Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Pagi itu suasana kantor pusat Darmawan Grup sudah sibuk sejak jam delapan. Para pegawai berlalu-lalang membawa dokumen dan laptop masing-masing. Beberapa orang tampak tergesa menuju ruang rapat, sementara suara ketikan keyboard terdengar nyaris tanpa henti dari berbagai sudut ruangan. Dunia kerja yang katanya penuh ambisi dan mimpi. Kenyataannya lebih banyak orang menatap layar sambil berharap jam makan siang datang lebih cepat. Peradaban manusia memang luar biasa menyedihkan.
Beberapa pegawai langsung menunduk hormat saat melihatnya.
“Selamat pagi, Nona Clara.”
“Pagi, Nona.”
Clara membalas dengan senyum kecil.
“Pagi.”
Namun begitu pintu lift tertutup, senyumnya langsung hilang. Ia menghela napas panjang sambil menyandarkan kepala ke dinding lift.
“Aku bahkan baru lulus,” gumamnya pelan. “Manusia lain liburan ke Jepang, Korea, atau Eropa. Aku malah dikirim jadi budak laporan keuangan.”
Lift berhenti di lantai paling atas. Clara keluar dan langsung menuju ruangan besar milik ayahnya.
Begitu pintu terbuka, Agung Darmawan sedang berdiri di dekat jendela sambil membaca laporan. Pria berusia lima puluhan itu memiliki aura tegas yang membuat banyak orang segan. Di dunia bisnis, namanya cukup disegani karena berhasil menghidupkan kembali Darmawan Grup yang dulu hampir bangkrut.
Agung melirik putrinya sekilas.
“Kamu datang juga.”
Clara langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Ayah jahat.”
Agung mengangkat alis.
“Kalimat pembuka yang bagus untuk pagi hari.”
“Ayah tahu teman-temanku sedang liburan? Ada yang ke Swiss, ada yang keliling Eropa. Bahkan Melisa sekarang ada di Maldives.”
Agung menutup map di tangannya lalu duduk di kursi kerja.
“Dan setelah liburan selesai, mereka akan kembali bingung memikirkan masa depan.”
Clara cemberut.
“Aku juga bingung memikirkan masa depanku.”
“Kamu tidak bingung,” jawab Agung tenang. “Kamu hanya malas.”
Clara langsung menatap ayahnya dengan kesal.
“Ayah selalu menyerang mental anak sendiri.”
“Ayah hanya mengatakan fakta.”
Clara menghela napas panjang.
“Aku baru lulus kuliah. Baru beberapa minggu. Harusnya aku masih punya waktu santai.”
Agung menatapnya serius.
“Clara, seseorang yang nanti akan diminta bertanggung jawab atas perusahaan besar tidak bisa hidup terlalu santai.”
“Ayah bahkan terdengar seperti buku motivasi.”
“Karena kalau Ayah bicara lembut, kamu malah tidur.”
Clara mendecakkan lidah pelan.
“Aku bisa tidur di mana saja memang bakat.”
Agung hampir tersenyum kecil mendengar jawaban itu, tetapi ia kembali memasang wajah serius.
“Kamu akan mulai dari bagian finance.”
Wajah Clara langsung berubah seperti baru mendengar hukuman penjara.
“Finance?”
“Kamu harus memahami bagaimana uang perusahaan bergerak. Semua keputusan besar selalu berkaitan dengan keuangan.”
“Tapi angka-angka itu mengerikan.”
“Bisnis lebih mengerikan.”
Clara memijat dahinya pelan.
“Aku bahkan bisa sakit hanya melihat tabel Excel.”
“Kamu akan terbiasa.”
“Ayah terlalu percaya diri.”
Agung bersandar di kursinya.
“Ayah membangun perusahaan ini dari hampir tidak punya apa-apa. Kamu pikir Ayah melakukannya sambil bersantai minum kopi?”
Clara terdiam sesaat.
Ia memang tahu cerita perjuangan ayahnya. Dulu Darmawan Grup hampir runtuh karena kesalahan manajemen generasi sebelumnya. Namun Agung berhasil membalik keadaan perlahan sampai perusahaan itu berkembang menjadi salah satu perusahaan besar.
Meski begitu, Clara tetap belum siap menghadapi dunia kerja secepat ini.
“Aku akan mencoba,” katanya akhirnya dengan nada lemah.
Agung mengangguk.
“Itu lebih baik.”
“Walaupun sebenarnya aku ingin tiduran di kantor Ayah saja.”
“Kamu bisa tiduran kalau sudah pensiun.”
“Lama sekali.”
Ketukan terdengar dari pintu.
“Masuk,” ucap Agung.
Seorang pria berusia sekitar empat puluhan masuk dengan rapi membawa tablet di tangannya. Herman, asisten pribadi Agung selama bertahun-tahun.
“Pak Agung, semua sudah siap.”
Agung mengangguk kecil.
“Herman, tolong antar Clara ke bagian finance.”
“Baik, Pak.”
Clara berdiri perlahan seperti narapidana yang akan dipindahkan sel.
“Ayah tega sekali.”
“Kamu akan berterima kasih nanti.”
“Aku ragu.”
Herman tersenyum tipis sambil mempersilakan Clara berjalan keluar.
Mereka memasuki lift dan turun beberapa lantai menuju divisi finance. Selama perjalanan Clara terus menghela napas berat.
Herman meliriknya sekilas.
“Nona Clara tampaknya belum semangat bekerja.”
“Aku lebih semangat jadi pengangguran kaya.”
Herman menahan tawanya.
“Itu cita-cita yang cukup jujur.”
“Setidaknya aku tidak munafik.”
Begitu sampai di lantai finance, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding lantai direksi. Banyak pegawai fokus menatap layar komputer sambil sesekali menghitung dokumen.
Clara langsung merasa pusing hanya dengan melihat tumpukan map di beberapa meja.
“Ini tempat manusia menyiksa diri rupanya,” gumamnya pelan.
Herman pura-pura tidak mendengar.
Ia membawa Clara ke tengah ruangan.
“Teman-teman,” ucap Herman. “Ini Nona Clara Rubiana. Mulai hari ini beliau akan belajar di divisi finance.”
Beberapa pegawai langsung berdiri dan menyapa ramah.
“Selamat datang, Nona Clara.”
“Senang bertemu dengan Anda.”
Clara tersenyum sopan.
“Mohon bantuannya. Semoga aku tidak terlalu merepotkan.”
Beberapa pegawai tertawa kecil mendengar nada jujurnya.
Herman kemudian menunjuk seorang wanita muda berkacamata dengan rambut dikuncir rapi.
“Amanda akan membantu Nona Clara selama di sini.”
Amanda langsung berdiri.
“Senang bertemu dengan Anda, Nona Clara.”
“Panggil Clara saja,” jawab Clara cepat. “Kalau terlalu formal aku merasa tua.”
Amanda tersenyum kecil.
“Baik... Clara.”
Clara kemudian dibawa ke meja kerjanya.
Namun begitu melihat meja itu, wajahnya sedikit berubah.
“Mejanya kecil sekali.”
Amanda tampak gugup.
“Maaf... memang meja kosong yang tersedia hanya ini.”
Clara segera tersadar lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kaget.”
Padahal dalam hati ia sudah membandingkannya dengan kamar pribadinya yang bahkan lebih besar dari ruangan kerja beberapa pegawai di sana. Hidup memang lucu. Anak pemilik perusahaan pun tetap bisa menderita karena meja sempit.
Clara duduk perlahan di kursinya.
Amanda mulai menjelaskan beberapa dokumen dasar yang harus diperiksa.
“Ini laporan pengeluaran bulanan dari salah satu cabang. Clara hanya perlu mencocokkan data transaksi dengan laporan sistem.”
Clara mengangguk pelan.
“Baik.”
Awalnya ia mencoba fokus. Tangannya mulai membuka dokumen satu per satu sambil mencocokkan angka.
Lima menit pertama masih aman.
Sepuluh menit kemudian Clara mulai melirik jam tangannya.
Dua puluh menit kemudian ia merasa jiwanya perlahan meninggalkan tubuh.
“Kenapa angka harus sebanyak ini...” gumamnya lirih.
Amanda yang duduk di sampingnya menahan senyum.
“Kalau ada yang bingung, bilang saja.”
Clara mengangguk lalu kembali menatap layar komputer.
Namun semakin lama, semakin ia merasa tersiksa.
Satu dokumen bahkan belum selesai sepenuhnya, tetapi kepalanya sudah terasa berat.
Ia tidak habis pikir bagaimana manusia bisa bekerja menghadapi angka sepanjang hari tanpa kehilangan kewarasan.
“Orang-orang finance benar-benar kuat,” katanya pelan.
Amanda tertawa kecil.
“Sudah biasa.”
“Aku merasa baru setengah jam di sini, tapi rasanya seperti tiga tahun.”
“Masih jam sembilan lewat.”
Clara langsung memejamkan mata.
“Jangan bilang begitu. Itu menyakitkan.”
Amanda mulai merasa Clara ternyata jauh lebih santai dibanding bayangannya tentang anak pemilik perusahaan.
Biasanya ia membayangkan Clara akan sombong atau terlalu formal. Namun kenyataannya wanita itu justru sering mengeluh seperti mahasiswa yang dipaksa ikut kelas pagi.
Clara kembali mencoba bekerja.
Ia menatap angka-angka di layar dengan serius beberapa saat sebelum akhirnya bersandar lemas.
“Demi uang manusia rela berurusan dengan angka sebanyak ini.”
Amanda tertawa kecil lagi.
“Karena perusahaan butuh laporan keuangan.”
“Aku lebih suka belanja daripada menghitung uang.”
“Itu berbeda jauh.”
“Bagiku sama-sama tentang uang.”
Amanda benar-benar mulai kesulitan menahan tawa.
Sementara Clara kembali melirik jam tangannya.
Masih belum waktunya makan siang.
Ia hampir ingin menangis melihat kenyataan itu.
Dalam pikirannya sekarang hanya ada satu hal yang membuatnya bertahan di kantor itu.
Tony Bagaskara.
Direktur operasional yang selalu terlihat tenang dan karismatik setiap kali datang ke rumahnya untuk urusan bisnis dengan ayahnya. Clara diam-diam sudah mengaguminya cukup lama.
Membayangkan makan siang bersama Tony menjadi satu-satunya motivasi yang membuat Clara masih mau duduk menghadapi laporan keuangan.
Setidaknya pria itu jauh lebih menarik dibanding tabel pengeluaran perusahaan.
Amanda memperhatikan Clara yang kembali tersenyum sendiri.
“Sedang memikirkan sesuatu?”
Clara langsung tersadar.
“Hah? Tidak.”
Amanda menatapnya curiga.
“Tapi tadi senyum sendiri.”
Clara buru-buru mengambil dokumen lain.
“Aku hanya... senang bekerja.”
Kalimat itu bahkan terdengar palsu sampai Clara sendiri hampir tidak percaya.
Amanda hanya mengangguk pelan meski jelas tidak yakin.
Beberapa menit kemudian Clara kembali menghela napas panjang sambil menopang dagu.
“Jam makan siang lama sekali.”
Amanda tersenyum kecil.
“Baru juga mulai kerja.”
“Itu sebabnya aku merasa waktu berjalan sangat lambat.”
Clara menatap layar komputernya lagi dengan tatapan pasrah.
Di luar sana banyak orang bermimpi menjadi pewaris perusahaan besar.
Namun tidak ada yang memberitahu kalau jalan menuju posisi itu dipenuhi laporan keuangan, tabel Excel, dan penderitaan mental akibat angka-angka tanpa akhir. Manusia benar-benar ahli menyembunyikan bagian terburuk dari kesuksesan.