Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA SI SULUNG YANG KAKU
Setelah negosiasi menegangkan dengan klan Valois berakhir (yang syukurnya tidak berakhir dengan hujan peluru, berkat gertakan Lucien dan botol sambal yang sempat ditunjukkan Alya di bawah meja), suasana di apartemen baru mereka terasa sedikit lebih ringan. Namun, ada satu hal yang mengusik rasa ingin tahu Alya.
Di antara kembar empat itu, Lucien adalah yang paling sulit ditembus. Jika Marc adalah buku yang terbuka dengan bahasa yang rumit, Julien adalah dinding batu yang tenang, dan Etienne adalah api yang berkobar, maka Lucien adalah sebuah brankas baja yang kuncinya dibuang ke dasar samudra. Dia selalu kaku, selalu berwibawa, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi selain ketegasan seorang pemimpin.
"Bang Marc," panggil Alya saat dia menemukan si otak klan itu sedang menyesap teh di balkon. "Bang Lucien itu emang dari bayi udah pakai jas ya? Kok kaku banget kayak kanebo kering?"
Marc tertawa kecil, suara tawanya terbawa angin malam Paris yang sejuk. "Lucien memikul beban yang paling berat, Alya. Sejak orang tua kami tiada, dia harus menjadi ayah, ibu, sekaligus jenderal bagi kami. Dia lupa cara menjadi manusia biasa."
"Tapi pasti ada celahnya kan, Bang? Masa nggak punya hobi atau apa gitu? Koleksi perangko? Atau diem-diem suka dengerin lagu K-Pop?"
Marc menatap Alya dengan tatapan misterius. "Jika kau ingin tahu rahasianya, coba periksa ruangan di ujung koridor lantai dua pukul sebelas malam. Tapi jangan bilang aku yang memberitahumu, atau aku akan berakhir di dasar sungai Seine."
Alya menyeringai. "Tenang, Bang. Rahasia aman sama saya."
Pukul sebelas malam tepat. Alya menyelinap keluar dari kamar dengan langkah berjinjit. Dia masih memakai daster motif macan andalannya (dia merasa daster ini memberikan kekuatan penyamaran tingkat tinggi). Dia menuju koridor lantai dua yang biasanya dilarang untuk dimasuki staf apartemen.
Di ujung koridor, terdapat sebuah pintu kayu ek besar yang sedikit terbuka. Cahaya remang kekuningan keluar dari celah itu. Alya menahan napas, lalu perlahan mengintip ke dalam.
Pemandangan di dalamnya hampir membuat Alya berteriak karena terkejut.
Ruangan itu bukan ruang penyiksaan, bukan pula tempat penyimpanan senjata rahasia. Ruangan itu penuh dengan... miniatur. Ada ribuan potongan plastik kecil, cat warna-warni, dan kuas-kuas halus di atas meja kerja yang sangat rapi.
Dan di sana, duduklah sang Don yang paling ditakuti se-Eropa, Lucien De Calvi. Dia tidak memakai jas. Dia hanya mengenakan kaos dalam putih (singlet) dan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya. Tangannya yang biasanya memegang pistol dengan mantap, kini sedang memegang sebuah pinset kecil dengan sangat hati-hati, mencoba menempelkan sebuah bendera mikroskopis ke atas kapal perang miniatur.
"Dikit lagi... ayolah... jangan miring..." gumam Lucien pelan, suaranya terdengar sangat... manusiawi.
Alya tidak bisa menahan diri. Dia tertawa kecil. "Wih, Bang Lucien! Ternyata hobinya main bongkar pasang?!"
Lucien melonjak kaget. Pinsetnya terlepas, dan bendera mikroskopis itu jatuh entah ke mana. Dia langsung berdiri tegak, wajahnya berubah merah padam dalam sekejap. Dia mencoba menutupi meja kerjanya dengan tubuhnya yang besar, tapi terlambat.
"A-Alya! Apa yang kau lakukan di sini?!" seru Lucien, suaranya mencoba kembali ke nada otoriter namun gagal total karena dia masih memakai singlet dan kacamata baca.
"Lagi inspeksi mendadak, Bang! Wah, gila... ini semua Abang yang bikin?" Alya masuk tanpa permisi, matanya berbinar melihat miniatur kota Paris yang sangat detail di sudut ruangan. Ada Menara Eiffel seukuran botol sirup, ada jalanan kecil, bahkan ada miniatur orang-orang yang sedang duduk di kafe.
Lucien menghela napas panjang, bahunya merosot. Dia tahu rahasianya sudah terbongkar. "Jangan tertawa. Ini... ini adalah caraku untuk tetap waras. Dunia ini terlalu berantakan, Alya. Di sini, aku bisa mengatur segalanya agar sempurna. Tidak ada pengkhianatan, tidak ada peluru, hanya presisi."
Alya mendekat, melihat sebuah kapal perang yang hampir selesai. "Keren banget, Bang. Ini pasti butuh kesabaran tingkat dewa. Pantesan Abang kaku, tenaga kesabarannya habis buat masang beginian ya?"
Lucien duduk kembali, merasa sedikit malu tapi juga lega karena akhirnya ada yang tahu. "Ini adalah replika kapal kakekku. Dia yang mengajariku saat aku masih kecil. Hanya ruangan ini yang membuatku merasa kembali menjadi anak kecil yang tidak harus membunuh siapa pun."
Alya merasa dadanya sedikit sesak mendengar pengakuan itu. Di balik topeng pemimpin mafia yang kejam, Lucien hanyalah seorang pria yang rindu akan masa kecilnya yang damai.
"Bang... mau saya bantu?" tawar Alya sambil duduk di kursi kosong di sebelah Lucien.
"Kau? Kau akan merusak segalanya dengan tanganmu yang penuh minyak sambal itu," sahut Lucien sinis, tapi ada senyum tipis di wajahnya.
"Enak aja! Tangan saya ini ahli seni ulek, Bang. Masang bendera kecil mah gampang!"
Malam itu, di ruangan rahasia tersebut, terjadi sebuah pemandangan yang mustahil: Seorang pemimpin mafia dan istrinya yang semprul sedang bekerja sama membangun kapal miniatur. Lucien mengajari Alya cara mengoleskan lem dengan tusuk gigi, sementara Alya bercerita tentang pengalamannya membuat kerajinan tangan dari sedotan plastik waktu SD di Jakarta.
"Kau tahu, Alya," kata Lucien saat mereka sedang fokus. "Saudara-saudaraku tidak tahu tentang tempat ini. Mereka pikir aku menghabiskan waktu malamku untuk mempelajari laporan intelijen."
"Rahasia aman sama saya, Bang. Tapi ada syaratnya."
Lucien menghela napas. "Apa lagi?"
"Besok Abang harus mau saya ajak jalan-jalan ke taman kota. Nggak pakai jas, nggak pakai pengawal yang mukanya kayak robot. Cuma kita berdua. Anggap aja healing."
Lucien terdiam sejenak. "Itu berbahaya."
"Ah, Abang kan jago berantem. Masa takut jalan-jalan doang? Lagian, sesekali Abang harus liat Menara Eiffel yang asli, bukan yang dari plastik mulu."
Lucien menatap miniatur di depannya, lalu menatap Alya yang tersenyum tulus. Untuk pertama kalinya, Lucien tertawa pelan. Bukan tawa dingin yang meremehkan, tapi tawa hangat seorang pria yang merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Baiklah. Besok sore. Tapi kalau ada musuh, aku akan melemparmu ke semak-semak agar aku bisa menembak dengan leluasa."
"Dih, galak amat! Iya deh, makasih ya Bang Sulung."
Keesokan sorenya, Lucien benar-benar menepati janjinya. Dia keluar hanya dengan mengenakan kaos polo hitam dan celana jins—penampilan yang membuatnya terlihat seperti model pakaian santai daripada bos mafia. Alya sendiri tampil segar dengan sundress kuning motif bunga.
Mereka berjalan di taman Jardin du Luxembourg. Lucien tampak sangat gelisah, matanya terus berpindah-pindah memantau sekitar, insting perlindungannya tidak bisa dimatikan begitu saja.
"Bang, rileks... tarik napas... buang... jangan kayak mau nangkep maling jemuran," tegur Alya sambil menarik tangan Lucien.
Lucien mencoba melemaskan bahunya. "Ini terasa aneh. Tanpa senjata di pinggangku, aku merasa telanjang."
"Tenang, ada saya. Kalau ada yang macem-macem, saya cubit ginjalnya," canda Alya.
Mereka duduk di bangku taman, melihat anak-anak kecil yang sedang menerbangkan layang-layang. Lucien terdiam, menatap langit yang mulai berubah jingga.
"Dulu, ayahku pernah berjanji akan membawaku ke sini setiap minggu. Tapi dia terlalu sibuk dengan bisnis keluarga. Sampai dia meninggal, kami hanya sempat ke sini sekali," cerita Lucien tiba-tiba.
Alya menggenggam tangan Lucien yang besar dan kasar. "Sekarang Abang di sini. Sama saya. Jadi, janji ayah Abang sudah lunas lewat saya."
Lucien menoleh, menatap Alya dengan tatapan yang dalam. "Kenapa kau melakukan ini, Alya? Kau bisa saja melarikan diri saat negosiasi kemarin. Kau bisa saja membenciku karena memaksamu masuk ke dunia ini."
Alya tersenyum simpul. "Awalnya emang benci banget, Bang. Pengen saya ulek rasanya muka kalian berempat. Tapi lama-lama saya liat, kalian itu sebenernya cuma sekelompok orang yang kurang piknik dan kurang disayang. Dan karena saya sekarang udah jadi permaisuri (versi paksa) di sini, berarti tugas saya bukan cuma bikin sambal, tapi juga bikin kalian ngerasa kalau kalian itu manusia, bukan cuma mesin pembunuh."
Lucien tertegun. Kata-kata Alya yang jujur dan tanpa basa-basi itu menghantam hatinya lebih keras daripada peluru kaliber mana pun. Dia menarik napas panjang, lalu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Alya yang mungil.
"Terima kasih, Alya. Kau benar-benar... bencana yang menyelamatkan hidupku."
"Sama-sama, Bang Kanebo. Oiya, habis ini beli es krim ya? Saya liat ada yang jualan tuh di pojok."
"Apapun yang kau mau."
Namun, momen romantis itu terganggu oleh suara di earpiece yang tiba-tiba berbunyi di telinga Lucien (ternyata dia tetap memakai alat komunikasi tersembunyi).
" Monsieur Lucien, maaf mengganggu. Marc melaporkan ada pergerakan mencurigakan di sektor timur. Anda harus segera kembali, " suara Julien terdengar datar namun mendesak.
Lucien menghela napas, aura kaku dan dinginnya kembali dalam sekejap. Dia berdiri dan memperbaiki letak kacamatanya. "Piknik selesai. Kita harus kembali ke kenyataan."
Alya berdiri, tidak merasa kecewa. Dia tahu dunia Lucien tidak bisa ditinggalkan begitu saja. "Oke, ayo balik. Tapi jangan lupa, miniatur kapalnya belum selesai benderanya dipasang!"
Lucien tersenyum tipis, lalu menggandeng tangan Alya menuju mobil yang sudah menunggu di pinggir taman. Rahasia si sulung yang kaku kini menjadi milik Alya sepenuhnya. Dan bagi Lucien, memiliki seseorang yang tahu sisi lemahnya namun tetap menghormatinya adalah kekuasaan yang jauh lebih besar daripada memimpin seluruh mafia di Prancis.
"Bang," panggil Alya saat di dalam mobil.
"Apa?"
"Besok-besok kalau saya mau bikin miniatur ulekan batu, Abang mau bantuin kan?"
Lucien hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kau benar-benar tidak bisa ditebak, Alya."
"Itulah sebabnya Abang sayang saya kan?"
Lucien tidak menjawab, tapi dia menggenggam tangan Alya lebih erat sepanjang perjalanan pulang. Dia tidak perlu mengucapkannya, karena di dunia mafia, tindakan selalu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Dan malam itu, Lucien De Calvi belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa banyak musuh yang kau bunuh, tapi pada seberapa berani kau membuka hatimu pada satu orang yang paling tak terduga.