NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Butir Nasi

...

Kriyet...

Gesekan halus sandal swalow di atas lantai vinil rumah sakit yang steril itu memecah kesunyian kamar. Tania menoleh perlahan saat telinga terlatihnya menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Sepasang mata kelamnya menemukan sosok Rangga yang kini sudah berada di sampingnya. Pria jangkung itu tampak agak canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum menarik sebuah kursi plastik kosong di sudut ruangan dan duduk di sebelah Tania.

"Neng Tania..." sapa Rangga, suaranya sengaja direndahkan agar tidak mengganggu dengkur halus ayahnya yang terlelap di bawah sungkup oksigen. "Kamu... kok ada di sini? Bukannya tadi langsung pulang ke kontrakan, toh?"

Tania tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap wadah makanan lembut di atas nakas, lalu kembali menatap Rangga datar. "Saya bosan di kontrakan."

Rangga tersenyum tipis, guratan lelah di wajah rupawannya sedikit memudar melihat kehadiran wanita asing ini. Namun, rasa tidak enak tetap menggelayuti benaknya. "Kalo kamu lelah, pulang saja, Neng. Istirahat. Biar di sini aku saja yang jaga Ayah. Kamu kan sudah kerja seharian nyapu jalanan, malamnya malah ke sini lagi."

Tania menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah gerakan kaku yang mutlak. "Tidak. Saya ingin di sini sebentar lagi."

Mendengar ketegasan yang dingin namun menenangkan itu, hati Rangga kembali berdesir. Dia meremas kedua tangannya di atas paha celana kainnya yang agak kusam. "Ya sudah kalau memang maumu begitu. Kamu... sudah makan malam belum? Mau tak belikan makanan di kantin bawah? Biar aku yang turun."

Sekali lagi, Tania menggeleng. Kali ini dia merogoh saku kemeja flanelnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintarnya yang retak di sudut layar. "Tidak perlu. Saya sudah memesan makanan lewat aplikasi online beberapa menit lalu. Pembayarannya tunai, nanti saya yang bayar di lobi bawah."

Rangga mengernyitkan alis sipitnya, agak heran. "Pesan apa, Neng?"

"Ricebowl Karage Dua," jawab Tania, suaranya lempeng tanpa ekspresi, seolah hal itu bukan masalah besar. "Satu untuk saya, satu untuk kamu. Saya sudah tahu kalau kamu akan datang,"

Rangga tertegun. Mulutnya terbuka sedikit, kehilangan kata-kata untuk sesaat. Perhatian kecil yang dikemas dalam kepolosan yang kaku dan datar itu menghantam dadanya dengan telak. Wanita ini, di balik dinding esnya yang tebal, ternyata memikirkan perutnya yang sejak siang hanya diganjal segelas kopi hitam pait.

"Neng... kamu ini bener-bener ya," gumam Rangga, menyembunyikan senyum lebarnya dengan menundukkan kepala. "Ya sudah, nanti kalau makanannya datang, kita makan di taman rooftop saja, yuk? Biar nggak ganggu, kasihan Ayah. Di atas juga anginnya sepoi-sepoi, lebih nyaman buat makan."

Tania hanya mengangguk pendek sebagai jawaban.

...

Setengah jam kemudian, di bawah hitamnya langit Jakarta yang pekat tanpa bintang, kedua manusia itu duduk berdampingan di sebuah dingklik besar di atap rumah sakit. Angin malam yang membawa aroma sisa hujan dari wilayah selatan berembus agak kencang, memainkan ujung kemeja flanel Tania dan menerbangkan poni rambut Rangga.

Dua Ricebowl sederhana dengan lauk karage dan saus teriaki pekat sudah terbuka di hadapan mereka. Bau harum rempah-rempah yang tajam langsung mengalahkan aroma karbol rumah sakit.

"Neng, beneran... terima kasih banyak, ya," ucap Rangga tulus sebelum menyuapkan nasi pertamanya menggunakan sendok plastik. "Udah dibayarin administrasi, sekarang malah dikasih makan enak begini. Rasanya aku hutang nyawa sama kamu."

"Makan saja. Jangan banyak bicara," potong Tania dingin. Namun, tangannya sendiri bergerak dengan sangat cekatan mengambil daging karage menggunakan sendok lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan tenang. Jiwa mafianya yang terbiasa dengan hidangan mewah di restoran bintang lima Gangnam anehnya sama sekali tidak menolak kelezatan bumbu lokal yang kuat ini. Bagi Marysa, makanan ini rasanya jauh lebih jujur daripada hamparan kaviar yang disajikan di atas meja penuh konspirasi berdarah.

Mereka makan dalam keheningan yang lambat, hanya ditemani suara deru angin malam dan sayup-sayup bising klakson dari jalan raya di bawah sana. Rangga makan dengan sangat lahap, gaya makannya yang khas orang lapangan cepat dan tidak banyak aturan.

Hingga pada satu momen, ketika suapan terakhir hampir habis, Rangga menoleh ke arah Tania untuk menanyakan sesuatu. Namun, sebelum kata-kata keluar dari tenggorokan Rangga, gerakan tangan Tania mendadak berhenti.

Sepasang mata kelam Tania menatap lurus ke arah sudut bibir kanan Rangga. Di sana, sebutir nasi putih menempel.

Tanpa sepatah kata pun, tanpa peringatan, dan tanpa keraguan sedikit pun, tangan kanan Tania bergerak maju. Jemari telunjuknya yang putih porselen menyentuh lembut sudut bibir Rangga, mengambil butir nasi tersebut dengan gerakan yang sangat natural dan presisi.

Dan yang membuat dunia seolah berhenti berputar bagi Rangga adalah tindakan Tania selanjutnya.

Setelah mengambil butir nasi itu, Tania tidak membuangnya ke tanah atau menyekanya dengan tisu. Dengan ekspresi wajah yang tetap datar, kaku, dan luar biasa polos, dia langsung memasukkan butir nasi itu ke dalam mulutnya sendiri, mengunyahnya pelan, lalu menelannya. Bagi Tania, ini adalah kebiasaan pragmatis yang biasa dia lihat dan lakukan bersama ibunya atau bersama keluarga di wilayah utara tempat klan bawah tanahnya beroperasi, menghargai makanan dan tidak membuangnya jika masih bersih. Tidak ada tendensi seksual atau romantis sama sekali di dalam benaknya yang beku.

Namun, efeknya bagi Rangga sungguh merusak kewarasan.

Pria jangkung itu seketika membeku di tempatnya seperti patung semen. Kunyahan di dalam mulutnya mendadak berhenti total. Matanya yang sipit membelalak lebar, menatap Tania dengan pandangan yang dipenuhi keterkejutan yang teramat sangat. Sentuhan jari Tania yang sedingin es di kulit bibirnya yang hangat seolah meninggalkan aliran listrik berkekuatan tinggi yang menjalar cepat menuju dadanya.

Jantungku... kenapa berdegup sekencang ini? batin Rangga menjerit panik.

Dadanya bergemuruh hebat, menciptakan debaran yang begitu bising hingga dia takut Tania bisa mendengarnya. Semburat warna merah padam yang sangat pekat langsung menjalar dari leher, naik ke pipi, hingga ke ujung telinganya. Pria yang selama ini menjuluki dirinya sendiri sebagai raja penakluk wanita, pria yang terbiasa digelayuti belasan wanita malam tanpa pernah merasa gugup, kini mendadak lumpuh total hanya karena sebutir nasi yang diambil dari bibirnya.

Rangga menelan sisa makanan di mulutnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Dia menatap profil samping wajah Tania yang kembali tenang mengunyah makanannya sendiri, seolah tindakan tadi hanyalah gerak refleks biasa seperti mengusir nyamuk.

Sialan... Rangga membatin, sendok plastiknya dengan tangan yang gemetar samar. Ada rasa emosional yang sangat dalam mendadak menghentak jiwanya. Apakah aku... benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita asing ini? Jatuh cinta yang sesungguhnya?

Rasa itu terasa begitu menakutkan sekaligus melembutkan hatinya. di taman rooftop itu mengunci kesadaran Rangga bahwa mulai malam ini, dia tidak akan pernah bisa melihat wanita lain dengan cara yang sama lagi.

...

Sementara itu, beberapa kilometer dari tempat mereka berada, kegelapan malam yang pekat juga membungkus jendela kamar sebuah hotel mewah dipusat Jakarta.

Kapten Herry berdiri di balkon lantai dua puluh, memandangi kerlip lampu kota metropolitan yang asing ini dengan segelas wiski di tangannya. Di samping kamarnya ada kamar yang sama luasnya, Jessica Hwang Won sudah terlelap di balik selimut tebal setelah mengeluhkan kelelahan.

Pikiran Herry benar-benar campur aduk, dilingkupi oleh badai emosi dingin yang semakin menyiksa jiwanya. Bayangan sekilas tentang wanita berpakaian oranye dengan rambut cokelat pendek di perempatan jalan pagi tadi terus berputar-putar di kepalanya seperti hantu yang menolak pergi.

Kenapa rasanya begitu dekat? desis Herry di dalam hati, mengeratkan cengkeramannya pada gelas kaca hingga jemarinya memutih. Sifat diktator dan dinginnya sebagai penegak hukum berontak melawan takdir yang terasa sedang menyembunyikan sesuatu darinya di kota ini.

...

Ilustrasi saja ... 😘

so cute mereka.... 🥰🥰

jangan lupa tinggalkan jejak kalian .... 😘😘

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!