Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Tengah Hangatnya Januari
Rencana tawa di bawah guyuran air waterpark kemarin rupanya harus dibayar mahal oleh kondisi fisik Auna. Mungkin karena kelelahan yang menumpuk selama bertahun-tahun, ditambah beban emosional yang baru saja terlepas, pertahanan tubuhnya runtuh. Semalam, badannya panas tinggi hingga menggigil hebat, membuat seisi rumah panik bukan main.
Kini, ruangan VIP Rumah Sakit itu menjadi saksi bisu. Bau karbol menyengat menggantikan aroma klorin kolam renang yang mereka bayangkan. Auna terbaring lemah dengan selang infus menancap di punggung tangannya. Wajahnya pucat, namun guratan ketenangan tetap ada di sana.
"Mas... minum," suara Auna parau, nyaris hilang.
Zhafran yang sejak semalam tidak memejamkan mata langsung sigap. Ia membantu istrinya sedikit duduk, menyodorkan sedotan dengan tangan gemetar karena khawatir. "Pelan-pelan, Sayang. Masih pusing banget kepalanya?"
Auna hanya mengangguk lemah, lalu kembali memejamkan mata.
Tak lama, pintu kamar terbuka. Serombongan 'pasukan' masuk dengan wajah cemas. Ada Uti Yaya yang menuntun Zifa, serta Pak Digar dan Ibu Onik, orang tua Zhafran, yang datang membawa keranjang buah dan termos berisi sup hangat. Di belakang mereka, Rafka menyusul dengan tas kerja yang masih tersampir di bahu.
"Mama!" Zifa langsung berlari kecil menuju ranjang, tapi ia segera mengerem langkahnya saat melihat kabel-kabel yang menempel. "Mama masih sakit ya?"
"Zifa sayang, suaranya pelan-pelan ya, Nak. Mama lagi istirahat," bisik Ibu Onik lembut sambil mengusap bahu cucunya. Ia kemudian beralih menatap menantunya dengan tatapan prihatin. "Na, kok bisa sampai begini? Zhafran, kamu nggak jagain istrimu ya?"
"Bukan salah Zhafran, Ma," sahut Auna pelan, mencoba membela suaminya. "Auna-nya aja yang mungkin kecapekan."
Pak Digar, yang biasanya bicara tegas, kini tampak lebih lembut. Ia menepuk pundak Zhafran. "Kamu sudah makan, Fran? Jangan sampai yang nungguin ikut ambruk. Lihat itu muka kamu, sudah kayak kertas kusut."
"Nanti, Yah. Zhafran belum lapar," jawab Zhafran pendek. Matanya tak lepas dari Auna.
Suasana kamar yang tadinya tegang mulai mencair saat Rafka mendekat. Rafka, yang sejak kepergian orang tua kandungnya sudah dianggap anak sendiri oleh Pak Digar dan Ibu Onik, memang punya kedekatan khusus dengan keluarga ini.
" Auna, cepat sembuh ya. Ini titipan dari anak-anak kantor juga, katanya jangan kepikiran kerjaan dulu," ujar Rafka sambil meletakkan beberapa dokumen di meja, yang langsung disambar oleh Zhafran.
"Kerjaan lagi, Raf? Istriku lagi begini," protes Zhafran sedikit bercanda.
Rafka terkekeh. "Cuma laporan doang, Zhaf. Biar Mbak Auna tenang kalau semua aman. Oh iya, Yah," Rafka menoleh ke Pak Digar, "Tadi Rafka sudah urus semua administrasinya, jadi Ayah sama Mama nggak perlu bolak-balik ke bawah."
Pak Digar mengangguk bangga. "Bagus kamu. Memang anak lanang satu ini bisa diandalkan."
Zhafran tidak merasa iri sedikit pun melihat kedekatan Rafka dengan ayahnya. Baginya, Rafka adalah saudara yang mengisi kekosongan saat ia dulu 'tersesat'.
"Udah, udah. Sekarang mending kita makan dulu," ajak Uti Yaya sambil membuka rantang sup. "Zifa, sini makan sama Uti. Ayah Zhafran juga harus makan supaya kuat jagain Mama Auna."
Sore harinya, saat Pak Digar, Ibu Onik, dan Rafka berpamitan untuk pulang sementara, Zhafran duduk di kursi samping tempat tidur sambil memijat kaki Auna yang terasa dingin. Zifa tertidur pulas di sofa panjang di bawah pengawasan Uti Yaya yang sedang mengaji pelan.
"Mas," panggil Auna.
"Ya, Sayang? Ada yang sakit?"
"Makasih ya. Aku merasa... kaya banget hari ini," Auna tersenyum tipis.
Zhafran mengerutkan kening. "Kaya? Tabungan kita kan habis buat bayar RS ini, Na," candanya.
Auna tertawa kecil, meski dadanya masih terasa sesak. "Bukan uang, Mas. Tapi itu tadi... ada mama Onik, Pak Digar, Rafka, ibuk, kamu, Zifa. Semuanya ada di sini. Aku dulu selalu takut kalau sakit, nggak tahu harus lari ke mana. Sekarang, aku merasa punya banyak tempat buat pulang."
Zhafran mengecup tangan Auna lama. "Tahun 2026 ini bukan cuma tentang aku yang pulang ke kamu, Na. Tapi tentang kita semua yang membangun rumah baru. Rumah yang nggak akan roboh cuma karena satu badai."
Zhafran lalu menatap Rafka yang sempat mengintip dari balik pintu kaca untuk memastikan keadaan sebelum benar-benar pergi. Zhafran melambaikan tangan, dan Rafka membalas dengan jempol mantap.
"Besok kalau sudah sembuh, kita tetap ke waterpark ya?" tanya Zifa yang tiba-tiba mengigau dalam tidurnya, memancing senyum di bibir semua orang yang ada di ruangan itu.
Di rumah sakit yang dingin ini, hangatnya keluarga justru terasa paling nyata. Tahun 2026 mungkin baru berjalan beberapa hari, namun pelajarannya sudah begitu dalam: Bahwa sehat dan sakit, tawa dan tangis, semuanya akan terasa lebih ringan jika dilewati bersama orang-orang yang tulus mencinta.