Istri yang Tak Dianggap
Sinopsis
Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.
Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.
Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan-kejutan untuk Anjeli 2
"Jika kau tidak mempu membuat orang lain tersenyum, paling tidak berikan senyum tulusmu."
By Rajuk Rindu.
💝💝💝💝
Herman yang baru sampai ke kantor, dikejutkan dengan berita jatuhnya pesawat yang ditumpangi Riyan, pemilik perusahaan Hadi group, sekaligus rekan kerjanya.
Semalam Herman hanya disibukkan dengan masalahnya, hingga tidak sempat melihat berita.
"Kirim ucapan duka ke kantor Hadi Group." perintah Herman pada sekretarisnya.
Pagi ini Herman dan rekan kerja yang lainnya, berencana menyambangi kantor Hadi group, mereka ingin berbelasungkawa atas kepergian Riyan.
"Maaf pak, direktur kami sedang berduka, kami belum bisa menerima tamu." kata pak Jaya, saat Herman menelponnya.
Semalam Herman menyambangi kantor Riyan mencari Azkia, sama office boy dia di arahkan ke ruangan direktur, dan mendapati Azkia sedang berpelukan dengan seorang lelaki.
"Pasti lelaki itu yang menjadi direktur baru di kantor Riyan." batin Herman.
"Tapi kenapa dia bisa bersama Azkia, apakah lelaki itu yang telah membuat Azkia berpaling darinya.
"Aku harus mencari tahu siapa lelaki itu sebenarnya dan akan merebut kembali Azkia dari tangannya." batin Herman. Herman kembali fokus dengan pekerjaannya, sefokus apa pun dia, namun tetap saja bayangan Azkia dan lelaki itu menghantuinya.
****
Sementar Anjeli yang sakit perut dan mules-mules merasa dikerjai Wati. Menyumpah serapah Wati yang sudah pergi bersama Arta.
"Pasti pembantu itu, sudah menaruh obat pencahar di ramuan tadi." batin Anjeli.
"Dasar pembantu tak tahu diri, tunggu saja pembalasanku" Anjeli mengumpat di dalam hati.
Karena rasa sakitnya tidak juga hilang, Anjeli pun keluar kamar dan duduk di sofa ruang tamu, kemudian dia menelpon orang kepercayaannya, supaya menjemputnya di rumah Herman.
Sepuluh menit kemudian sebuah mobil pajero hitam berhenti tepat di depan rumah Herman, Wati yang kebetulan juga sampai, meminta driver go car berhenti agak menjauh, saat dia meliht Anjeli keluar dari pagar kemudian masuk ke mobil tersebut. Wati mengurungkan niatnya pulang ke rumah.
"Pak ikut mobil itu." ujar Wati.
Driver go car itu pun mengikuti mobil yang membawa Anjeli. Mobil itu meluncur ke jalan sudirman, kemudian lanjut ke jalan Diponegoro, belok masuk ke parkiran rumah sakit.
"Berhenti di sini saja pak." ujar Wati meminta driver go car berhenti di tepi jalan.
Wati turun dari mobil setelah membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih. Kemudian dia memakai kaca mata hitam dan masker, pelan tapi pasti dia mengukuti langkah Anjeli dari belakang.
Anjeli menyusuri trotoar rumah sakit tanpa curiga sedikit pun, Kemudian berbelok menuju ruangan dokter spesialis penyakit dalam.
"Selamat pagi nyanya Anjeli." sapa seseorang yang mengenakan stelan dokter
"Selamat pagi dok." balas Anjeli.
Diam-diam Wati masuk ke ruang dokter tersebur, saat Anjeli dan dokter cantik itu asik berbicara, hingga tidak menyadari kalau Wati bersembunyi di balik tirai ranjang tempat pasien berobat. Di persembunyiannya, Wati menajamkan pendengaran dan mencuri percakapan Anjeli dengan dokter itu.
"Ini uang sisa dari misi kita, Herman sangat percaya dengan hasil diaknosa kemaren." Anjeli menyerahkan amplop kepada dokter cantik itu.
"Senang bekerjasama dengan anda." ucap dokter itu seraya menyalami tangan Anjeli.
"Rahasiakan semua ini dok! jangan sampai Herman mengetahuinya, kalau dia tahu, bisa-bisa aku dibuangnya jauh-jauh."
"Tenang saja nyonya Anjeli." kata dokter itu seraya menulis sesuatu di buku catatannya.
"Aduuh!" Anjeli memegang perutnya yang tiba-tiba mules lagi.
"Bu dokter, numpang ke toilet." ujar Anjeli, terus menyelonong masuk toilet, dokter cantik itu, hanya geleng kepala melihat tingkah laku Anjeli, kemudian dia menerima telpon dari seseorang.
Kesempatan ini dimanfaatkan Wati untuk keluar dari persembunyiannya, dengan merundukkan kepala dan berjingkat pelan, dia meninggalkan ruangan dokter cantik itu.
"Selamat! selamat!" kata Wati seraya mengurut dada, dia sudah bisa bernapas lega.
"Baik lah Anjeli, jika itu mau mu, kita akan bermain-main." batin Wati, terus menyusuri trotoar rumah sakit. begitu sampai parkiran. Dia kembali memesan go car.
Wati merogoh saku kemejanya, ada getar notifikasi pesan masuk dari Herman, saat dia sudah berada di dalam mobil.
[Jemput Arta ya, mang ujang istri belum sembuh dan tidak ada yang jaga] pesan dari Herman, biasa memang mang ujang yang antar jemput Arta.
[Baik pak] balas Wati, seraya meminta driver go car singgah dulu ke sekolahnya Arta. Kerena searah dengan rumah Herman.
Lima menit kemudian Wati sampai kesekolah privatnya Arta, sejak covid 19 melanda, Arta dan lima orang teman belajar hanya privat dengan gurunya, yang kebetulan rumah gurunya berada dilingkungan sekolah.
"Tunggu sebentar ya pak." kata Wati membuka pintu mobil dan turun.
Belum sempat Wati masuk ke pagar sekolah, Arta sudah berlari kecil menghampirinya.
"Apa kakak, sudah ketemu bunda?" tanya Arta dengan mata sendunya.
"Belum sayang, tapi tadi bundanya sempat telpon, pesan bunda satu minggu lagi bunda pulang dan Arta harus nurut apa kata ayah." Wati berjongkok mensejajari Arta.
"Maafkan kakak ya sayang, bohong lagi padamu." batin Wati, seraya berdiri dan menggandeng tangan Arta, masuk ke dalam mobil.
"Pak berhenti dimini market depan tu saja ya." tujuk Wati, dia ingin memberi beberapa kebutuhan.
"Yuk sayang, kita turun." Wati dan Arta turun dari mobil setelah menbayar ongkos dan mengucapkan terima kasih.
Sambil menggandeng tangan arta, Wati masuk ke mini market, mengambil keranjang belanjaan, dia akan membeli kebutuhan dapur yang sudah habis. Tadi pagi sebelum dia berangkat mengantar Arta, Herman memberinya uang lima ratus ribu untuk membeli kebutuhan dapur.
"Kak, Arta boleh beli ini." Arta menenteng good time rasa coklat.
"Boleh sayang."
"Dua ya." pinta Arta, Wati mengangguk.
Setelah semuanya cukup dan tak ada kelupaan lagi, Wati menuju kasir.
"Dua ratus delapan puluh kak." kata penjaga kasir.
Wati dan Arta keluar setelah membayar barang belanjaannya dan mengucapkan terima kasih, lumayan banyak yang dibeli Wati. Wati dan Arta berjalan kaki kira-kira tiga puluh meter baru sampai ke rumah.
Hanya butuh waktu lima menit, Wati dan Arta pun sampai ke rumah, Wati mengeluarkan anak kunci dari dalam tasnya.
Klik, pintu terbuka.
Belum sempat mereka masuk, sebuah mobil pajero berhenti tepat di depan rumah, dan Anjeli ke luar dari mobil itu, wajahnya terlihat kusut dan pucat.
Wati yang melihat keadaan Anjeli hanya senyum-senyum saja.
"Anak mama sudah pulang." ujar Anjeli berjongkok mensejajari Arta, kemudian mencium puncak kepalanya.
"Mama Anjeli dari mana?" tanya Arta seraya menatapnya.
"Ayuk sayang masuk." kata Wati, belum sempat Anjeli menjawab pertanyaan Arta.
Wati menggandeng tangan Arta dan membawanya masuk ke kamar, meninta Arta mengganti bajunya. Wati selalu begitu, dia berusaha menjauhkan Arta dari Anjeli, walaupun sebenarnya dari percakapan Herman dan Anjeli kemaren menjurus kalau Arta anak Anjeli, namun Wati tetap meragukannya.
"Ingat pesan kakak ya, jangan minta bantuan mama Anjeli, karena dia lagi sakit." Wati mengingatkan kembali kata-katanya kemaren.
"Iya kak." ujar Arta mengangguk.
Wati kemudian ke luar dari kamar Arta, sementara Arta istirahat di kamar, Wati memasak menu kesukaan Herman dan Arta, setelah semuanya masak, Wati menyimpan masakan di dalan lemari dan mengunci pintunya serta menyimpan kuncinya, di dalam tudung saji, sengaja diletakkannya semanggok sisa bubur, yang dibuatnya untuk Anjeli tadi pagi.
Setelah selesai semuanya, Wati mengambil sapu lidi dan menuju taman belakang, dia mulai membersihkan taman dan menyapu sampah, kemudian membakarnya.
Benar dugaan Wati, Anjeli pasti kelaparan, karena beberapa kali bolak balek ke toilet.
Anjeli yang mencium aroma masakan Wati segera ke dapur, kampung tengahnya sudah demo minta diisi, sampai ke dapur dia menyingkap tutup saji.
"Hah! hanya ada bubur." gumam Anjeli, kemudian dia mengalihkan pandangannya kelemari penyimpanan.
Anjeli tersenyum, melihat menu yang sudah di masak Wati, semuanya menggoda, dia memegang perutnya yang sudah berteriak-teriak kelaparan. Anjeli menuju rak piring, mengambil piring dan sendok, membuka mejikom mengambil nasi.
Wati yang dari tadi memperhatikannya dari balik pintu, hanya tersenyum simpul. Dia menunggu ekspresi Anjeli selanjutnya.
Sepiring nasi sudah berada di tangan Anjeli, dia melangkah meletakkan nasinya di atas meja makan, kemudian tangannya menggapai gagang pintu lemari. Ditariknya, terkunci.
Wati masih dengan senyuman nakalnya, segera pergi menghilang, sebelum di dengarnya teriakkan kuntilanak itu, Wati pergi ke rumah tetangga sebelah, kemudian ngobrol seraya membantu Nurul mengupas bawang, karena tetangga Herman itu punya rumah makan dan setiap hari mengupas bawang, dan Wati selalu membantu Nurul apa bila pekerjaannya di rumah Herman selesai.
*****
Jangan lupa like, komen dan votenya ya readera
Terima kasih 🙏🙏🙏
udah gak dianggap suami, di rendahkan, di maki2, di sakiti, dikasari, di beri madu, jagain anak madu lagi...sempurna ketololan mu sbg wanita