Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Berbagi Cerita { Alex dan Indira }
"Nona," seseorang menggoyang pelan lengan Indira.
Indira mengerjapkan matanya secara perlahan saat meraskan ada sesorang menggoyangkan lengannya. Ia mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya, Indira langsung berdiri saat melihat Dokter yang menangani, Ibunya sudah berdiri di belakangnya.
Terlihat Dokter muda seumuran Angkasa tersenyum kecil melihat perempuan di depannya terlihat masih ngantuk terlihat dari matanya yang sayu, ia terpaksa membangunkannya karena harus mengecek kondisi pasiennya. Lagian tidak baik buat anggota keluarga pasien harus di tidur di ruangan UGD takut sesuatu yang di inginkan akan tejadi pikirnya.
"Maafkan saya sudah membangunkan anda, Nona," ujarnya tidak enak.
"Tidak Dokter, saya yang seharusnya minta maaf, saya tadi tidak sengaja ketiduran disini. Em.. Gimana keadaan, Ibu saya Dokter?" tanya Indira berharap Dokter memberikan kabar bahagia untuknya.
"Ini saya baru mau memeriksanya, Nona, bisaka anda tunggu di luar dulu!" ujar Dokter Damar meminta pengertian sama Indira.
"Baiklah," sahut Indira keluar dari ruangan, Ibunya.
Indira duduk di kursi yang sudah di sediakan pihak rumah sakit beberapa kali ia menguap rasanya Indira bener-bener ngantuk, semalem dirinya memang tidak bisa tidur karena menjaga sang, Ibu. Biarpun suaminya selali memintanya untuk beristirahat, ia selalu menolaknya dengan alasan ia tidak bisa meninggalkan ibunya sendirian.
Dokter keluar dari dalam memberi tau perkembangan, Bu Sukma, sampai saat ini kondisi beliau belum ada perkembangan masih seperti semalem. Dokter itu pergi setela Indira mengucapkan terimakasih.
Kruyuk!
"Ya ampun, aku sangat lapar sekali, sepertinya aku harus ke kantin lebih dulu, lalu siapa yang jagain, Ibu," ujar Indira melihat ibunya lewat kaca jendela.
"Tapi aku bener-beber laper," ucapnya lagi.
Indira celingukan mencari seseorang, Ia mengembangkan senyumnya saat melihat suster melintas tidak jauh tempat dirinya berdiri, Indira melambaikan tangannya memanggil suster ia minta tolong sama suster buat jaga sang Ibu, setelah suster itu mengiyakan, Indira langsung bergegas pergi.
Bruk!
Auh!
Saking lapernya Indira jalan dengan tergesa-gesa karena sedari tadi perutnya sudah minta di isi sampai-sampai ia tidak menyadari di depannya ada seorang laki-laki lagi jalan tidak jauh darinya hinggga membuat ia menubruk orang tersebut. Untung saja orang itu langsung menarik tangannya membuatnya ia tidak jatuh mencium lantai rumah sakit.
"Sorry, sorry, saya tidak sengaja," ujar seseorang yang Indira tabrak.
"Tidak papa aku yang salah, aku minta maaf," sahut Indira mengusap tangannya tanpa melihat lawan bicaranya.
Merasa tidak asing sama suara perempuan yang menabraknya laki-laki tersebut mendongakkan kepalanya, senyumnya langsung mengembang melihat perempuan yang susah membuatnya susah tidur karena terus memikirkannya kini ada di hadapannya, Alex mundur selangkah mengamati wajah Indira tanpa memudarkan senyumnya.
"Tuan say..." Indira terdiam saat melihat siapa orang yang dirinya tabrak.
"Anda," ucapnya kaget.
"Hai, enggak menyangka kita kembali bertemu, apa mungkin ini yang namanya jodoh." ujar Alex tersenyum lebar.
"Tidak. Saya tadi terburu-buru sampai tidak melihat anda tuan, sekali lagi saya minta maaf. Saya permisi dulu ya." Indira kembali melanjutkan langkahnya tapi Alex mencekal tangannya membuat Indira melihatnya tidak suka.
"Sorry, aku tidak bermaksud" ucap Alex mengangkat tangannya saat melihat tatapan Indira yang terlihat tidak nyaman saat ia menarik tangannya.
"Kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Alex ingin tau.
"Saya mau ke kantin." jawabnya.
"Kantin? Boleh aku ikut? Kebetulan aku laper dari semalem aku belum makan," ucap Alex beralasan sambil mengusap-usap perutnya.
Indira mengangguk pelan mengizinkan Alex ikut bersamanya, lagian tidak ada salahnya kalau ia dan Alex pergi ke kantin bareng-bareng to ke kantin hanya untuk makan tidak untuk yang lain ataupun melakukan hal yang macem-macem. Terlebi lagi di kantin banyak orang jadi enggak masalah bukan? Pikir Indira.
Kini keduanya sudah berada di kantin, Alex dan Indira duduk saling berhadapan. Alex membelalakan matanya melihat pesanan Indira yang begitu banyak, badan Indira tidak gemuk melainkan seperti perempuan pada umumnya tapi kenapa makannnya begitu bayak? Alex menelan ludahnya kasar merasa sudah kenyang saat melihat Indira makan. Sedangkan ia hanya memesan coffe saja karena Alex memang tidak laper tadi hanya alibinya saja agar bisa pergi berdua sama Indira. Bukannya ilfil atau malu Alex justru merasa gemas karena menurutnya Indira perempuan yang apa adanya. Bahkan perempuan itu tidak malu makan banyak di depannya tidak seperti kebanyakan perempuan yang selama ini mendekatinya.
Mata Indira berbinar bahagia melihat semua pesanannya sudah tertata rapih di atas meja, ada nasi goreng, bakso, somay, jus alpukat dan juga jus jambu tak ketinggalan air mineral. Ia sudah tidak sabar ingin segera menyantapnya perutnya sudah berdemo ingin segera di isi, Indira mengalihkan pandangannya melihat Alex yang lagi memperhatikannya, ia mengangkat bahunya acuh tidak memperdulikan pikiran laki-laki itu tentang dirinya. Terpenting sekarang dirinya makan sepuasnya.
Hoo...
Alex membulatkan matanya saat Indira bersendawa begitu keras. Ia tergalak pelan merasa lucu sama kelaluan Indira, ia menyodorkan tisu ke Indira untuk mengelap sisa makanan yang menempel di bibirnya andai bisa Alex ingin sekali kalau dirinya yang melakukannya, tapi saat teringat Indira tidak suka di sentuh sembarangan ia mengurungkan niatnya.
"Terimakasih," ucap Indira menerima tisu pemberian Alex.
"Kau sudah kenyang?" tanya Alex melihat seluruh makanan Indira ludes tanpa sisa.
"Sudah." jawabnya.
"Ok. Oh iya sedang apa kamu ada disini? Apa keluarga, Tuan Edgar ada yang sakit?" Alex terus saja bertanya.
"Tidak, saya sedang menunggu, Ibuku," sahut Indira sendu menahan air matanya entah kenapa setiap ngomongin tentang orang tuanya rasanya ingin sekali menangis.
"Ibu mu sakit? Kalau boleh tau beliau sakit apa?" Alex bisa melihat mata Indira sudah berkaca-kaca.
"Ibu, enggak sakit. Beliau di tabrak lari sama seseorang yang tidak di kenal." ucap Indira sudah tidak bisa lagi menahan air matanya bulir bening menetes di pipinya.
"Tabrak lari? Kalau boleh tau kapan kejadiannya," ujar Alex berharap Indira mau menceritakan padanya.
Indira menceritakan yang di alami orang tuanya tapi Indira tidak menceritakan kalau ia lagi mencari bapaknya, Ia tidak mau orang lain mengetahui semua tentang keluargnya termasuk Alex rekan bisnis suaminya.
Alex begitu kaget kenapa sama pikirnha. Ia juga semalem menemukan sosok laki-laki paru baya yang terkapar tidak berdaya apakah ini ada hubungannya sama orang tua Indira atau hanya kebetulan saja? Batin Alex menggeleng pelan rasanya tidak mungkin kalau orang yang dirinya tolong itu orang tuanya Indira.
"Tuan Alex kenapa ada disini?" ucap Indira mengusap air matanya, ia mengalihkan perhatian Alex padanya.
"Kerabatku lagi di rawat di rumah sakit ini, semalem dia baru saja masuk ICU, aku dan Richard yang membawanya kesini." sahut Alex mendesahkan napasnya.
Sama seperti Indira, Alex juga menceritakan semuanya dari awal sama Indira. Dimana ia melihat orang yang terkapar di jalan dengan luka yang sangat serius di sekujur tubuhnya, karenanya parah ia dan Richard langsung membawanya ke rumah sakit.
Tes.
Tes.
Mendengar cerita Alex, entah kenapa dirinya merasa sedih mendengar kondisi laki-laki paru baya yang di tolong Alex, ia merasakan kalau dirinya yang ada di posisi itu. Indira jadi teringat sama Bapaknya yang saat ini belum juga di temukan dimana keberadaannya dan gimana kondisinya saat ini ia tidak tau, air mata Indira semakin menganak sungai membuat Alex kebingungan.
"Hei, kenapa kamu menangis? Diamlah entar di kira aku ngapa-ngapain kamu." Alex melihat semua orang lagi memperhatikannya.
"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Indira masih dengan isak tangisnya.
"Tentu saja, tapi hentikan tangisan kamu itu. Nona Indira," ujar Alex menggelengkan kepalanya.
Keduanya meninggalkan kantin menuju ke ruangan ICU, indira meminta izin sama Alex, agar dirinya bisa ikut masuk kedalam kini keduanya sudah lengkap memakai alat pelindung untuk mencegah penyebaran virus.
Ceklek!
Indira memegang gagang pintu membukanya secara perlahan. Tiba-tiba seseorng datang menarik tangannya.
"Kamu ada disini rupanya? Sedari tadi aku mencarimu," ujarnya melihat orang di sebelah Indira.
*****
Bersambung.....
Jangan lupa follow akun author. Like, vote, comen, subscribe juga cerita ini. Terimakasih.