Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuusir Mereka
Selesai di arak keliling komplek, Sintia dan Dimas dikembalikan warga ke rumah Hana. Dan sekarang mereka berdua sedang berhadapan dengan Hana dan Bayu. Ibu Sundari juga sudah bangun, betapa kagetnya dia saat mendapati rumahnya banyak warga mengantarkan Dimas dan Sintia.
Hana meminta malam itu juga Dimas dan Sintia meninggalkan rumahnya. Dia tidak mau semakin lama menampung para pembuat maksiat yang akan membuat rumahnya kotor. Pak Rt dan 2 perwakilan warga juga masih ada di rumah Hana, untuk memastikan jika Dimas dan Sintia pergi dari rumah Hana.
" Kamu tidak bisa mengusirku begitu saja, Hana. Aku ini masih sah suami kamu, dan aku juga berhak atas rumah ini. Rumah ini memang pemberian kakak kamu, tapi ini rumah hadiah pernikahan kita jadi ada hak ku di dalam rumah ini."Ucap Dimas tetap ingin bertahan di rumah itu karena dia merasa punya hak dengan rumah pemberian Farhan.
" Tidak tahu malu, setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku, kamu masih saja meminta hak mu di rumah ini? Hak mana yang kamu minta? Apa ada uangmu yang dipakai untuk membeli barang‑barang di rumah ini? Jika ada tunjukan padaku dan silahkan kamu ambil dan kamu bawa pergi. Aku tidak mau tahu, malam ini juga kalian harus pergi dari rumahku !!."Seru Hana tetap kekeh meminta Dimas dan yang lainnya pergi dari rumahnya.
" Soal perzinahan mereka bagaimana ini, pak Rt? Masa iya kita diamkan saja, kalau kita biarkan yang ada mereka akan tetap berzina nantinya. Kita sudah tahu mereka berzina tapi tidak kita nikahkan, kita juga yang dosa. Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka, setelah itu kita usir mereka dari komplek ini."Ucap pak Basuki salah satu warga.
Mata Sintia melotot ke arah pak Basuki, dia tidak suka dengan ide gilanya. Meskipun dia memang ingin menjadi istri Dimas, bukan berarti mereka menikah karena di gerebek dan sampai di arak begitu.
" Nikahkan saja mereka pak."Ucap Bayu pelan namun pasti.
" Bayu, Sintia ini istri kamu. Kenapa main kamu suruh nikahkan dengan Dimas?."Tanya ibu Sundari yang memang belum tahu jika sebelum di arak tadi Sintia sudah di talak.
" Sintia sudah Bayu talak, Bu. Anak yang didalam kandungannya juga bukan anakku. Sintia bukan lagi tanggung jawabku."Ucap Bayu.
" Tapi pak Bayu, mbak Sintia ini baru saja andai ceraikan dan dia juga sedang mengandung. Apa bisa dinikahkan begitu saja?."Tanya pak Rt ragu dengan keputusan Bayu.
" Terserah pak Rt saja. Maaf saya harus pergi karena saya sudah tidak pantas untuk tinggal di sini. Hana maafkan aku, terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk keluargaku."Ucap Bayu pamit untuk pergi.
Bayu akan menginap di hotel, dia malu jika masih tinggal di rumah Hana. Sebelum pergi, Bayu masuk kamar yang selama ini dia tempati untuk membereskan barang‑barangnya yang ada di kamar.
" Dimas bagaimana ini?."Tanya Sintia sambil menggoyangkan lengan Dimas.
" Diamlah Sintia, aku juga tidak tahu harus apa."Jawab Dimas kesal.
" Hana, apa kamu itu mau menguasai harta Dimas? Jangan serakah kamu."Ucap ibu Sundari tidak terima atas pengusiran dari Hana.
Dia beranggapan jika apa yang selama ini mereka nikmati juga milik Dimas. Rumah dengan segala fasilitasnya, bahkan mobil Hana juga dia merasa jika dia dan anaknya berhak memiliki.
" Jangan mempermalukan diri kalian. Sebelum aku memanggil polisi, lebih baik kalian pergi dari rumahku."Ucap Hana.
" Atas dasar apa kamu melaporkan kami?."Tanya ibu Sundari.
" Perzinahan Dimas dan Sintia."Jawab Hana dengan singkat.
Semua terdiam, suasana pun berubah jadi hening. Sepertinya mereka takut jika Hana benar‑benar membawa masalah itu ke jalur hukum.
" Aku pergi. Sintia, perceraian kita akan secepatnya aku urus dan kamu cukup terima beres saja."Ucap Bayu lalu keluar rumah menghampiri mobil yang dia parkirkan di jalan depan rumah.
" Bayu tunggu !! Kamu mau kemana?."Seru ibu Sundari menghentikan langkah Bayu.
" Bayu mau kembali ke luar kota lagi, Bu."Jawab Bayu sengaja berbohong agar ibunya tidak mengikutinya.
Bayu kembali melangkah menjauh dan masuk ke mobil meninggalkan rumah Hana. Di ruang tamu, Sintia dan Dimas sedang di sidang pak Rt. Pak Rt tidak bisa menikahkan mereka begitu saja, sebab Sintia belum resmi bercerai dan dia juga sedang hamil. Pak Rt menegaskan mereka harus keluar dari rumah Hana dan tidak lagi tinggal di komplek perumahan itu untuk menghindari amukan warga.
" Ingat kau Hana !! Aku akan membalas semua perbuatanmu ini, kamu sudah mempermalukanku."Ucap Sintia mengancam Hana.
" Kamu sekarang boleh menang, Hana. Tapi ingat, aku akan menuntut apa yang seharusnya menjadi hakku saat persidangan nanti. Ayo Bu, Sintia, kita kemasi barang‑barang kita dan kita tinggalkan rumah ini."Seru Dimas sudah kelihatan sifat aslinya yang hanya membutuhkan harta Hana saja.
" Mas Dimas, tolong jangan buat keributan lagi. Silahkan anda pergi agar tidak mengundang amarah warga lagi. Kalau anda tidak cepat pergi, saya khawatir warga akan datang lagi."Ucap pak Rt.
" Pergi kalian dari rumah ku !! Selama ini kalian itu hanya benalu yang tidak tahu malu, sudah dipelihara tapi tidak tahu diri !! Cepat pergi dari rumahku !."Bentak Hana dengan lantang.
Hhhuuuuhhh
Akhirnya dengan berat hati Dimas, Sintia dan ibu Sundari keluar dari rumah Hana. Mereka keluar rumah Hana saat sudah larut malam, sudah sekitar jam setengah 12 malam.
" Terima kasih pak Rt, maaf seperti nya Hana sedang pusing dengan kejadian malam ini. Maaf kalau dia sudah tidak banyak bicara lagi."Ucap Vera mewakili Hana mengucapkan terima kasih kepada Pak Rt.
" Iya tidak apa‑apa mbak, Vera. Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya."Pak Rt berpamitan.
Setelah pak Rt dan perwakilan warga pergi, Vera menutup pintu dan menghampiri Hana yang sudah masuk ke kamarnya lebih dulu. Di dalam kamar, Hana menangis sesunggukan. Sekuat apapun dia menahan tangis dan kesedihannya, pasti akan tumpah juga. Hana hanya seorang wanita biasa, yang punya hati dan perasaan.
Dimas, Sintia dan Ibu Sundari akhirnya menemukan rumah kontrakkan yang tidak jauh dari rumah Hana. Mereka terpaksa mengontrak rumah seadanya, hari sudah malam membuat mereka tidak bisa memilih rumah yang lain.
" Kenapa rumahnya kecil begini sih, Dim? Mana kamarnya cuma 2, terus ibu mau tidur di mana?."Tanya Ibu Sundari dengan kesal.
" Sudahlah bu, yang ada saja dulu. Ini juga masih untung kita dapat kontrakan, kalau kita sampai malam ini tidak ada kontrakan kita mau tidur di mana?."Ucap Dimas.
" Nanti aku tidur sama Dimas, ibu tidur saja sendiri. Nanti kalau ada Lastri ibu baru tidur berdua sama Lastri, sudahlah bu ini sudah malam aku sudah lelah dan mengantuk."Ucap Sintia.
Hhhhaaahhh
Lastri ?
Ibu Sundari baru teringat jika Lastri belum tahu jika mereka sudah tidak tinggal lagi di rumah Hana. Bagaimana jika dia pulang ke rumah Hana?
" Lastri belum tahu kita pindah, Dim?."Ucap Ibu Sundari.
" Sudah nanti Dimas telepon Lastri."Jawab Dimas lalu masuk ke kamarnya.
Mau tidak mau ibu Sundari juga masuk kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Dan berharap semua yang terjadi malam ini hanyalah mimpi belaka.