Prita Laura Kiehl, 27 tahun, Dia ini termasuk jajaran penyanyi papan atas tanah air. Sesekali jadi aktor. Tapi hanya untuk film dan film pendek. Selebihnya ogah!
Malas ribet.
Malas berurusan sama drama pertelevisian tanah air yang menye-menye. Selama ini, Prita tidak pernah memikirkan akan ke mana dan pada siapa hatinya berlabuh.
Tapi selama ini juga dia selalu meyakinkan diri bahwa ketika suatu hari nanti bertemu dengan pasangan hidupnya, dia ingin di kejar, di cintai ugal-ugalan, dan di perjuangkan.
Tapi sekarang, sepertinya itu tidak berlaku. Yang penting Mas Dokter mau jadi pacarnya. Titik!
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang dokter spesialis bedah sekaligus pewaris sebuah Rumah Sakit Swasta, Kian Samudra, 29 tahun.
Kisahnya bermula saat Prita mendapatkan peran sebagai seorang dokter bedah. Traumanya pada rumah sakit dan dokter membuatnya kesulitan untuk mengekspresikan diri.
Lalu bagaimana bisa kisah asmaranya akan berlanjut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMPING ERA
...Happy reading...
...***...
Pantai Wohkudu menjadi pilihan Prita untuk jadi tempat first date-nya setelah resmi pacaran per hari ini.
Sebenarnya, sudah lama sekali Prita ingin ke pantai ini. Dia mau coba camping. Dan Pantai Wohkudu memiliki fasilitas camping ground yang Prita inginkan.
Katanya dia mau menikmati melihat bintang sambil goleran di atas pasir, tapi tanpa gangguan orang banyak. Kalau pantai lain, pasti ramai. Mana bisa dia leluasa mesra-mesraan sama Ayang Beb.
Mereka tiba di Pantai Wohkudu sekitar tengah hari. Menempuh dua jam lebih untuk perjalanan dari hotel.
Letaknya tersembunyi. Belum begitu banyak wisatawan yang tahu. Jadi saat mereka tiba, hanya sedikit orang di sana yang juga kebetulan mau camping.
Pantai Wohkudu terbilang kecil. Dengan garis pantai yang pendek, pasir putih, dan rerumputan hijau yang diapit oleh tebing karst di kanan kirinya.
Rasa-rasa seperti pantai pribadi.
Jalanan menuju pantai ini juga tidak mudah. Terjal, berbatu, menurun, dan diapit hutan jati. Beruntung cuaca cerah. Kalau hujan, entah bisa selicin apa.
Tapi biar begitu, Prita happy sekali.
Apalagi saat tenda mereka berdiri dan Kian sudah menyiapkan semua peralatan serta ransum selama camping dadakan ini.
"Nanti malam buat bakar ikan, aku mau kita mancing dulu ikannya, ya." Prita berkata dengan riang. Dia baru dapat info dari penjaga pantai, bahwa tersedia spot memancing juga.
Tentu hal itu dituruti Kian. Dia pun tadi tidak membeli ikan, karena sudah sempat mencari tahu lebih dulu dan juga berniat untuk coba peruntungannya dalam memancing.
Pengalaman sih sudah ada ya. Mancing di kolam ikan koi Kakek. Wkwkwk
Menjelang sore, keduanya memutuskan memancing. Letaknya tidak terlalu jauh, tapi ada di sisi pinggir, di bawah naungan tebing karst. Adem.
Coba tebak berapa lama Prita betah menghadapi pancingannya yang tak kunjung mendapatkan ikan?
Hanya 30 menit! Selebihnya— tantrum dan misuh-misuh.
Justru Kian yang sabar menunggu. Dan hasil sabarnya memang tidak mengkhianati hasil. Tiga ekor ikan segar berukuran sedang berhasil
Kian tangkap.
"Enggak sia-sia memang kamu jadi pacar aku!" celetuk Prita girang sambil menenteng ikan-ikan hasil tangkapan Kian dengan sukacita.
"Kamu bawa bumbu-bumbu bakarnya kan?"
"Aman," jawab Kian singkat. Dia capek sebenarnya, tapi senang melihat Prita bahagia.
Dasar mulai bucin!
"Prita. Duduk di sini dulu ya."
Kian berhenti di bibir pantai. Membiarkan kakinya basah dimainkan ombak. Bahkan dia duduk di pasir yang basah itu.
"Basah loh," tegur Prita. Dia masih berdiri. Bingung mau duduk di mana.
Namun Kian hanya tersenyum. Dia tarik lembut tangan Prita agar duduk di pangkuannya. Membelakanginya, agar dia bisa memeluk dari belakang.
Romantis sekali.
"Langitnya bagus," ucap Kian, dengan dagu yang bertumpu di pundak Prita.
Betul. Prita mengiyakan dalam hati. Langitnya bagus sekali. Meski sunset tidak bisa dinikmati dengan jelas karena terhalang bukit, tapi langit yang jingga, cukup membuat keduanya merasa senang.
"Kalau ada yang lihat gimana? Nggak ada wartawan, kan?"
Pertanyaan Prita ini sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Mestinya kalau bertanya begitu, dia menjauh, kan? Tapi Prita malah makin merapatkan tubuh pada Kian.
"Biarkan," jawab Kian santai. "Urusan mereka kalau mau menggunjing dan membuat berita. Yang penting jangan di depan Pacar saya."
Pacar saya katanya woooyyy!!! Lompat ke laut ga lu Prita!
"Cinta nggak?"
Prita pantang menyerah menanyakan kembali hal yang tidak pernah Kian jawab.
Bukan mau menyakiti hati sih. Prita iseng saja sebenarnya. Dijawab syukur, tidak dijawab ya sudah. Toh semua yang Kian lakukan sudah lebih dari sekadar kalimat "aku cinta kamu".
"Hal itu nggak perlu saya katakan. Tapi kamu bisa rasakan."
Kian dengan segala jawaban filosofisnya. Tumben. Biasanya dia lebih pilih mengalihkan topik.
"Tapi Prita, kalau ada ungkapan yang lebih baik dari itu, saya pasti akan mengucapkannya."
"Gimana maksudnya?" Prita memutar kepalanya sedikit agar bisa melihat Kian.
"Nope."
Malas menjelaskan, Kian lebih pilih mencium Prita. Di bibir. Disaksikan oleh temaram jingga dari semesta, berteman debur ombak dan nyanyian burung senja yang sedang terbang kembali ke peraduan. Indah.
***
Bakar-bakar sudah selesai. Makan sudah beres. Sekarang Kian dan Prita tengah menatap langit yang bertabur bintang. Bagus sekali.
Posisi mereka pun juga bagus sekali. Untung gelap dan agak pojokan. Jadi tidak menarik perhatian orang.
Prita yang berada di pangkuan Kian. Saling memeluk. Saling mencumbu. Hanya mencumbu ya. Prita takut didatangi Nyi Roro Kidul kalau berbuat yang aneh-aneh.
Segitu juga udah aneh-aneh, Prita!
"Ngh."
Tapi tetap saja Prita tidak bisa menahan lenguhannya saat kepala Kian tenggelam di lehernya.
"Ki—ianhh. Stop. P—pleasehh."
Susah payah Prita mengucap kalimat itu. Susah payah juga dia coba kabur dari cumbuan Kian,
"Hm? Kenapa?" tanya Kian tanpa rasa bersalah.
"Hm! Kinipi? Ish!"
Prita buru-buru menjauh, supaya tidak diserang lagi.
"Kamu harus tahu ya, kita nggak boleh mesum di pantai, gunung, dan tempat keramat!" serunya. "Kamu nggak takut gancet?!"
Anjir, Prita! Memangnya kalian ngapain? Bisa-bisanya kepikiran gancet.
Sama seperti kita, Kian ngakak mendengar isi pikiran Prita.
"Kalau saya masukin punya saya di anunya kamu, baru bisa dibilang gancet, itupun kalau penunggu sini marah," katanya santai.
"Ih!"
Sewot Prita dengan kalimat frontal dari Kian ini. "Enggak mau ah! Mesum banget!"
"Kamu juga mau." Kian tidak mau kalah. Cepat dia menahan pinggang Prita sebelum pacarnya itu menjauh.
"Iya, iya. Ya udah diem."
Akhirnya dia mengalah. Gawat kalau Prita tantrum di tempat sepi begini.
"Iya gitu. Diem. Aku mau lihat bintang!" cetus Prita. "Cakep banget kan?"
"Hm."
"Kian?"
"Ya?"
"Aku boleh tanya?"
"Boleh."
Ada jeda sebentar, sebelum Prita mengambil napas dan bertanya.
"Diana itu siapa?"
Jder! Petir imajinasi muncul di puncak kepala Kian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...BERSAMBUNG...
**Darimana Prita denger nama itu coba. Kian mesti siap-siap jangan sampai salah jawab sih ini.
(di korsel, udah berapa banyak yg bundir karena 3 hal itu🥺)
kasihan prita entar merasa di PHPin teyus 😭
semoga setelah dpt psikiater pribadi ini prita bisa sembuh dn semakin membaik...