Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 34
Selepas shalat Isya,Alyana langsung minta izin untuk masuk kamar.Perutnya terasa tak nyaman membuat ia ingin segera membaringkan tubuhnya di kasur.
"Sayang." Panggil Arka saat memasuki kamarnya. "Kamu kenapa?"
"Perut aku gak nyaman,Aya gak apa-apa kan gak kebawah lagi?"
Wajahnya terlihat sedikit pucat,namun saat Arka memeriksa dahinya suhunya normal.
"Tadi makan apa?" Tanya Arka memastikan apakah ada makanan aneh yang di makan sang istri.
"Gak makan apa-apa,sama kaya yang di makan Kaka."
"Tadi waktu di pengajian?"
Alyana menggeleng lemah,seingatnya ia tidak makan apa-apa.Hanya air mineral kemasan saja yang ia minum.
"Apa sakit sekali?" Wajah Arka menjadi khawatir dibuatnya.Namun Arka berusaha untuk tenang.
"Gak terlalu,hanya kerasa gak nyaman aja"
Alyana tidak ingin membuat khawatir suaminya sehingga ia memilih untuk berbohong."Di istirahatkan aja juga nanti pasti sembuh."
Arka terdiam sejenak,akhirnya ia mengangguk.Ia membantu Alyana kembali berbaring di kasur,selimutnya ia naikan sampai ke dada.Mengusap lembut pipi Alyana yang terlihat chubby.
"Istirahatlah,kalau masih sakit bilang ya." Ujarnya menatap sendu sang istri. "Aku mau ngecek dulu kerjaan sebentar,kalau ada apa-apa panggil aku ya"
Alyana mengangguk dengan senyum kecil,matanya terlihat satu namun ada rasa hangat menjalar di hatinya saat Arka mencium keningnya begitu lama.
Tengah malam, suasana kamar gelap dan sunyi. Hanya denting jam yang berputar pelan.
Arka tiba-tiba terbangun.Ada suara lirih,seperti rintihan tertahan.Awalnya ia pikir hanya mimpi. Tapi suara itu terdengar lagi pelan dan seperti menahan sakit.
"Sayang?" Arka langsung bangun setengah duduk.
Di sampingnya, Alyana terlihat meringkuk.Tangannya memegangi perut, tubuhnya sedikit gemetar. Peluh membasahi pelipisnya, wajahnya pucat sekali.
"Ya Allah…" Arka langsung menyalakan lampu tidur. "Al, masih sakit?" suaranya panik tapi berusaha tetap tenang.
Alyana membuka mata perlahan. "Perut… sakit banget…" katanya lemah.
Arka langsung mendekat, memegang tangannya yang dingin. "Sejak kapan ?"
"Tadi… kebangun… terus makin sakit…" Napasnya terdengar tidak teratur. Arka makin cemas.
"Sebelah mana?" tanyanya cepat.
Alyana menunjuk bagian bawah perutnya sambil meringis. "Melilit… kayak ditarik…"
Arka berdiri, mengambil air putih dan membantunya duduk pelan. Tangannya gemetar sedikit saat menyentuh kening Alyana yang berkeringat.
"Kita ke rumah sakit sekarang," katanya tegas.
Alyana menggeleng lemah. "Gak usah kak.. "
"Gak.Wajah kamu pucat banget yang."
Alyana mencoba menarik napas dalam,tapi rasa sakit itu datang lagi. Ia sampai menggenggam kuat tangan Arka tanpa sadar.
"Kaka…" suaranya hampir menangis, bukan manja kali ini namun benar-benar kesakitan.
"Aku panggil bunda bentar."
Rasa panik Arka belum benar-benar hilang.Tanpa sadar ia berteriak memanggil orangtuanya namun sayang tidak ada yang datang.Akhirnya Arka tidak tahan. Ia mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Bun… Ayah…" suaranya sedikit keras terdengar cemas.
Tak lama, pintu terbuka. Bunda Fara dan Altheza langsung keluar dengan wajah khawatir.
"Kenapa, Bang?"
"Alyana sakit… perutnya parah banget."
Tanpa banyak tanya, keduanya langsung menuju kamar Arka. Melihat Alyana meringkuk di kasur dengan peluh di dahi,
Bunda Fara spontan mendekat. "Ya Allah, Nak…"
Ia duduk di samping Alyana dan mengusap punggungnya pelan, penuh kelembutan seperti seorang ibu menenangkan anak kecil.
"Sakitnya di bawah ya?" tanya Bunda lembut.
Alyana mengangguk lemah. "Iya, Bunda…"
Altheza ikut mendekat, wajahnya jelas panik. Ia mengusap kepala Alyana pelan, menyingkirkan rambut yang menempel di keningnya karena keringat.
"Kenapa nggak bangunin dari tadi…" gumamnya khawatir. "Mukanya pucat sekali begini."
Alyana mencoba tersenyum kecil meski sulit. "Maaf…takut bikin repot…"
Bunda Fara langsung menggeleng. "Kamu itu bukan orang lain, Nak. Kalau sakit ya bilang."
Arka berdiri di dekat mereka, masih terlihat tegang. Tangannya tak berhenti memijat lembut bahu Alyana.
Bunda Fara lalu meminta air hangat lagi dan membantu mengatur posisi duduk Alyana supaya lebih nyaman. Tangannya terus mengusap punggung dengan gerakan perlahan dan menenangkan.
Altheza masih di sisi lain, sesekali mengelus kepala Alyana. "Sabar ya, Nak… biasanya memang sakitnya begini?"
"Iya… tapi ini agak lebih…" suara Alyana mengecil.
Mendengar itu, Arka langsung menoleh. "Kalau setengah jam lagi nggak reda, kita ke dokter."
Bunda Fara mengangguk setuju. "Iya,jangan ditunda kalau memang terlalu sakit."
Suasana ruang tengah dipenuhi rasa khawatir, tapi juga hangat. Alyana yang tadi menahan sendiri kini dikelilingi perhatian.Ia membuka mata pelan dan melihat mereka semua ada di sekelilingnya.
"Maaf ya… jadi bikin semua bangun…" ucapnya lirih.
Altheza tersenyum lembut. "Yang penting kamu cepat baikan. Rumah ini nggak tenang kalau kamu kesakitan begini."
Bunda Fara menepuk punggungnya lagi. "Tarik napas pelan… jangan tegang. InsyaAllah sebentar lagi reda."
Namun lagi-lagi rasa sakit itu datang membuat Alyana semakin merintih.
"Kita ke rumah sakit ya." Ucap Arka semakin khawatir.
"Gak usah, Ka. Umi biasanya suka kasih jamu biar sakitnya sedikit reda."
Arka langsung sigap berdiri. Ia buru-buru mengambil jaket, dompet, dan kunci mobil.
"Kamu tunggu di sini.Aku gak akan lama. " katanya cepat.
"Bun, yah.. Arka titip istri Arka sebentar."
Alyana mencoba tersenyum tipis walau wajahnya masih meringis. "Hati-hati…"
Arka hanya mengangguk, lalu keluar hampir setengah berlari.
Malam sudah sepi. Jalanan lengang.Tangannya menggenggam setir lebih kuat dari biasanya. Di kepalanya hanya satu pikiran yaitu cepat sampai, cepat kembali.
Beberapa menit kemudian ia tiba di apotek 24 jam. Ia langsung masuk dan menyebutkan merek jamu yang tadi di beritahu Alya, lengkap dengan tambahan obat pereda nyeri yang aman.
"Untuk nyeri haid ya, Mas?" tanya petugas.
"Iya, yang biasanya diminum sama istri saya."
Setelah membayar, Arka langsung kembali ke mobil.Tak sampai dua puluh menit, ia sudah kembali ke rumah.
Begitu masuk, ia melihat Alyana masih duduk memegangi perutnya. Arka segera membuatkan minuman hangat dan menyiapkan jamu itu.
"Nih, pelan-pelan minumnya," katanya lembut.
Alyana menerima gelas dengan tangan sedikit gemetar di bantu bunda agar tidak tumpah. "Makasih…"
Arka duduk di sampingnya, satu tangannya mengusap punggung Alyana perlahan. "Kenapa nggak bilang dari tadi kalau mau datang bulan?"
"Memangnya gejalanya tiba-tiba kaya gini? " Tanya Altheza.
"Tadi pas udah shalat Isya, dia ngomong perutnya gak nyaman.Arka kira hanya gak nyaman karena masuk angin."
Alyana meringis kecil. "Aya juga nggak nyangka bakal sesakit ini…"
Setelah minum, Alyana kembali bersandar. Arka membantu menyelimutinya dan mengambilkan kompres hangat untuk perutnya.
Setelah terlihat sedikit membaik, bunda Fara dan Altheza pamit kembali ke kamarnya.
Suasana kamar kembali sunyi.
"Lebih enakan?" tanyanya pelan.
Alyana mengangguk tipis. "Sedikit…"
Arka tak beranjak. Ia tetap duduk di sampingnya, memegang tangannya.
"Kalau masih sakit banget, kita tetap ke dokter," katanya tegas tapi lembut.
Alyana menatapnya lemah, lalu tersenyum kecil. "Kaka panik ya?"
Arka menyentil pelan hidung mancung Alyana, menghela napas. "Petanyaannya yang...Jelaslah. Kamu pucat begitu."
Alyana, meski masih kesakitan, tetap menyelipkan nada manjanya. "Tapi enak sih...Aya jadi bisa di manja kaka."
Arka menggeleng pelan, lalu mengecup pelipisnya dengan lembut. "Istirahat dulu. Jangan banyak ngomong."
Alyana mengangguk sambil tersenyum kecil, rasanya begitu nyaman bersama laki-laki dewasa di depannya ini.
...🌻🌻🌻...
lanjut thor
semangat thor..