Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Bocor
Malam semakin larut, membawa hawa dingin yang menusuk dari balik perbukitan.
Di dalam kamar utama, Alice masih terdiam dengan gemetar.
Napasnya masih tersengal, sisa dari tangis histeris yang coba ia redam di dalam kamar mandi selama berjam-jam.
Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia melangkah mendekati lemari pakaian besar berbahan kayu jati berukir emas yang berdiri di sudut ruangan.
Ia membuka pintu lemari dengan perlahan, memastikan tidak ada suara derit sekecil pun yang lolos.
Di tangannya, benda plastik kecil bergaris dua itu terasa bagai beban yang begitu berat.
Alice menyelipkan testpack tersebut ke bagian paling dalam, di bawah tumpukan gaun-gaun sutra tebal yang baru saja dibelikan Elvano dua hari lalu.
Ia menumpuknya sedemikian rupa, memastikannya benar-benar tak terlihat mata dari pandangan sekilas.
Setelah menutup pintu lemari, Alice menyentuh dadanya yang bergemuruh kencang, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa rahasia terbesarnya aman, setidaknya untuk malam ini.
Namun, di dalam rumah seorang Salvatore, tidak akan ada kebohongan yang mampu lolos dari kebenaran.
Jarum jam dinding telah melewati angka sebelas malam ketika pintu kamar terbuka.
Elvano masuk dengan langkah yang sedikit terseret, raut kelelahan di wajah tampannya kini bercampur dengan ketegangan pasca-rapat panjang yang sempat tertunda tadi pagi.
Ia melirik ke arah ranjang, menemukan Alice yang sudah berbaring membelakanginya, berpura-pura tidur di bawah selimut tebal.
Elvano mengembuskan napas panjang, melonggarkan dasinya, dan melepas jas hitamnya.
Pria itu berniat mengambil selembar kemeja tidur katun tipis yang biasa disiapkan Mbok Nem di dalam lemari utama.
Biasanya, pakaian tidurnya diletakkan di bagian pria, namun sore tadi, beberapa pelayan baru saja merapikan ulang isi lemari dan memindahkan sebagian pakaian santai Elvano ke sisi yang berdampingan dengan pakaian Alice demi menghemat ruang.
Elvano membuka pintu lemari jati tersebut. Wangi parfum lavender milik Alice seketika menyapa indra penciumannya.
Pria itu mengulurkan tangannya yang besar, menggeser beberapa gantungan baju, lalu merogoh ke bagian rak bawah tempat tumpukan baju rajut berada, mencari kaus hitam miliknya yang biasa terselip di sana.
Jemari Elvano menyentuh sesuatu yang asing. Sesuatu yang keras, tipis, dan terbuat dari plastik.
Dahi Elvano berkerut tajam. Ia menarik benda asing itu keluar dari bawah tumpukan baju rajut wol milik Alice, membawanya ke bawah temaram lampu kamar yang berwarna kuning hangat.
Detik itu juga, seluruh udara di dalam dada Elvano seolah-olah tersedot habis.
Sang Bos mafia berdiri mematung.
Seluruh tubuhnya yang tegap mendadak kaku bagai batu.
Di dalam genggaman tangan besarnya yang dipenuhi urat-urat tegas, sebuah alat tes kehamilan plastik putih berlatar belakang dua garis merah tebal menatapnya balik dengan kejam.
Dua garis merah. Positif. Hamil.
Seketika itu juga, ingatan masa lalu menghantam kepala Elvano.
Vonis dokter rumah sakit di Milan sepuluh tahun lalu, hasil laboratorium yang menyatakan jumlah sel spermanya mendekati nol akibat trauma hantaman pipa besi di perut saat perang klan masa remaja, serta dokumen medis rahasia yang terkunci di brankasnya semuanya menyatakan hal yang ia yakini seumur hidup, Elvano Lucane Salvatore mandul.
Ia tidak bisa memberikan keturunan.
Dan jika alat di tangannya ini menunjukkan hasil positif, maka pikirannya yang kejam dan penuh kecurigaan hanya memikirkan satu kesimpulan tunggal yang mengerikan.
Alice telah ditiduri oleh pria lain.
Aura membunuh yang masif, dan sedingin es kutub utara seketika meledak dari tubuh Elvano, memenuhi setiap sudut kamar utama yang luas hingga suasana di sana mendadak terasa mencekik.
Sepasang mata cokelat gelapnya berubah menjadi hitam pekat, memancarkan kekejaman dan murka yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Alice," panggil Elvano.
Suaranya tidak keras. Suara itu begitu rendah, namun memiliki getaran bariton yang sangat mematikan.
Alice yang sejak tadi memang tidak tidur, seketika tersentak.
Rasa dingin yang teramat sangat menjalar di tengkuknya saat mendengar nada suara Elvano.
Ia membalikkan tubuhnya perlahan, dan jantungnya nyaris berhenti berdetak saat melihat Elvano berdiri di depan lemari pakaian, membelakangi cahaya, memegang benda plastik putih kecil di tangan kanannya.
Rahang tegap Elvano mengeras dengan urat-urat leher yang menonjol tegap.
Pria itu melangkah maju mendekati ranjang, setiap langkah kakinya terdengar seperti lonceng kematian di telinga Alice.
"Buka matamu dan tatap benda ini," desis Elvano, melemparkan testpack tersebut ke atas kasur, tepat di depan wajah Alice yang kini memucat pasi bagai mayat.
"Jelaskan padaku... apa maksud dari dua garis sialan ini?!"
Alice gemetar hebat. Ia bangkit dari berbaringnya, mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang, memeluk kedua lututnya sendiri dengan wajah yang dipenuhi air mata ketakutan.
"T-Tuan... Elvano... saya..."
"SIAPA?!" bentak Elvano, suaranya menggelegar memecah keheningan malam bagai guntur yang meruntuhkan langit.
Ia maju satu langkah besar, mencengkeram kedua bahu ramping Alice dengan kekuatan yang nyaris mematahkan tulang gadis itu, memaksanya untuk menatap langsung ke arah matanya yang dipenuhi amukan badai.
"Katakan padaku, pelacur kecil! Siapa bajingan yang sudah menyentuhmu di rumah ini?! Siapa anjing penjaga yang berani membuka pahamu di belakangku?!" raung Elvano, napasnya memburu panas dan kasar, wajah tampannya di penuhu oleh rasa sakit hati dan penghinaan yang luar biasa besar.
"Aku melindungimu! Aku menghujanimu dengan kemewahan! Dan ini caramu membalas harga diriku?! Menanam benih haram dari pria lain di dalam rahimmu?!"
"Tidak! Tidak, Tuan Elvano! Demi Tuhan, tidak!"
Jeritan histeris Alice pecah bersama isak tangis yang memilukan.
Air matanya mengalir deras membasahi pipi putihnya.
Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan teramat dalam, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Elvano di bahunya.
"Saya bersumpah... saya bersumpah tidak pernah ada pria lain! Selama saya hidup, selama saya berada di mansion ini, hanya Anda... hanya Anda satu-satunya pria yang pernah menyentuh saya, Tuan!" ratap Alice dengan suara yang parau dan habis, dadanya sesak oleh rasa takut yang melumpuhkan.
"Saya tidak pernah berbohong... saya tidak pernah mengkhianati Anda!"
"Bohong!!" Elvano menghempaskan tubuh Alice kembali ke atas kasur dengan sentakan kasar, lalu mencengkeram rahang gadis itu dengan jemarinya, memaksanya mendongak.
Matanya berkilat kejam dan dingin.
"Aku mandul, Alice! Seluruh dunia bawah tahu aku tidak bisa memiliki anak! Medis menyatakan aku tidak akan pernah bisa menghamili wanita mana pun seumur hidupku!"
Elvano mendekatkan wajahnya, desis napasnya terasa mengerikan di kulit Alice.
"Jadi, jika kau hamil hari ini, itu artinya ada seekor anjing di mansion ini yang sudah mengotori milikku. Katakan namanya sekarang, sebelum aku mengumpulkan seluruh pengawal di halaman dan mengeksekusi mereka satu per satu di depan matamu!"
Mendengar ancaman kegilaan Elvano, Di bawah cengkeraman kasar pada rahangnya, Alice menatap sepasang mata hitam pria yang telah menjelma menjadi monster pembunuh itu.
Rasa takut akan kematian dirinya dan janin di dalam rahimnya bertaut dengan ketulusan yang murni dari dasar hatinya.
Meskipun hubungan mereka berawal dari penculikan dan trauma, di dalam cengkeraman perasaan yang tak terlihat, Alice tahu ia tidak pernah mengkhianati pria ini.
"Saya tidak berbohong... jika saya berbohong, Anda boleh membunuh saya sekarang juga, Tuan Elvano..." lirih Alice di sela Isak tangisnya yang tersedu-sedu, tangannya yang mungil dan dingin perlahan naik, memberanikan diri menyentuh pergelangan tangan besar Elvano yang sedang mencengkeram rahangnya.
"Saya tidak tahu soal diagnosa medis Anda... saya tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Anda... yang saya tahu, sejak malam pertama saya dibawa ke tempat ini, tidak ada satu pun manusia yang berani mendekati saya selain Anda. Hanya Anda yang memiliki tubuh saya... hanya Anda..."
Alice memejamkan matanya, air matanya menetes mengenai ibu jari Elvano.
"Bayi ini... anak ini... ini adalah darah daging Anda, Tuan. Jika Anda tidak mempercayai saya... silakan bunuh saya... tapi saya mohon... jangan menuduh saya melakukan hal menjijikkan itu..."
Elvano tertegun.
Sentuhan tangan kecil Alice yang dingin di pergelangan tangannya, berpadu dengan tetesan air mata hangat yang mengenai kulitnya, perlahan-lahan bertindak bagai rem di tengah kegilaan otaknya.
Ia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik hazel Alice, tidak ada kilatan kebohongan di sana.
Yang ada hanyalah kejujuran, rasa takut yang teramat sangat, dan rasa pasrah seorang wanita yang sedang mempertahankan kehormatannya.
Cengkeraman tangan Elvano pada rahang Alice perlahan-lahan mengendur.
Pria itu mundur satu langkah, dadanya masih naik turun dengan tidak teratur, menatap bergantian antara wajah hancur Alice yang sedang menangis dan alat tes kehamilan di atas kasur.
Pikiran Elvano mendadak berkecamuk membingungkan.
Kejujuran Alice berbenturan keras dengan diagnosa medis yang ia yakini selama sepuluh tahun belakangan ini.
Jika Alice berkata jujur... maka diagnosa mandulnya adalah sebuah kesalahan.
Jika Alice berkata jujur... maka anak yang sedang tumbuh di dalam rahim gadis itu adalah pewaris sah dari klan Salvatore.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar utama, menyisakan suara isak tangis Alice yang memilukan di atas ranjang, sementara sang Bos mafia berdiri mematung di kegelapan malam.
Terjebak di antara jurang kecurigaan yang kejam dan secercah kebenaran baru yang siap mengubah seluruh hidupnya selamanya.