Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Apa?! Althan! Kamu gila, ya!" Vivi kembali berusaha mendorong pria itu dengan sekuat tenaga, meskipun percuma, karena jelas kekuatan fisik Althan jauh di atasnya.
Pria itu sekarang malah menahan kedua lengan Vivi, kemudian kembali menyatukan bibir mereka berdua dengan paksa. Vivi berusaha mengelak, tapi Althan dengan cepat memaksa Vivi membuka mulutnya, lantas tanpa ampun mulai memberondongnya dengan ciuman ciuman panas. Lama kelamaan Vivi pun lelah dan tidak lagi memberontak.
Merasa Vivi mulai pasrah, Althan semakin semangat menaikkan intensitas ciuman mereka.
Dengan sekali gerakan, pria itu mengangkat tubuh Vivi ke atas pangkuannya, lalu kembali menghujani wanita yang ia cintai itu dengan ciuman. Bahkan kali bibirnya sudah mulai menjamah leher Vivi.
"Al...than..." Vivi mendesah. Perbuatan pria itu membuatnya kewalahan. Di sisi lain ia ingin mendorongnya menjauh, tapi di sudut hatinya yang lain, tak bohong kalau dia merindukan pelukan itu, sentuhan-sentuhan itu.
Baru ketika Althan sudah mulai memasukkan tangannya ke dalam kemeja yang ia pakai, Vivi langsung merasa tersadar.
"Althan, stop!"
Plakkk!
Tangannya dengan cepat menampar pipi Althan.
Wajah Althan langsung menoleh paksa ke samping, dan Vivi buru-buru turun dari pangkuan pria itu. Ia berusaha keluar dari mobil, tapi Althan masih menguncinya.
"Buka, Althan! Aku ingin keluar!"
Althan terdiam beberapa saat. Tamparan barusan seolah menyadarkannya yang sudah kesetanan dari tadi.
Astaga, apa yang sudah aku lakukan?
"Buka sekarang, atau aku teriak!" ancam Vivi.
Althan pun membuka kuncinya, dan Vivi segera keluar dari sana dengan terburu-buru. Kemudian Althan melihat gadis itu berlari ke tepi jalan dan menyetop taksi.
"Hah..." Pria itu hanya bisa menjatuhkan keningnya di atas kemudi. "Apa kamu sudah gila, Althan? Sekarang kamu malah hanya akan membuatnya semakin tidak percaya padamu,"
***
Sementara itu, Vivi sudah berada di dalam taksi menuju Farida Salon.
Selama perjalanan itu, Vivi terus menutup mulutnya. Ia sendiri tak percaya kalau dirinya barusan telah berciuman dengan Althan, sesuatu hal yang tak pernah ia bayangkan akan kembali terjadi.
"Astaga, apa aku kembali terlena olehnya? Tidak boleh Vivi, kau tidak boleh seperti ini," Vivi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Harusnya aku bertekad melepaskannya, kenapa aku malah...ah..."
Vivi menggigit bibirnya. Terasa sedikit perih di sana. Sepertinya Althan tadi tak sengaja menggigitnya karena ia terus memberontak.
Vivi mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas dan mematut wajahnya sendiri. Alangkah terkejutnya ia saat melihat bahwa lipstik yang dipakainya pagi tadi sebelum berangkat sudah pudar, bahkan hampir belepotan keluar. Buru-buru ia membetulkan riasannya sebelum sampai ke salon tempatnya bekerja.
Sesampainya di salon, Vivi sudah disambut oleh Farida, sang bos. Karyawan lain yang melihat kedatangan Vivi tentu merasa heran. Karena memang tidak ada yang diberitahu kalau Vivi akan kembali bekerja di sana kecuali Farida tentunya.
"Loh, mbak, kok balik ke sini? Gimana sama Althan Alaric?" tanya para karyawan.
"Oh, iya, Pak Althan sudah nggak membutuhkan aku lagi, jadi tentu saja aku harus kembali kesini," jawab Vivi.
"Wah, sayang banget mbak. Padahal karir Mbak sama Althan bakalan bagus loh. Emangnya kenapa mbak kok sampe dipecat?"
"Ya nggak papa sih," Vivi menggaruk tengkuknya bingung. "Dia memang mau ganti orang aja,"
"Mbak, coba rekomendasikan aku deh. Aku juga mau dong kerja sama Althan Alaric. Gimana sih rasanya mbak kerja sama artis ganteng terkenal?"
"Eng, itu...anu..." Vivi jadi kebingungan dengan pertanyaan pertanyaan random yang dilontarkan mereka. Untung saja, tak berselang lama, Farida muncul.
"Ehem, ehem, ada apa ya kumpul kumpul?"
Para karyawan sontak bubar masing-masing.
Vivi langsung menghela napas lega. "Makasih mbak," bisiknya pada Farida. Farida hanya mengangkat jempolnya sekilas.
Memang, suatu keberuntungan bagi Vivi bisa mengenal seorang Farida.
Lima tahun lalu, setelah Vivi memutuskan untuk meninggalkan Althan, ia pun pergi ke luar kota.
Ia tak punya tujuan, karena memang selama hidupnya Vivi tak pernah punya keluarga. Sejak bayi, dirinya ditinggalkan di panti asuhan dan setelah usianya delapan belas tahun, ia pun merantau ke ibukota. Saat itulah pertemuannya dengan Althan.
Lalu, setelah meninggalkan Althan, Vivi jadi kebingungan harus pergi kemana. Tempat yang asing, uang pas pasan, dan dalam keadaan hamil pula.
Sungguh sial nasib Vivi kala itu. Seolah semua penderitaan itu tak cukup, dirinya malah kena jambret. Alhasil tasnya yang berisi pakaian, makanan dan sedikit uang itu pun hilang seketika.
Di saat itulah, Vivi bertemu dengan Farida.
Wanita cantik itu sedang mengendarai mobilnya saat melihat Vivi berteriak sambil mengejar jambret. Tapi karena langkahnya yang lambat, apa daya Vivi tidak berhasil menangkapnya dan malah terjatuh.
Farida dengan tulus mengulurkan tangan untuk membantu. Ia memberikan tempat tinggal, makanan dan bahkan menawarkan pekerjaan. Sungguh sebuah anugerah yang tak terkira bagi Vivi.
Apalagi, saat Vivi akhirnya mengatakan dengan jujur bahwa ia hamil dan dirinya belum menikah, Farida sama sekali tak berkomentar. Padahal awalnya Vivi takut Farida akan seperti orang lain yang akan mencerca dan menyalahkannya, tapi Farida berbeda. Untuk itulah sampai saat ini Vivi masih sangat berterimakasih padanya. Farida bahkan menyuruh Mikaila memanggilnya Ibu, karena Farida tidak punya suami dan anak.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Farida saat mereka sudah berada jauh dari jangkauan karyawan lain. "Aku kemarin nggak sempat tanya kenapa kamu dipecat oleh Althan. Tapi, tidak ada masalah besar, kan?"
Vivi menggelengkan kepala. "Nggak ada kok, mbak. Semuanya aman,"
"Syukurlah kalau begitu," Farida menganggukkan kepala. "Eh, sudah jam segini, kamu nggak mau jemput Mikaila?"
"Oh iya, Astaga, aku lupa," Vivi mengecek jam tangannya. "Kalau gitu aku pergi dulu ya Mbak,"
"Iya, Hati-hati, nggak usah buru-buru,"
"Iya mbak,"
Vivi pun melangkah keluar dari salon, tapi langkahnya seketika terhenti saat melihat mobil yang tak asing. Lalu dari dalam sana, tampak Mikaila melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
Vivi langsung mendesah berat. "Astaga, kenapa kamu lagi?" keluhnya saat melihat Althan yang berada di balik kemudi.
"Hai Mama," Mikaila menyambutnya sambil tersenyum.
"Hai sayang," Vivi balas tersenyum. "Kamu kok nggak nungguin Mama?"
"Soalnya Mama lama, terus hari ini Rika nggak datang karena sakit, terus ada Om Althan yang jemput. Jadi, Mikaila ikut Om Althan deh. Kenapa, Ma? Nggak boleh, ya?" Mikaila bertanya dengan mata berkaca-kaca. Ia jadi sedikit takut, apa mamanya akan marah seperti tadi pagi?
"Ah, boleh kok sayang," Vivi menyadari raut wajah Mikaila yang terlihat takut, langsung berusaha menenangkannya. "Mama yang salah, maafkan Mama ya.. Oh ya, tadi kamu bilang Rika sakit? Apa kita ke rumah sakit saja ya? Tapi Mama masih harus kerja.."
"Kamu kerjalah dulu, hari ini aku nggak ada jadwal, jadi bisa aja Mikaila jalan-jalan. Nanti kalau kamu sudah selesai, aku jemput. Sekalian aku mau minta maaf dengan mereka karena kejadian waktu itu," balas Althan kemudian.
Vivi tampak ragu dengan ide Althan. Tapi melihat Mikaila yang terlihat nyaman dengan pria itu membuat hatinya sedikit luluh.
Baiklah, untuk sementara saja. Sebelum mereka dipisahkan lagi, biarkan mereka menghabiskan waktu bersama dulu.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi, jangan membawa dia terlalu jauh. Lalu, jangan kasih dia ice cream, dia akan batuk nanti,"
"Oke, siap bos!" Althan tampak gembira setelah mendengar persetujuan Vivi. "Mikaila, kamu sudah siap jalan-jalan sama Oom?"
"Siap Om!" Mikaila menjawab dengan gembira.
"Okey, lets goooo!"
Mobil Althan pun melaju meninggalkan Vivi.
Vivi yang ditinggalkan oleh mereka hanya bisa mematung beberapa saat. Melihat Mikaila yang begitu bahagia di dekat Althan membuatnya merasa bersalah.
Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak mau menjadi beban untuk kesuksesan Althan.
"Maaf..." bisiknya lemah.
semoga aj althan atau Roni tau kelakuan Selina ,,
yg sengaja bikin vivi pergi waktu itu ,,
Vivi² itu selina si ular kadut, dia mengeruk keuntungan banyak dari althan jadi artis. harusnya kamu gak usah mau di ajak ngomong sama selina pergi dan abaikan
rasanya pengin aku guyur aja mukanya selina sama air got😤