Zivanya Aurelia Wardana (20) pergaulan bebas membuatnya mengalami mimpi terburuk dalam hidup. Menjadi ibu diusia yang masih begitu muda
Amarah Keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun hal itu bisa dicegah oleh seorang dokter tampan bernama Zionathan (24)
Ziva memberontak, memberi syarat pada Zio untuk mencarikan ayah bagi bayinya, menggantikan sang kekasih yang pergi entah kemana
Tak disangka jika Zionathan menjadikan dirinya sendiri sebagai ayah untuk bayi itu sekaligus suami untuk Zivanya
Bagaimana pernikahan atas dasar tanggung jawab itu dapat bertahan? dan bagaimana Zio bertindak saat ayah kandung bayi itu datang dan meminta Zivanya serta anaknya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
"DIAM!" Bentak Richie, ia tak tau bagaimana kondisi diluar kamar. Bisa saja Zio atau Zavier masuk dan membawa istri serta putrinya pergi
"Kalian tidak akan pergi dengan siapapun! Kalian hanya milik aku!"
Bruk
Baru saja ia bicara, pintu kamar itu telah rusak, menampilkan seorang pria tampan dengan tubuh tegap
"PAPA!" Teriak Zenata begitu melihat pria yang ia sayangi berdiri dihadapannya
"Zena!" Napas Zio seperti tercekat, putrinya berada ditangan musuh yang tengah memegang senjata, terlebih dibelakang pria itu juga ada Ziva yang terlihat ketakutan
"Zena mau pulang Pah! Zena gak mau disini!"
"Iya sayang! Zena sabar yaa!" Bujuk Zio
"Diam disana! Jika kamu maju satu langkah lagi maka kamu akan melihat jasad putri kecilmu ini!"
Zio berhenti, tangannya terkepal. Ia tak boleh gegabah dalam bertindak, bagaimanapun Richie bisa saja melakukan hal nekad
"Kamu akan membunuh anak kecil?"
"Dia putriku! Aku bebas melakukan apapun padanya!" Ujar Richie yang siap dengan pistol nya
"Dia bukan putrimu! Dia putriku! Putri Zionathan!"
Zavier yang baru saja masuk ikut terkejut, adik serta keponakannya kini dalam bahaya
"Lo gila? Lepasin mereka bangs__" teriak Zavier namun Richie seperti tak mendengar
"Minggir! Beri kami jalan atau nyawa Zena akan menjadi korbannya!" Richie memperingati
Dua pria itu mulai bergeser, seperti memberi jalan namun keduanya saling melirik
Begitu Richie dekat, Ziva mendorong tubuh pria itu hingga Zio berhasil mengambil alih senjatanya dan Zena berada ditangan Zavier
"Mati kamu baji___"
Zio seperti kehilangan kendali, tubuh Richie menjadi sasaran empuk. Tak ada cela hingga wajah pria itu tak berbentuk
Sementara Zavier mendekap keponakannya agar Zena tak melihat adegan kekerasan itu
"Zena sini sayang!" Ziva mengambil alih putrinya lalu mendekap nya, sementara Zavier memisahkan Zio dari Richie
"Dia bisa mati kak!" Dengan susah payah Zavier berhasil menarik adik iparnya itu dari atas tubuh Richie, jika terlambat mungkin nyawa pria itu sudah tidak tertolong
"Biarin Zavi! Baji___ ini memang pantas mati!" Zio memberontak namun Zavier memeluk pinggangnya erat
"Kita bisa dalam masalah kak! Biar hukum yang bekerja!"
Mendengar penuturan sang kakak ipar, Zio mulai tenang. Pandangannya tertuju pada dua perempuan kesayangannya yang tengah ketakutan
Pria tampan itu mendekat, bersimpuh dihadapan sang istri yang tengah terisak sambil memeluk putrinya
Zio memeluk keduanya dengan begitu erat. Seolah takut jika mereka kembali terpisah "Maafin Papa sayang! Papa terlambat!"
Zio menangis, bahunya bergetar seolah ia juga sama terlukanya "Papa!"
Suara kecil itu membuat Zionathan menatap kearah gadis kecilnya "Ini Papa sayang!"
Zena yang semula berada didalam pelukan sang Mama, segera berpindah. Zio mendekap putri kesayangannya itu dengan isak tangis
"Zena gak pa-pa?" Tanyanya dan gadis kecil itu mengangguk
Kini pandangannya tertuju pada wanita yang menangis ketakutan "Kamu gak pa-pa sayang?"
Ziva mengangkat wajahnya menatap manik teduh milik sang suami. Ketakutan mulai menghampiri jika pria yang telah menikahinya itu akan marah karena dirinya yang keluar rumah tanpa izin
"Kak Zio.."
"Kita pulang sekarang! Badan Zena sedikit demam!" Zio memotong ucapan sang istri membuat Ziva merasa khawatir
Dengan cepat Zio menggendong tubuh putrinya, Zena mengalungkan tangannya pada bahu sang ayah
Sementara Richie kini diamankan oleh pihak berwajib dan Zavier akan ikut bersama mereka
Didalam mobil keheningan terjadi, Zio mengemudi sementara Ziva duduk disamping suaminya sambil memangku Zenata yang terlelap
Sesekali Ziva melirik kearah sang suami sementara Zio lebih memilih fokus mengemudi
"Kak Zio"
Pria tampan itu mengalihkan pandangannya sejenak lalu tersenyum hangat lalu mengusap kepala sang istri tanpa bicara
Perjalanan terasa panjang karena tak ada pembicaraan, Ziva merasa jika suaminya berbeda. Rasa bersalah mulai merasukinya
Sesampainya di rumah, mereka telah ditunggu oleh semua penghuni rumah. Bahkan Akbar serta Mala menginap dirumah Dirgantara
"Zena!" Mala dan Zalika mendekat namun Zio lebih dulu mencegah
"Zena sedikit demam, biar Zio bewa kekamar dulu!" Ujarnya
"Iya nak!" Zalika lalu membawa pandangannya pada sang putri yang keluar rumah tanpa memberitahunya
"Apa mau Mama periksa dulu? Takutnya ada apa-apa!" Tanya Mala dengan nada khawatir
"Nanti biar Zio aja yang periksa!"
Mala mengangguk, memberikan jalan bagi pria itu untuk membawa putrinya yang tengah terlelap
Sementara Zalika memilih untuk diam, mencoba untuk tidak bertanya mengapa Ziva pergi tanpa pamit terlebih dahulu
Sesampainya dikamar, Zionathan lebih dulu membaringkan putrinya lalu menatap sang istri yang mengekor dibelakang
"Kamu ganti bajunya Zena dulu! Aku ambil alat untuk periksa Zena!"
Ziva mengangguk, mengganti pakaian putrinya sementara Zio kembali ke mobil untuk mengambil tas miliknya yang berisi alat dan beberapa obat
Ziva hanya melihat saja bagaimana suaminya itu merawat putri mereka. Sejak tadi juga Zio tak bicara sepatah katapun
Melihat sang suami telah menyimpan kembali tas kerjanya, Ziva mendekat dan mencoba bicara
"Kamu juga istirahat! Pasti capek kan?" Ujar Zio lembut hal yang membuat wanita itu kian takut
"Aku mau bicara!" Ziva memberanikan diri berdiri dihadapan suaminya
"Iya, nanti yaa sayang! Sekarang kamu istirahat dulu!" Zio membelai kepala istrinya
"Aku maunya sekarang!"
Pasrah, Zio berhenti. Menatap manik indah yang mulai mengembun "Mau bicara apa?"
Ziva lebih dulu menghela napasnya "Aku minta maaf!"
"Kamu gak salah!" Jawaban itu tak lantas membuat wanita cantik itu merasa tenang
"Aku salah karena sudah keluar rumah tanpa bilang sama siapapun!" Ujarnya "Aku dapat kiriman foto Zena, dan Richie minta untuk aku datang kesana tanpa memberitahu siapapun!"
Zio mendengar, membiarkan sang istri mengakui kesalahannya. Ia memang marah, bukan karena Ziva menemui pria masa lalunya
Tapi ia khawatir, bagaimana jika Richie melakukan hal buruk pada istrinya itu "Maaf!"
"Kamu gak perlu minta maaf! Kakak ngerti!" Zio hendak berlalu namun wanita itu kembali menghalangi jalannya
"Kak Zio marah!" Cairan bening telah membasahi pipinya
"Kakak gak pernah bisa marah sama kamu!"
"Tapi dari tadi kakak diam aja!" Air mata mulai membasahi pipi lebih deras
"Kakak cuma khawatir sama keselamatan kamu! Kakak memang marah karena takut jika Richie melakukan hal yang buruk. Kakak marah karena kakak merasa jika kamu tidak percaya pada kakak sepenuhnya!"
Penuturan panjang itu membuat Ziva merasa bersalah. Takut jika sang suami benar-benar marah dan meninggalkan nya
Ziva membenamkan dirinya dalam pelukan hangat suaminya, menumpahkan segala rasa yang ia rasakan dan Zio membelai lembut kepala hingga punggung istrinya itu
"Maafin aku! Tolong jangan diam lagi!" Wanita cantik itu mulai terisak
"Enggak! Udah jangan nangis lagi! Semuanya sudah berakhir"
Ziva mengurai pelukannya, dengan lembut Zionathan mengusap pipi wanita yang paling ia cintai itu