NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Hasil yang Ditukar

Hasil DNA keluar lebih cepat dari janji.

Terlalu cepat.

Raka membawa tiga amplop ke ruang kerja Arkan dengan wajah yang tidak biasa. Biasanya ia tenang, bahkan saat menghadapi wartawan di gerbang. Hari ini, tangannya menahan map terlalu kuat.

"Pak, dua lab mengirim hasil digital. Satu lab mengirim kurir."

Arkan mengambil amplop pertama.

Rayyan Wiratama dan Rania Pradipta: kemungkinan hubungan biologis 99,97 persen.

Amplop kedua.

Lila dan Naya Prameswari: tidak menunjukkan hubungan biologis ibu-anak.

Amplop ketiga.

Rayyan dan Lila: tidak menunjukkan hubungan saudara kandung.

Ruang kerja menjadi sunyi.

Raka menatap lantai.

"Pak, ini tidak masuk akal."

Arkan membaca ulang. Tidak ada salah ketik. Tidak ada catatan kerusakan sampel. Semua rapi.

Terlalu rapi.

"Siapa yang mengambil sampel?"

"Tim dokter rumah sakit kita, disaksikan saya, perawat sekolah, dan pihak notaris."

"Sampel dikirim oleh siapa?"

"Kurir internal untuk dua lab. Untuk lab ketiga, petugas lab sendiri."

"Cari kurirnya."

"Sudah. Satu orang tidak bisa dihubungi."

Arkan menutup mata sejenak.

Di apartemen, Naya menerima foto laporan itu dari nomor tidak dikenal.

Caption pendek:

`Masih mau mengaku ibu?`

Ia membaca hasil itu berkali-kali.

Lila bukan anaknya.

Rayyan anak Rania.

Rayyan dan Lila bukan saudara.

Kalau ini benar, seluruh tubuhnya selama ini salah mengenali.

Kalau ini palsu, berarti Rania sudah masuk terlalu dalam.

Naya tidak tahu mana yang lebih menakutkan.

Pintu kamar terbuka. Lila masuk membawa boneka.

"Mama, Rayyan telepon?"

Naya cepat mengunci layar. "Belum, Sayang."

Lila menatap wajahnya. "Mama sedih?"

"Tidak."

"Mama bohong."

Naya memeluknya.

Ia memeluk terlalu erat sampai Lila mengeluarkan suara kecil.

"Maaf."

Naya melepas sedikit, tetapi tidak bisa benar-benar menjauh.

Ponselnya berdering.

Arkan.

Ia tidak mengangkat.

Berdering lagi.

Ia mematikan suara.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk.

`Jangan percaya hasil itu. Ada yang salah. Aku sedang cek.`

Naya menatap kalimat itu.

Ia ingin percaya.

Tapi kata-kata seperti itu dulu juga pernah datang terlambat.

`Tunggu.`

`Dengar dulu.`

`Percaya kami.`

Semua kata yang pernah mengantar hidupnya ke penjara.

Naya membuka lemari, mengambil tas kain besar, memasukkan pakaian Lila, obat Nenek Sari, vitamin kehamilan, dan dokumen panti yang ia punya. Tangannya gemetar, tetapi gerakannya cepat.

Lila berdiri di pintu.

"Kita pergi?"

Naya berjongkok. "Kita ke tempat yang aman."

"Papa Rayyan ikut?"

Pertanyaan itu membuat dada Naya sakit.

"Belum."

Lila menunduk.

"Rayyan nangis."

Naya mengusap rambutnya. "Mama juga."

Malam itu, Naya pergi lewat pintu belakang apartemen. Ia memilih stasiun Gambir karena dari sana ia bisa naik kereta ke Cirebon, lalu ke rumah kenalan Nenek Sari di kampung. Ia tidak tahu akan tinggal berapa lama. Ia hanya tahu Jakarta terlalu penuh dengan tangan yang bisa membeli bukti.

Arkan tiba di apartemen dua puluh menit setelah Naya pergi.

Satpam perempuan yang dipilih Naya berdiri dengan wajah pucat.

"Maaf, Pak. Mbak Naya bilang mau beli bubur untuk Lila. Saya..."

Arkan tidak memarahinya.

"CCTV."

Raka membuka rekaman lift. Naya memakai kerudung sederhana, menggendong tas, menggandeng Lila. Ia terlihat seperti perempuan biasa yang membawa anak pergi sebelum dunia bangun.

Arkan menatap layar itu.

"Stasiun, terminal, bandara. Cari."

"Baik."

Ponselnya berdering.

Nenek Ratih.

"Arkan, Rayyan mengunci diri di kamar. Dia bilang kalau Naya pergi, dia juga pergi."

Arkan memejamkan mata.

"Jaga dia, Nek."

"Temukan perempuan itu. Dan kali ini, jangan dengan cara yang membuatnya ingin kabur lagi."

Arkan tidak menjawab.

Di Stasiun Gambir, Naya duduk di sudut ruang tunggu, topi Lila ditarik rendah. Pengumuman kereta terdengar dari pengeras suara. Lila tidur di pangkuannya, lelah menangis tanpa suara.

Naya memegang tiket.

Tangannya belum berhenti gemetar.

Seseorang duduk di sebelahnya.

Perempuan paruh baya dengan tas belanja.

"Mbak Naya?"

Naya langsung menoleh.

Terlambat.

Dua laki-laki berdiri di depannya. Satu merampas tas. Satu menutup mulutnya dengan saputangan berbau tajam.

Naya menahan napas, menendang, mencakar.

Lila terbangun dan menjerit.

"Mama!"

Orang-orang menoleh, tetapi laki-laki itu cepat berkata, "Istri saya kambuh! Tolong jangan ikut campur!"

Kata istri membuat beberapa orang ragu.

Naya mencengkeram perutnya dengan satu tangan.

Jangan.

Jangan anak ini juga.

Di tengah pandangan yang mulai kabur, ia melihat perempuan paruh baya itu menatapnya tanpa rasa bersalah.

"Maaf, Mbak. Kami cuma disuruh keluarga."

Lalu dunia gelap.

Lila tidak ikut pingsan.

Itu satu-satunya keberuntungan kecil malam itu.

Ketika tubuh Naya melemah, Lila jatuh dari pangkuannya dan terbentur kursi ruang tunggu. Ia ingin menjerit, tetapi suara yang keluar hanya napas patah. Laki-laki itu berusaha mengangkat Naya sambil menyuruh perempuan paruh baya menutup jalan.

"Anaknya bawa juga?"

"Tidak. Perintahnya cuma perempuan."

Lila mendengar itu.

Perintah.

Keluarga.

Kata-kata orang dewasa yang selalu berarti buruk.

Ia merangkak ke bawah kursi, memeluk boneka, tubuhnya gemetar. Orang-orang di ruang tunggu mulai bingung, tetapi laki-laki tadi terus berkata Naya istrinya yang sakit. Beberapa orang mundur. Satu satpam mendekat terlalu lambat.

Lila melihat jam tangan Rayyan di pergelangan tangannya.

Rayyan memberikannya sore tadi saat mereka bermain.

"Kalau takut, tekan tombol ini. Papa dengar. Om Raka juga dengar. Tapi jangan untuk main-main."

Tombol itu kecil.

Tangannya licin oleh keringat.

Ia menekan sekali.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia menekan lagi, lebih lama.

Jam itu bergetar.

Di rumah Wiratama, Rayyan yang sedang menangis di kamar langsung melihat ponsel kecilnya menyala. Lokasi Lila muncul bukan di apartemen, tetapi di Stasiun Gambir.

Ia berlari keluar tanpa sandal.

"Papa! Lila takut!"

Arkan baru masuk ruang tamu. Ia mengambil jam dari tangan Rayyan dan wajahnya langsung berubah.

"Raka!"

Dalam sepuluh detik, rumah yang tadi tegang berubah menjadi pusat komando. Pengawal bergerak, mobil disiapkan, CCTV stasiun diminta lewat jalur keamanan, polisi dihubungi, dan Raka melacak sinyal yang bergerak keluar dari area parkir.

Rayyan menangis sampai suaranya serak.

"Papa, Mama Naya dibawa?"

Arkan menunduk di depannya. "Papa cari sekarang."

"Jangan telat."

Kalimat itu menghantam Arkan.

"Papa tidak akan telat."

Tapi saat ia masuk mobil, tangan Arkan tetap gemetar.

Di stasiun, Lila berhasil keluar dari bawah kursi ketika satpam akhirnya sadar ada anak yang tertinggal. Ia tidak mau disentuh.

"Mama dibawa," katanya berulang-ulang, suara kecilnya akhirnya keluar karena takut mengalahkan bisu. "Mama dibawa."

Satpam mencoba bertanya nama, tetapi Lila hanya mengangkat jam tangan.

Di layar kecil, panggilan darurat masih tersambung.

Suara Arkan terdengar dari sana.

"Lila, dengar Papa Rayyan. Tetap di tempat terang. Jangan ikut siapa pun. Kami datang."

Lila memeluk jam itu ke dada.

Untuk pertama kalinya, ia percaya suara orang dewasa bisa menjadi tali yang menariknya keluar dari gelap.

Namun Naya sudah dibawa keluar dari pintu samping.

Tubuhnya diletakkan di kursi belakang mobil hitam tanpa pelat depan. Perempuan paruh baya duduk di sampingnya, terus menekan saputangan ke hidung Naya setiap kali ia bergerak.

"Jangan kebanyakan," kata sopir. "Kalau kenapa-kenapa, kita yang repot."

"Perintahnya biar dia diam sampai gudang."

"Anaknya?"

"Tertinggal. Bukan urusan kita."

Naya mendengar potongan suara itu dari tempat yang jauh. Ia tidak bisa membuka mata, tetapi satu tangannya bergerak ke perut. Gerakan itu kecil, cukup untuk membuat perempuan di sampingnya sadar.

"Dia hamil?"

Sopir mengumpat. "Kamu tidak bilang."

"Aku juga tidak tahu."

Mobil mendadak sunyi.

Lalu sopir berkata, "Jangan sentuh perutnya. Kalau bayi orang kaya mati, harga kita beda."

Naya ingin muntah.

Bahkan dalam bahaya, anak di perutnya tidak dilihat sebagai nyawa.

Hanya harga.

Ia menggigit bagian dalam pipinya sampai berdarah, memaksa dirinya tetap sadar.

Jika ia pingsan sepenuhnya, ia tidak tahu ke mana mereka membawanya.

Jika ia tetap sadar sedikit saja, mungkin ia bisa meninggalkan tanda.

Jarinya meraih gelang tipis di tangannya, hadiah kecil dari Lila.

Perlahan, saat mobil berbelok tajam, ia menjatuhkan gelang itu ke celah pintu.

Ia tidak tahu apakah ada yang melihat.

Ia hanya bisa berharap Arkan tidak terlambat.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!