Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Hukuman
"Kamu lupa sama apa yang Mama bilang?"
"Enggak lupa, Ma." Sahut Rayyan tanpa memutus pandangan dari layar ponsel. "Om Rara belum balas pesan yang aku kirim. Ngga kayak biasanya."
Nayra terdiam sambil terus menatap putranya yang baru saja di nasehati dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, tapi sekarang lihatlah, anak itu kembali seperti biasanya seolah-olah tidak pernah berbuat salah.
Sangat jauh berbeda dengan Nayra yang masih penurut diusia yang sama dengan Rayyan, ia bahkan tak berani keluar kamar lagi setelah membuat kesalahan yang tidak di sukai orang tuanya.
"Tapi mungkin aja Om Rara tidur atau–"
"Berdoa saja semoga Om Raramu itu masih mau ketemu kamu."
"Ngga mungkinlah, Om Rara orangnya ngga kayak gitu." Rayyan memandang Nayra sesaat dengan tidak terima, membuat Nayra ingin marah lagi karna putranya malah melanjutkan main ponsel alih-alih merapikan baju-baju di lemari yang berantakan sebagai hukuman di rumah karna sudah membuat masalah di sekolah.
"Rayyan, Mama masih marah sama kamu ya!". Nayra mengingatkan.
"Iya, Ma, tapi tunggu dulu. Ini Om Rara masih belum balas chat aku."
"Dia ngga akan balas," ungkap Nayra karna sebelumnya ia mengirim pesan agar Gatra mengabaikan segala bujukan putranya. "Omnya benar-benar kecewa dan marah karna tindakan kamu."
"Berapa kali lagi harus di bilang kalau aku ngga salah, Ma! Aku ngga ikutan becandain tentang sakit asmanya Raffa!" Rayyan tidak terima membela diri. "Aku ikutan ketawa karna Raffa juga menanggapinya dengan santai, tapi ngga tahunya Gama sensitif dan emosian datangi sekolah kita. Tiba-tiba aja ambil tong yang isinya sampah terus keluarin ke atas kepala teman-temanku jadi wajar dong aku ngga terima!"
"Harusnya kamu lapor ke Guru bukannya dorong anak itu sampai masalahnya jadi besar."
"Aku mana ingat, Ma. Saat itu kondisinya tiba-tiba aja." Rayyan menunduk memeriksa ponselnya yang berdering lalu mendesah kecewa karna bukan pesan dari Gatra. "Mungkin Om Rara lagi sibuk jadi ngga buka chat aku."
"Om Raramu itu lagi ngga kerja, jadi ngga mungkin sibuk. Apa lagi sampai ngga ada waktu cuma buat balas chat orang, Mama aja yang setiap waktu ada aja kerjaannya pasti balas chat orang lain, tapi ini?" Nayra tidak mengalihkan pandangan dari putranya yang terlihat mulai khawatir, tapi masih berpura-pura tidak terpengaruh.
Nayra walaupun tahu kalau putranya tidak sepenuhnya salah, tapi belum ingin menyurutkan ketegasannya. Sesekali anaknya harus di ancam supaya mengerti akan konsekuensi lalu tak akan mengulanginya lagi. Padahal baru saja di marahi, tapi Rayyan seolah tidak memiliki rasa bersalah yang membuat Nayra sedikit merasa khawatir.
Di zaman secanggih ini, ada banyak penyakit orang yang berhubungan dengan mental dan luka masa lalu. Ia takut kalau anaknya tumbuh seperti itu.
"Om Rara ngga kayak gitu, Rayyan yakin dia sedang ngapain gitu sampai ngga balas chatnya." Rayyan masih kukuh dengan keyakinannya sarta tak ambil pusing lagi kenapa Gatra belum membalasnya seperti biasanya. Anak itu memilih untuk bangkit dari duduknya lalu melangkah ke kamar untuk melakukan hukumannya.
Rayyan menghela nafas kasar karna lemarinya sangat berantakan. Salahnya yang beberapa hari ini tak hati-hati mengambil pakaian hingga menjadi seperti ini dan sialnya ia malah mendapatkan hukuman untuk merapikannya.
Sebenarnya tugas ini di lakukan oleh sang Mama, tapi karna selama beberapa hari ini super sibuk jadi belum sempat untuk merapikannya.
"Ngga mungkin selesai dalam satu hari," keluhnya. Rayyan pertama kali mengeluarkan baju dari bagian atas lemari untuk di letakkan di atas ranjangnya lalu melipat semuanya dengan rapi dan meletakkan di tempat semula. Hal yang sama di lakukannya di bagian lainnya dengan di sertai keluhannya.
"Hukumannya cuma rapiin baju kamu, tapi udah kayak di hukum bersihin seluruh unit aja." Kata Nayra terdengar dari sofa ruang tengah yang ada di luar kamar Rayyan.
"Mama salah dengar," sahutnya tak mendapat balasan dari Nayra. "Ngga kebayang jadi Mama, padahal capek kerja terus harus rapiin lemari Rayyan, masakin makanan enak buat Rayyan, bersihin apartemen sampai cuci... eh, enggak, kalau itu di loundry."
"Kamu ngerti gimana capeknya kerjaan Mama, tapi kamu malah bikin masalah yang bikin Mama tambah capek."
Rayyan hendak membalas akhirnya mengurungkannya karna pasti akan kalah lalu fokus merapikan isi lemarinya. Tentang Gama, adik Raffa, yang kata kedua sahabatnya terkenal sensitif, berlebihan dan sok berani, mereka tak pernah menduga kalau Gama nekat datang ke sekolah untuk membela Raffa yang tak pernah tersinggung dengan candaan mereka.
Mengingat Gama membuat Rayyan berjanji akan bertemu secepatnya. Dulu sewaktu mereka masih ada di satu sekolah yang sama, ia sempat akrab dengan anak itu bahkan mereka sering bermain bola bersama di perumahan Oma dan Opanya.
Tiba-tiba ia jadi merindukan kedua orang tua dari Papanya itu, sudah bertahun-tahun berlalu sejak Papa meninggal mereka tidak bertemu, mereka apa kabar ya? Rayyan tak ingin lupa meninggalkan kamar, mendekati sang Mama.
"Ma, Oma ngga pernah nanya kabarku?" Tanya Rayyan tiba-tiba saja, membuat Nayra menghentikan gerakan membalas beberapa komentar netizen di sosial medianya. "Udah lama banget, apa mereka ngga kangen aku ya?"
"Sering, tapi Mama lupa bilangnya." Balas Nayra setelah mematikan ponsel. "Kenapa tiba-tiba nanya mereka? Kamu kangen mau ketemu mereka? Lupa ya sejak hari itu mereka pindah ke luar negeri?"
Rayyan menepuk keningnya pelan. "Aku lupa, kangen dikit, Ma."
Nayra menangguk percaya saja. "Tapi kenapa tiba-tiba keinget mereka?"
"Karna dulu sebenarnya aku satu sekolah sama Gama, Ma. Terus dia juga sering main sama kita karna rumahnya searah sama sekolah di dekat perumahan tempat kita dulu tinggal." Jelas Rayyan.
"Berarti satu SD sama Septian dan Alvin juga ya? Tapi kelihatannya dia ngga suka banget sama dua sahabat kamu itu."
"Septian dan Alvin emang ngga bisa di jaga mulutnya jadi cocoklah kalau ketemu Gama yang sensitif, dikit-dikit marah. Dulu sering tuh saat main bola bareng, Gama yang paling banyak emosinya karna dua sahabatku yang juga suka mancing-mancing dia."
"Kalau kamu?"
"Aku mah diam aja, Ma. Nonton mereka yang..." Rayyan buru-buru berlari masuk ke dalam kamarnya melihat Nayra yang mengangkat bantal sofa.
"Rayyan, kamu–"
"Aku cuma becanda, Ma. Lagian, saat itu semua orang ketawa sambil nonton mereka jadi aku juga melakukan yang sama." Rayyan membela diri sambil tertawa-tawa dengan memegang perutnya lalu duduk di kursi belajarnya.
"Ngga ada yang lucu jadi berhenti ketawa!"
Rayyan menurut apa lagi tanpa di duga sang Mama sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan melipat kedua tangan di dada. Anak itu menatap kakinya tanpa berani mengalihkan pandangan.
"Astaga, kamu tahu ngga, Kebiasaan buruk kayak gitu bakal kebawa sampai dewasa? Mama ngga suka kamu kayak gitu ya, jadi mulai sekarang jangan kayak gitu lagi!" Tegas Nayra. Mungkin bagi sebagian orang dirinya terlalu berlebihan, sensitif atau apapun, tapi Nayra bicara sesuai yang pernah di alaminya saat masih tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Maaf, Ma. Rayyan ngga akan kayak gitu lagi." Ungkapnya penuh rasa bersalah lalu menoleh pada Nayra yang ternyata sudah melangkah meninggalkan kamarnya.
Rayyan menghela nafas kasar, tak menyalahkan Mamanya yang marah, tapi percuma saja kalau membujuk karna pasti berakhir sia-sia.
"Aku lanjutin..." Rayyan tak melanjutkan perkataannya karna matanya tanpa sengaja melirik kalender di atas meja belajarnya. "Besok tanggal lima belas, berarti tanggal buat ketemu Papa."