NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.

​Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.

​Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Gemuruh sorak-sorai puluhan ribu penonton di Stadion Kuarsa Putih masih merambat di bawah telapak kaki Zei, namun atmosfer di lorong bawah tanah mendadak anjlok menjadi mencekam. Begitu ia melangkah turun dari arena berdarah, Tetua Gu langsung menyergap bahunya dengan kasar. Wajah pria tua pemabuk itu tak lagi menyisakan senyum jenaka.

​"Jangan kembali ke ruang tunggu. Ikut aku sekarang," desis Tetua Gu rendah, sarat akan bahaya.

​A-Lang di belakang mereka tampak kebingungan, namun ia bisa menghidu aroma ketegangan yang mendadak pekat. Bertiga, mereka bergerak kilat memotong jalur logistik stadion, menyelinap lewat pintu belakang yang sepi, lalu menembus labirin gang sempit Ibukota Kecamatan. Tetua Gu tidak membawa mereka kembali ke Kedai Bambu Retak. Serigala tua itu tahu persis bahwa Master Sekte Taring Besi takkan menunggu hingga genderang turnamen usai untuk melenyapkan hama yang telah merusak ladang koin emas mereka.

​Usai memutar arah hampir setengah jam demi mengecoh jejak, Tetua Gu menggiring mereka ke sebuah reruntuhan kuil kuno yang terbengkalai di puncak perbukitan pinggiran kota. Bangunan batu itu telah runtuh dimakan usia, diselimuti semak belukar liar dan lumut tebal, namun posisinya yang menjulang memberikan jarak pandang absolut untuk mengawasi setiap pergerakan di bawah sana.

​Zei menghempaskan tubuhnya ke atas lantai batu yang dingin. Ia menghela napas panjang seraya membersihkan sisa darah yang mengering di lengan kirinya. Luka gores akibat elemen logam murni milik Gao terasa perih menyengat, meninggalkan residu panas yang mengacaukan aliran Qi di meridian energinya.

​Dengan tangan gemetar, A-Lang mengeluarkan gulungan kain kasa dari tasnya untuk membalut luka Zei. "Zei, tatapan Master Sekte tadi... rasanya seolah dia sanggup memenggal kita hanya dengan kedipan mata. Apakah kita benar-benar aman di sini?"

​Alih-alih menjawab kepanikan A-Lang, Tetua Gu justru melompat duduk di atas sisa patung batu yang hancur, lalu tertawa terbahak-bahak hingga janggut putihnya bergetar. "Aman? Tentu saja tidak, Bocah Bodoh! Sekte Taring Besi pasti melepas ratusan anjing pelacak malam ini. Tapi setidaknya, di tempat ini mereka tidak bisa mengepung kita tanpa memicu pertumpahan darah yang berisik."

​Tawa Tetua Gu mereda, digantikan oleh tatapan elang yang menukik tajam ke arah Zei. "Taktik gilamu di panggung tadi... memanipulasi kuarsa padat menjadi rawa lumpur secara instan. Itu luar biasa. Kau memiliki intuisi elemen tanah yang mustahil dimiliki oleh murid manja dari sekte besar sekalipun."

​"Terima kasih atas wejangan Anda semalam, Senior," ucap Zei tulus, menundukkan kepalanya dalam. "Jika bukan karena teknik Bumi Bergeser, kapak raksasa Gao pasti sudah membelah dadaku menjadi dua."

​"Simpan rasa syukurmu," potong Tetua Gu sedingin es. "Besok adalah babak enam belas besar. Arena bermain untuk petarung liar sudah ditutup. Mulai esok matahari terbit, kasta bawah sepertimu akan dilempar ke dalam lubang harimau, diadu dengan murid-murid inti dari Tiga Sekte Besar kota, termasuk Cendrawasih. Tingkat kematiannya naik sepuluh lipat. Mereka bukan jagal kasar berotot batu seperti Gao; mereka adalah monster jenius yang disuapi pil obat sejak masih menyusu."

​Mendengar nama Sekte Cendrawasih bergema, siluet keanggunan Qian Yue’er kembali menari di pelupuk mata Zei. Bara tekad di dadanya kembali menyala, menghanguskan rasa sakit yang merantai otot-ototnya.

​Malam kian larut merangkak. A-Lang telah jatuh mendengkur di sudut kuil, tak sadarkan diri akibat kelelahan batin yang menguras jiwanya sepanjang hari. Sementara itu, Zei memilih bersila mematung di pelataran kuil yang terbuka, mencoba menstabilkan kembali aliran Qi buminya di bawah guyuran cahaya perak rembulan.

​Mendadak, alam di sekeliling kuil mati rasa. Paduan suara jangkrik malam tercekik senyap seketika. Detik berikutnya, desir angin malam yang janggal menyapu pelataran. Angin itu tidak membawa bau tanah basah, melainkan keharuman melati surgawi yang teramat segar—sebuah kontras absolut dengan bau apak dan karat darah Ibukota Kecamatan.

​Zei menyentak matanya terbuka waspada. Sepasang kakinya langsung mencakar lantai batu, merangsang Qi di dantian-nya bersiap mengaktifkan Sisik Naga.

​Wush!

​Sesosok bayangan mendarat tanpa suara di atas sisa tembok kuil dengan keanggunan yang menentang gravitasi. Namun, itu bukan Qian Yue’er. Ia adalah seorang gadis remaja berbalut jubah sutra hijau muda—tangan kanan sekaligus pelayan pribadi sang dewi Sekte Cendrawasih.

​Gadis pelayan itu menatap Zei dari ketinggian tembok dengan sorot menilai yang sedikit angkuh. Tanpa membuang napas untuk mengucap salam, ia menjentikkan pergelangan tangannya, melemparkan sebuah kotak kecil dari giok hijau murni lurus ke pangkuan sang pemuda desa.

​Zei menangkap benda dingin itu dengan dahi berkerut bingung. "Apa ini?"

​"Nona Muda kami, Qian Yue’er, yang mengutusku secara rahasia," ucap gadis itu, suaranya sedingin es namun sejernih kristal di keheningan malam. "Di dalam kotak itu bersemayam Pil Pemurni Sumsum Bumi, obat penyembuh tingkat tinggi yang teramat langka. Nona Muda menitipkan satu pesan untukmu: 'Jangan mati konyol di tangan anjing pembunuh Sekte Taring Besi malam ini. Aku menunggumu membuktikan omong kosongmu di panggung utama besok.'"

​Zei mematung tak bernapas. Ia menatap kotak giok di telapak tangannya, lalu mendongak kilat ke arah tembok. Namun, utusan berjubah hijau itu telah raib secepat hembusan angin malam, hanya menyisakan keharuman melati yang perlahan pudar ditelan udara.

​Dari atas patung batu, Tetua Gu—yang ternyata sejak tadi hanya berpura-pura mendengkur—perlahan membuka satu matanya dan menyeringai lebar. "Bocah... kau rupanya benar-benar tahu cara memikat perhatian burung cendrawasih paling sombong di atas awan sana."

​Mengabaikan kelakar sang tetua, tangan Zei bergetar pelan dilanda gelombang haru tak bertepi. Perlahan, ia membuka tutup kotak giok itu. Sebuah pil bundar berwarna emas kecokelatan memancarkan pendar redup. Aroma herbalnya begitu murni dan pekat, uapnya saja langsung menenangkan meridian Zei yang berdenyut tegang.

​Tanpa keraguan seujung kuku, Zei meraup pil itu dan menelannya bulat-bulat.

​Begitu pil itu menuruni kerongkongannya, letupan energi bumi yang terlampau murni meledak hebat di pusat tubuhnya. Aliran tenaga hangat itu menderas bak air terjun suci, membilas seluruh ruas pembuluh darahnya, menutup rapat luka gores di lengan kirinya dalam hitungan menit, dan memadatkan kapasitas Qi tanah di dalam dantian-nya ke tingkat kemurnian yang mustahil dicapai dalam latihan biasa. Seluruh ampas kelelahannya hangus tak bersisa, digantikan oleh fondasi kekuatan baru yang memusat sekeras inti bumi.

​Fajar perlahan membelah kegelapan di ufuk timur, menumpahkan semburat merah menyala di atas atap Stadion Kuarsa Putih di kejauhan. Zei bangkit berdiri, melangkah tenang ke ujung tebing kuil tua. Sisa-sisa jubah rami cokelatnya berkibar menantang angin pagi, membingkai sepasang matanya yang kini memancarkan keteguhan sekeras batu gunung.

​Seluruh sisa kekerdilan hatinya telah terbakar habis, disucikan oleh perhatian rahasia dari langit malam ini. Badai konspirasi kaum kota telah menantinya di arena bawah sana, dan sang anak petani dari Desa Danau Keruh kini siap untuk menghantamnya hingga hancur berkeping-keping.

1
yulius hans
kok ngak tamat sich
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor 💪💪💪
Danzo28: aminnn
terimakasih ya
selanjutnya
sehat selalu 🥳🥳
total 1 replies
Mamat Stone
🤔
Mamat Stone
/Determined//Determined//Determined/
Mamat Stone
/Angry//Angry//Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
😈/Determined/😈
Mamat Stone
😈/Angry/😈
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
buktikan merah Mu Jagoan Neon 😈
Mamat Stone
waktunya Jagoan Neon beraksi 😈
Mamat Stone
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!