Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pekerjaan Double
"Jangan mendekat!" Seru si pria sambil mengayunkan pisau ke arah Kalandra.
"Bang! Awas!" Seru Petugas PLN dengan mata terbelalak. Jantungnya berdegub kencang saat melihat Kalandra hampir terkena sabetan pisau.
"Astaghfirullah!" Kalandra pun tak kalah kagetnya. Untung ia bisa menghindari sabetan pisau yang hampir mengenai lengannya.
"Wah ini, mau di tolong malah ngelunjak." Gerutu Kalandra.
Pria di depannya itu, masih terus mengayunkan pisau ke arahnya. Sementara orang - orang di bawah mulai resah karena perlawanan dari si Pelaku yang hendak di selamatkan.
Namun, hal itu tak berlangsung lama. Si Pelaku tiba - tiba saja mematung dengan tubuh yang bergetar. Wajahnya terlihat ketakutan saat melihat ke arah Kalandra.
"Ampuun! Ampuun!" Serunya ketakutan.
"Loh.. Loh, dia kenapa?" Tanya Petugas PLN yang bersama Kalandra. Tak hanya Petugas PLN, Kalandra pun juga bingung mengapa si Pelaku tiba - tiba berteriak ketakutan.
"Apa jangan - jangan dia melihat Raja?" Batin Kalandra. Ia pun menoleh ke belakang, tempat si Pelaku menatap. Namun, ia tak melihat apapun di belakangnya.
"Maklumi saja, namanya juga sedang di bawah pengaruh narkotika." Kata kalandra pada Petugas PLN.
Kesempatan itu tentu langsung di manfaatkan oleh Kalandra untuk membekuk si Pelaku. Ia kemudian merampas pisau dari tangan Pelaku dan di bantu oleh Pertugas PLN, mereka mengikat tangan si Pelaku dan membawanya turun. Akhirnya, setelah cukup lama berada di atas, mereka berhasil mengevakuasi Pelaku dengan selamat.
"Ah, nyusahin aja nih orang. Kalo mau mati, langsung aja lompat. Jangan nyusahin orang satu kota. Segala ngelawan pake piso juga lagi." Gerutu Petugas PLN sambil menggetok kepala si Pelaku karena merasa gemas.
Kalandra sendiri hanya bisa terkekeh geli melihat kekesalan dari Petugas PLN. Meskipun ia juga merasa kesal, tapi omelan juga jitakan dari Petugas PLN itu sudah cukup mewakili rasa kesalnya.
"Kal! Kal! Kamu gak apa - apa?" Tanya Oji dengan wajah khawatir.
"Aman, gak apa - apa. Alhamdulillah." Jawab Kalandra sambil mengangkat tangannya. Seolah mengerti jika Oji hendak memeriksa tubuhnya.
"Alhamdulillah." Lirih Oji dengan lega.
"Emang gila ya, orang satu itu. Rusak udahan otaknya. Kenapa gak kamu jorokin aja tadi, Kal. Biar dia terjun bebas." Omel Oji sambil menunjuk pelaku yang sudah di amankan Polisi.
"Emang kalo kamu yang di posisiku, bakal jorokin Pelaku sampe terjun bebas?" Tanya Kalandra yang membuat Oji terkekeh.
"Yang penting semuanya selamat." Jawab Kalandra yang juga nampak lega.
Ia kemudian melepaskan peralatan dan membereskan semua peralatan itu bersama Oji. Namun, ternyata tugasnya belum berhenti sampai di situ.
Saat hendak kembali ke Markas, mereka tiba - tiba di telfon dan di beri kabar mengenai kebakaran di salah satu perumahan elit yang ada di kota itu.
"Kita ke lokasi sekarang!" Titah Kalandra begitu mengetahui alamat perumahan.
Wajahnya terlihat gusar dan khawatir, tak seperti biasanya. Biasanya Kalandra cukup tenang saat di beri kabar mengenai kebakaran.
"Kenapa, Kal? Kamu tau rumah siapa?" Tanya Oji.
"Enggak, tapi ini ada di sekitar rumah Naina." Jawab Kalandra.
Tentu ia khawatir jikalau rumah yang terbakar itu ada di sebelah rumah Naina dan api bisa merembet ke rumah atau toko milik orang tua Kekasihnya.
"Coba kamu telfon deh, Kal." Kata Oji.
Kalandra pun kembali meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Naina. Tak butuh waktu lama, Kekasihnya itu langsung menjawab panggilan telfon dari Kalandra.
"Assalamualaikum, Bang." Sapa Naina ketika panggilan telfon terhubung.
"Waalaikumsalam, Na. Na, kamu dimana?" Tanya Kalandra.
"Aku masih di perjalanan mau pulang." Jawab Naina.
"Abang udah selesai tugasnya? Abang baik - baik aja, kan?" Tanya Naina.
"Iya, Abang baik - baik aja. Abang masih di jalan, mau ke Perumahanmu. Ada rumah terbakar di sana." Kata Kalandra.
"Hah? Serius, Bang? Rumah siapa?" Tanya Naina.
"Gak tau, Na." Kata Kalandra yang kemudian memberi tau alamat rumah yang terbakar.
"Ini masih satu komplek sama kamu, kan?" Tanya Kalandra.
"Iya, Bang! Itu rumah tante Ani. Rumah yang warna hijau itu, Bang, di belakang rumahku." Kata Naina yang juga terdengar panik.
"Tante Ani sama keluarganya gimana, Bang?" Tanya Naina kemudian.
"Abang juga belum tau, Na." Jawab Kalandra.
"Yasudah, ini sebentar lagi Abang sampai. Abang matikan dulu telfonnya. Assalamualaikum." Pamit Kalandra.
"Hati - hati, Bang. Waalaikumsalam." Jawab Naina.
Kini, Naina yang berada di dalam mobil Kalandra bersama Nadi pun turut panik. Mereka tentu mengkhawatirkan kondisi Tante Ani dan keluarganya. Nadi pun mempercepat laju mobil menuju ke rumah mereka.
Ketika tiba di lokasi, beberapa rekan yang lain sudah mulai memadamkan api. Kalandra dan Oji yang baru bergabung pun langsung ikut membantu proses pemadaman.
"Apa masih ada korban di dalam?" Tanya Kalandra.
"Semua sudah di evakuasi, Kapt." Jawab salah satu anggotanya.
Mereka semua tampak fokus memadamkan api yang masih berkobar besar. Kalandra yang memegang nozzle pun terus menembakkan air bertekanan tinggi ke arah api.
"Tante, Tante gak apa - apa? Yang lain gimana?" Tanya Naina yang menghampiri.
"Alhamdulillah gak apa - apa, Na. Yang lain juga selamat." Jawab Tante Ani sambil menunjuk ke arah keluarganya yang sedang duduk di bahu jalan.
"Yang sabar ya, Tante." Kata Naina yang berempati dengan musibah yang di alami tetangganya itu.
"Tante, ini ada sedikit makanan untuk Tante makan siang sama yang lain." Kata Nadi sambil menyerahkan sebuah totebag pada Tante Ani.
"Iya, makasih ya, Na, Nadi." Ucap Tante Ani.
"Mbak, itu Abang, kan?" Tanya Nadi sambil berbisik pada Naina.
"Iya." Jawab Naina. Senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Dih! Ngapa kok senyum - senyum sendiri, Mbak?" Tanya Nadi.
"Keren banget pacarku." Lirih Naina yang membuat Nadi tertawa.
"Gak pernah liat Mbak Nana bucin, sekalinya bucin kok gelay banget." Ledek Nadi.
"Kayaknya dulu gak pernah kayak gini sama mantan - mantan Mbak." Kata Nadi kemudian.
"Yang ini beda tau, Di." Kekeh Naina tanpa mengalihkan pandangannya dari Kalandra yang tampak sibuk memegang nozzle sambil memberi arahan pada rekannya yang lain.
Satu jam dari kedatangan Naina dan Nadi, akhirnya api berhasil di padamkan. Kini tak hanya Naina dan Nadi, tapi kedua orang tua mereka dan si bungsu sudah ada di sana untuk memberi support pada tetangga mereka.
Kalandra tersenyum saat tak sengaja bertemu pandang dengan Naina. Ia baru saja keluar dari dalam rumah setelah memastikan jika tak ada lagi api di sana Ia tak tau jika Naina ada di sana bersama keluarganya.
"Ciye, di samperin Pacar sama Calon Mertua." Ledek Oji.
"Mereka kenal sama pemilik rumah, Kal?" Tanya Oji kemudian.
"Kenal. Rumah mereka kan itu." Jawab Kalandra sambil menunjuk rumah Naina.
"Wih! Deket banget loh, untung gak ke samber." Kata Oji.
"Pantes aja kamu tadi manjat pager tinggi. Ternyata mau lihat rumah Naina?" Imbuhnya kemudian.
"Mau mastiin kalo gak ada api yang nyamber kesana." Jawab Kalandra.