Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Dua hari setelah kejadian di restoran, Tama Wiratama mengirim pesan permintaan maaf.
Bukan kepada Salsa.
Kepada manajer Salsa.
Isinya pendek, kaku, dan jelas ditulis setelah seseorang yang lebih pintar menyuruhnya.
`Mohon maaf jika acara kemarin membuat tidak nyaman. Tidak ada maksud memaksa. Semoga kerja sama tetap berjalan baik.`
Salsa mengirim tangkapan layar ke Naura.
`Kak, ini termasuk minta maaf atau menyelamatkan diri?`
Naura membalas:
`Dua-duanya. Simpan. Jangan hapus.`
Rani ikut membalas di grup kecil yang baru dibuat malam itu:
`Namanya minta maaf paket hemat. Tapi lumayan, dia takut.`
Salsa:
`Takut sama Kak Naura atau Pak Arkan?`
Rani:
`Kombo. Kakakmu pakai data, Pak Arkan pakai aura pembekuan.`
Naura membaca pesan itu di dapur rumah Arkan dan menggeleng.
Arkan yang sedang duduk di meja makan menatapnya.
"Apa?"
"Rani memberi Bapak julukan."
"Apa?"
Naura ragu.
"Aura pembekuan."
Arkan diam.
"Tidak buruk."
Naura tertawa.
Ia sedang menyiapkan makan malam lebih awal karena Arkan akan menerima tamu bisnis di rumah. Bukan makan formal besar, hanya diskusi dengan dua partner lama. Kontrak Naura tidak mewajibkan melayani tamu bisnis, tetapi ia setuju karena tugasnya jelas dan dibayar tambahan lewat PrimaCare.
Batas dulu.
Baru bantuan.
Pukul enam, tamu datang. Dua laki-laki usia empat puluhan, satu perempuan bernama Mira yang memimpin perusahaan health-tech. Mereka membahas investasi, layanan rumah sakit, dan teknologi pemantauan pasien.
Naura tidak ikut bicara. Ia hanya menyajikan teh, makanan ringan, dan makan malam.
Namun saat ia mendengar Mira berkata, "Masalah terbesar home care di Indonesia itu bukan demand, tapi trust dan kualitas caregiver," tangannya berhenti sepersekian detik.
Arkan melihatnya.
Beberapa menit kemudian, saat Naura membawa piring buah, Arkan berkata kepada Mira, "Naura sedang menyusun konsep layanan household management dan home care profesional."
Naura hampir menjatuhkan garpu kecil.
Mira langsung menoleh dengan tertarik.
"Oh ya?"
Naura menatap Arkan.
Arkan menatap balik seolah berkata, kamu harus mulai bicara.
Mira tersenyum ramah. "Boleh cerita sedikit? Saya selalu tertarik dengan perspektif lapangan."
Naura meletakkan piring buah.
Ia bisa menolak.
Tapi ini kesempatan.
Dan ia tidak ingin terus menyimpan idenya seperti barang rapuh.
"Masih sangat awal, Bu. Saya melihat banyak keluarga membutuhkan bantuan untuk orang tua atau rumah, tapi mereka tidak tahu cara menilai pekerja yang aman dan kompeten. Di sisi lain, pekerja sering tidak punya pelatihan, kontrak, atau perlindungan yang jelas."
Mira mengangguk.
"Benar."
"Saya ingin membangun layanan yang bukan sekadar menyalurkan orang. Ada asesmen kebutuhan keluarga, pelatihan pekerja, laporan berkala, batas tugas, dan mekanisme komplain yang tidak langsung menyalahkan pekerja."
Salah satu partner laki-laki bertanya, "Tapi model begitu cost-nya tinggi. Pasar mau bayar?"
Naura menjawab tenang, "Tidak semua pasar. Target awal bukan mass market. Keluarga urban menengah atas yang sudah terbiasa membayar sekolah, asuransi, dan layanan kesehatan privat akan membayar jika trust-nya terbukti."
Mira tersenyum lebih lebar.
"Kamu pernah kerja di consulting?"
"Corporate finance."
"Pantas."
Arkan menatap Naura tanpa menyembunyikan rasa puas.
Naura pura-pura tidak melihat.
Percakapan itu hanya berlangsung sepuluh menit, tetapi cukup membuat sesuatu di dalam dirinya menyala.
Setelah tamu pulang, Arkan berdiri di ruang makan.
"Kamu bagus tadi."
Naura menata gelas. "Pak Arkan menjebak saya."
"Mendorong."
"Tanpa izin."
"Kamu marah?"
Naura menatapnya.
Ia ingin marah, sedikit. Tetapi bagian lain dirinya tahu Arkan tidak sedang mempermalukannya. Ia membuka pintu dan membiarkan Naura memilih berjalan atau tidak.
"Saya belum siap."
"Kamu lebih siap daripada yang kamu kira."
"Itu tidak berarti Bapak boleh tiba-tiba memperkenalkan ide saya."
Naura berhenti menata gelas. Ia tidak ingin terdengar tidak tahu terima kasih, tetapi ia juga tidak mau rasa terima kasih membuat batasnya kabur. Dulu terlalu banyak orang membuka pintu untuknya sambil diam-diam menagih kendali setelahnya.
"Saya senang diberi kesempatan," katanya lebih pelan. "Tapi saya ingin memilih kapan saya bicara."
Arkan terdiam.
Lalu ia mengangguk.
"Kamu benar. Maaf."
Naura membeku.
Permintaan maaf itu datang cepat. Tidak berbelit. Tidak mencari alasan.
Ia tidak terbiasa.
Biasanya jika ia protes, orang akan berkata ia sensitif. Tidak tahu diri. Tidak bersyukur.
Arkan justru meminta maaf.
"Saya..." Naura menunduk. "Baik. Lain kali beri tahu dulu."
"Lain kali saya tanya dulu."
"Terima kasih."
Hening.
Arkan mengambil beberapa piring.
"Saya bantu."
"Pak, tamu sudah pulang. Bapak bisa istirahat."
"Saya bisa membawa piring sekarang."
"Nilai Bapak naik menjadi tujuh setengah."
"Masih tujuh setengah?"
"Karena pernah membakar roti."
Arkan menerima itu dengan wajah pasrah.
Malam itu, ketika Naura pulang, pikirannya tidak lagi hanya tentang keluarga, Bima, atau Salsa.
Ia memikirkan bisnisnya.
Mira bahkan meminta kontaknya melalui Arkan. Bukan untuk investasi, hanya diskusi awal. Tetapi bagi Naura, itu seperti tanda kecil bahwa idenya tidak mustahil.
Di rumah utama, Bu Marini belum tidur.
"Kamu terlihat senang."
Naura menyentuh pipinya.
"Kelihatan?"
"Sangat."
Naura duduk di sebelahnya dan menceritakan singkat tentang tamu Arkan.
Bu Marini mendengar dengan mata berbinar.
"Bagus. Kamu harus punya sesuatu milikmu sendiri."
"Saya masih jauh, Bu."
"Semua yang besar dulu juga jauh."
Naura tersenyum.
Setelah naik ke kamar, ia membuka kalender.
Lebaran tinggal dua minggu.
Ia sudah menunda terlalu lama.
Ia harus pulang ke Kudus.
Bukan ke rumah Harto dan Sulastri.
Ke rumah Pakde Darma dan Bude Sari.
Ia mengirim pesan kepada Salsa:
`Kamu bisa pulang Kudus sebelum Lebaran? Aku mau ke rumah Pakde.`
Balasan Salsa datang beberapa menit kemudian:
`Bisa, Kak. Aku atur jadwal. Tapi kita jangan ke rumah mereka, ya?`
Naura:
`Tidak. Kalau mereka mau bicara, mereka datang baik-baik ke rumah Pakde.`
Salsa:
`Kalau mereka nggak baik-baik?`
Naura melihat dokumen somasi di folder ponselnya.
Lalu mengingat Arkan berkata, `Biasakan ulang.`
Ia mengetik:
`Maka kita tidak perlu menerima mereka.`
Setelah mengirim pesan, Naura merasa aneh.
Takut masih ada.
Tapi di bawah takut itu, ada keberanian yang mulai tumbuh.
Ponsel berbunyi lagi.
Bukan Salsa.
Arkan.
`Mira meminta kontakmu. Saya belum beri. Boleh?`
Naura menatap pesan itu.
Ia tersenyum.
Dia bertanya dulu.
`Boleh, Pak. Terima kasih sudah bertanya.`
Balasan Arkan:
`Saya belajar.`
Naura memegang ponsel dekat dada.
Di luar, malam Jakarta penuh suara kendaraan jauh.
Di dalam kamar kecilnya, Naura membuka catatan bisnis dan menulis satu kalimat baru:
`Aku tidak harus siap sempurna untuk mulai.`
Lalu, setelah diam sebentar, ia menambahkan:
`Aku juga tidak harus pulang sebagai anak yang takut.`
jgn setengah 2 ya