tubuhnya itu.

"Ya?" jawab pangeran Auriga tanpa berbalik.

"Terimakasih" ucap Zora.

Pangeran Auriga kemudian membalik tubuhnya.

"Sama-sama. Jangan lupa minum ramuan itu" ucapnya kemudian ia membalikkan tubuhnya lagi untuk memanggil Ambar.

Setelah pangeran Auriga keluar datanglah Ambar dengan gayanya yang sedikit berlari.

"Ndoro butuh apa?" tanya Ambar.

"Aku tidak membutuhkan apapun. Bolehkah aku bertanya kenapa aku bisa ada disini?" tanya Zora.

"Pangeran Auriga yang membawa Ndoro saat Ndoro masih tidur tadi. Katanya kasihan kalau Ndoro disana terlalu lama karena kasurnya disana tidak senyaman kasur milik Ndoro" ucap Ambar sambil sedikit terkekeh.

"Ada-ada saja ya orang itu" ucap Zora sambil sedikit tertawa saat membalas ucapan Ambar. Zora sebenarnya merasa bingung karena pangeran Auriga tidak sehangat dulu lagi, ia kembali seperti semula menjadi dingin namun Zora segera menepis pikirannya itu karena sekarang ia ingin hidup tanpa memikirkan laki-laki terlebih dahulu tetapi syarat dan ketentuan berlaku, pikirnya.

•••

jangan lupa vote komen rate dan like

1
missyouuu
baca novel ini sambil ngebayangin drama love destiny. mirip tapi beda, pinter deh otornya.
•Rifa_Fizka
Hallo Thor ijin promosi ya😃
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"

Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.

Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
Cicik Aisyah
suka sama author satu ini, novelnya beda
Bayu Fian
tamat kah,,, 🤔
Bayu Fian
pangeran wis ora sabaran🤣🤣
Bayu Fian
absen, thor
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
Nur rahmayana
untuk sementara saya kasih like aja dulu ya Thor....
Na Ys
LOE GUE.. ELO GUE 😄😄😄😄😄😄😄
Sri Mulyaningsih
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Sri Mulyaningsih
semangat Thor👍🏻
Sri Mulyaningsih
suka karakter zora
Sri Mulyaningsih
😄
Sri Mulyaningsih
👍🏻
Sri Mulyaningsih
mantap
Sri Mulyaningsih
semangat.....bagus ceritanya
momy ida
sungguh ceritaaaa novellll yg amazing.... krennnnn pake bgt......😍😍😍thanks authorrr zeyeng udah suguhin kita dengan ceritaaaa novel yg sekerennnn ini😘😘😘suksesss selalu buat lo authoorrrrrr zeyengggggggg🌹🌹🌹
Erni Hidayat
Dari sekian banyak novel kerajaan yang dibaca... Ini paling berkesan.. Karena diangkat dari dalam negri...

I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘
Dehar Tati
ya abiis,ngak jdi dong,lihat kisah zora zaman sekarang,lanjuuuuut lh thoooor
Nadiyyar
kapal goyang apasiii woy ngakakkk
azfaa
berasa di gantung😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!